LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS

LAST PRINCESS AND MAFIA BOSS
MEMBALAS


__ADS_3

Nathan sampai di Switzerland, tepatnya di Kota Zurich. Ia pergi seorang diri karena ia memberikan tugas khusus pada Sam. Pikirannya kini selalu tertuju pada adik sahabatnya, bahkan bayangan tentang Jenia tidak muncul sama sekali.


Ia dijemput oleh supir keluarganya. Mom Anna sangat senang saat mendengar bahwa Nathan mempercepat kedatangannya. Bukan tanpa sebab Nathan melakukannya, tapi ia ingin mencari tahu sesuatu tentang calon istri kembarannya.


“Nathan!” Mom Anna menghampiri Nathan dan memeluknya.


“Halo, Mom,” Nathan juga memeluk Mom Anna dengan erat. Sebenarnya ia juga merindukan pelukan hangat dari keluarganya, terutama dari Mommynya. Akan tetapi, berada di Zurich selalu membuatnya teringat akan sosok Jenia.


“Kamu sudah makan?” tanya Mom Anna.


Nathan menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Hampir tak pernah Mom Anna melihat kembali senyum Nathan setelah batalnya pernikahan putranya itu dengan Jenia Demeter.


Mom Anna membawa Nathan ke ruang makan. Di sana sudah tersaji makan malam yang sepertinya belum tersentuh oleh siapa pun.


“Makanlah lebih dulu, Dad, Nixon dan Niesha akan segera menyusul,” kata Mom Anna.


“Aku akan menunggu, Mom. Kita makan bersama saja,” ujar Nathan.


Sudah lama sekali Nathan tak duduk bersama di meja makan dan merasakan kehangatan keluarga. Keceriaan dan kebahagiaan dalam keluarganya seakan menghilang, apalagi masalah sepertinya kembali datang dalam keluarganya.


“Di mana Nixon, Mom?” tanya Nathan.


“Di kamarnya.”


“Aku akan menemuinya dulu, Mom,” kata Nathan.


“Baiklah. Panggil Nixon turun untuk makan, okay.”


“Okay, Mom.”


Meskipun Nathan dan Nixon adalah saudara kembar, tapi mereka bukan kembar identik. Wajah keduanya berbeda meskipun tetap memiliki kesamaan.


Nathan naik ke lantai atas, di mana kamar tidur dirinya, Nixon, dan juga Niesha berada. Ia mengetuk pintu beberapa kali dan ia masuk ke dalam setelah Nixon mempersilakannya untuk masuk.


“Nix,” sapa Nathan.


“Kamu datang, Nath?” Nixon yang baru saja selesai membersihkan diri, menoleh ke arah Nathan.


“Hmm … are you okay?”

__ADS_1


“I’m okay,” jawab Nixon.


“Apa kamu sudah memikirkannya lagi?” tanya Nathan.


“Sudah.”


“Lalu?”


Nixon menghela nafasnya pelan, “aku belum mengatakan apapun padanya, tapi justru dia yang tak mau menikah denganku.”


“Bukankah itu bagus?” tanya Nathan lagi.


“Aku tak tahu, Nath. Tiba tiba saja aku merasa ada sesuatu yang hilang ketika ia tak ingin menikah. Aku merasa aku tak dibutuhkan olehnya.”


“Mungkin ia hanya tarik ulur saja. Ia ingin kamu merasa kehilangan dan berinisiatif untuk menikah dengannya, tanpa ada paksaan dari pihaknya. Di sanalah kamu akan terjebak,” ujar Nathan.


“Ntahlah, aku tak bisa berpikir.”


Nathan menepuk bahu Nixon, memberikan semangat dan support untuk saudara kembarnya itu.


“Aku akan selalu ada bersamamu. Hubungi aku jika kamu memerlukan bantuanku,” kata Nathan.


“Lalu, apa kamu tak akan tinggal di sini?” tanya Nixon.


“Kamu masih mengingatnya?”


“Aku tak akan pernah melupakannya,” kata Nathan.


“Kamu harus move on, Nath. Hidup ini terus berjalan, kamu tak bisa terus hanya diam di satu titik. Kamu mengajariku banyak hal, tapi kamu sendiri terjebak dalam masalah yang hanya berputar-putar di sana.”


“Aku juga tidak tahu,” Tiba-tiba saja pikiran Nathan kembali memikirkan Elouise. Seorang wanita yang memilih mati daripada tidur bersamanya, padahal ia belum melakukan apapun, hanya sekedar sebuah ancaman.


