Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )

Lailatulqadar ( Nyanyian Rindu Untuk Ayah )
Bab 15


__ADS_3

''Gimana jualannya? Laku?" tanya Mira saat melihat Laila pulang.


"Laku semua, Bi." Laila menyimpan keranjang kosong bekas jualan.


"Wah pinter juga kamu, besok keliling lagi kan?" ucap Mira dengan sumringah melihat semua takjilnya habis tak bersisa.


"Iya, bi. Ini uangnya." Laila menyodorkan uang hasil dari penjualan takjil.


Mira pun menerimanya dengan senyum terus mengembang di bibirnya.


'Ada gunanya juga nih anak!' gumam Mira dalam hati.


"Bentar lagi buka, kamu siap-siap gih!" ucap Mira seraya memasukan uang tadi ke dalam saku daster yang di kenakannya.


Laila pun masuk ke dalam sudah ada Handoko, Dita, Aldo dan Qadar di ruang makan.


"Kamu pasti capek, ayo sini duduk bentar lagi buka," ucap Handoko.


"Habis jualannya?" lanjutnya saat Laila duduk di samping Qadar.


"Alhamdulillah habis Paman," jawab Laila.


"Alhamdulillah."


Di tempat lain di kediaman Ambar. Restu sedang menunggu waktu berbuka bersama keluarganya.


Suara bedug pun kemudian terdengar, tandanya mereka sudah bisa berbuka puasa.


Selepas membaca doa mereka langsung mencicipi takjil yang di beli Restu dari Bibinya Laila yang bernama Mira.


"Enak banget, beli dari mana?" tanya Syarif setelah mencicipi takjil buatan Mira.


"Restu yang beli," jawab Ambar.


"Ini dari teman aku, namanya Laila."


"Uhuk.. uhuk.. " Syarif tersedak saat mendengar nama Laila, padahal yang punya nama itu kan banyak gak cuma satu.


Syarif teringat Laila anaknya, tapi gak mungkin Laila kan di kampung, pikirnya.


"Hati-hati makannya!" Ambar menyodorkan air putih pada suaminya.


"Menurut ibu enak gak?" tanya Restu.


"Lumayan enak," ucap Ambar.


"Nanti kalau misal ada acara buka bersama, ibu beli takjilnya di sini aja. Gak usah repot bikin, harganya murah kok." Restu mengusulkan.

__ADS_1


"Kebetulan puasa hari ke empat nanti ibu ada arisan sama teman-teman. Karena lagi puasa kami sepakat buat buka bersama sambil arisan, entar ibu pesan deh. Kamu yang antar ibu ke tempat teman mu itu ya!" kata Ambar.


"Siap bu!" Restu tampak senang karena ibunya mau membeli takjil buatan bibinya Laila. Artinya Laila gak usah jualan keliling, tinggal fokus saja buat orderan. Kalaupun harus tetap jualan keliling, palingan cuma sisa orderan ibunya.


Selepas buka Laila dan Qadar pun terawih bersama Handoko dan Aldo. Dita pun terawih tapi dia pergi bersama teman-temannya, entah ke mesjid yang mana karena Laila tak menemukan Dita saat di mesjid tempatnya terawih. Sementara Mira seperti biasa, ia hanya menonton televisi di rumah dan tak ikut terawih bersama yang lain.


Selepas pulang terawih, Laila dan Qadar meminta izin pada Handoko jika mereka akan pergi ke fotocopy sebentar. Laila mengutarakan maksudnya, bahwa dia akan mencetak dan memperbanyak foto ayahnya untuk di sebarkan.


"Ide bagus, kenapa gak bilang dari kemarin biar Paman yang bantu cetak di kantor," kata Handoko.


"Laila sengaja gak bilang, gak mau banyak merepotkan Paman."


"Loh kok gitu? Kamu itu kan anak Paman juga, kalau cuma cetak dan perbanyak foto gak ngerepotin," ucap Handoko.


"Gak apa Paman, biar Laila cetak sekarang saja sama Qadar. Besok Laila sebar di dekat sekolah Qadar dan di jalan-jalan yang kami lewati nanti saat pulang sekolah," kata Laila.


"Ya sudah, kalian jangan kemana mana ya! Habsi dari fotocopy segera pulang," titah Handoko.


"Baik Paman," ucap Laila mengangguk ringan lantas berpisah dari Handoko dan Aldo di persimpangan jalan.


Laila dan Qadar pun kini sedang menunggu cetak ulang foto ayah mereka.


Keduanya duduk di kursi plastik depan fotocopy, sambil melihat orang berlalu lalang pulang terawih.


Laila memicingkan mata saat melihat siapa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.


"Qadar, lihat di sana! Itu bukannya Kak Dita, ya?" Laila menunjuk dengan jarinya ke arah sebrang jalan sekitar beberapa meter dari tempat dia dan adiknya duduk.


"Gak tau, mungkin temannya."


