
Setelah mendapatkan siksaan yang membuat tubuhnya mengalami lebam dan memar, Sam dimasukkan ke sebuah ruangan. Ia terus dipaksa berbicara, namun bukan Sam jika ia membuka mulut. Ia hanya mengatakan bahwa ia adalah tukang kebun yang mengenal Tuan Robert.
“Sam?” Sam mengerjapkan matanya ketika merasa dirinya dipanggil oleh seseorang. Ia menajamkan penglihatannya yang kabur karena pukulan yang ia terima di wajahnya, membuat bagian matanya bengkak.
“Tuan Robert?” Sam mengenalu suara itu karena Nathan beberapa kali bertemu dengan pria itu. Mereka bahkan bekerja sama melakukan jula beli senjata.
“Maafkan aku, Sam. Ini semua pasti karena aku berbicara denganmu tadi,” kata Robert.
“Aku tidak apa-apa, Tuan. Mendapat pukulan seperti ini tak mengapa bagiku, bahkan terkena peluru pun aku pernah,” kata Sam.
“Apa yang kamu lakukan sebenarnya di sini, Sam?” tanya Robert yang kini sudah lebih baik dari tadi pagi saat ia berbicara dengan Sam.
“Tentu saja mencari anda, Tuan,” kata Sam jujur.
“Apa Nathan yang memintamu datang ke sini?”
“Tidak, Tuan. Bos Nathan hanya memintaku mencari informasi tentang keberadaan Tuan.”
“Apa Nathan mengetahui semua yang terjadi pada keluargaku?”
“Belum lengkap, Tuan. Sebenarnya …,” Sam pun menceritakan semuanya. Mulai dari kedatangan Elouise ke Mansion Nathan, hingga mereka menemukan jenazah kedua orang tua Robert.
“Terima kasih, Sam. Kalian telah membantuku memakamkan kedua orang tuaku,” kata Robert sambil menghela nafas pelan.
Sam juga menceritakn bahwa saat ini adik Robert uang bernama Elouise, sudah berada di Zurich, bersama dengan Nathan.
“Yang terpenting ia baik-baik saja. Aku benar-benar kakak yang gagal karena tak bisa melindunginya,” kata Robert.
“Jangan pikirkan hal itu, Tuan. Aku sudah mengirimkan sinyal pada Bos Nathan. Aku yakin ia akan segera mengirimkan bantuan ke sini,” kata Sam.
“Benarkah?”
“Ya. Kita harus terbebas lebih dulu dari sini, setelah itu baru memikirkan rencana untuk membalas semua uang mereka lakukan, bukan begitu?”
“Kamu benar.”
__ADS_1
Di luar, terdengar suara gaduh yang menarik perhatian Robert dan Sam. Meskipun mereka berdua dalam keadaan terluka, tapi mereka masih bisa mendengar dengan jelas bahwa telah terjadi tembak-menembak di bagian dalam Mansion.
“Kita bersembunyi dulu, Tuan,” ajak Sam.
Keduanya melangkah pelan ke samping lemari yang tak terlihat dari arah pintu masuk. Sam ingin mencoba membuat mereka lengah dengan menganggap bahwa mereka berdua telah berhasil kabur.
Brakkk
Terdengar suara pintu didobrak dan setelahnya terdengar teriakan mereka.
“Mereka berhasil kabur! Para penyusup tadi pasti yang membawa mereka. Ayo cepat kita cari mereka, kalau tidak Tuan Rocco bisa menghabisi kita!” ujar salah seorang penjaga tersebut.
Sam dan Robert yang masih berada di dalam ruangan tersebut pun diam sesaat. Mereka memastikan bahwa orang-orang tersebut telah benar-benar pergi. Sam tidak mau jika mereka sampai tertangkap lagi. Hal itu pasti akan membuat mereka berdua mendapat siksaan lagi dan akan dikurung dengan penjagaan yang lebih ketat.
“Kita keluar sekarang, Tuan,” ajak Sam. Untung saja mereka dikurung di paviliun belakang. Sam pun sudah tahu seluk beluk tempat itu karena kemarin ia sempat berkeliling.
Keduanya saling berpegangan karena Robert belum dapat berjalan dengan cepat. Ia sudah mendapat siksaan berkali-kali, berbeda dengan Sam.
Saat sampai di pintu, Sam yang sebelah matanya bengkak, menengok ke kanan dan ke kiri dengan sebelah matanya, karena ia harus memastikan keadaan.
