
Nathan masih terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah sadar sejak beberapa hari yang lalu, tapi tak diperbolehkan untuk bangkit karena luka di bagian perutnya belum sepenuhnya mengering.
“Apa kamu sudah mengirimkan berita itu, Sam?” tanya Nathan.
“Sudah. Mike membantu semua prosesnya. Aku bingung bagaimana cara Mike melakukannya. Berita itu hanya terkirim ke ponsel milik Robert, Rocco, dan sekutu-sekutunya. Ia benar-benar pria yang luar biasa,” ujar Sam.
“Ia memang luar biasa, Sam. Mungkin karena hal itu juga Niesha mencintainya,” kalimat terakhir hanya bisa ia ucapkan di dalam hatinya.
“Lalu bagaimana keadaan Elouise?”
“Ia baik, bahkan sangat baik. Niesha benar-benar menjaganya. Seharusnya kamu memberikan adik kecilmu itu hadiah,” kata Sam.
“Tentu saja, aku pasti akan memberikannya hadiah. Apapun yang ia inginkan,” kata Nathan, “dan … panggilkan dokter. Aku ingin pulang sekarang.”
Nathan tetap saja keras kepala. Sam harus menurutinya saat ini. Ia pun bergegas menemui dokter. Setelah itu, mereka keluar dari rumah sakit melalui basement karena tak ingin ada yang melihat keberadaan Nathan.
Mobil berwarna hitam itu pun melaju membelah jalan raya di ibukota Belgia itu. Mereka langsung menuju bandara dan akan terbang ke Zurich di mana keluarga Neutron dan Elouise berada.
**
“Berhasil!” Rocco berteriak memegang sebuah surat pengalihan kekuasaan perusahaan milik Richard King. Meskipun pelimpahan aset belum bisa mereka dapatkan, tapi dengan kekuasaan yang ia dan Robert miliki saat ini, tak akan sulit membuat semua keinginan mereka menjadi kenyataan.
__ADS_1
Robert yang masih sibuk dengan beberapa berkas, menengadahkan wajahnya melihat ke arah Rocco yang masuk ke dalam ruangan dengan memegang sebuah map di tangan kanannya.
“Apa yang berhasil?” tanya Robert.
“Tentu saja kekuasaan Keluarga King.”
“Lalu bagaimana dengan asetnya?”
“Hal itu belum bisa dialihkan. Mereka tak bisa mengubah pewaris sebelum masa satu tahun dari kematian Richard dan Emma. Kita harus menunggu beberapa bulan lagi.”
“Tapi bukankah kamu sudah membuat makam palsu?” tanya Robert.
“Ya aku sudah melakukannya, tapi ya seperti yang tadi kukatakan, kita harus menunggu satu tahun sejak pemilik aset dinyatakan meninggal.”
“Itu adalah aturan baru Kerajaan Belgia dan hanya dikhususkan bagi anggota kerajaan karena di dalamnya sering terjadi pertikaian akibat harta dan tahta,” jawab Rocco.
Robert berdecak kesal. Ia tak berharap hal ini karena ia ingin semua harta dan kekuasaan adalah miliknya, bahkan sebenarnya ia tak ingin berbagi dengan Rocco. Hanya saja, ia membutuhkan Rocco untuk memuluskan jalannya. Rocco masih memiliki perusahaan milik Mr. Bone jadi tak akan terlalu menuntut harta keluarga King. Sementara dengan kekuasaan, ia akan mulai melakukan sesuatu agar Rocco tidak terlalu peduli dengan tahta bangsawan Belgia.
“Baiklah, tidak masalah. Aku akan mencari cara mendapatkan semua itu, lagipula gadis itu tak akan pernah keluar lagi dari persembunyiannya. Jika sampai ia keluar, kita akan langsung menghabisinya,” ujar Rocco.
Rocco menghempaskan tubuhnya ke atas sofa dan menghela nafasnya pelan, “Rob, apa kamu punya ide untuk menyingkirkan Jenia? Aku kesal sekali dengannya. Ia terus saja meminta barang-barang mahal. Ia bilang itu keinginan bayi kami.”
__ADS_1
“Kamu turuti saja dulu keinginannya, setelah ia melahirkan, ambil bayinya dan buang dia. Kamu tak perlu lagi mempedulikannya,” kata Robert tanpa banyak berpikir.
“Idemu benar-benar brilian! Kalau begitu aku akan bersenang-senang dulu sebelum melakukannya,” ujar Rocco, kemudian meninggalkan Robert yang tengah mengerjakan pekerjaan yang seharusnya adalah tugas Rocco.
Setelah kamu menyingkirkan Jenia, maka aku yang akan menyingkirkanmu. - batin Robert.
**
“El …,” Nathan memanggil Elouise yang tengah bermain dengan kelinci putih milik Niesha di taman belakang.
Elouise menoleh saat mendengar suara yang ia kenal, “Kak Nathan.”
Elouise berlari sambil menghambur ke pelukan Nathan, membuat pria itu sedikit meringis karena jahitan bekas luka tusuknya yang belum terlalu mengering terkena sentuhan. Lukanya memang cukup dalam dan membuat Nathan harus istirahat penuh jika ingin sembuh dengan benar.
“Kakak baik-baik saja?” tanya Elouise.
“Aku baik-baik saja,” jawab Nathan.
“Di mana Kak Robert?” Elouise belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada yang menceritakan apapun padanya.
“Kamu mau mendengarkan ceritaku? Tapi aku minta jangan menyela semua perkataanku sampai aku selesai. Genggamlah tanganku jika kamu merasa sakit ataupun bersedih,” kata Nathan.
__ADS_1
Hal itu membuat Elouise menautkan kedua alisnya sedikit curiga dan bertanya-tanya. Nathan sendiri tak ingin menyimpan kebenaran yang memang seharusnya Elouise tahu, agar wanita di hadapannya itu bisa berhati-hati saat bertemu dengan musuh yang sebenarnya.
🌹🌹🌹