LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 46 - Kembali ke istana


__ADS_3

Seharian penuh Kaisar Wen Yijin menghabiskan waktunya di pinggir danau sembari bermeditasi untuk menerobos alam spiritualnya. Sedangkan penasihat Bei berusaha melindunginya dari gangguan di luar dengan memasang array disekitaran danau tempatnya bermeditasi. Setelah cukup lama, sebuah cahaya berwarna merah membuncah ke angkasa. Cahaya itu keluar dari tubuh Kaisar Wen, ia membuka matanya bulat kemudian menyeringai.


"Beberapa tahap lagi aku pasti bisa menerobos masuk ke alam dewa!"


Kaisar Wen Yijin melenggang keluar mendekati pemukiman Suku Tao, dari kejauhan ia melihat Penasihat Bei sedang berbincang dengan seorang pria berkarismatik lainnya. Yijin berjalan ke arah mereka kemudian memberi salam.


"Ryu, ini adalah Pemimpin Sekte Pedang Nir. Aku sudah meminta Ketua Xiao untuk menerimamu sebagai muridnya," kata Penasihat Bei.


Pandangan Yijin membulat, ia bahkan mengerutkan alisnya kemudian menatap tajam Penasihat Bei. "Baik, ucapan guru adalah perintah bagiku. Salam ketua Xiao, aku Ryu Ito meminta izin untuk menjadi muridmu."


Ketua Xiao tersenyum, rambutnya yang berwarna hitam panjang sepinggang terlihat begitu menawan belum lagi tubuhnya yang terlihat gagah. "Aku menerimamu sebagai muridku!"


"Terimakasih guru," Yijin memberi hormat dengan tulus. Setelah perbincangan itu, ia menanyakan tujuan jelas Penasihat Bei mengirimnya ke sekte pedang Nir.


Keduanya terlihat saling berhadapan, Yijin mengerutkan alisnya dan siap untuk meluapkan kemarahannya pada Bei. "Kaisar tunggu dulu, sebelum meluapkan amarahmu biarkan aku menjelaskannya padamu."


"Dasar kamu sialan! Apa aku masih harus bersikap hormat padamu, guru? Atau aku harus bersikap penuh sopan santun karena aku adalah seorang Kaisar? Semua aturan ini, semua hal ini membuatku muak.


Kamu secara tiba-tiba mengirimku untuk berguru dengan yang lain, kamu benar-benar mengkhianatiku!"


Entah apa hal yang membuat Yijin marah, namun melihat Bei mengirimnya untuk berguru dengan orang lain membuatnya kesal seolah pria itu membuangnya setelah apa yang terjadi tadi siang. Yang ingin dia lakukan sekarang hanyalah memukul wajah pria itu dengan keras dan mengucapkan semua kata-kata kasar tepat di wajah Bei. "Aku harus kembali ke alam dewa, disana ada keadaan yang begitu kacau sehingga membutuhkan bantuanku."


Yijin terdiam kemudian ia mendengus pelan. "Baiklah, terserah kamu saja!" Yijin memunggungi Bei dan menyilangkan lengannya di depan. Seharusnya ia tidak berpikir lebih jauh tentang hubungan mereka, bagaimanapun jiwa Bei adalah jiwa abadi dan mereka adalah murid dan guru yang suatu saat pasti akan meninggalkan satu sama lain.

__ADS_1


Bei menatap Yijin dengan penuh penyesalan, seolah ia merasa bersalah karena hanya memanfaatkan wanita itu untuk mengaktifkan kekuatan naga di tubuhnya. Tapi, Hongyun membutuhkannya keadaan genting disana tidak akan berhasil diatasi jika ia tidak ikut serta. "Maafkan Hamba Kaisar! Aku adalah jiwa abadi dan kali ini aku harus kembali ke alam dewa untuk mencegah kekacauan disana. Suatu hari nanti, jika kamu berhasil menerobos alam dewa kita bisa berkumpul kembali bersama."


"Tidak perlu, aku tidak akan kemana-mana. Aku hanya akan memimpin Daehan dengan baik, selamat tinggal Penasihat Bei!" Yijin melangkah pergi dan menjauh dari Bei yang masih berdiam diri disana.


Terlihat sebuah naga putih kecil keluar dari salah satu giok yang ia pakai. "Tuan, mari kita kembali ke Hongyun. Tugasmu sudah selesai, dia sudah mencapai tingkat empat, mengaktifkan kekuatan pheonixnya dan kamu juga sudah mengaktifkan kekuatan nagamu. Jadi hubungan kalian hanyalah hubungan yang saling menguntungkan, tidak perlu terbawa perasaan!"


