
Elouise seketika menutup mulutnya dan berjongkok saat melihat di depan matanya, bagaimana Robert tertembak tepat di tengah dahi.
“Kakak!” Elouise merasakan kesedihan yang amat sangat meskipun baru saja Robert mengancam dan ingin membunuhnya. Namun, Robert lah yang selama ini menemaninya, jika dibandingkan dengan Rocco.
“Tenanglah, tidak apa-apa,” kata Nathan memeluk Elouise dengan erat dan menutupi kondisi Robert saat ini dengan tubuhnya.
Para pengawal langsung mengevakuasi jenazah Robert yang dipastikan mati di tempat. Nathan menoleh ke arah di mana asal tembakan itu dan ia melihat Mr. Bone berada di sana dengan senjata di tangannya.
“Bone?”
Mr. Bone tersenyum pada Nathan, “sudah kukatakan bahwa aku akan melindunginya dengan nyawaku sendiri.”
Setelah itu, para pengawal juga membawa Mr. Bone ntah ke mana. Awalnya para pengawal Mr. Bone menghalanginya, tapi Mr. Bone meminta mereka untuk membiarkan dirinya dibawa pergi.
Tubuh Elouise seakan tak sanggup berdiri melihat kejadian malam ini. Bayang-bayang kejadian kematian kedua orang tuanya masih terlintas di kepalanya, membuat dirinya memeluk erat tubuh Nathan.
“Bawa aku pergi dari sini,” pinta Elouise.
“Hmm … ayo,” kata Nathan.
__ADS_1
Keduanya pun pergi dari sana. Nathan sangat berterima kasih pada Bone atas apa yang telah ia lakukan. Namun, saat ini yang terpenting adalah keadaan psikis Elouise.
**
Di dalam kamar, Rocco yang sudah tak terikat lagi, berusaha membuka pintu dan jendela. Namun ia tak berhasil melakukannya.
“Sialannn kamu Bone! Tua bangka tak tahu diri! Sudah bau tanah masih saja menyusahkan!” teriak Rocco memaki, tapi hanya gerakan bibir saja karena ia masih tak bisa mengeluarkan suaranya.
Rocco memukul pintu dengan keras, bahkan menendangnya. Beberapa kali juga ia mencari alat yang akan ia gunakan untuk memecahkan jendela, tapi tak menemukannya.
Kamar yang ia tempati hanya berisikam tempat tidur dengan sebuah kasur dan sebuah bantal.
“Aku pasti akan membunuhmu jika aku berhasil keluar dari sini, tua bangka siallan!!” gumam Rocco lagi tanpa suara.
Brakkk
Rocco tersenyum ketika ia berhasil mematahkan kepala shower. Ia langsung berjalan keluar dari kamar mandi mendekat pada jendela yang terkunci dengan sangat rapat itu.
Prangggg
__ADS_1
Dengan cepat Rocco menyingkirkan kaca-kaca tersebut hingga tubuhnya bisa keluar dengan sempurna. Akhirnya ia berhasil keluar, tapi ia bergelantungan di pinggir jendela karena ternyata kamar yang ia tempati berada di lantai tiga.
“Sudah berhasil keluar, masih saja tetap menyusahkan!!” gerutu Rocco.
Ia terus mencari jalan sambil berpikir ke mana ia harus pergi setelah keluar dari sana. Hanya ada satu tempat yang bisa ia pikirkan.
**
Menekan sebuah password, Rocco berhasil masuk ke dalam apartemen miliknya yang dulu ditempati oleh Jenia. Ia sangat yakin Jenia tak berada di sana, jadi apartemen itu merupakan tempat paling aman untuknya saat ini. Selain tempat itu, ia tak tahu lagi harus ke mana. Ia juga bisa pergi ke sana karena meminta tolong pada seorang pengendara dengan berpura-pura tak bisa bicara dan memohon. Ia tak memegang uang sama sekali, jadi ia menuliskan alamat yang ia tuju.
Ia langsung menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Rocco membersihkan dirinya kemudian melilitkan sebuah handuk di pinggangnya. Untung saja ia memiliki simpanan pakaian di apartemen itu.
Rocco berjalan ke arah wardrobe dan mulai memakai piyamanya. Ia menginginkan istirahat saat ini, tubuhnya sangat lelah.
Jleb jleb jleb
“Arghhh!!” Rocco berteriak kesakitan dan langsung terjatuh karena punggung sebelah kiri ditusuk berkali-kali oleh sebuah pisau. Rocco tak sempat lagi berbalik dan melihat siapa yang menusuknya karena ia langsung tak sadarkan diri setelah merasakan sakit yang amat sangat.
“Mati kamu, Rocco! Mati! Mati!” Jenia yang tinggal di sana setelah pulang dari rumah sakit, menemukan Rocco yang sedang mandi. Ia langsung mengambil sebuah pisau di dapur dan melampiaskan emosi yang selama ini ia pendam.
__ADS_1
🌹🌹🌹