
Untuk meyakinkan Sena, Elouise mengajak wanita itu bertemu dengan Rocco, dan di sini lah mereka berada sekarang, di sebuah restoran di dalam mall tersebut.
“Terima kasih, Nyonya. Anda telah berbaik hati memberikan pekerjaan dan tempat tinggal untuk adik saya. Saya benar-benar berterima kasih. Dari sini, saya sebagai keluarganya, akan mengambil alih menjaganya. Ia adalah adik saya, keluarga saya satu-satunya,” kata Rocco.
“Bagaimana kalau Cle tetap bersama saya saja? Saya sudah sangat cocok dengannya dan akan sulit bagi saya mencari asisten baru lagi,” pinta Sena.
“Maaf sebelumnya, Nyonya. Tapi saya tak ingin adik saya bekerja lagi. Biarlah saya saja yang bekerja dan saya pastikan akan mencukupi kebutuhannya,”
Elouise beberapa kali melihat ke arah Aunty Sena dan pada kakaknya Rocco. Ia sendiri merasa serba salah, apaagi Sena sudah begitu baik padanya.
“Kalau anda masih ragu, bagaimana kalau kita membiarkan Elouise yang menentukan saja?” tanya Rocco.
“Elouise? Bukankah namanya Cleo?” Kini Sena yang menautkan kedua alisnya bertanya.
“Bukan, Nyonya. Nama adik saya adalah Clementine Elouise.”
“Kalau begitu, kamu tak perlu bertanya padanya. Saya yang akan melepasnya dan membiarkan kamu menjaganya. Saya juga tidak bisa bekerja dengan seseorang yang berbohong pada saya,” kata Sena
Sena mengeluarkan sebuah buku cek dan menuliskan sesuatu di sana, “Ini gajimu. Saya permisi.”
Sena segera beranjak dari sana dan meninggalkan Elouise. Elouise yang merasa tidak enak dengan Sena pun berniat mengejarnya. Namun, Rocco langsung memegang pergelangan tangannya dan menggelengkan kepalanya.
“Jangan dikejar lagi,” Rocco mengambil cek yang ada di atas meja dan melihat nominalnya. Lumayan, demikian pikirnya. Baru bekerja sebentar, adiknya ini sudah menghasilkan lumayan besar. Ia mulai memikirkan pekerjaan apa yang cocok untuk adiknya ini.
“Ayo kita pulang,” kata Rocco.
Rocco menggandeng Elouise. Ia harus segera membawa Elouise kembali ke Belgia, ke mansion keluarga mereka. Namun, ada sedikit keraguan dalam hati Rocco, yakni Elouise bisa saja kabur lagi ketika ia mengetahui yang sebenarnya. Oleh karena itu, sebaiknya ia tetap berada di Amsterdam untuk menentukan arah rencananya.
“Kita akan ke mana, Kak?” tanya Elouise.
“Pulang. Kakak sekarang tinggal di sebuah apartemen kecil,” jawab Rocco.
Dengan menggunakan sebuah mobil, Rocco membawa Elouise ke sebuah apartemen. Mulai ada sedikit keraguan dalam diri Elouise, pasalnya Rocco menggunakan mobil yang terbilang cukup mewah. Selain itu, saat ini juga mereka memasuki sebuah apartemen yang mewah.
“Mengapa kita ke sini, Kak?” tanya Elouise.
“Ini apartemennya.”
__ADS_1
“Bukankah kakak bilang apartemen kecil?”
Deggg
Rocco baru tersadar bahwa Elouise pasti mencurigainya. Ia pun berpikir dan mencari jawaban lain.
“Apartemen dan mobil ini adalah milik kekasihku. Ia bersedia menampungku sementara waktu hingga aku menemukan tempat yang lebih layak, apalagi sekarang aku memilikimu,” jawab Rocco.
“Ooo ….,” kata Elouise singkat.
Setelah memberikan kunci mobil pada petugas valet, Rocco kembali mengajak Elouise menuju lift, yang akan membawa mereka ke unit apartemen yang sebenarnya adalah milik Rocco.
Sampai di salah satu pintu unit apartemen, Rocco langsung menekan password dan masuk. Seorang wanita berpakaian seksi menyambut kedatangan Rocco, namun menautkan alisnya ketika melihat kehadiran Elouise.
