LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 39 - Membangun Istana Harem


__ADS_3

Ketiga pria di depannya melihat keduanya dengan rasa kesal di dada. Tentu saja, bagaimana mungkin mereka rela melihat orang yang mereka kagumi bermesraan dengan orang lain di depan mata mereka sendiri. "Tunggu Yang Mulia!" Pangeran Long menghentikan Yijin yang hendak pergi bersama gurunya.


"Ada apa Pangeran?"


"Bolehkah aku meminta waktumu sebentar besok? Untuk meminum teh bersama, akupun ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Yang Mulia."


Yijin tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, sekalian undanglah adikmu ke perjamuan teh besok pagi!"


"Terimakasih banyak, Yang Mulia!"


Setelahnya Yijin pergi bersama Penasihat Kerajaan, Guru Tao. Saat dalam perjalanan gurunya itu terlihat begitu tenang sembari membawa kipas tangan, tampilannya sedikit berubah kini ia memakai sebuah perhiasan di area dahi yang begitu membuatnya terlihat cantik dan gagah. Dua hal yang seharusnya bertolak belakang itu malah menyatu sempurna pada perumpamaan dirinya.


"Yang Mulia tidak perlu memerhatikan hamba selama itu."


Yijin mengalihkan pandangannya dan pipinya terasa panas serta kemerahan. Ia amat malu karena katahuan memperhatikan Sang Guru.


"Namaku adalah Bei Ming, maaf karena baru bisa memperkenalkan diri seperti ini." Guru Tao memberi salam dan menunduk pada Yijin.


"Bei Ming? Nama yang indah sama seperti dirimu." ucapan asal Yijin membuat Bei Ming tersipu. Ia bahkan tertinggal jauh di belakang sedangkan Yijin sudah lebih dulu melewatinya.


Bei Ming segera mengikuti Yijin dan mengantarnya sampai ke depan kamar. "Yang Mulia, ada hal yang harus aku bicarakan!"

__ADS_1


"Masuklah!" Yijin meminta Penasihat untuk masuk dan berbicara di dalam. Sebagai Ratu Kerajaan Wen, Yijin tidak bisa sembarangan menaruh hatinya pada seseorang sekalipun dia ingin. Mengingat perjanjian politik lebih diutamakan dari kebahagiaannya maka dari itu ia tidak boleh sampai terlena dengan sebuah perasaan pada seseorang. Banyak Raja maupun Ratu yang menikah hanya karena hubungan politik. Kedua belah pihak mempunyai tujuan sendiri demi mengembangkan keuntungan pribadi maupun kerajaannya.


Tidak sedikit keluarga bangsawan yang mengirimkan putra-putri mereka untuk dijadikan selir atau penghibur Kaisar di Istana Harem. Karena dengan itu, jika menjadi salah satu kesayangan Kaisar maka derajat keluarganya akan ditingkatkan, harta kekayaan terjamin juga nama baik akan semakin terkenal dilingkungan masyarakat. Yijin juga yakin, kedatangan penasihat kerajaan kali ini untuk membicarakan soal hubungan politik antar kerajaan, tidak menutup kemungkinan sebagai Ratu Pertama membangun Istana Harem demi kelangsungan negara juga demi memperkuat kekuasaan.


"Yang Mulia, ini mengenai pernikahanmu!"


"Aku tahu, apakah kamu sudah mengumpulkan kandidatnya?" Yijin menoleh ke arah Bei Ming di belakangnya.


"Beberapa orang sudah mendaftarkan diri tapi hanya beberapa yang akan dimasukan ke Istana Harem. Kamu harus memilihnya sendiri!"


Yijin berjalan mendekat ke arah gurunya yang kini duduk di sebuah kursi yang ada di dalam kamar. Untuk menjadi buas ia harus belatih, untuk menjadi terbiasa dengan segala hal ini dia harus lebih kuat dibanding perasaannya. Perasaannya memang belum dimiliki siapapun, tapi Sijue dan Hu Yazhu adalah pria yang paling berkesan dihatinya. Begitupun Guru Tao yang selalu menemaninya akhir-akhir ini.


"Apakah guru mendaftarkan diri?"


Yijin dapat mendengar hembusan napas dan keluhan yang dikeluarkan oleh Bei Ming. Ia terkekeh kemudian mencondongkan tubuhnya pada pria di hadapannya. "Aku perintahkan kamu untuk mendaftar, bagaimana jika begitu?"


