
“Mom? Mommy sendirian?” tanya Michael yang baru saja kembali dari kuliahnya. Saat ini Michael memang mengambil kuliah S2 di bidang teknologi informatika.
Michael yang belum lama sampai dan berniat untuk rebahan di sofa, menatap bingung pada Mommynya yang pulang seorang diri. Sejak memiliki Elouise sebagai asisten pribadi, Mom Sena selalu pergi berdua ke mana pun itu. Oleh karena itulah, akan terasa aneh jika Mom Sena seorang diri.
“Hmm …,” jawab Mom Sena.
Mom Sena duduk di sofa tak jauh dari Michael. Ia menghela nafas pelan namun masih terdengar di telinga Michael.
“Apa ada masalah, Mom?” tanya Michael lagi.
“Ia pergi, Mike.”
“Pergi? Siapa yang pergi?”
“Cleo.”
“Cleo? Bagaimana bisa? Ke mana ia pergi, Mom?” Michael mendadak gelisah, pasalnya ia justru pulang cepat karena Nathan dan Robert akan datang untuk menemui Elouise. Namun kini, gadis itu pergi.
“Kakaknya menjemputnya,” jawab Mom Sena.
“Kakak?”
“Hmm … mommy mengajaknya ke supermarket untuk berbelanja. Di sana ia bertemu dengan kakaknya. Ia meminta izin pada Mommy dan akhirnya mereka pergi bersama.”
“Apa Mommy sudah memastikan bahwa orang itu benar kakaknya Cle?” tanya Michael.
“Ya memastikan bagaimana? Cleo sendiri yang mau ikut dengannya. Selain itu, Cleo telah membohongi Mommy. Namanya bukanlah Cleo, melainkan Elouise. Mommy tak bisa bekerja dengan orang yang suka berbohong, meski Mommy sangat menyukainya,” kata Mom Sena.
Kacau! - batin Michael.
Mom Sena langsung bangkit dan melangkah ke arah kamar tidurnya.
“Oya Mom, Kak Nathan dan sahabatnya akan datang ke Amsterdam. Aku meminta mereka tinggal di sini saja,” kata Michael.
“Terserah padamu saja, sayang,” kata Mom Sena.
Belum lama Mom Sena masuk ke dalam kamar tidurnya, terdengar suara mobil memasuki kediaman Keluarga Brown. Michael langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke pintu. Ia melihat Nathan telah datang.
“Kak!”
Nathan menangkap wajah gelisah Michael. Ia pun masuk ke dalam rumah bersama dengan Robert dan Sam.
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Nathan.
“Sepertinya kita keduluan, Kak,” kata Michael.
“Keduluan apa?”
“Tadi Mommy pergi ke supermarket bersama Elouise. Di sana, Mommy bilang Elouise bertemu dengan seseorang yang mengatakan bahwa ia adalah kakaknya. Lalu dengan keinginan dari Elouise juga, ia ikut. Mommy pulang sendirian,” jelas Michael.
“Shittttt!!!” teriak Nathan.
“Apa itu Rocco?” tanya Robert.
“Mommy mengatakan kalau yang bertemu dengan mereka mengaku sebagai kakak Elouise.”
“Apa kamu bisa meretas CCTV di mall itu, Mike?” Nathan tak meragukan kemampuan Michael. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka akan segera menemukan Elouise.
“Tentu saja bisa,” jawab Michael.
Ia pun naik ke lantai atas untuk mengambil dua buah laptop miliknya, lalu menyalakan keduanya. Keempat pria itu kini tengah duduk di ruang tamu sambil memperhatikan Michael bekerja.
Luar biasa! Itu mungkin ungkapan paling tepat untuk diberikan pada Michael. Kemampuannya tak akan diragukan lagi oleh mereka. Mata mereka memperhatikan rekaman CCTV yang tidak persis di dekat Elouise, tapi mereka melihat bagaimana seorang pria mengendap-endap sambil memperhatikan Elouise.
“Rocco! Aku yakin dia Rocco,” kata Robert. Mengenal Rocco hampir sepanjang hidupnya, ia sangat hafal dengan gestur tubuh Rocco.
“Cepat lacak ke mana Rocco membawa Elouise. Aku yakin ia mempunyai tujuan tertentu mengapa membawa Elouise,” kata Nathan, diangguki oleh Robert dan juga Sam.
Dengan cepat, jari jemari Michael pun seakan menari di atas keyboard. Matanya menatap layar dengan tajam.
Takkk
Ketika tombol terakhir ia tekan, muncullah lokasi keberadaan Elouise saat ini. Nathan dan Sam bergegas pergi, sementara Robert dan Michael tetap di sana. Nathan tak mengijinkan Robert untuk muncul, apalagi untuk bertemu dengan Rocco.
