
Keesokan harinya, Elouise pergi meninggalkan rumah sederhana milik Grandpa John dan Grandma Mina.
Flashback On
“Ini …,” Elouise membuka kotak yang diberikan oleh Grandma Mina.
“Kamu bisa menjualnya untuk kehidupanmu, ,” kata Grandma Mina.
“Tapi aku tidak pantas mendapatkan ini,” kata Elouise mengembalikan kotak tersebut pada Grandma Mina.
Aku bahkan membohongi kalian bahwa aku lupa ingatan. Betapa tak berperasaan dan tak tahu dirinya aku jika menerima apa yang kalian berikan. Kalian terlalu baik untukku. - batin Elouise.
“Terimalah, sayang. Lagipula, kami hanya hidup berdua. Kami tak membutuhkan hal semacam ini. Kamu pasti pebih membutuhkannya,” kata Grandma Mina.
Elouise langsung memeluk Grandma Mina. Air mata lolos begitu saja dan mengalir di pipinya. Meskipun ia mengalami hal buruk, tapi ia masih dipertemukan dengan orang baik. Hidup memang tak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Namun suatu hal yang pasti, tak menyerah adalah kuncinya.
Flashback Off
“Hati-hati, sayang,” kata Grandpa John sebelum mereka berpisah. Elouise selalu mendapat panggilan sayang dari sepasang pria dan wanita paruh baya itu, karena Elouise dianggap tak ingat akan namanya.
“Thank you, Grandpa. Aku akan mengunjungi kalian lagi nanti,” kata Elouise. Ia berjanji di dalam hatinya, suatu hari nanti ia akan kembali mencari Grandpa John dan Grandma Mina untuk membalas semua kebaikan mereka.
Setelah berpisah, Elouise pergi ke sebuah toko yang berjual beli emas. Ia memiliki beberapa koin emas yang diberikan oleh Grandma Mina. Ya, isi kotak tersebut adalah koin-koin emas yang Elouise yakin harganya cukup mahal.
“Aku ingin menjual ini,” kata Elouise.
Setelah berhasil menjual satu buah koin emas, Elouise bergegas pergi ke kota. Ia memang tak mengenal siapapun di sana, bahkan ia masuk ke negara itu bisa dikatakan secara ilegal karena ia tak memiliki surat-surat apapun.
Dengan menggunakan transportasi umum, Elouise pergi ke kota dan mencari pekerjaan. Ia menggunakan pakaian laki-laki dan juga sebuah topi, tak lupa ia membuat wajahnya sedikit kotor agar tak terlihat betapa bening wajahnya. Ia juga menggunakan sarung tangan untuk menutupi betapa lentik jari-jari tangannya.
Sesampainya di kota, Elouise pergi mencari pekerjaan. Ijazah yang ia miliki tentu saja tertinggal di Mansion milik Keluarga King.
“Apa yang harus kulakukan?” gumam Elouise. Ia duduk di sebuah kursi taman sekaligus beristirahat sejenak. Matanya menatap ke sekeliling dan ia bingung apa yang harus ia lakukan.
“Hei pencuri!!” Elouise langsung menoleh ke arah asal suara. Ia melihat seorang pria dengan topi kupluk tengah membawa sebuah tas tangan berwarna hitam. Elouise tak pintar dalam berkelahi jadi ia hanya memanjangkan kakinya saja, berharap pria pencuri itu terjatuh.
Brughhh
__ADS_1
Dan benar saja, pria itu langsung terjerembab dengan wajah yang pertama kali menyentuh trotoar.
Aduhh, itu pasti sakit sekali. - batin Elouise.
Di belakang pria itu tampak seorang wanita berlari dengan membawa sepatu heels di kedua tangannya.
Buggg buggg
Dengan segenap tenaganya, wanita itu memukul pria pencuri itu dengan sepatunya. Bahkan ia menindih tubuh pria itu dengan salah satu lututnya.
“Amazinggg!!” gumam Elouise saat melihat itu.
“Berani sekali kamu mengambil tas-ku, hah?!”