“Sayang …”
“Aku akan menjelaskannya,” kata Rocco, “El, kamarmu di sana.”
Elouise terdiam saat melihat kakaknya itu masuk ke dalam kamar bersama dengan wanita berpakaian seksi tadi. Ia pun berjalan ke arah pintu yang ditunjuk oleh Rocco.
Blessshhh
“Apa kakak memintaku beristirahat di ruangan seperti ini? Apa tidak salah?” gumam Elouise.
Perasaannya semakin campur aduk ketika ia mendengar suara dessahan yang saling bersahutan dari kamar tidur yang tadi dimasuki oleh kakaknya dan wanita berpakaian seksi itu.
Apa mereka melakukannya? Ini gila! - Elouise mulai merasa salah langkah telah mengikuti kakaknya. Dengan cepat ia berjalan ke arah pintu masuk dan berusaha membuka pintunya, namun tak bisa.
“Apa kakak menguncinya? Bagaimana aku bisa keluar kalau begini?” gumam Elouise. Semakin lama suara dessahan itu semakin kencang hingga membuat Elouise menutup telinga dengan kedua tangannya.
Sementara itu di dalam kamar,
“Faster, honey! Fasterr!!” teriak Jenia ketika ia akan kembali mencapai puncak.
“Tunggu, aku belum,” kata Rocco.
Rocco kembali melummat bibir Jenia sambil terus menghentakkkan pinggulnya. Gairrahnya semakin memuncak kala mendengar suara dessahan Dan wajah penuh kenikmatan yang ditunjukkan oleh Jenia
__ADS_1
”Ahhh!!!” teriak keduanya bersamaan ketika mereka sama-sama mencapai puncak.
“Kamu benar-benar selalu luar biasa,” kata Rocco.
“Tentu saja, sayang. Kamu juga hebat. Aku suka permainanmu yang begitu lama,” puji Jenia.
Rocco berbaring di samping Jenia dengan tubuh yang masih polos. Ia mencoba mengatur nafasnya dan memejamkan matanya. Jenia yang tadi pangsung diserang oleh Rocco, kini mengambil posisi menyamping. Ia menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya lagi memainkan milik Rocco yang masih tegak berdiri.
“Kamu menggodaku lagi, sayang?” tanya Rocco.
“Tidak! Aku hanya menyukainya saja. Sekarang katakan padaku, siapa dia?”
“Apa kamu tidak mengenalinya? Ia adalah Elouise, adikku,” kata Rocco.
“Adik tirimu?” tanya Jenia.
“Ya.”
“Bukankah ia sudah mati?! Mengapa sekarang ia ada di sini?” kata Jenia dengan suara agak kencang.
“Sejak pertama kali anak buahku mengatakan ia meninggal, aku belum percaya. Apalagi belum ada yang menemukan jenazahnya. Lalu tadi, saat aku pergi ke Mall, aku melihatnya masuk ke dalam salah satu supermarket. Aku mengikutinya dan saat ia sendirian, aku langsung menghampirinya,” kata Rocco.
“Lalu mengapa kamu membawanya ke sini?” tanya Jenia.
“Aku akan membawanya kembali ke Mansion, tapi aku takut ia akan kabur seperti sebelumnya. Jika hal itu sampai terjadi, maka ia akan lebih berhati-hati dan akan lebih sulit menemukannya.”
“Aku sedang berpikir, apa yang harus kulakukan dengannya. Jika aku mendiamkannya, tentu suatu hari nanti akan berbalik menghancurkanku. Tapi saat ini aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat,” kata Rocco.
“Kamu bingung, sayang? Hal ini sangat mudah sekali, bahkan kamu akan mendapatkan keuntungan lagi,” kata Jenia.
“Apa kamu punya ide?” tanya Rocco.
“Tentu saja! Aku ini cerdas, sayang,” kata Jenia sambil tertawa dengan begitu renyahnya.
Sementara itu, Elouise yang sedang duduk di sofa, mendengar cukup jelas pembicaraan mereka. Peredam suara hanya ada antar unit apartemen, tapi di dalam tidak ada, jadi Elouise dengan mudah mendengar pembicaraan mereka.
“Mereka akan menjualku?” gumam Elouise yang tubuhnya mulai bergetar ketakutan.
__ADS_1
Kak Nathan, tolong aku. - batin Elouise.
🌹🌹🌹