
“Langsung mati terlalu mudah baginya, Dad. Aku tak suka jika ia tak menderita,” ujar Rocco.
Rocco tak suka pada Robert yang selalu mendapat perhatian dari banyak orang. Semua orang selalu memujinya dalam hal apapun. Rocco diadopsi oleh Richard dan Emma King saat ia berusia satu tahun. Saat itu usia Robert baru dua tahun, jadi usia mereka hanya terpaut satu tahun saja.
Kasih sayang Richard dan Emma sebenarnya tak berbeda untuk keduanya, tapi bagi Rocco, ia mau jika Richard dan Emma hanya melihat ke arah dirinya. Ia ingin menjadi pewaris tunggal dari Keluarga King.
Bone waktu itu menemukan putranya yang dibawa kabur oleh istrinya. Bukannya berterima kasih pada keluarga King, ia malah menjadi serakah dan memanfaatkan putranya itu dengan menanamkan kebencian.
Hasutan yang diberikan oleh Mr. Bone yang ternyata adalah Daddy kandungnya, membuat Rocco pun menghancurkan keluarga yang telah merawat dan membesarkannya dengan kasih sayang.
“Kamu memang benar-benar putraku! Ingatlah bahwa putra Keluarga Bone akan selalu bersinar dan menjadi yang terutama. Ingatlah bahwa namamu adalah Rocco Bone,” kata Mr, Bone mengingatkan.
“Aku tak akan lupa. Aku akan mengambil alih semua kekayaan Keluarga King. Hanya tinggal aku satu-satunya pewaris mereka.”
“Lalu bagaimana dengan putri bungsu mereka?”
“Ia sudah mati tenggelam atau bahkan dimakan oleh hiu, Dad. Salah satu anak buahku melihat seseorang mengambil pakaian penuh bercak darah yang mengapung di lautan,” jawab Rocco.
Robert yang masih tergeletak di atas lantai beton dengan tubuh yang basah, mendengarkan semua percakapan mereka. Ia mengepalkan tangannya dan menggeram kesal.
**
Keesokan paginya, Elouise terbangun pagi-pagi sekali. Sejak pembunuhan yang terjadi pada keluarganya, ia susah untuk tidur dan akan terbangun pagi-pagi. Setiap bangun ia akan tersentak kaget dan jantungnya berdebar kencang. Ya, ketakutan masih menyelimutinya meskipun di luar ia berusaha untuk tampil berani.
Elouise segera membersihkan diri kemudian turun ke bawah. Ia pergi ke dapur untuk membantu para pelayan bekerja. Namun, matanya menangkap sosok seorang gadis yang sedang berkutat dengan wajan dan beberapa bahan masakan di atas meja.
“Bolehkah aku membantu?” tanya Elouise.
“Jangan! Kamu adalah tamu di sini, jadi biarkan kami sebagai tuan rumah yang menyambut dan melayani kalian,” jawab Niesha. Hampir setiap hari Niesha akan berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia memiliki hobi memasak dan hanya bisa ia tuangkan di pagi hari karena di siang dan malam hari ia sedikit sibuk mengurus kuliahnya.
“Aku ingin membantu. Aku bukan tamu besar, aku hanyalah asisten dari Aunty Sena. Jadi izinkan aku membantumu,” kata Elouise.
“Baiklah kalau kamu memaksa. Bisa bantu aku memotong bawang ini?” Pinta Niesha.
Elouise berjalan ke arah meja dengan empat kursi yang saling berhadapan. Ia mengambil papan potong atau talenan, dan dengan perlahan mengupas bawang yang disediakan oleh Niesha di dalam sebuah keranjang kayu kecil.
“Aduh!” teriak Elouise yang jarinya terkena pisau. Elouise memang tak pernah menginjakkan kakinya di dapur, apalagi harus mengupas bawang. Niesha yang melihat hal itu langsung meninggalkan pekerjaan memasaknya dan mendekati Elouise.
“Ayo kemarilah,” Niesha membawa Elouise ke wastafel dan menyiram luka tersebut dengan air mengalir. Setelah itu ia mengambil tissue dan membungkus jari Elouise yang terluka.
__ADS_1
“Tunggu sebentar ya, aku akan mengobatinya. Aku selesaikan masakanku yang satu ini,” kata Niesha.
“Tidak perlu. Maaf aku jadi merepotkanmu. Aku akan mengobatinya aendiri di kamar, aku membawa plester luka,” kata Elouise.