Bei Ming menelan ludahnya sendiri, ia tahu bahwa Yijin sedang mengujinya. Tapi siapapun tidak akan tahan melihat pemandangan seperti ini, bahkan tabib dewa sepertinya pun bisa goyah karena seorang wanita di depannya. Yijin menyentuh lembut pipi Bei Ming. "Bagaimana?"


"Aku tidak bisa menolak perintah Yang Mulia!"


"Bagus, kalau begitu daftarlah! Aku akan menunggumu untuk melayaniku Penasihat Bei. " Yijin berdiri dan membelakangi gurunya karena ia pun berhasil tersipu dengan tingkahnya sendiri.

__ADS_1


Penasihat Bei berdiri kemudian memberi hormat pada Yijin. "Baiklah, kalau begitu aku akan segera mendaftar atas perintah Yang Mulia."


"Untuk menjadi buas, aku harus berlatih. Bukankah begitu, guru?" Yijin kembali berbalik menatap penasihat Bei.


"Kamu tidak perlu menjadi buas untuk memerintah kekaisaran!"


Yijin tertawa kecil. "Penasihat Bei, sekalipun aku adalah seorang Kaisar aku tetap bisa diturunkan paksa oleh para menteri yang saling bekerja sama melawanku. Mengingat sejak awal mereka tidak pernah menyukai keputusanku, terlebih aku adalah Kaisar Wanita pertama di Benua Daehan. Semua orang meragukanku, para menteri tidak percaya aku bisa memimpin kerajaan. Bahkan, negara musuh terlihat begitu senang melihat lawannya yang begitu lemah.


Jika dengan menikahimu, bisa memperkuat kepercayaan mereka juga memperkuat kekuasaanku, aku bersedia. Juga, jika dengan membangun Istana Harem bisa melindungiku aku juga bersedia untuk menekan perasaanku demi Kerajaan Wen dan juga rakyat."


"Yang Mulia, hatimu begitu tulus dan pikiranmu luas, kamu adalah Ratu yang bijak. Baiklah, aku akan segera mengumumkan pencarian suami untukmu dan mengirimnya ke penjuru Benua."


"Terimakasih Penasihat Bei, aku sangat percaya padamu." Yijin tersenyum halus dan kemudian memberikan ciuman hangat di bibir Bei Ming. Mata Bei Ming berbinar dan berkedip beberapa kali, ia bahkan menjatuhkan kipas tangannya dan perlahan merangkul tubuh Yijin dengan erat. Peraturannya memang siapapun bisa melayani Kaisar selama ia ingin, Bei Ming mengangkat tubuh Yijin dan menggendongnya.


Setiap sentuhan Bei Ming membuat tubuh Yijin bergetar seperti tersengat listrik. Ia merangkulkan tangannya di leher Penasihat Bei, usia tidak jadi masalah terlebih Penasihat Bei adalah pemilik jiwa abadi dan ia tidak menua sama sekali. Bei Ming menjatuhkan tubuh Yijin di ranjang besar milik Kaisar yang berhias tirai berwarna merah muda.


Kecupan demi kecupan dilayangkan Bei Ming ke area leher dan pundak Yijin, membuat gadis itu mengerang. Bagai membangunkan singa yang tertidur, itulah perumpamaan yang tepat bagi Bei Ming yang kini benar-benar hilang kendali. Tidak biasanya ia seperti itu, ia adalah orang yang selalu terlihat tenang di luar maupun di dalam. Ia tidak pernah sekalipun menyentuh wanita kecuali untuk pengobatan, sebab itu adalah syaratnya ia bisa menjadi tabib dewa hingga sekarang. Bahkan ia mengkonsumsi teh pemandul agar tidak bisa menikah dan mempunyai keturunan.


"Yang Mulia, kurasa sudah cukup!" Bei Ming menahan dirinya dan menatap Yijin yang wajahnya memerah. Begitupun dengan ia yang jantungnya berdegup kencang, serta bibir dan matanya yang terasa panas.


"Kamu benar, aku akan istirahat." Yijin langsung melepaskan diri dan membelakangi Penasihat Bei. Entah kenapa ia merasa kesal karena sesuatu yang tidak bisa ia luapkan.

__ADS_1


"Beristirahatlah dengan nyaman, Yang Mulia!"


Yijin tidak lagi menjawab sampai Penasihat Bei keluar dari kamarnya. Ia mendengus pelan kemudian duduk dan merasa kesal. "Harusnya aku memberikan dia perintah untuk menyelesaikannya!" gumam Yijin sembari kembali menjatuhkan dirinya ke kasur.


__ADS_2