LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS

LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS
TAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Malam hari, Nathan kembali masuk ke dalam kamar tidur tamu yang digunakan oleh Elouise. Ia berencana memberitahu Elouise tentang kebenaran. Namun, ia tak mendapati Elouise di dalam kamar tidur tersebut, tapi samar-samar ia mendengar suara gemericik air.


Sepertinya ia sedang mandi. - batin Nathan.


Pintu kamar mandi terbuka dan Elouise keluar dari sana dengan menggunakan sebuah handuk yang melilit di tubuhnya.


Deggg


Elouise kaget ketika melihat Nathan tengah duduk di tepi tempat tidurnya, membuatnya mundur dan sedikit kehilangan keseimbangan. Nathan langsung bangkit dan dengan cepat meraih pinggang Elouise.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nathan.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Elouise yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Nathan.


“Berhati-hatilah lain kali,” ujar Nathan.


“Anda mengagetkan saya, Tuan.”


“Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan Tuan? Aku merasa seperti pria tua,” kata Nathan, “berpakaianlah dulu, ada sesuatu yang harus kukatakan. Ini tentang kakakmu.”


“Kakak? Baiklah!” Elouise seakan melupakan kejadian tadi yang sempat membuatnya canggung. Ia pun mengambil pakaiannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu di luar, Nathan memegang daddanya sendiri setelah berada begitu dekat dengan Elouise. Ia bahkan bisa melihat manik mata berwarna biru milik adik sahabatnya itu.


Tak berselang lama, Elouise pun keluar dari kamar mandi. Ia sudah menggunakan pakaian santai, ya ia tak memakai pakaian tidurnya karena Aunty Sena membelikannya pakaian tidur satin dengan tali spageti. Tak mungkin ia menggunakannya di depan Nathan.


“Aku sudah siap,” kata Elouise yang sudah tidak sabar dengan apa yang akan diucapkan oleh Nathan.


Sementara Nathan masih saja mencoba menetralkan debaran jantungnya yang kembali tertabuh layaknya genderang perang.


“Kami telah menemukan kakakmu,” kata Nathan.


“Kak Rocco?” Ya, Bagi Elouise sekarang hanya ada Rocco karena ia menganggap Robert sudah meninggal.


“Ya.”


“Dimana Kak Rocco, Tuan?”


“Sudah kukatakan jangan panggil aku Tuan. Bisakah kamu memanggil namaku saja? Panggil aku Nathan.”

__ADS_1


Elouise merasa ragu. Usia Nathan sepertinya sama dengan Robert kakaknya. Ia tak berani untuk memanggil Nathan langsung dengan namanya.


“Aku panggil kak saja ya,” pinta Elouise.


“Baiklah.”


“Kalau begitu, bisakah aku mengetahui dimana kakakku sekarang?”


Nathan menghela nafasnya pelan, “kakakmu yang bernama Rocco, saat ini berada di Mansion Keluarga kalian. Ia tinggal di sana bersama dengan kekasihnya.”


Nathan sedikit geram saat mengucapkan kata kekasih. Hal itu mengingatkannya pada Jenia, sosok yang membuatnya menderita karena kesedihan dan juga dendam, sementara wanita itu ternyata bersenang-senang bersama pria lain. Bahkan merencanakan kematiannya sendiri.


“Mansion? Mengapa Kak Rocco di sana? Ia harus segera pergi dari sana, kalau tidak ia akan dibunuh juga. Kak, bantu aku untuk menolong Kak Rocco. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dirinya,” kata Elouise memohon.


Nathan menggelengkan kepalanya, “Apa kamu masih tak mengerti juga?”


“Apa maksudmu, Kak?” tanya Elouise.


“Rocco baik-baik saja di sana. Tak ada ancaman untuknya, tak akan ada yang membunuhnya.”