“Baiklah,” Niesha melanjutkan pekerjaannya, sementara Niesha keluar dari dapur. Baru selangkah keluar, terdengar ucapan seseorang.
“Cle, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku hanya ingin membantu,” jawab Elouise.
“Kamu itu bukan pelayan di sini. Sebaiknya kamu kembali ke kamar, ini masih pagi. Lalu apa tanganmu terluka?”
“Hanya sedikit tergores pisau.”
“Ayo ke kamarku, akan kuobati.”
Niesha hanya terdiam sesaat, kemudian kembali melanjutkan acara memasaknya.
**
Nathan kini sudah kembali bersama dengan Michael di dalam kamar tidurnya. Mereka telah menyelesaikan sarapan pagi bersama tadi. Saat ini para orang tua sedang pergi menikmati waktu mereka bersama-sama.
“Sepertinya saat ingin membuang jenazaj kedua orang tua Cle ke jurang, mereka menyadari bahwa kakak pertamanya masih hidup. Mereka membawanya pergi.”
“Apa itu berarti Robert masih hidup?”
“Aku belum tahu. Ada kemungkinan ia masih hidup, tapi ada kemungkinan juga ia telah mati dan dibuang di tempat yang berbeda. Coba kakak pikirkan, jika memang niat awal mereka membunuh, tak mungkin mereka akan membiarkannya hidup kan?” jelas Michael.
“Kamu benar, Mike,” Nathan mengusap wajahnya kasar. Ia tak bisa membayangkan bahwa sahabatnya telah meninggal, bahkan dengan cara yang tragis.
“Lalu apa lagi yang kamu dapatkan?”
“Tidak ada, semalam aku ketiduran,” jawab Michael tanpa rasa bersalah.
“Dasar!”
“Oya Kak, lalu apa yang harus kita katakan pada Cle?”
“Namanya Elouise, Mike,” kata Nathan.
__ADS_1
“Tapi aku sudah terbiasa memangginya dengan Cle. Lagipula akan terasa aneh jika kita memanggilnya dengan nama Elouise. Ia sudah mengatakan pada keluargaku kalau ia hilang ingatan.”
Nathan menghela nafas pelan, “Aku bingung harus mulai dari mana mencari akar permasalahan ini.”
“Apa kakak sudah mendapatkan kabar dari Kak Sam?”
“Ah iya, Sam!” Nathan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Sam. Beberapa kali nada sambung berbunyi, tapi tak terdengar jawaban.
“Mungkin ia sedang sibuk, Kak,” kata Michael.
“Aku memintanya mencari tahu apa yang terjadi di dalam Mansion King.”
“Apa Kak Sam masuk ke dalamnya?” tanya Michael yang tahu bahwa Sam sering melakukan sesuatu yang aneh untuk mendapatkan informasi yang diinginkan oleh Nathan.
“Tidak! Dia tidak boleh ke sana!”
“Aku akn mencoba meretas CCTV di seluruh Mansion King,” kata Michael yang langsung berkutat dengan laptop dan mulai menggerakkan kedua tangannya.
Nathan pun duduk di dekatnya untuk melihat apa yang dikerjakan oleh Michael. Tak sampai tiga puluh menit, Michael berhasil meretas CCTV di beberapa titik di dalam Mansion King.
“Wow, Mike! Kamu memang luar biasa!” teriak Nathan sambil menepuk bahu Michael.
“Itu Kak Sam!” Mata Nathan membulat saat melihat Sam yang menggunakan pakaian seorang tukang kebun. Ia bisa menutupi kepalanya dengan topi dan wajahnya dengan sebuah saputangan di bawah matanya.
“Kak Sam benar-benar totalitas!” kata Michael.
“Pantas ia tak mengangkat telepon dariku. Ia tak boleh terlihat mencurigakan atau ia bisa terkena masalah,” kata Nathan.
Michael melihat beberapa titik CCTV lain di dalam Mansion King untuk melihat situasi. Namun, matanya menangkap sosok seorang wanita.
“Kak,” panggil Michael. Nathan sedang mengirimkan sebuah pesan pada Sam dan memintanya berhati-hati.
“Ada apa?”
“Lihatlah ini,” kata Michael.
Nathan menatap tajam ke arah layar laptop dan tangannya terkepal.
“Jenia?”
__ADS_1
🌹🌹🌹