LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS

LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS
KAMU MENCINTAINYA?


__ADS_3

Keesokan harinya, terdengar kabar berita mengenai Mr. Bone. Berita tersebut tersiar di berbagai media. Hal itu dikarenakan Mr. Bone adalah salah satu pengusaha yang cukup berpengaruh di Benua Eropa.


“Senjata makan tuan,” gumam Robert saat ia duduk di depan televisi dan mendengarkan pemberitaan saat ini.


Rocco Bone, secara tertulis telah diakui oleh Mr. Bone sebagai putra kandungnya. Ia bahkan telah dilimpahi semua kekuasaan dan harta yang dimiliki oleh pria paruh baya itu.


Pemberitaan itu mengundang banyak investor yang mulai menanamkan investasi di perusahaan miliknya.


“Apa ini yang kamu makaudkan, Nath?” tanya Robert.


“Ini belum apa-apa, baru langkah awal. Kita tak perlu menunggu satu bulan ataupun satu minggu. Aku yakin dalam beberapa hari ke depan, para investor akan berlomba menarik kembali investasinya,” ujar Nathan.


“Kamu yakin?”


“Apa kamu sendiri yakin dengan kinerja Rocco?”


Robert sangat tahu bagaimana cara kerja Rocco. Pria yang ia kenal sejak dulu sebagai adiknya itu, selalu hanya ingin bersantai dan bersenang-senang. Ia lebih suka menadahkan tangannya daripada bekerja.


Robert menggelengkan kepalanya, membuat Nathan tersenyum. Ia mengambil remote kemudian mematikan tayangan televisi itu.


“Kalau begitu, tunggu-lah beberapa hari, aku yakin ia akan hancur dengan sendirinya,” kata Nathan.


Robert mencoba mempercayai Nathan. Meskipun Rocco adalah seseorang yang malas dalam bekerja, tapi Robert sudah mengetahui kelicikannya. Ia agak sedikit ragu kalau Rocco akan hancur hanya dalam waktu kurang dari seminggu.


**


Rocco yang kini duduk di belakang meja kerja milik Daddynya, yakni Mr. Bone, tersenyum senang. Ia mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di belakang kepala.


“Ini luar biasa! Saat ini aku adalah pengusaha terkaya di Benua Eropa ini. Tak hanya perusahaan milik Dad Bone, tapi juga milik Dad Richard. Aku harus segera meminta pengacara memindahkan semua milik dad Richard atas namaku,” gumam Rocco.


Ia kembali terdiam dan berpikir, “tapi … aku belum memiliki bukti bahwa Robert dan Elouise telah meninggal. Ahhh, aku akan membuat makam mereka.”


Ide Rocco tersebut langsung ia realisasikan. Setelahnya, ia akan mendatangi pengacara keluarganya dan memintanya mempercepat semua proses.


Brakkk

__ADS_1


Senyum di wajah Rocco menghilang ketika melihat siapa yang membuka pintu ruang kerjanya dengan kasar.


“Rocco!”


“Apa yang kamu lakukan di sini?!” tanya Rocco.


“Aku? Tentu saja untuk mengambil apa yang menjadi bagianku. Bukankah kamu telah berjanji akan memberikan separuh harta keluargamu untukku jika aku selalu berada di sampingmu,” kata Jenia.


“Tapi kamu sudah tak ada di sampingku dan kamu tak bisa menuntut apapun!” ujar Rocco yang tak mau jika hal itu sampai terjadi.


“Hmm … baiklah kalau maumu seperti itu, maka kita akan bertemu di pengadilan,” ancam Jenia.


“Pengadilan?! Jangan macam-macam denganku Jenia Demeter!”


Jenia memutar kembali tubuhnya hingga ia kembali berhadapan dengan Rocco.


“Aku tak pernah macam-macam denganmu, justru kamu-lah yang berkhianat dariku. Ucapanku tadi tak main-main Rocco Bone! Aku, Jenia Demeter, memiliki semua bukti kebusukanmu. Jika kamu tak menepati janjimu, maka aku juga akan memastikan kamu masuk ke dalam penjara dan membusuk di sana,” ancam Jenia sambil tersenyum.


Rocco bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendekati Jenia. Secara tiba-tiba Ia memegang rahang Jenia dengan sebelah tangannya dan menatap Jenia dengan tajam.


“Bunuhlah aku, maka anakmu akan mati bersamaku,” kata Jenia sambil memegang perutnya.


Mata Rocco membulat. Ia tak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Jenia. Pria itu langsung menarik pergelangan tangan Jenia dan mengajaknya pergi dari perusahaan. Rocco akan membawa Jenia ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut


Di rumah sakit,


“Selamat, Nyonya. Anda memang sedang hamil dan usia kandungan anda sudah berjalan sekitar lima minggu,” kata dokter kandungan.


Jenia tersenyum sementara Rocco terlihat diam. ia masih mencerna semua yang terjadi.


Anak? Aku benar-benar akan memiliki anak? Aku akan menjadi seorang Daddy? - batin Rocco.


**


Satu minggu berlalu dan tak ada pergerakan apapun dari Rocco, membuat Nathan dan Robert merasa bingung.

__ADS_1


“Kamu bilang semua akan berhasil, Nath.”


“Tunggulah dulu. Aku merasa ada sesuatu yang kulewatkan,” kata Nathan.


Keduanya berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerja, hingga pintu diketuk pun tak ada yang mendengarz pada akhirnya Elouise membuka pintu dan masuk ke dalam.


“Kak, ini minumnya,” Elouise meletakkan dua cangkir kopi dan sepiring cemilan untuk keduanya.


“Terima kasih, El,” kata Nathan, membuat Elouise langsung tersenyum. Hal itu membuat Robert kembali yakin bahwa Elouise sudah memiliki rasa yang cukup dalam pada Nathan.


“Kak, Kak Rocco akan menikah,” ujar Elouise.


Nathan dan Robert langsung menoleh lagi ke arah Elouise.


“Menikah? Dengan siapa? Dari mana kamu mengetahuinya?” tanya Robert secara berurutan.


“Dengan seorang wanita bernama Jeni kalau aku tidak salah dengar. Aku melihatnya di televisi dan disiarkan secara langsung karena Kak Rocco membuat konferensi pers.” jawab Elouise.


Robert menoleh ke arah Nathan. Jenia adalah mantan tunangan Nathan, eh salah … calon istri Nathan. Saat melihat wajah Nathan, Robert tak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Nathan.


Sialannn!!! Aku melewatkan Jenia. Wanita itu bisa melakukan apapun untuk menggagalkan rencanaku. Ia pasti yang telah mengubah cara berpikir Rocco. - batin Nathan.


Nathan mendekati Elouise kemudian mengecup pucuk kepala gadis itu, “terima kasih atas informasinya. Itu sangat penting dan sangat membantu.”


Sontak wajah Elouise langsung memerah dan jantungnya berdebar cepat. Ia memegang daddanya dan melihat ke arah punggung Nathan yang keluar dari ruangan.


“Kamu mencintainya, El?” tanya Robert saat Elouise sedang melamun.


“Ya, aku mencintainya. Apa dia mencintaiku?”


Mata Elouise membulat saat tersadar dengan apa yang ia ucapkan. Ia langsung menoleh ke arah Robert yang kini tersenyum padanya.


“Kakak akan membantumu meluluhkan cara berpikirnya. Karena hatinya sudah menjadi milikmu, El.”


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2