Wanita itu mengambil tas yang ada di tangan pencuri itu dan sekali lagi memukul pencuri itu dengan tas tersebut. Hal itu tentu saja membuat Elouise menggelengkan kepalanya dengan bibir membentuk huruf O karena kagum.
“Lain kali kalau mau mencuri, lihat-lihat dulu siapa lawanmu!” kata wanita itu sambil membersihkan bagian bawah dress miliknya.
Dua orang security yang ikut berlari bersama wanita itu langsung membawa pria itu ke posko keamanan terdekat di sana dan akan segera dimintai keterangan.
Wanita itu menoleh ke arah Elouise dan tersenyum, “terima kasih karena sudah membantuku.”
“Kamu seorang gadis? Ya Tuhan, kenapa kamu menggunting rambutmu seperti ini?” Mendengar suara Elouise, wanita itu pun memegang rambut Elouise yang dipotong pendek seperti pria, tapi terkesan berantakan.
“Tidak apa, aku hanya kepanasan saja,” ujar Elouise.
“Ayo ikut denganku,” wanita itu mengambil tangan Elouise kemudian menggandengnya. Ia membawa Elouise ke salon langganannya.
Sesampainya di sana,
“James, bisa kamu rapikan rambutnya?”
“Tentu saja, Nyonya. Silakan duduk,” ujar James.
“Tapi, Nyonya. Saya harus pergi,” kata Elouise.
“Kamu tak akan ke mana-mana sebelum kita memperbaiki rambutmu itu. Seorang gadis itu harus memperhatikan penampilannya, tidak boleh asal-asalan. Oya, siapa namamu?”
__ADS_1
Elouise tampak berpikir. Ia tak boleh sembarangan menyebutkan namanya kalau tak mau kembali ditemukan dan ditangkap oleh orang-orang jahat tang membunuh keluarganya.
“Cleo,” jawab Elouise.
“Kenalkan, namaku Sena. Kamu bisa memanggilku Aunty Sena.”
Setelah menikah dengan Jack, Sena pindah ke Belanda, tepatnya di Kota Amsterdam. Ia menyerahkan semua tanggung jawab perusahaan pada kakak sulungnya.
“James, buat dia secantik mungkin, okay. Aku keluar sebentar,” kata Sena, “dan jangan sampai dia pergi ke mana-mana.”
“Siap, Nyonya!” kata James.
“Tuan, saya pergi saja,” kata Elouise yang ingin pergi karena ia tak ingin mengubah penampilannya. Bagaimana nanti jika ia kembali terlihat seperti Elouise sebelumnya.
”Tidak boleh! Kamu harus tetap di sini,” ujar James yang tak ingin kehilangan kepercayaan dari Sena yang merupakan pelanggan tetapnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Sena kembali ke salon sambil menenteng sebuah paperbag. Ia tersenyum ketika melihat rambut Elouise yang kini sudah rapi.
“Kamu benar-benar cantik,” ujar Sena, “sekarang ganti pakaianmu.”
“Tapi, Nyonya. Saya harus segera pergi.”
“Memangnya kamu mau ke mana?” tanya Sena.
“Saya sedang mencari pekerjaan,” jawab Elouise.
Sena tersenyum, “kalau begitu ikutlah denganku. Aku akan memberimu pekerjaan.”
“Benarkah?” tanya Elouise antusias, namun sedetik kemudian ia merasa ragu. Ia takut jika Sena menjadikannya wanita malam. Bukankah pemilik klub malam biasa mencari mangsa di jalanan dengan berbuat baik dan menarik para gadis atau wanita untuk bekerja dengan mereka?
“Benar, bahkan aku akan memberikan bayaran yang besar padamu.”
Tuh kan benar. Ini sudah pasti aku akan dijadikan wanita malam. Aku didandani, diberi pakaian, lalu mulai dijajakan. Ya ampun, aku harus lari dari sini. R- batin Elouise.
Sena mulai tertawa kecil ketika melihat wajah Elouise yang sepertinya panik dan ketakutan, “kamu tenang saja. Aku tak akan menjadikanmu wanita malam. Aku tak punya klub dan tak suka pergi ke tempat semacam itu.”
“Lalu?”
__ADS_1
“Aku ingin kamu menjadi asisten pribadiku.”
🌹🌹🌹