"Kamu benar, baik kalau begitu kita kembali ke Hongyun!"


Setelah kepergian Penasihat Bei, Wen Yijin masih menyempatkan diri untuk tetap di Suku Tao bersama bibinya dan juga mempelajari beberapa jurus dari Sekte Pedang Nir yang diberikan langsung oleh Ketua Xiao. Ia hanya memiliki satu hari lagi untuk berada disana, esok ia sudah harus kembali ke kerajaan agar disana tidak semakin kacau. Lagipula, ia tidak bisa terus menerus meminta Xie menghindari pertemuan politik.


Keesokan harinya, Yijin bersiap pulang. Setelah berkemas dan siap berangkat tidak lupa ia mengundang Ketua Xiao dulu untuk datang ke istana.


"Guru, aku harap kamu bisa menemuiku di istana! Jika Kaisar melihatmu, ia pasti akan senang karena diapun sedang mencari guru yang dapat mengajarinya pedang."


"Baguslah, kalau begitu guru karena tugasku disini sudah selesai aku izin pamit untuk kembali ke istana."


"Tentu saja, aku mengizinkanmu untuk kembali ke istana dan jangan lupa katakan pada semua orang di istana bahwa kamu adalah murid sekte pedang Nir. Siapa tahu setelah mendengar hal itu akan ada banyak orang yang mendaftar ke sekte kita."


Yijin tersenyum halus. "Tentu saja!"


Setelahnya, Bibi Tao menunjukan ruangan kosong dan memberi Yijin sekuntum bunga melati yang harus ia taruh di telapak tangannya. "Guru Tao bilang, kamu bisa mengalirkan energimu pada bunga itu!"


Setelah mengalirkan energinya pada bunga melati kecil tersebut, sebuah portal teleportasi terbuka. Rupanya hal itu disiapkan Bei agar memudahkan Yijin kembali ke istana. Yijin tanpa ragu masuk ke dalam dan salam sekejap ia sudah berada di kamar miliknya. Seorang duplikasi dirinya menghampiri Yijin dengan cemas.

__ADS_1


"Salam Yang Mulia Kaisar! Apakah tugasku sudah selesai?"


Yijin mengangguk. "Sudah, kamu bisa kembali! Tapi ada masalah apa selama kepergianku?"


"Yang Mulia, para pejabat memintamu untuk segera memilih suami yang bisa memberimu keturunan untuk meneruskan kerajaan. Jika kamu menolak, mereka akan bersatu untuk menurunkanmu dari takhta."


Yijin memejamkan matanya dan menghela napas panjang. "Apa mereka menyumpahiku untuk mati? Aku masih sehat kenapa harus terburu-buru untuk melahirkan pewaris?"


"Mereka bilang, usia yang baik untuk melahirkan adalah dua puluh tahun. Terlebih Yang Mulia Kaisar juga sudah membubarkan Istana Harem dan Raja Wen terdahulu tidak memiliki pewaris siapapun lagi selain dirimu dan Nona Wen Jia yang kini entah dimana."


"Baik cukup! Terimakasih juga atas bantuanmu. Aku pasti akan hadir di pertemuan politik besok dan membahasnya."


"Terimakasih atas pujian Kaisar Wen Yijin! Oh iya, kenapa aku tidak melihat Penasihat Bei kembali bersamamu, Yang Mulia?"


"Pria keparat itu, dia mengkhianatiku!" Yijin mengepalkan tangannya kesal dan melirik Xie dengan tajam dan membuat wanita itu gugup.


"Maafkan Hamba yang tidak tahu sama sekali! Lalu kenapa membiarkannya pergi? Apakah Yang Mulia Kaisar tidak memberinya hukuman?"


"Dia adalah guruku, terlebih dia berjiwa abadi. Ia tidak bisa mendapat hukuman dunia ini, jadi aku melepasnya."


"Baiklah, kalau begitu Yang Mulia tidak perlu sedih. Hamba juga menerima surat dari Jenderal Agung Hu, namun hamba tidak berani membukanya karena itu milik Kaisar!"


Yijin menoleh dengan semangat ke arah Xie. "Hu Yazhu mengirimkanku pesan? Aku akan membacanya!"

__ADS_1


__ADS_2