
Malam telah berlalu, matahari sudah memunculkan sinarnya. Angin lembut melewati kedai kakek Asahi yang sudah sesak dipenuhi para pelanggan. Sebagian ingin di ramal sebagian lagi ingin menikmati racikan teh dedaunan khas yang dibuat oleh kakek Asahi. Hari ini, Ryu beralih profesi menjadi bandar. Entah apa yang akan terjadi jika orang istana melihat kegiatannya hari ini.
"Kau kalah lagi!" kata Ryu menyeringai dan memenangkan Huo Sijue.
"Aku yakin kalian curang! Kalian pasti bekerjasama untuk berbuat curang ’kan?"
Ryu dan Sijue saling menatap. "Mana mungkin, kenapa kau menyalahkan kelemahanmu pada orang lain? Dasar tidak tahu malu!" geram Ryu Ito.
Sijue berdiri dan membela Ryu. "Kita sudah jelas sepakat soal bermain adil. Walaupun aku begitu dekat dengan Ryu, bukan berarti kami melakukan tindakan tercela seperti itu! Sebagai gantinya, aku akan mentraktir kalian arak!"
Pria yang menjadi lawan Huo Sijue pun mengangguk. "Baiklah, aku percaya. Asalkan bawa sepuluh botol arak dan kacang tanah kemari! Akira!"
"Wah kakek akan untung banyak, terimakasih Sijue!" Ryu beranjak dan menepuk pundak Huo Sijue.
"Keparat ini memerasku!" geram Huo Sijue pada lawannya.
"Kamu yang bilang bahwa kami boleh memesan arak!"
"Huo Sijue, kamu begitu baik. Perhatian semuanya, kalian boleh memesan apapun, Huo Sijue yang akan membayar!" Ryu berteriak sehingga semua pelanggan kedai bersorak bahagia.
Sijue membelalak kemudian menarik pergelangan tangan Ryu dan membawanya ke samping kedai. "Kamu sengaja, iya ’kan?"
"Salahmu sendiri!" Ryu menyilangkan tangannya di dada. Kemudian mengalihkan diri dari pandangan Huo Sijue.
Pria itu menyentuh pipi Ryu. "Lihat aku!"
Namun, matanya malah terfokus pada bibir indah milik Ryu yang terlihat mungil tapi berisi. Berwarna merah muda dan tahi lalat di kanan dagunya. "Panglima perang datang!" seru salah seorang pelanggan dari arah kedai.
__ADS_1
Ryu langsung menepis Huo Sijue dan kembali ke kedai. Huo Sijue mendengus kasar kemudian ikut dibelakang Ryu dan menemui panglima perang. Hu Yazhu yang tenang dan dingin akhirnya bertemu dengan Huo Sijue yang jahil dan begitu cerewet. Ditengah keduanya ada Ryu yang berdiri menatap Hu Yazhu. "Bukankah belum waktunya pulang ke istana?" tanya Ryu dengan gelagapan.
"Memang belum, aku kesini untuk mengawasi tingkah lakumu. Salah seorang prajurit bilang bahwa kamu beralih menjadi bandar judi selama disini." Hu Yazhu duduk dan menenggak secawan arak yang disediakan langsung oleh kakek Asahi.
"Kamu tidak perlu mengawasiku diluar Istana, aku tidak berbuat apa-apa disini! Aku hanya sedang bersenang-senang."
"Caramu bersenang-senang bisa membongkar kebohongan kita. Kuharap kamu tidak bertindak gegabah!" kata Hu Yazhu dengan dingin.
"Atas dasar apa kamu mengatur kehidupan Ryu?" Huo Sijue datang dari arah belakang Ryu dan duduk di hadapan Hu Yazhu. Seketika para prajurit yang ikut dengan Hu Yazhu berkumpul dan siap menebas kepala Huo Sijue.
"Hei, kalian tenang!" kata Ryu pada prajurit lain.
Hu Yazhu mengisyaratkan dengan telunjuk kepada para prajurit untuk mundur. Dia terlihat kejam jika dilihat sekarang. Auranya yang dingin, begitu mematikan. Ryu bahkan seperti melihat orang asing yang tidak pernah ia kenali. "Kamu Huo Sijue, seorang anak saudagar kaya, teman dekat calon istriku."
Semua orang membelalak saat mendengar ucapan Hu Yazhu soal calon istri. "Wah Ryu, kamu tidak mengatakan pada kami bahwa kamu sudah punya calon suami!"
"Cih, untuk apa aku memberitahu kalian. Apa itu penting?" Ryu menyilangkan tangannya.
"Jangan mimpi!" disaat Ryu sibuk mengurusi ocehan para pelanggan, Huo Sijue dan Hu Yazhu saling menatap tanpa kedipan satupun. Entah apa yang ada dipikiran mereka masing-masing, namun keduanya terlihat saling menuangkan secawan arak satu sama lain.
