
Sebagai asisten pribadi, pekerjaan Elouise terbilang mudah. Ia hanya diminta untuk selalu menemani majikannya yang bernama Aransena Luca itu ke mana pun ia pergi.
“Hari ini Aunty akan pergi belanja, Cle. Ikut denganku ya,” kata Sena.
“Baik, Aunty,” Elouise tak pernah membantah setiap keputusan Sena karena tahu bahwa dirinya hanyalah seorang pegawai. Ia sangat membutuhkan pekerjaan karena saat ini ia hanya hidup sendiri. Tak mungkin ia meminta-minta, bukan kepribadiannya.
Nathan pernah berkata padanya bahwa ada kemungkinan yang besar bahwa kakaknya Robert masih hidup dan ia sangat berhara sekali itu nyata. Memikirkan tentang itu, ia kembali teringat pada Nathan. Kedekatan mereka terakhir kali membuat jantungnya berdebar jika mengingatnya.
**
Nathan menemani Robert ke rumah sakit. Ia melakukan pemeriksaan secara menyeluruh karena Nathan tak ingin terjadi infeksi ataupun komplikasi.
“Maaf aku jadi merepotkanmu, Nath,” kata Robert.
“Tak apa, nanti aku akan meminta balasannya,” goda Nathan, membuat keduanya tertawa.
Setelah menjalani pemeriksaan selama dua hari semalam dan Nathan serta Sam menemaninya, mereka pulang ke Kediaman Keluarga Neutron.
“Robert? Apa kabar?” Dad Gavin menyapa sahabat putranya itu. Dulu Robert kadang menginap di kediaman mereka dan hal itu membuatnya cukup mengenal keluarga Nathan.
“Baik, Uncle.”
“Sudah lama rasanya Uncle tak bertemu denganmu. Apa kegiatanmu sekarang?” tanya Dad Gavin.
“Aku …”
“Ia membantuku di perusahaanku di Belgia, Dad,” jawab Nathan. Ia tahu bahwa Robert kesulitan menjawab karena permasalahan keluarga yang ia hadapi saat ini. Ia tak mungkin mengatakan tentang pembunuhan kedua orang tuanya oleh adiknya sendiri.
“Kalau ada Robert yang membantumu di sana, mengapa kamu tidak membantu Daddy di sini?” tanyq Dad Gavin.
“Daddy kan punya Nixon di sini yang akan membantu,” kata Nathan.
Dad Gavin hanya diam. Memang selama tak ada Nathan, Nixon lah yang membantunya. Hanya saja putranya yang satu itu tiba-tiba berubah. Nixon yang supel dan ceria kini menjadi Nixon yang pendiam, apalagi ditambah dengan Valencia yang begitu mandiri dan tak membutuhkannya.
“Robert dan Sam akan menginap di sini semalam, Dad. Besok kami akan terbang ke Amserdam, ada pekerjaan yang harus kami selesaikan,” kata Nathan lagi.
__ADS_1
Tujuan Nathan pergi ke Amsterdam sebenarnya adalah untuk mempertemukan Robert dengan Elouise. Kedua kakak beradik itu harus bertemu, mereka harus menyelesaikan persoalan keluarga mereka. Selain itu, ntah mengapa Nathan ingin melihat keadaan Elouise.
“Baiklah, anggap rumah sendiri, Rob!” kata Dad Gavin.
“Thank you, Uncle.”
**
Sementara itu di negara Belanda, tepatnya di Kota Amsterdam, seorang gadis tengah menemani seorang wanita paruh baya berbelanja. Ini adalah jadwal Sena untuk belanja bulanan.
“Ambil buah-buahan yang sudah aku tulis ini, Cle,” kata Sena. Meski ia memiliki uang yang lebih dari cukup, tapi Sena selalu menuliskan keperluannya setiap bulan. Ia tak ingin membeli secara asal ataupun secara acak karena itu berarti akan membuang-buang uang dengan percuma.
Menurut Sena, akan lebih baik jika uang yang ia miliki, disumbangkan ke panti jompo atau ke panti asuhan.
“Sudah semua, Aunty,” kata Elouise.
“Kalau begitu sekarang kamu bisa membeli keperluan pribadimu.”
“Keperluanku?”
“Tak ada, Aunty. Aku tak membutuhkan apa-apa,” Elouise tak ingin jika ia harus mengeluarkan uang, pasalnya uangnya tak begitu banyak. Jika mengingat ia memiliki beberapa emas yang diberikan oleh Grandma Mina, tentu ia bisa memenuhi kebutuhannya, tapi … Elouise merasa bersalah telah menjual salah satunya waktu itu. Ia bahkan tak ingin menyentuhnya lagi agar tetap tersimpan rapi dan bisa mengembalikannya nanti.
“Bagaimana bisa kamu mengatakan tidak ada? Wanita itu selalu memiliki kebutuhan setiap bulan, seperti pembalut, bedak, sabun, dan lainnya.”
