
Sementara itu di Zurich,
“Kita pulang sekarang?!” tanya Michael pada Sena, Mommynya.
“Iya, sayang. Daddy ada pekerjaan mendadak yang tak bisa ditunda. Kita akan pulang sore ini juga,” jawab Sena.
Michael harus mengabari Nathan, tapi sejak tadi ia mencoba menghubungi ponsel Nathan tapi tidak diangkat sama sekali.
“Apa ia begitu sibuk di sana?” gumam Michael.
“Lalu bagaimana dengan Cle, Mom?” tanya Michael lagi.
“Tentu saja Cle akan ikut dengan kita. Dia kan asisten pribadi Mommy,” jawab Sena.
Mau tidak mau, Michael harus menuruti keputusan orang tuanya. Ia akan menghubungi Nathan lagi sesampainya mereka di Amsterdam.
**
“Bagaimana keadaan Elouise, Nath?” tanya Robert yang sudah bangun. Saat ini tubuhnya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Ia baik-baik saja. Saat ini ia ada bersama keluargaku di Zurich,” jawab Nathan, “Hmm … sebelumnya aku ingin minta maaf padamu, Rob. Sebenarnya aku …”
Nathan menceritakan kembali kisahnya dengan Elouise, terutama saat ia mengancam gadis itu hingga terjun ke laut. Ia merasa sangat bersalah karena hal itu, apalagi setelah mengetahui bahwa Elouise adalah adik sahabatnya sendiri.
Robert menepuk bahu Nathan, “Aku mengerti, apalagi mengingat kenanganmu bersama Jenia, pasti membuatmu curiga pada siapapun saat ini.”
“Tapi Rob …,” Nathan menghentikan ucapannya. Ia menoleh ke arah Robert, kemudian baru melanjutkan, “Jenia masih hidup.”
“What? Are you sure?” tanya Robert tak percaya.
Nathan tersenyum tipis, “Sangat yakin, bahkan Sam juga melihatnya.”
“Temui saja dia. Tak mungkin ia melupakanmu, bukankah ia sangat mencintaimu?”
Nathan yang awalnya berdiri, kini duduk tak jauh dari Robert. Ia menghela nafas pelan kemudian menatap Robert.
“Ia tak pernah mencintaiku, Rob. Ia sengaja berpura-pura mati agar bisa pergi dan menghindari pernikahan denganku,” kata Nathan.
“Mana mungkin begitu? Aku yang menjadi saksi bagaimana kaian berdua saling mencintai,” kata Robert.
“Tapi ternyata ia berselingkuh di belakangku. Bahkan aku merasa menyesal karena terus hidup dalam bayang-bayang kenangan tentangnya. Aku benar-benar bodoh!”
“Lalu di mana dia?” tanya Robert.
“Di mansionmu,” jawab Nathan.
__ADS_1
“Di mansionku?” Robert bertanya lagi seakan tak percaya.
“Ya.”
“Apa yang dia lakukan di mansionku?”
“Jenia adalah kekasih Rocco,” jawab Nathan.
Robert membulatkan matanya tak percaya. Kini giliran dirinya yang jadi merasa bersalah.
“Maafkan Rocco ya Nath,” pinta Robert.
“Kamu tak perlu meminta maaf padaku, Rob. Setidaknya Rocco membuka mata, hati, serta pikiranku, seperti apa Jenia sebenarnya.
“Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu, Rob,” kata Nathan.
“Tanyalah, aku akan menjawab,” Robert akan jujur dengan apa yang terjadi pada keluarganya jika Nathan menanyakan hal itu. Tak mungkin ia menutupinya karena itu juga akan membahayakan adik kecilnya, Elouise.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada keluargamu? Maaf jika aku ikut campur,” kata Nathan.
Robert sedikit menghela nafasnya kemudian menatap Nathan, “Rocco bukanlah adik kandungku.”
“Tapi … mana mungkin?”
“Bukankah seharusnya ia tak melakukan hal keji seperti itu? Bukankah kedua orang tuamu sangat menyayanginya? Bahkan yang kutahu adikmu hanyalah Rocco.”
“Ya, kedua orang tuaku memang sangat menyayangi Elouise, sampai-sampai mereka menyembunyikannya dan tak memberitahukan pada siapapun. Hal inilah yang ditakutkan oleh kedua orang tuaku. Tapi siapa yang menyangka bahwa musuh datang dari dalam keluarga kamu sendiri,” kata Robert.
Tak berapa lama, terdengar ketukan di pintu kamar tidur Robert.