“Jalankan mobilnya, Sam!” perintah Nathan. Ia rasanya sudah tidak sabar untuk menghajar Rocco dengan tangannya sendiri.
**
Elouise yang masih ketakutan, meremas kedua telapak tangannya. Sesekali ia menatap pintu kamar tidur di mana Rocco dan wanita tadi berada. Ia sangat berharap keduanya tak keluar lagi dari sana. Namun, keinginannya langsung pupus ketika mendengar suara pintu terbuka.
Ceklekk
“El, kamu masih di sini. Bukankah aku memintamu beristirahat di sana,” ujar Rocco sambil tertawa.
__ADS_1
Elouise bisa melihat bahwa kakaknya yang tadi masuk ke dalam kamar kini telah berubah. Tawanya bahkan seakan mengejek dirinya.
“Ya ampun, sayang. Kamu menyuruhnya beristirahat di sana? Itu terlalu bagus untuknya,” kata Jenia ikut tertawa.
Sungguh, saat ini Elouise ingin sekai menghilang dari sana. Ketakutan seakan menyelimuti dirinya, apalagi setelah mendengar pembicaraan keduanya tadi.
“Kak, aku kembali saja ke rumah Aunty. Aku akan kembali bekerja saja. Aku tak akan mengganggu kakak di sini,” kata Elouise.
“Atau berikan saja cek tadi, aku akan menyewa sebuah apartemen kecil untukku,” lanjut Elouise.
“Cek? Kamu mendapat cek, sayang? Coba mana aku lihat,” kata Jenia.
Rocco mengeluarkan sebuah cek dari dalam sakunya, kemudian memberikannya pada Jenia. Wanita yang kini sedang merangkul Rocco dengan sebelah tangannya, langsung tersenyum.
“Wow dia memang benar-benar menghasilkan,” ujar Jenia menatap Elouise.
Elouise yang mendapat tatapan dari Jenia, ingin sekai menundukkan kepalanya. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang tak ingin direndahkan, apalagi dibully.
Aku adalah putri Richard dan Emma King. Aku harus kuat. Aku harus keluar dari sini. Mereka tak boleh seenaknya menjualku, lagipula aku ini bukan barang. - batin Elouise.
“Lebih baik ia secepatnya kita jual, sayang. Aku tak mau ia mengganggu kebersamaan kita di sini,” kata Jenia.
“Baiklah, aku akan menghubungi Daddy. Ia pasti punya kenalan yang bisa dengan cepat melakukannya,” kata Rocco, kemudian mengambil ponselnya.
Beberapa kali Rocco mencoba menghubungi, tapi tak bisa, “sepertinya Daddy sedang di pesawat. Kemarin ia sempat mengatakan akan pergi ke New York.”
“Lalu, harus kita apakan dia?” tanya Jenia.
Kalau langsung menjualnya, aku akan rugi. Aku bukan saudara kandungnya, setidaknya aku harus bisa mencicipinya. Dengan begitu ia akan mengalami trauma dan depresi yang luar biasa dan mungkin akan memilih bunuh diri. - batin Rocco.
“Kita kunci saja dia dulu. Sambil menunggu kabar Daddy, kita bisa bersenang-senang dengan ini,” kata Rocco sambil mengambil cek yang dipegang Jenia.
“Ahhh kamu benar-benar jenius. Aku suka.”
Rocco menarik Elouise dan menguncinya di gudang, sementara ia dan Jenia akan pergi keluar. Elouise berusaha melawan dan berteriak, akan tetapi Rocco sama sekali tak mempedulikannya.
Rocco tersenyum, kemudian meraih bahu Jenia yang akan ia rangkul. Sementara Elouise terus memukul pintu tersebut dengan kencang.
Saat sampai di lobby, mata Jenia menangkap sosok Nathan, kekasih … tidak! Calon suaminya yang ia tinggalkan satu minggu sebelum acara pernikahan mereka digelar. Dari balik kacamata hitam yang ia kenakan, ia terus memperhatikan Nathan. Namun, ia berharap Nathan tak melihat keberadaannya. Ia tak ingin Nathan melihatnya bersama pria lain.
Ia semakin tampan saja, bahkan lebih gagah dari Nathan yang dulu. - batin Jenia yang menoleh ke arah Rocco. Jenia mulai membandingkan antara Nathan dan Rocco, meski hanya berani di dalam hatinya.
__ADS_1
Aku harus mendapatkannya lagi. Harus! Rocco ternyata kalah tampan, tapi … Rocco kaya raya. Haduhh mengapa aku jadi bingung. Bagaimana kalau aku ambil saja kedua-duanya. Idemu hebat, Jen! - batin Jenia sambil tersenyum.
🌹🌹🌹