“Tapi Aunty …”
“Jangan kuatir, aku yang akan membayar semuanya. Kamu adalah tanggung jawabku saat ini, lagipula sudah sejak dulu Aunty ingin memiliki seorang anak perempuan, tapi ternyata Aunty hanya diberikan satu saja, yakni Michael.”
Tak ingin mengecewakan Sena, akhirnya Elouise berjalan mendekati rak-rak yang berisi pembalut. Baginya, itu adalah yang terpenting saat ini. Tak mungkin ia akan membiarkannya berceceran saat waktunya tiba nanti.
Saat Elouise sedang melihat-lihat pembalut, seseorang tampak melihat dan menyadari keberadaannya.
Elouise? Ternyata benar ia masih hidup. Informasi yang didapat oleh para anak buahku mengatakan bahwa mereka melihat Elouise di Amsterdam. Tak salah memang aku pergi ke sini. Jika kakaknya kabur, maka aku akan mendapatkn adiknya. Jika adiknya telah kudapatkan, maka kakaknya juga akan kudapatkan! Habis kalian semua! - batin Rocco.
Rocco pergi ke Amsterdam, selain untuk menemani Jenia yang akan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai seorang model, ia juga ingin memastikan informasi yang didapat oleh anak buahnya.
__ADS_1
Namun, siapa sangka ternyata keberuntungan berpihak begitu cepat padanya. Ia awalnya hanya ingin mencari minuman di dalam supermarket mall, tapi justru mendapatkan minuman yang akan benar-benar menghilangkan dahaganya akan kekuasaan dan kekayaan.
Dengan perlahan dan sedikit mengendap, Rocco mendekati Elouise. Ia tak ingin Elouise kabur jika melihatnya. Ya, meskipun Rocco belum tahu apakah Elouise mengetahui dalang pembunuhan Richard dan Emma King, tapi ia harus tetap berhati-hati. Salah langkh sedikit, hilanglah kesempatan dirinya.
Dan saat Ricco sudah berdiri tepat di belakang Elouise, ia langsung berbisik, “El, kamu di sini? Akhirnya aku menemukanmu!”
“Kak Rocco?!” Jantung Elouise berdebar dengan sangat cepat. Ia melihat Rocco ada di depan matanya, tapi ia tiba-tiba teringat juga apa yang dikatakan oleh Nathan.
“Iya, aku Rocco. Akhirnya kita bisa bertemu, El,” kata Rocco.
Elouise masih mencoba menjaga jatak dengan Rocco karena ada sedikit keraguan di dalam hatinya saat melihat sosok Rocco.
“Mereka meniru wajahku, El. Mereka membunuh Dad, Mom, bahkan Kak Robert. Mereka menggunakan wajahku untuk melakukannya. Mereka kejam, El. Apa yang harus aku lakukan lagi? Aku bahkan pergi ke Amsterdam untuk melarikan diri karena tak mau mereka membunuhku, lalu orang yang mirip denganku akan berkuasa penuh di Mansion Keluarga kita,” kata Rocco berusaha memperjelas.
“Benarkah, Kak?” tanya Elouise. Elouise berharap kalau apa yang dikatakan oleh Rocco adalah benar. Itu artinya ia tak sendirian di dunia ini.
“Tentu saja. Saat ini aku tinggal di apartemen kecil tak jauh dari sini. Tinggalpah bersamaku, El. Kita hanya tinggal berdua, kita harus saling menjaga, agar keluarga kita tenang di sana,” kata Rocco.
Rocco terus membujuk Elouise. Bahkan ketika Elouise mengatakan bahwa dia sedang bekerja, Rocco memintanya untuk berhenti karena ia yang akan bekerja.
“Aku yang akan bekerja, El. Kamu hanya perlu duduk di rumah dan menunggu kakak pulang,” kata Rocco.
Bujukan dan rayuan, serta gombalan Rocco membuat hati Elouise goyah dengan cepat. Ia yang ingin setidaknya salah satu anggota keluarganya masih hidup, merasa sangat bahagia.
“Aku minta izin Aunty Sena dulu ya, kak,” kata Elouise.
“Pergilah, aku akan menunggumu di sini, sampai kamu kembali,” kata Rocco.
Ucapan Rocco membuat Elouise merasa bahwa kakaknya itu benar-benar baik dan tak mungkin berbuat jahat. Ia ingin tinggal bersama Rocco saja, sebagai sebuah keluarga.
“Tunggu sebentar ya, Kak,” Elouise mendekati Sena dan menceritakan bahwa ia telah bertemu dengan kakaknya dan berniat untuk tinggal bersama dan saling menjaga.
“Kamu yakin, Cle?” tanya Sena dengan tatapan serius karena tak ingin Elouise salah jalan, apalagi Sena berniat mengangkat Elouise sebagai putrinya, secara legal.
🌹🌹🌹
__ADS_1