“Masuklah,” kata Nathan.
Tampak Sam yang juga sudah terbangun dan sudah kembali rapi seperti biasanya. Hanya saja masih nampak beberapa lebam di wajahnya.
“Ada apa, Sam?” tanya Nathan.
“Bos, Tuan Michael sedari tadi mencoba menghubungi anda, tapi tak tersambung,” jawab Sam.
Nathan mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, “ah, ponselku kehabisan daya, Sam. Katakan saja apa yang dikatakan oleh Michael.”
“Tuan Michael berkata bahwa ia dan keluarganya akan kembali ke Amsterdam sore ini. Mereka juga membawa Nona Elouise ke sana,” kata Sam.
“Apa?!” Nathan bangkit berdiri. Mendengar Keluargan Jack Brown membawa Elouise pergi, Nathan merasa tak terima. Beberapa hari belakangan ini, hari-harinya telah banyak diisi oleh Elouise dan semua tentang Keluarga King.
“Tak apa, Nath. Kalau Elouise pergi ke Amsterdam, itu berarti ia akan semakin jauh dari Rocco. Itu lebih baik. Ia akan aman,” kata Robert.
__ADS_1
“Tak bisa, Rob. Ia harus selalu dalam pengawasan kita. Kita tidak akan tahu kapan Rocco akan bertemu dengannya. Saat ini ia berada dalam situasi yang berbahaya.”
“Bukankah mereka mengira Elouise sudah meninggal di lautan? Justru tang mereka tahu saat ini masih hidup adalah aku. Aku melarikan diri dari mansion itu dalam keadaan hidup,” kata Robert lagi.
“Kamu benar juga. Oya, kita harus memeriksakan keadaanmu ke rumah sakit.”
“Tidak perlu.”
“Tidak perlu bagaimana? Mereka tak mungkin menyembuhkanmu. Mereka hanya memulihkanmu sesaat untuk menyiksamu lagi. Kita akan segwra pergi dari sini. Sam, siapkan helikopter. Kita akan ke bandara dan kembali ke Zurich. Oya, batalkan janjiku dengan Dokter Brad.”
“Baik, Bos!”
Maam itu juga, Nathan, Robert, dan Sam berangkat dari Mansion dengan menggunakan helikopter. Mereka pergi ke bandara dan selanjutnya pergi ke Zuruch dengan menggunakan pesawat pribadi. Hal itu untuk melindungi Robert dari kemungkinan informasi yang bocor ke Rocco.
**
Rocco yang tahu mansion keluarganya diserang saat ia sedang pergi menemui Daddynya yakni Mr. Bone, bersama dengan Jenia, menjadi marah besar. Ia membanting semua barang yang bisa ia hancurkan di dalam mansion mewah milik keluarganya itu.
“Sialannn!!! Bagaimana kalian bisa kehilangannya?!”
Bughh
Bughh
Rocco memukul beberapa penjaga yang gagal. Ia bahkan sudah mengeluarkan senjatanya dan menodongkannya di dahi mereka. Peluh bercucuran, tubuh mereka pun ikut gemetar.
“Maaf, Tuan. Saat itu keadaan sangat kacau. Ada kumpulan preman yang menyerang dari belakang dan mengambil beberapa persediaan makanan kita,” kata seorang penjaga berusaha menjelaskan.
“Dan kalian kalah?”
“Jumlah mereka lumayan banyak dan senjata yang mereka gunakan sungguh bukan tandingan kami. Beberapa penjaga terluka dan semua pegawai langsung berhamburan keluar mansion, membuat kami tak bisa menyeleksi satu persatu.”
“Mencuri persediaan makanan?” tanya Rocco.
“Benar, Tuan. Mereka mengambil persediaan kentang dan buah-buahan yang ada di gudang. Mereka bahkan melemparkan semacam gas air mata, hingga kami tak bisa melihat dengan jelas.”
Rocco mendengus kesal. Jika seperti itu, maka ia tak bisa berbuat banyak.
“Periksa CCTV dan segera serahkan padaku rekamannya,” perintah Rocco.
“Maaf sebelumnya Tuan, rekaman CCTV kita terhapus dalam 24 jam terakhir. Sepertinya para preman itu memang sudah menargetkan gudang makanan kita.”
Rocco berdecak kesal. Ia pun segera pergi dari sana, tapi sebelumnya ia memerintahkan untuk mencari keberadaan Robert secepatnya. Ia tak ingin keberadaan Robert akan mengancam posisinya sebagai pewaris tunggal Keluarga King.
🌹🌹🌹
__ADS_1