
“Babe, aku mau makan makanan Jepang,” kata Jenia sambil mengelus perutnya.
“Makanan Jepang? Makanlah makanan yang ada di meja makan,” ujar Rocco.
Belakangan ini banyak sekali permintaan Jenia, mulai dari pakaian bermerk yang didesain oleh perancang busana asal Jepang, buah yang hanya ada di Jepang, dan bahkan ia menginginkan berlibur ke Jepang. Bukan karena Rocco tak mampu memenuhi permintaannya, tapi lebih karena Rocco menganggap permintaan Jenia sangat mengada-ada.
“Aku tidak mau. Ini permintaan anakmu, babe,” kata Jenia sekali lagi. Ia berharap Rocco luluh. Buktinya hanya dengan mengatakan bahwa ia sedang hamil saja, Rocco langsung mengajaknya menikah.
Rocco menoleh ke arah Jenia kemudian menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini ia sedang berusaha mendapatkan harta kekayaan Keluarga King, jadi ia sangat sibuk dengan pengacara dan juga beberapa orang yang ia minta membuat bukti bahwa hanya tinggal dirinya lah keturunan Keluarga King yang tersisa.
“Minta pada Darwin saja,” ujar Rocco.
“Daddy anakku itu kamu, mengapa kamu malah menyuruhku meminta pada Darwin?” tanya Jenia.
“Aku sedang sibuk dan kepalaku pusing. Jangan membuatku kesal!”
“Babe!”
“Kalau apa yang kukerjakan ini gagal, apa kamu mau hidup miskin hah?! Apa kamu ingin hidup luntang lantung di jalan? Apa kamu mau bekerja untuk menghidupi anak kita?” tanya Rocco yang langsung membuat Jenia terdiam.
“Baiklah! Aku akan memintanya pada Darwin!” Jenia pun segera pergi dari hadapan Rocco.
**
__ADS_1
Mr. Bone yang kini sudah tak memiliki apa-apa karena semua harta dan kekuasaannya, merasa geram. Ia melihat ke arah televisi yang masih terus memutar konferensi pers Rocco yang mengambil alih perusahaan dan semua aset miliknya.
“Anak sialannn!! Seharusnya aku tak pernah mengambilmu lagi dari Keluarga King. Kamu sama saja seperti wanita murahhan itu,” kata Bone dengan geram di dalam hatinya.
Tiba-tiba, ia mengingat kembali ucapan Nathan sesaat sebelum ia meledakkan kamar hotel tempat ia menginap waktu itu.
Kamu akan serasa mati meskipun kamu hidup!! Pegang kata-kataku!
Ya, saat ini memang Bone merasa ingin mati karena tak ada yang dapat ia lakukan. Tubuhnya telah mati rasa di beberapa bagian dan tak dapat berbicara. Ia bahkan sering tak dianggap, bahkan oleh pelayan yang ada di rumahnya itu.
Bone dibiarkan BAK dan BAB tanpa dibantu, membuat tubuhnya dan kamar yang ia tempati menjadi sangat bau dan ia sendiri pun tak tahan. Bahkan beberapa hari lalu, pelayannya itu pergi meninggalkannya, hingga ia kini hanya seorang diri di dalam rumah kecil itu.
“Arghhhhh!!!” Bone berteriak di dalam rumah. Suara teriakannya sampai ke luar, membuat para tetangga bertanya-tanya saat mendengarnya. Salah satu dari antara mereka pun akhirnya memanggil pihak kepolisian karena merasa bahwa teriakan tersebut tidak biasa.
**
“Baiklah, aku hanya perlu menandatangani surat-surat saja kan?” tanya Nathan.
“Benar, Bos! Pernikahan ini akan di-sah-kan oleh negara. Akan tetapi untuk pernikahan secara agama, belum dapat kulakukan karena ada beberapa hal yang harus diurus.”
“Tak apa, yang terpenting pernikahanku sah dulu secara negara. Selanjutnya akan kita pikirkan lagi, mengingat kondiai keamanan saat ini.”
“Baik, Tuan. Saya akan membawa surat-suratnya ke sini nanti malam.”
__ADS_1
“Terima kasih, Sam,” kata Nathan.
“Sama-sama, Bos!”
Pernikahan Nathan dengan Elouise akan ia laksanakan secara pribadi dengan Robert dan Sam sebagai saksi. Setelah itu, ia akan membiarkan Elouise tetap berada di dalam mansion miliknya dengan penjagaan super ketat. Ia tak akan membiarkan siapa pun menyakiti istrinya itu nanti.
Setelah kepergian Sam, Nathan mendatangi kamar tidur Robert. Sahabatnya itu tengah berdiri seorang diri di balkon kamarnya dan menatap ke arah taman belakang yang banyak pepohonan. Di balik pepohonan itu, mansion keluarga King berada. Milik keluarganya ada di dekatnya tapi terasa begitu jauh.
Nathan berdiri di samping Robert dan menoleh ke arah sahabatnya yang sepertinya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Aku akan menikahi adikmu nanti malam. Kamu dan Sam akan menjadi saksi dalam pernikahan tersebut.”
“Hmm … tapi ingatlah Nath, jika kamu sampai membuatnya menangis ataupun terluka, aku akan membawanya pergi darimu.”
“Aku tahu. Aku tak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menjaga putri terakhir Keluarga King, bahkan aku juga akan menjaga kakak iparku,” canda Nathan, membuat Robert menoleh dan tersenyum.
“Apa kamu tahu bahwa Rocco telah membiarkan Daddy kandungnya terlantar?” tanya Robert.
“Ya, aku tahu. Aku sudah mendapat informasi itu sejak ia keluar dari rumah sakit.”
“Rocco sudah benar-benar gila! Ia haus harta dan kekuasaan. Ia tak lagi memandang keluarga sedarah ataupun keluarga yang sudah menyayanginya bertahun-tahun,” ujar Robert.
“Aku tahu ini akan terjadi, tapi Mr. Bone sama sekali tak mendengarku. Ia terlalu percaya pada putranya sendiri,” kata Nathan.
__ADS_1
Dorrrr!!!
🌹🌹🌹