"Jangan-jangan pacar Kak Dita? Apa Kak Dita gak terawih ya, tapi malah pacaran?"


"Huss, anak kecil tau apa soal pacaran? Siapa tau gak sengaja mereka ketemu pas Kak Dita pulang terawih, bisa aja gitu kan?" tebak Laila.


"Mungkin juga sih." Qadar manggut-manggut.


Tak sengaja Dita pun menangkap keberadaan dua kakak beradik itu.


'Astaga, kok mereka ada di sini? Gimana kalau mereka aduin aku sama Ayah?' batin Dita.


"Kamu kenapa beb?" tanya Revan pacar Dita.


"Aku pulang ya!"


"Jangan dong, aku masih mau ngobrol sama kamu," tahan Revan.


"Udah waktunya pulang terawih, yang ada nanti nyokap bokap aku curiga."

__ADS_1


"Ya udah terserah. Tapi mau aku anterin sampe rumah?"


"Gak usah, aku pulang sendiri aja!" Dita pun berlalu dari sana sedang Revan sendiri pun meninggalkan tempat itu, melajukan motornya dengan kencang hingga knalpot berisiknya meraung memekakkan telinga.


"Heh ngapain kalian di sini?" tanya Dita yang kini menghampiri Laila dan Qadar.


"Lagi fotocopy kak. Kakak sendiri... " belum selesai Laila menjawab Dita sudah memotong ucapannya.


"Awas ya kalau kalian berani ngadu sama Ayah dan Ibu ku, soal aku ketemuan sama cowok!" potong Dita dengan nada mengancam padahal Laila dan Qadar sama sekali tak kepikiran kalau Dita sedang janjian sama cowok tadi. Mereka pikir Dita tak sengaja bertemu dengan temannya itu, tapi malah Dita sendiri yang memperjelas keadaan sebenarnya.


"Iya kak. Kita gak akan bilang." Laila menjawab.


Dita pun ngeloyor pergi dari sana, sepertinya Laila dan Qadar cukup bisa di percaya, pikirnya.


"Itu tadi pacar Kak Dita kan? Bener kata aku," bisik Qadar saat Dita sudah berjalan agak jauh .


"Ssstt, udah itu bukan urusan kita. Jangan bahas lagi nanti keceplosan di rumah bisa bahaya!" tegur Laila.


Qadar pun diam menuruti perkataan Laila kakaknya.


"Ini dek udah beres." Tukang fotocopy memasukan lembaran HVS ke dalam plastik.


"Berapa Pak?"


"Sepuluh ribu."


"Ini uangnya. Makasih, Pak!"


Laila dan Qadar pun segera pulang setelah memperbanyak foto ayah mereka.


"Semoga dengan cara ini kita bisa secepatnya bertemu dengan Ayah," kata Laila sambil memeluk kertas HVS tadi.


"Aamiin kak," ucap Qadar seakan ia pun tak sabar menunggu keajaiban itu.


***


Pagi sekali Laila dan Qadar sudah berangkat ke sekolah. Mereka tampak bersemangat karena pulang sekolah mereka akan menyebarkan foto Ayah mereka di setiap sudut jalan kota yang di lalui.


Qadar masuk ke dalam gerbang sekolah sementara Laila seperti biasa menunggu di luar. Tapi kali ini dia ada kegiatan, sambil menunggu Laila bisa sambil menempelkan gambar Ayahnya di beberapa tempat sekitar sekolah Qadar.


Ada beberapa pohon di pinggir jalan dan Laila pun menempelkan gambar itu di sana. Di rasa cukup Laila kembali menuju gerbang sekolah Qadar. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat dua orang laki-laki yang keluar dari mobil hitam di depan gerbang sekolah.


Restu turun dari mobil itu, dan laki-laki yang bersamanya sangat tak asing di mata Laila. Ya, dia Syarif Ayah Laila. Syarif Airlangga.


Laila memperhatikan mereka berdua dari kejauhan. Di lihatnya Restu mencium punggung tangan Syarif, sebagaimana anak pada orang tuanya saat akan berangkat sekolah.


Mungkinkah Restu Airlangga adalah anak dari Syarif Airlangga, ayahnya? Hati Laila terasa kacau. Haruskah dia bahagia saat ini karena sudah menemukan ayahnya? Ataukah harus bersedih karena pada kenyataannya Ayahnya itu memiliki anak selain dirinya dan anak itu adalah Restu. Sulit di percaya tapi Laila melihat dengan mata kepala sendiri. Dari gerakan mulut Restu, Laila bisa menangkap jika Restu memanggil Ayah pada Syarif Ayahnya.

__ADS_1


Laila meremat kertas dalam genggamannya. Air mata berdesakan dan mengalir begitu saja dari sudut mata. Seluruh tubuh bergetar menyaksikan mereka berdua. Jika seperti ini haruskah Laila menunjukan selebaran kertas berisi foto Ayahnya pada Restu?


bersambung,


__ADS_2