"Calon istri? Langkahi dulu mayatku!" geram Huo Sijue.
"Untuk apa melangkahi mayatmu yang tidak berharga itu?" satu kalimat yang Hu Yazhu ucapkan membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Begitupun Ryu yang kini menatapnya keheranan. Sebelum semua ini berlarut, Ryu juga tidak ingin ada kekacauan di kedai kakeknya apalagi kalau tindakan Hu Yazhu terdengar oleh Selir Fan Hai juga Raja Wen. Keduanya bisa mati dan dihukum berat.
"Panglima ikut aku!" Ryu menarik lengan Hu Yazhu dan membawanya ke kamar miliknya di dalam kedai. Ryu menutup pintu di belakangnya kemudian menatap Hu Yazhu dengan bingung.
Ryu mengangkat alisnya, dia tidak peduli lagi soal hal lain selain tindakan Hu Yazhu hari ini. Entah setan apa yang merasuki diri panglima perang namun Ryu melihat Hu Yazhu berbeda dari biasanya. "Panglima perang kenapa gegabah?"
__ADS_1
"Aku ingin menghukummu! Aku memintamu ke Istana untuk merawat Raja Wen, juga menemukan bukti kuat mengenai Putri Mahkota Wen Yijin. Tapi, aku lihat kamu tidak peduli dengan permintaanku. Apa kamu tahu bahwa keluarga besar Hu telah di undang ke jamuan makan malam kerajaan?"
Ryu masih terdiam.
"Mereka ingin membuktikan bahwa rencana pernikahan kita adalah kebohongan. Kamu melakukan ini tanpa berpikir akibat yang akan kita dapatkan jika Raja Wen tahu bahwa aku membawa cenayang rendahan ke Istana untuk dijadikan istri!"
Ryu membelalak. "Apa kamu mabuk Hu Yazhu?"
"Aku sama sekali tidak mabuk!" Hu Yazhu mendorong Ryu ke atas tempat tidur, dia melayangkan ciuman pada Ryu dibagian leher dan menggigitnya dibagian itu sampai mengeluarkan tanda merah.
"Apa kamu gila Hu Yazhu?" Ryu menendang Hu Yazhu sampai pria itu terlepas dari tubuhnya.
"Inikah yang dilakukan seorang panglima perang? Mencium wanita sembarangan?" Amarah Ryu terlihat cukup jelas di dalam kobaran sinar matanya. Dia tidak menyangka Hu Yazhu akan melakukan cara hina seperti itu.
"Cenayang rendahan? Ingat! Kamulah yang memintaku datang ke Istana! Jika bukan karenamu juga, aku tidak akan mati disana waktu itu!" kalimat terakhir terdengar seperti gumaman tidak jelas di telinga Hu Yazhu sehingga ia tidak sadar apa yang dikatakan Ryu.
"Bukti itu sudah cukup untuk menunjukan kedekatan kita Nona Ryu, aku akan mengatakan bahwa kamu sudah mengandung anakku pada keluarga Hu nanti!" Hu Yazhu melenggang pergi meninggalkan Ryu di kamar sendiri dan menutup pintu kamarnya.
Ryu membulatkan pandangannya dan menancapkan jepit rambut yang ada dibawah bantal ke pintu kamar.
Sreet
Jepit rambut pheonix itu menancap di pintu. Napas Ryu berderu, rasanya tidak ada hal lain yang ingin dia lakukan selain membunuh pria itu. Jika tidak ingat bahwa Hu Yazhu adalah teman masa kecilnya. Dia mungkin akan mengejarnya dan membunuhnya saat itu juga. "Keparat!"
Pintu kamar terbuka, terlihat Huo Sijue datang dengan begitu panik. "Ada apa? Kamu baik-baik saja?" Sijue melihat bekas ciuman Hu Yazhu di leher Ryu dia berniat untuk mengejar Hu Yazhu namun tangan Ryu menahannya kuat dan wanita itu menggeleng. "Tidak!"
"Aku tidak bisa membiarkan! Keparat itu melecehkanmu!"
__ADS_1
"Huo Sijue, sudah kubilang. Jagalah dirimu sendiri, apapun yang terjadi padaku, jangan ikut campur dan jangan mencoba untuk menolongku. Nyawamu begitu berharga dibanding wanita sepertiku, aku penuh dengan kebohongan. Kamu tahu aku adalah penipu handal. Maka dari itu, jangan pernah mengasihaniku!" Ryu menatap Huo Sijue tanpa berkedip, dia memaknai setiap ucapannya, dia tidak ingin Huo Sijue menyerahkan nyawanya untuk yang kedua kali nanti.
"Omong kosong macam apa itu!" Huo Sijue berlalu, dia merasa kesal dan tidak akan pernah mengindahkan peringatan Ryu. Sudah delapan tahun pria itu memendam rasa cintanya pada Ryu, dia tidak berpikir untuk menyerah pada siapapun termasuk pada Hu Yazhu.