Elouise terdiam sesaat untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Nathan. Sesaat kemudian, ia menutup mulutnya, tak ingin percaya dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


“Aku harus ke sana! Aku harus menemui dan berbicara dengannya,” kata Elouise.


“Tidak boleh! Kamu tidak boleh ke sana, sebelum kita menemukan Robert,” kata Nathan.


“Kak Robert? Kak Robert masih hidup?” tanya Elouise.


“Kami belum bisa memastikan itu, tapi informasi yang kami dapatkan bahwa jenazah kakakmu belum dibuang oleh mereka dan sepertinya mereka menyekapnya di suatu tempat.”


Elouise semakin tak percaya. Bagi Elouise, Rocco bukanlah sosok yang jahat. Namun, kenyataan bahwa kakaknya itu ada di Mansion dan dalam keadaan baik-baik saja, menimbulkan tanda tanya besar untuknya.


“Sebaiknya kita menunggu, hingga informasi kita dapatkan secara lengkap,” kata Nathan.


Elouise menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga tak ingin salah langkah dan menyebabkan pengorbanan Robert kakaknya menjadi sia-sia. Jika nanti mereka bisa menemukan Robert dalam keadaan selamat, ia berjanji di dalam hati, akan membalas semua kebaikan orang-orang ini.


**

__ADS_1


Dengan langkah pelan dan sedikit mengendap, Sam kembali masuk ke dalam Mansion King. Ia berpakaian layaknya tukang kebun lagi dan membawa kantong besar untuk mengangkat dedaunan dan mencabuti rumput. Selain itu, ia juga memegang gunting besar di tangannya untuk memotong beberapa ranting yang menghalangi jalan.


“Kamu tahu, aku mendengarnya tadi pagi.”


“Ya sama. Aku juga mendengar suara ketukan di pintu itu beberapa kali.”


Sam yang mendengar hal itu tentu saja mulai curiga. Ia yakin pasti orang yang disekap di dalam ruang tersebut berhubungan dengan kasus pembunuhan Keluarga King.


Setelah dua orang pelayan itu pergi dari sana, Sam pun berjalan mendekat. Ia kini telah berdiri tepat di depan pintu. Sam menghela nafasnya pelan seperti takut jika sampai terdengar. Meskipun ia adalah anggota dari klan Mafia ‘King Ace’, tapi ia cukup dag dig dug saat melakukan pengintaian seperti ini, apalagi ia berada di dalam area kekuasaan musuh.


Sam melihat ke kiri, ke kanan, dan ke belakang, kemudian dengan berani ia mengetuk pintu itu perlahan dengan salah satu jemarinya.


Tukk tukk tukk


Hening, tak terdengar suara apapun. Sam mulai merasa janggal. Ia pun ingin melangkah meninggalkan tempat itu, sebelum ada yang melihat dirinya.


Tuk tuk


Sebuah ketukan balasan didengar oleh Sam. Ia pun segera kembali mendekat dan menempelkan tubuhnya ke pintu dan mulai berbicara.


“Siapa kamu?” tanya Sam.


“Robert.”


“Tuan Robert?” gumam Sam yang pasti masih terdengar ke dalam, “Tuan, ini aku Sam. Aku sedang mencari informasi di sini.”


“Sam, selamatkan adikku,” kata Robert dengan suara terbata-bata.


Robert yang sedang bersandar di pintu, berusaha berbicara. Ia sudah kehilangan banyak sekali tenaga untuk merangkak hingga ke pintu, apalagi tubuhnya belum pulih benar akibat siksaan yang ia terima.


“Aku akan menyelamatkanmu, Tuan,” kata Sam.


“Sebaiknya kamu pergi, Sam. Jaga baik-baik adikku. Katakan padanya, jangan mendekati Rocco.”


“Baik, Tuan.”


Baru saja Sam menyelesaikan pembicaraannya dengan Robert, sebuah benda tumpul menghantam bagian belakang tubuhnya hingga ia langsung tak sadarkan diri.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2