
Mr. Bone berdiri menatap sebuah makam yang tak lain adalah putra kandungnya sendiri, Rocco. Tak pernah terbayang olehnya bahwa ia akan memakamkan putranya terlebih dulu. Sebelumnya, ia menyangka bahwa dirinya lah yang akan meninggal terlebih dulu, saat Rocco menelantarkannya begitu saja.
Kedatangan Nathan saat ia telah pupus harapan, bagaikan angin segar. Awalnya ia ingin membalaskan semua perlakuan Rocco padanya. Ketika mengurung Rocco beberapa hari, hatinya mulai melunak. Namun, Rocco berbuat kesalahan dengan melarikan diri yang mengakibatkan Jenia berhasil membunuh putra tunggalnya itu.
“Aku turut berduka cita,” kata Nathan sambil menepuk bahu Mr. Bone.
“Terima kasih.”
Setelah menyampaikan ucapan itu, Nathan pergi meninggalkan area pemakaman itu. Ia akan membawa Elouise kembali ke Belgia karena Nathan akan tinggal di Mansion miliknya. Ia juga akan membuat jalur penghubung antara Mansion miliknya dengan Mansion Keluarga King.
Klan Mafia milik Nathan akan mendapat area khusus di Mansion tersebut. Mereka juga tak akan bekerja di jalur ilegal lagi, kecuali musuh mereka mencari masalah terlebih dahulu.
**
Beberapa bulan kemudian,
Oekkk oekkk …
Terdengar suara tangisan seorang bayi perempuan yang begitu nyaring di dalam sebuah ruang persalinan. Nathan tampak menggenggam erat tangan Elouise, kemudian mengecup kening istrinya itu.
Seorang bayi cantik yang merupakan pewaris pertama Keluarga Neutron dan Keluarga King telah lahir.
Quinevere King Neutron
Nama cantik yang disiapkan oleh Nathan dan Elouise. Mereka berdua akan tetap menggunakan dua nama keluarga itu agar nama Keluarga King juga tak akan hilang.
__ADS_1
Elouise segera dipindahkan ke ruang rawat VVIP setelahnya. Nathan juga meminta agar putri kecil mereka berada dalam satu ruangan yang sama.
Keluarga Nathan, Dad Gavin dan Mom Anna, menemani mereka. Tak lama, hadir seseorang yang belakangan sering sekali bersua dengan Nathan.
“Halo cucu cantik, Grandpa,” katanya dengan senyum di wajahnya. Meski menggunakan kursi roda, tapi tak menghalangi Mr. Bone bepergian ke mana pun.
Ia menyerahkan semua kepemimpinan perusahaannya pada orang-orang kepercayaannya dan memilih berkeliling dunia. Ia secara khusus kembali ke Belgia saat mendengar bahwa Elouise akan melahirkan.
“Ia bukan cucumu,” kata Nathan.
“Sayang …,” Elouise memegang lengan Nathan karena suaminya itu selalu saja mencari gara-gara setiap berada di dekat dengan Mr. Bone.
“Aku benar, sayang. Quin bukan cucunya. Ia saja yang mengaku-ngaku,” ujar Nathan.
“Kalau begitu aku akan mengangkat Elouise sebagai putriku. Bukankah dengan begitu Quin akan menjadi cucuku?” ujar Bone yang sepertinya sengaja membuat Nathan kesal.
Quin sendiri tampak bergerak-gerak kecil dan menggenggam salah satu jari Bone.
“Lihatlah, cucuku memegang jariku,” kata Bone dengan bangga, membuat Nathan ingin sekali mengambil Quin dari tangan Bone. Namun Elouise menggelengkan kepalanya dan membiarkan Bone menikmati waktunya. Elouise tahu dari Nathan bahwa Bone kehilangan masa kecil bersama dengan Rocco karena Mommy Rocco membawa putra Bone pergi.
Akhirnya Nathan hanya diam menatap Bone. Ada rasa kasihan juga dalam hati Nathan pada Bone yang sudah berusia seperti Dad Gavin, namun tak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.
“Tuan Bone, bolehkah saya mengundang anda untuk makan malam di Mansion kami malam ini?” tanya Gavin membuka percakapan.
Bone tersenyum, “terima kasih, Tuan Gavin. Dengan senang hati saya akan datang menyambut undangan tersebut. Lagipula saya akan sangat senang bisa bertemu kembali dengan cucu cantik saya.”
__ADS_1
Hari ini memang jadwal Elouise untuk kembali pulang ke Mansion. Mom Anna meminta Nathan untuk sementara waktu tinggal bersama karena masa-masa awal setelah melahirkan adalah masa-masa penting seorang wanita memerlukan perhatian ekstra, agar tak mengalami ‘baby blues’.
“Ini putrimu,” kata Bone sembari memberikan kembali Quin pada Elouise.
“Thank you, Daddy,” kata Elouise yang membuat Bone menatap wajah Elouise. Tanpa ia sadari bulir air mengalir di pipinya. Panggilan Daddy yang diucapkan oleh Elouise seakan mengobati rasa rindunya akan sebuah keluarga yang memang tak pernah ia miliki.
Bone menggenggam tangan Elouise, “thank you.”
“Sudah, jangan lama-lama,” kata Nathan yang dengan segera melepaskan tangan Bone dari tangan Elouise.
“Dasar bucin posesif,” gerutu Bone. Ia yang awalnya sedang melow malah jadi mencebik kesal. Bahkan air matanya serasa mengalir kembali ke dalam matanya gara-gara sikap dan ucapan Nathan.
“Tak apa, daripada suka mengambil kesempatan!” Keduanya terus saja beradu argumen dan membuat orang-orang di sekelilingnya hanya menjadi penonton. Perdebatan mereka akhirnya selesai ketika Quin menangis. Nathan pun sangat senang karena akhirnya berhasil mengusir Bone dari dalam ruang rawat Elouise.
Di luar, Bone berbicara dengan asisten pribadinya, “Siapkan pengacara untuk menulis surat wasiatku. Berikan semuanya pada cucuku, Quinevere King Neutron.”
🌹🌹T A M A T 🌹🌹
Terima kasih buat kakak semua yang telah menyempatkan waktu membaca novel Pansy yang masih jauh dari sempurna ini. Kiranya kakak juga mau mampir di karya terbaruku berjudul
“MUSUH tapi MENITIPKAN BENIH”
Novel ini kebetulan ikut dalam event terjerat benang merah S3.
Sekali lagi, Pansy ucapkan banyak-banyak terima kasih. Tanpa kakak-kakak semua, novel Pansy hanyalah cerita yang terselip di pojokan sebuah ruangan tanpa tersentuh apalagi dibaca.
__ADS_1
I luph u all 🌹