“Nix, menurutmu … jika seorang wanita lebih memilih mati daripada memberikan kehormatannya …,” belum selesai Nathan berbicara, Nixon langsung melanjutkan.


“Aku akan menikahi wanita itu. Di mana kamu menemukannya?” ujar Nixon yang langsung mendapatkan toyoran dari Nathan.


“Kamu ini … aku bertanya, bukan akan memberikannya padamu.”


“Mungkin hal itu adalah miliknya yang paling betharga dan hal terakhir yang bisa ia pertahankan. Jika ia kehilangan itu, apa lagi yang bisa ia banggakam dari dirinya,” kata Nixon.

__ADS_1


Rob, bantu aku menemukan adikmu, dalam keadaan apapun dirinya. Aku berjanji akan menjadi kakak pengganti untuknya. - batin Nathan. Ia bahkan masih teringat rekaman CCTV yang diretas oleh Sam di depan Mansion Keluarga King. Ia tak bisa membayangkan tubuh sahabatnya dilemparkan begitu saja di sebuah mobil bak terbuka dan dibawa pergi.


Saat ini, Nathan sedang memerintahkan pada Sam untuk mencari tahu, ke mana mobil itu membawa tubuh Robert dan kedua orang tuanya dan apa sebenarnya permasalahan di dalam keluarga itu, hingga harus mengorbankan nyawa.


“Kita turun dulu, Mommy memintamu turun untuk makan malam,” kata Nathan.


“Ayo,” keduanya pun turun untuk makan malam bersama.


Saat Nathan dan Nixon turun, Dad Gavin, Mom Anna, dan Niesha, sudah berada di meja makan. Ketiganya tersenyum saat melihat kehadiran Nathan di sana. Mereka berharap suasana keluarga akan kembali seperti dulu, sebelum Nathan mengalami hal menyakitkan karena kematian Jenia.


“Apa kabarmu, Nath?” tanya Dad Gavin.


“Baik, Dad.”


“Good. Duduklah, kita makan bersama.”


Mereka pun makan malam bersama. Dad Gavin dan Mom Anna sudah bersepakat untuk membiarkan Nathan dan tak mencampuri kehidupannya. Mereka tak ingin Nathan nantinya malah menjauh dari keluarga karena merasa tertekan, padahala sebenarnya mereka hanya menginginkan Nathan agar segera move on.


Pembicaraan mereka di meja makan, hanya seputar pekerjaan dan kuliah Niesha yang sudah di semester ke enam. Ya, saat ini usia Niesha sudah 20 tahun, sementara Nathan dan Nixon sudah menginjak 27 tahun.


“Besok, Ansel dan Axel akan datang ke sini,” kata Dad Gavin.


Mata Niesha langsung melirik ke arah Dad Gavin, berharap tak ada kelanjutan dari ucapan Daddynya itu.


“Michael?” tanya Nixon. Nixon cukup dekat dengan Michael, meskipun usia mereka yang berbeda jauh.


“Ya, Michael juga akan datang ke sini. Awalnya mereka berencana menghadiri pernikahanmu, tetapi karena Valencia membatalkannya, maka mereka hanya akan berlibur di sini, sekaligus Daddy akan mengadakan kerja sama dengan mereka,” kata Dad Gavin.


Nathan dan Nixon menganggukkan kepalanya tanda mengerti, sementara Niesha sibuk dengan pikirannya sendiri.


**


“Bagaimana, Sam? Apa ada perkembangan?” tanya Nathan.


“Belum. Tak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu. Apa dia benar-benar tenggelam? Atau sudah dimakan hiu?” kata Sam.


“Apapun yang terjadi, ia harus ditemukan Sam. Aku tidak peduli bagaimana caranya,” ujar Nathan.


Nathan tidak tahu mengapa, tapi pikirannya terus tertuju pada Elouise. Ia seperti merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Jika memang mereka menemukan Elouise dalam keadaan tidak bernyawa, setidaknya ia mendapatkan pemakaman yang layak.

__ADS_1


“Aku pasti akan menemukan adikmu, Rob. Aku juga pasti akan menemukanmu dan tenang saja, aku akan membalas hal buruk yang terjadi padamu, kepada orang yang pantas menerimanya,” gumam Nathan.


🌹🌹🌹


__ADS_2