
Setelah mengetahui dan memastikan kehamilan Jenia, Rocco mengadakan konferensi pers. Dalam konferensi pers tersebut, ia menyatakan telah mengambil alih seluruh kepemimpinan atas perusahaan milik Keluarga Bone. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa ia akan menikah. Jenia yang ada di sebelahnya, tersenyum lebar karena menjadi sumber perhatian para pemburu berita.
Di dalam hati Rocco, ia akan segera mengadakan konferensi pers lagi ketika ia berhasil mengambil alih harta dan gelar bangsawan dari keturunan tweakhir Keluarga King. Bukankah ini sangat Wow! Demikian pikirnya.
Sementara itu Nathan yang mengetahui kabar berita itu dari Elouise, langsung melihat siaran ulang berita tersebut. Ia menatap wajah keduanya, terutama wanita yang kini ada di sebelah Rocco.
“Dia benar-benar Jenia Demeter. Wanita yang pernah kucintai,” gumam Nathan sambil tertawa mengejek dirinya sendiri, “mengapa aku bisa mencintai wanita sepertimu, bahkan sangat mencintai. Hingga aku membuang-buang waktuku meratapi kepergianmu. Namun tak apa, karena aku telah menemukan seseorang yang seribu kali lipat lebih baik darimu dan aku akan selalu menjaga dan menyayanginya, meskipun aku tak akan memaksa memilikinya.”
**
Beberapa hari tak ada pergerakan dari pihak Nathan. Ia memang menunggu informasi yang berhasil dikumpulkan oleh Sam. Sejak Robert dan Elouise ada di Mansion miliknya, Nathan jarang pergi ke perusahaan. Ia lebih memilih tetap di Mansion.
Tokk tokk tokk
Pintu ruang kerja Nathan terbuka dan nampak sosok Elouise dengan sebuah nampan yang Nathan yakini adalah segelas kopi kesukaannya. Elouise bahkan sudah mengetahui bagaimana cara membuat kopi kesukaannya, benar-benar calon istri yang ideal.
Nathan menepis pikirannya itu. Ia kembali menelaah apa yang bisa terjadi jika Elouise menjadi istrinya, sudah pasti hidupnya akan terancam selamanya. Semua musuh Nathan pasti akan menganggap bahwa Elouise adalah kelemahan Nathan dan Elouise akan menjadi target incaran.
“Aku bawakan kopi untukmu, Kak,” kata Elouise melangkah mendekat.
__ADS_1
“Terima kasih, El. Letakkan di sana saja,” kata Nathan.
Nathan terus memperhatikan aktivitas Elouise, membuat jantung Elouise berdetak cepat saat melihat manik mata Nathan yang menatapnya seakan tak berkedip.
“Aku keluar dulu, Kak.”
“El!” panggil Nathan sebelum gadis itu melangkah lebih jauh.
“Iya, Kak. Apa ada sesuatu lagi yang kakak butuhkan?” tanya Elouise.
“Kemarilah.”
Nathan menarik tubuh Elouise dengan lembut saat gadis itu berdiri tak jauh darinya. Elouise yang kaget dengan apa yang dilakukan oleh Nathan, langsung mengalungkan tangannya ke leher Nathan.
“Aku mencintaimu,” ungkap Nathan. Ia tak ingin mengatakan hal itu dan membuatnya memberi harapan palsu pada Elouise, namun ia tak dapat menahan rasa yang membuncah di dalam daddanya.
Nathan menatap Elouise yang terdiam menatap manik mata Nathan. Ia berusaha menajamkan pendengarannya, siapa tahu Nathan akan mengulangi ucapannya, agar ia bisa meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar tak salah.
Nathan mendekatkan bibirnya pada bibir Elouise dan mulai menyesapnya. Ia melummat perlahan bibir pink yang terasa manis itu, yang telah menjadi candu saat Nathan pertama kali merasakannya.
__ADS_1
Elouise yang kembali merasakan ciuman Nathan pun kali ini membalasnya, membuat Nathan semakin memperdalam ciumannya.
“I love you,” bisik Nathan di sela-sela ciuman mereka.
Elouise yang menatap manik mata Nathan yang begitu tajam kini tersenyum. Ia tak salah mendengar ucapan Nathan. Bahagia? Tentu saja. Ntah sejak kapan ia memiliki rasa cinta ada pria yang dulu menyakitinya dengan kata-katanya.
“I love you too,” kata Elouise.
Nathan kembali mencium Elouise dan semakin lama ciuman mereka berubah jadi lebih dalam dan lebih liar. Nathan bahkan mengangkat dress yang digunakan oleh Elouise dan meremass kedua aset kembar yang begitu pas di genggaman tangannya.
Lenguhhan Elouise berubah menjadi nada yang indah dan bagaikan sebuah lagu di telinga Nathan. Elouise yang sudah terbuai dengan sentuhan Nathan juga tak melakukan penolakan sama sekali.
Nathan menggendong Elouise dan masuk ke dalam kamar tidurnya melalui pintu penghubung yang ada di ruang kerjanya. Ia membaringkan Elouise dan menatap mata gadis itu.
“I want you to be mine,” kata Nathan. Saat melihat Elouise yang hampir meninggalkan ruang kerjanya tadi, Nathan membayangkan ketika Elouise bersanding dengan pria lain. Ia tak bisa menerima hal itu. Baginya, Elouise adalah miliknya. Ia akan menikahi Elouise, kalau perlu mengurungnya di dalam mansion agar tak ada siapa pun yang bisa melukainya. Yang terpenting Elouise akan selalu menjadi miliknya.
“Menikahlah denganku.”
🌹🌹🌹
__ADS_1