
Elouise kini berdiam di dalam kamar tidur yang sebelumnya ia tempati. Mereka sudah menikmati makan malam bersama tadi dan Aunty Sena tepah mengatakan padanya bahwa mereka tak jadi mengangkatnya sebagai anak secara legal karena beberapa pertimbangan, di antaranya adalah karena masih ada kemungkinan dirinya berjodoh dengan Michael.
Bagi Elouise, tak masalah jika ia tak diadopsi sebagai anak oleh Keluarga Brown, tapi jikalau keinginan mereka agar Elouise dan Michael bersatu, rasanya tak akan mungkin. Elouise berdiri di dekat jendela kamar tidurnya. Ia menatap langit malam yang tidak terlalu banyak bintang kali ini.
“Kak Nathan, kamu di mana?” gumamnya pelan.
Kesan pertama Elouise saat bertemu dengan Nathan memang bisa dikatakan buruk. Gadis itu bahkan lebih memilih terjun ke laut. Namun, saat sudah mengenal Nathan hari demi hari, ia merasakan kesan yang berbeda, apalagi ketika Nathan datang menyelamatkannya saat ia berada di apartemen Rocco.
“El …,” panggil Robert. Adiknya itu tak menyadari saat Robert masuk ke dalam kamar dan memanggilnya sedari tadi.
“Kak.”
“Apa yang sedang kamu pikirkan? Mengapa kamu melamun?” tanya Robert.
“Tidak ada. Aku hanya sedang melihat langit malam,” jawab Elouise.
Apa ia begitu merindukan Nathan? - batin Robert. Ia memang mendengar saat Elouise menggumamkan nama Nathan tadi.
“Istirahatlah, sudah malam.”
“Hmm …”
Robert memeluk Elouise, “jangan pikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan. Tenanglah, ia pasti akan baik-baik saja.”
Degggg
__ADS_1
Apa kakak tahu apa yang kupikirkan? - batin Elouise.
“Kakak keluar dulu.”
Elouise tersenyum, namun tubuhnya tiba-tiba menyenggol sebuah gelas, hingga jatuh ke lantai dan pecah. Jantung Elouise berdetak dengan cepat, ia mulai merasakan hatinya gelisah.
“El!” Robert langsung memegang bahu Elouise saat adiknya itu merasa lemas.
**
Apa yang didengar oleh Nathan barusan, membuatnya ingin secepatnya menyelesaikan misinya kali ini dan memeriksa lebih detail tentang perusahannya. Bagaimana bisa ia kecolongan tentang hal ini.
Setelah kepergian Rocco,
Mr. Bone yang tadi telah bersiap dengan sebuah serbet yang ia letakkan di leher layaknya seorang anak kecil meminta makan, kini terperanjat kesakitan.
“Ahhhh!!” teriaknya ketika sebuah pisau kecil menyayat jari-jari tangan sebelah kanannya. Tangan kirinya langsung memegang pergelangan tangan kanannya sambil mengerrang kesakitan. Terlihat darrah mulai berceceran di meja dan pakaian yang ia kenakan.
Lalu tanpa rasa kasihan sama sekali, Nathan memasukkan sebuah pil ke dalam mulut Mr. Bone. Ia mengerjakan semuanya dengan cepat, bahkan Mr. Bone belum sempat melihat dengan kelas wajahnya.
“Si-siapa ka-mu!” teriak Mr. Bone, sambil mengerrang kesakitan. Ucapannya sendiri kini mulai terbata-bata. Ada sesuatu yang membuatnya susah untuk berbicara.
“Kamu ingin tahu siapa aku? Jangan harap! Aku akan membuatmu merasakan kesakitan lebih dari ini,” Nathan menarik kembali sebelah tangan Mr. Bone dan melakukan hal yang sama seperti pada tangan sebelah kanan.
“Arghhhh!!!” Mr. Bone berteriak sekali lagi. Ia merasakan sesuatu tak biasa pada tenggorokan dan juga lidahnya, seperti mati rasa.
__ADS_1
Akhirnya ia terjatuh dari kursi yang ia duduki. Ia berusaha berteriak namun tak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya.
“Mulai saat ini, kamu akan merasakan bagaimana sakitnya hatimu dicampakkan dan tidak dipedulikan. Kamu juga akan merasakan kejatuhan perusahaanmu secara perlahan. Tidak! Mungkin akan dengan cepat!” kata Nathan dengan yakin.
Namun, bukan Mr. Bone jika ia diam saja. Ia sudah mengenali suara itu meskipun wajah yang ia lihat saat ini berbeda. Ia yang memang menunggu kedatangan Nathan, telah menyiapkan kejutan untuk musuhnya itu.
Ia memasukkan tangannya yang masih mengeluarkan darah itu ke dalam saku dan mencoba mencari tombol.
Duarrrr
Sebuah ledakan terjadi di dekat pintu masuk, membuat Nathan kaget karena tak menyangka bahwa Bone masih bisa menggunakan tangannya.
“Siallannn!!” gumam Nathan geram.
Beberapa penjaga yang berada di luar mulai memasuki ruangan, membuat Nathan sedikit ragu untuk mencari jalan keluar.
“Bantu Tuan keluar!” perintah salah seorang penjaga dan Mr. Bone pun segera dievakuasi. Sebelum benar-benar pergi. Sekali lagi ia menekan sebuah tombol dan …
“Siallannnn kamu, Bone!!! Kamu akan serasa mati meskipun kamu hidup!! Pegang kata-kataku!” teriak Nathan.
Duarrrr Duarrrr!!!
Dua ledakan besar terjadi di kamar itu, membuat hotel tersebut bergoyang dan kepanikan dari seluruh tamu membuat pihak hotel kelimpungan. Senyum sinis masih menghiasi wajah Mr. Bone sebelum ia benar-benar dibawa pergi. Ia sangat yakin Nathan, sang pemimpin klan Mafia King Ace tak akan selamat dari ledakan itu.
🌹🌹🌹
__ADS_1