“Aman, Tuan,” kata Sam. Sam yakin para pelayan pun banyak yang kabur karena mendengar suara tembakan tadi. Ia pun bergegas melangkahkan kaki bersama dengan Robert. Tak jauh dari pintu keluar belakang, ada jalan rahasia untuk masuk ke Mansion milik Nathan. Jalan itu hanya diketahui oleh Nathan dan Sam.
Robert terduduk di atas tanah yang merupakan sebuah jalan setapak. Ia tak menyangka bahwa ia bisa keluar dari Mansion keluarganya itu dalam keadaan hidup.
“Kita masuk ke dalam dulu, Tuan. Ada dokter yang akan membantu anda,” kata Sam.
“Kamu juga harus mendapat perawatan, Sam,” kata Robert.
“Itu sudah pasti, Tuan. Tapi untuk saat ini anda lah yang terutama.”
Mereka berdua masuk ke dalam pintu khusus yang berbentuk seperti dinding tanaman. Berjalan sekitar lima menit, mereka sampai di sebuah pintu yang menyambung ke dalam ruang kerja milik Nathan.
Ternyata tak hanya aku yang memiliki jalan rahasia, Nathan juga punya. Ternyata pemikirannya tak berbeda denganku. - batin Robert.
**
__ADS_1
Nathan yang tak mendapatkan kabar dari Sam, langsung berangkat ke Belgia. Ia ingin memastikan sendiri keadaan asisten pribadinya itu. Untuk Elouise, ia menitipkannya pada Michael, yang masih akan menginap di rumah Keluarga Neutron selama beberapa hari ke depan.
Tak mendapati Sam di mansion, Nathan langsung memeriksa CCTV. Ternyata Sam telah mengatur beberapa layar di CCTV untuk memperlihatkan kondisi di Mansion Keluarga King.
Saat Sam dibawa masuk ke dalam suatu ruangan, Nathan melihat dengan sangat jelas. Ia mengepalkan tangannya karena geram, berani sekali seorang Rocco menyiksa asisten pribadinya.
Nathan langsung menghubungi beberapa anggota preman yang biasa ia bayar untuk merusak atau membantunya bekerja. Nathan tak ingin Klan Mafia yang ia pegang terbawa-bawa dalam masalah ini.
Nathan membayar mereka dan meminta mereka untuk membuat kekacauan di Mansion Keluarga King. Itu hanya untuk membuat keadaan tidak kondusif. Nathan yakin Sam pasti bisa mengatasi dan mencari solusi saat hal itu terjadi.
Kini, Nathan yang telah melihat bahwa Sam dan Robert berhasil keluar dari sana, telah menanti mereka di ruang keluarga mansion tersebut.
“Robert!” sapa Nathan.
Ia memeluk sahabatnya itu dan melepaskannya dengan cepat karena Robert terlihat sedikit meringis. Lalu Nathan melihat keadaan Sam yang babak belur. Ia sangat bangga pada asistennya itu, meski ada rasa kesal juga karena ia bertindak sendirian.
“Aku sudah memanggil dokter khusus untuk memeriksa kalian. Ayo!” Nathan membantu Robert untuk masuk ke dalam sebuah kamar. Di sana ia meminta Robert untuk berbaring.
“Beristirahatlah dulu, Rob,” kata Nathan. Nathan juga meminta Sam untuk beristirahat, sebelum dokter datang dan memeriksa mereka berdua.
“Bagaimana keadaan Elouise, Nath?” tanya Robert.
“Ia baik-baik saja, jangan kuatir. Ada Michael yang menjaganya,” jawab Nathan.
“Terima kasih.”
“Tak perlu berterima kasih. Kita adalah sahabat dan sudah seharusnya kita saling membantu.”
Tak lama, dokter pun tiba di Mansion Nathan. Ia langsung memeriksa Robert, kemudian memeriksa Sam. Keduanya diharuskan beristirahat dan diveri obat pereda nyeri.
“Bagaimana dengan luka tembaknya?” tanya Nathan.
“Sudah terlihat mengering, hanya saja kita harus melakukan pemeriksaan di rumah sakit untuk melihat apakah mereka mengeluarkan peluru itu dengan benar atau tidak. Jangan sampai terjadi infeksi,” kata dokter.
“Aku mengerti. Siapkan kamar saja. Aku akan membawanya ke rumah sakit ketika keadaan sudah lebih aman,” kata Nathan.
__ADS_1
“Baiklah, aku pergi dulu.”
🌹🌹🌹