
Sam yang mendengar suara ledakan itu langsung membulatkan matanya. Bangunan hotel bergetar membuat semua tamu panik, bahkan yang sudah terlelap pun langsung terbangun dan mencari tempat yang aman.
Suasana hotel begitu kacau, membuat semua tamu dan pengunjung berhamburan ke luar bangunan, berdiri dalam jarak aman. Merek sangat takut jika ledakan tersebut membuat bangunan hancur dan runtuh.
“Bos!” Sam teringat pada atasannya. Ia pun ingin kembali masuk ke dalam hotel namun tak bisa. Pihak keamanan gedung melarang siapa pun untuk kembali masuk. Mereka tak ingin ada korban jiwa dari kejadian ini.
Para pengawal Mr. Bone pun mengambil jalur cepat menuju mobil mereka dan langsung membawa atasan mereka ke rumah sakit. Kondisi Mr. Bone sendiri tampak begitu mengenaskan. Jari-jari di tangannya sudah tak ada dan ia tak dapat berbicara. Bahkan beberapa bagian tubuhnya mulai terasa kaku atau bisa dikatakan mati rasa.
**
Suasana hotel menjadi kacau. Para tamu hotel pun segera dipindahkan ke hotel terdekat dengan biaya dari pihak pemerintah karena kejadian tak terduga tersebut dianggap sebagai aksi *******.
Sam menunggu dengan sabar siapa-siapa saja yang menjadi korban ledakan tersebut karena saat ini pihak kepolisian, medis, dan juga tim SAR sedang bekerja. Gelisah, itulah yang dirasakan oleh Sam.
Ponsel milik Sam berbunyi ketika ia sedang melihat beberapa orang tim SAR keluar dengan membawa sebuah tandu.
Degggg
Jantung Sam seakan berhenti berdetak ketika melihat siapa yang dibawa. Seorang pria dengan pakaian pelayan dan sebuah topeng yang sebagian sudah terlepas dari wajah. Selain itu, wajahnya juga sulit untuk dikenali.
Pihak kepolisian sedikit berbincang dengan tim SAR mengenai korban tersebut. Sam yakin bahwa mereka pasti menyangka bahwa korban tersebut adalah pelaku peledakan.
“Bos … apa itu benar dirimu? Apa yang harus kukatakan pada keluargamu jika itu benar,” gumam Sam. Ia terus melihat ke arah layar ponselnya di mana tertera nama Michael di sana. Sam yakin Michael ini menanyakan kabar Nathan karena tadi Sam sempat berbicara dengannya untuk membantunya mematikan beberapa titik CCTV.
Namun, mau tidak mau Sam harus tetap menjawab panggilan tersebut.
__ADS_1
“Ya, Mike.”
“Apa yang terjadi di sana? Jangan katakan padaku bahwa ledakan itu dibuat oleh Kak Nathan.”
“Tidak, Mike. Kami tak pernah berencana meledakkan tempat ini karena target kami hanya Mr. Bone.”
“Lalu bagaimana keadaan Kak Nathan? Biarkan aku bicara dengannya.”
“Saat ini keadaan masih kacau dan … aku belum menemukannya,” kata Sam.
“Apa?!”
Sam terdiam karena ia juga tak bisa memberi jawaban apapun pada Michael. Sebelum Michael mematikan sambungan ponselnya, ia berkata, “Tetaplah di sana, aku akan segera datang.”
Sungguh, saat ini Sam memang membutuhkan seseorang untuk membantunya. Ia sendiri bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Sam memutuskan menunggu kedatangan Michael, sambil melihat dan mempelajari informasi yang di dapat oleh pihak kepolisian. Sam tak ingin sembarangan bertanya karena bisa-bisa atasannya itu malah akan menjadi tersangka dalam peledakan tersebut.
Sementara itu di rumah sakit,
“Cepat tangani dia!” Perintah salah seorang anak buah Mr. Bone yang tadi membawa atasannya itu ke rumah sakit. Selain itu, ia juga menghubungi Rocco yang ia ketahui adalah putra dari atasannya.
Rocco yang sedang berada di sebuah hotel dan bergulat dengan seorang wanita sewaan, merasa kesal saat menerima telepon.
“Ada apa?!” tanyanya dengan ketus. Ia tahu bahwa yang menghubunginya adalah tangan kanan Dad Bone.
__ADS_1
“Tuan masuk rumah sakit dan saat ini sedang mendapatkan tindakan.”
Rocco menghela nafas panjang, “Aku akan segera ke sana.”
Rocco yang awalnya ingin melanjutkan pergulatannya pun menjadi tak berselera. Ia segera turun dari tempat tidur dan berpakaian, lalu meninggalkan wanita itu setelah melemparkan sejumlah uang.
**
Tak sampai tiga puluh menit, Rocco sampai di rumah sakit. Ia melihat tangan kanan Dad Bone berdiri di depan ruang ICU di mana Mr. Bone mendapat tindakan.
“Apa yang terjadi?” tanya Rocco.
Tangan kanan Dad Bone memperlihatkan sebuah berita di mana ledakan terjadi di hotel tempat terakhir Rocco bertemu dengan Daddynya itu.
“Siapa yang melakukannya?”
“Kami belum tahu, Tuan. Namun sebelum Tuan Bone keluar, ia berteriak pada salah seorang pelayan yang mengantarkan makanan, lalu ledakan pun terjadi.”
“Lalu bagaimana keadaan daddy?”
“Kondisi terakhir, tuan mengalami mati rasa di beberapa bagian tubuhnya. Ia tak dapat berbicara dan … jari-jari tangannya sudah tak ada.”
Rocco tersentak kaget. Keadaan Dad Bone sepertinya sangat parah.
Apakah ini kesempatanku? - batin Rocco.
__ADS_1
🌹🌹🌹