LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS

LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS
IA BERBAHAYA


__ADS_3

Di sebuah hotel di Kota London, Nathan telah bersiap dengan pakaian khususnya yang berwarna hitam putih. Saat ini, ia menyamar sebagai seorang pelayan. Untuk membantu penyamarannya, ia juga memakai topeng dengan tekstur seperti kulit wajah.


Nathan tak main-main dengan balas dendamnya kali ini karena menurutnya Mr. Bone sudah sangat keterlaluan. Ia telah menyerang perusahaan Nathan yang berstatus legal. Hal ini tentu saja tak hanya berimbas pada kerugian secara materiil tapi juga immateriil. Para investor ada yang hengkang karena kekacauan ini, membuat perusahaan Nathan pun berada dalam masalah yang besar.


Nathan telah bersiap di kamar yang ia pesan atas nama seseorang. Ia tak memesan kamar atas namanya karena tak ingin dicurigai. Di sana juga ada Sam yang masih saja berusaha menasehatinya.


“Apa anda tidak mau memikirkannya sekali lagi, Bos?” tanya Sam.


“Berapa kali pun aku memikirkannya, keputusanku akan tetap sama, Sam.”


“Apa anda tidak takut dengan resikonya?”


“Aku tahu, bahkan sangat tahu dengan resikonya. Namun, aku harus melindungi keluargaku. Aku sangat yakin, setelah Bone menyerang perusahaannku, ia pasti akan menargetkam keluargaku,” kata Nathan.


Sam tampak menganggukkan kepalanya. Ia tak berpikir hingga ke sana. Ia hanya memikirkan situasi saat ini.


”Setelah ini, pergilah dari sini, Sam.”


“Tapi, Bos!”


“Kembali ke markas ‘King Ace’ dan aku mengalihkan kepemimpinanku sementara kepadamu, sampai aku kembali.”


“Bos!” Sam tak suka dengan apa yang dikatakan oleh Nathan. Pria yang adalah atasannya itu seakan mengatakan suatu kata perpisahan dengannya.


“Ikuti perintahku, Sam!”


“Apa anda tidak memikirkan keluarga anda, Bos? Apa anda juga tidak memikirkan Nona Elouise? Aku tahu anda memiliki rasa kepadanya, Bos. Jangan menyangkalnya,” ujar Sam.


“Justru karena aku memikirkan keluargaku, maka aku harus melakukan ini, Sam. Dan tentang Elouise, masih ada Robert, Michael, dan dirimu yang pasti akan menjaganya. Tentang rasa ini, mungkin lebih baik hilang agar aku tak pernah menyakitinya dengan kehidupan gelapku.”

__ADS_1


“Bos!”


“Pergi sekarang saja, Sam. Biarkan aku sendiri,” kata Nathan.


“Aku tak akan meninggalkanmu, Bos!”


“Pergi, Sam! Atau aku akan memecatmu!”


“Pecat saja aku kalau begitu, biar aku tak menuruti semua perintahmu lagi,” ujar Sam.


“Keras kepala!” teriak Nathan.


“Sama, Bos.”


Nathan berdecak kesal. Sam tak mau mengikuti perintahnya. Nathan melihat jam di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan waktu yang sebentar lagi adalah saat dirinya untuk memainkan peran.


Wajahnya sudah berada di depan laptop dan mengetikkan sesuatu di sana. Meskipun tak terlalu ahli, tapi masalah kecil seperti menyadap sambungan telepon dan mengalihkannya, bisa dilakukan oleh Nathan dengan mudah.


Sam membuka pintu dan mempersilakan atasannya itu untuk keluar dari kamar dan membawa troli tersebut. Sebelum melangkah meninggalkan Sam, Nathan kembali menoleh, “Terima kasih, Sam.”


Jantung Sam terasa berdetak dengan sangat cepat. Pikiran negatifnya mulai bermain dan senyuman yang diberikan oleh Nathan seakan menjadi senyuman terakhir untuknya.


“Tidak! Aku harus melakukan sesuatu,” gumam Sam.


Sam mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, “Mike, bantu aku.”


**


Nathan berhasil masuk ke dalam kamar hotel yang ditempati oleh Mr. Bone. Namun, apa yang dilihat oleh Nathan membuatnya kaget. Di sana ternyata Bone tidak sendiri, melainkan bersama dengan seorang pria.

__ADS_1


Rocco? - batin Nathan.


Nathan terus berperang sendiri dalam pikirannya tentang apa hubungan antara Bone dengan Rocco. Di atas troli yang ia bawa, ia tak membawa makanan apapun, tapi ia membawa sebotol wine yang ia akan katakan sebagai hadiah dari pihak hotel.


Sebelum menyajikan makanan, Nathan membuka wine tersebut sambil mendengarkan pembicaraan di antara Bone dengan Rocco.


“Dia masih hidup? Bukankah sudah pernah Dad katakan bahwa jangan terlau percaya dengan anak buahmu,” kata Mr. Bone.


Dad? - batin Nathan.


“Tapi, Dad. Ini di luar kendaliku. Aku juga tidak tahu mengapa ia bisa tiba-tiba menghilang dari apartemenku,” kata Rocco.


Apakah mereka membicarakan Elouise? - batin Nathan.


“Jangan-jangan ini adalah ulah Jenia!” kata Bone tiba-tiba.


“Tidak mungkin, Dad!” Kata Rocco, “saat itu ia pergi bersamaku untuk makan bersama.”


“Bisa saja ia merasa posisinya terancam karena gadis itu. Gadis itu bukan adik kandungmu, tentu saja ia merasa posisinya akan terancam. Bisa saja ia meminta seseorang untuk melepaskan gadis itu.”


Ucapan Mr. Bone membuat Rocco berpikir. Apa yang dikatakan oleh Daddynya itu ada benarnya juga.


“Kalau begitu aku pergi dulu, Dad. Ada yang harus kuselesaikan dengan Jenia,” kata Rocco.


“Kamu harus berhati-hati dengan wanita itu. Ia berbahaya. Ia bahkan bisa membuat berita kematiannya sendiri dan mengambil sejumlah saham milik kekasihnya dengan nama orang lain.”


Degggg


Mengambil sahamku? Bagaimana bisa? - batin Nathan.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2