
Hari telah berlalu dan matahari akan segera tenggelam berganti dengan gelapnya malam. Babak penentuan akan segera diumumkan, semua peserta dari Kerajaan Wen sudah berangsur kembali dari hutan. Terlihat Ryu Ito juga Putri Long memasuki area pengumuman terlebih dahulu kemudian dilanjut Wen Jia dan kakak sepupunya yang lain, yang terakhir para Putri kerajaan yang ikut berlatih.
"Putri, ada apa dengan pakaianmu?"
"Diam kau!" bentak Wen Jia pada salah seorang pelayannya. "Cepat gantikan aku dengan pakaian terbaik! Kalian semua jangan berani memulai pengumuman sebelum aku kembali!"
"Baik Tuan Putri," semua orang tidak punya pilihan lain lagi selain mengikuti keinginan Wen Jia. Tidak ada yang berani melawannya dengan tempramen seperti itu, hampir sudah ada dua puluh lima orang yang kehilangan nyawa hanya karena masalah sepele. Dia dan ibunya sama licik dan kejamnya seperti ular.
Ryu tertawa kecil. "Putri Hong pasti terkejut melihat tabiat Putri Kerajaan ini."
"Nona Ryu benar, aku hampir tidak tahu bahwa dia adalah seorang calon Putri Mahkota."
"Selagi menunggu Putri Jia berganti pakaian, bagaimana kalau kita menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh Kerajaan?"
"Itu ide yang sangat bagus, mari mengisi perut dulu setelah cukup lelah berlatih."
Keduanya kemudian berjalan ke area hidangan kerajaan yang sengaja disediakan untuk menjamu para peserta yang sudah berlatih seharian. Pandangan Ryu terfokus pada pria yang kini menghampirinya, setelan pakaian itu membuat ketampanannya bertambah dua kali lipat dari biasanya dan rambut hitamnya yang terikat rapih dengan beberapa helai yang dibiarkan menggantung ke depan membuat nilai tambah pada penampikan Hu Yazhu hari ini.
"Aku mengambil ini untukmu, tanaman ini sangat langka." Hu Yazhu menyerahkan akar merah yang biasanya dijadikan obat untuk pelengkap menyembuhkan alam spiritual seseorang, pria itu secara khusus mencarinya di dalam hutan.
"Alih-alih memberiku bunga, kamu malah memberiku akar pohon? Ck!" Ryu menggeleng pelan, namun jika dilihat sekarang pipi Hu Yazhu begitu memerah seolah sedang menahan malu.
"Maafkan aku, lain kali aku akan memetikan bunganya juga."
"Tidak perlu, seharusnya kamu belajar bahwa 'lain kali' itu adalah hal yang tidak pasti. Ini aku memetik bunga persik yang indah hanya untukmu seorang!" Pangeran Long menyerahkan beberapa tangkai bunga persik kepada Ryu, perhatian Hu Yazhu kemudian terarah pada Putra Mahkota Long dia berpikir, jangan hanya karena pria itu adalah seorang Pangeran lalu dia akan merasa kalah. Tidak akan!
__ADS_1
"Apakah ini yang diajarkan oleh Keluarga Kerajaan Long pada Putra Mahkotanya? Memberikan bunga kepada calon istri orang lain di hadapan calon suaminya?"
"Hanya calon, aku tidak akan takut. Bagaimana kalau kita bertarung untuk mendapatkan hati Nona Ryu?" Hu Yazhu masih tidak habis pikir, kenapa Pangeran Long begitu menyukai Ryu dia sangat tidak senang mengingat pria di hadapannya seharusnya menjadi calon suami Putri Yijin.
"Tolong jaga sikap Pangeran Long! Nona Ryu adalah calon istriku!" Hu Yazhu mempertegas fakta bahwa Ryu kini telah dikenal sebagai calon istrinya, walaupun hanya kebohongan tapi kenapa dia merasa begitu tidak rela wanitanya digoda oleh pria lain?
"Maaf tanpa mengurangi rasa hormatku, bisakah kalian diam?" Ryu melayangkan tatapan kesal pada keduanya, dia memilih untuk kembali ke area pengumuman bersama Putri Long yang mematung karena melihat pertengkaran kakaknya dan Panglima Kerajaan Wen. "Kami harus kembali, berhentilah mendebatkan hal yang tiada gunanya."
Ryu paham, sejak kecil mereka selalu beradu argumen tanpa henti seolah dikehidupan sebelumnya mereka adalah musuh bebuyutan. Antara Hu Yazhu dan Long Chen selalu memiliki satu hal yang membuat keduanya saling menyerang satu sama lain. Saat itu, hanya Wen Yijin lah yang mampu menengahi keduanya menjadikan mereka berdua teman saat bersama dengannya walau Yijin tahu dibelakangnya mereka akan seperti itu lagi.
Ryu menghela napas panjang, dia tidak bisa meneriaki mereka berdua seperti dulu. Karena statusnya kini yang hanya seorang rakyat biasa tidak akan mungkin melakukan hal itu apalagi terhadap Panglima Perang dan Putra Mahkota Kerajaan Long.
"Pengumuman peserta yang akan mewakilkan Kerajaan Wen adalah Putri Wen Jia dan juga Nona Ryu Ito. Karena hasil keduanya sama, jadi Raja memutuskan untuk mengirim keduanya ke kompetisi memanah tahunan Benua."
Sorakan tepuk tangan dan ucapan selamat diberikan pada Ryu dan Wen Jia. Keduanya saling bertukar tatap, Ryu juga tidak lupa untuk memberi hormat walau dia rasa dia sudah muak dan ingin segera mendepak wanita itu tapi, tindakan gegabah hanya akan memperburuk posisi dirinya yang sekarang bukan siapa-siapa.
Kaki Ryu melangkah dengan riang seirama saat ia berjalan kembali ke Paviliun. Ditengah perjalanan Sang Panglima Perang Hu Yazhu dengan sengaja menunggunya untuk menyapa dan memberikan selamat pada Ryu. Mata Ryu menyipit dia memerhatikan pria di hadapannya seolah ada yang aneh dari diri pria itu. Hu Yazhu yang menjadi salah tingkah kemudian mundur dan tersenyum halus ke arah Ryu Ito.
"Aku kesini untuk mengucapkan selamat pada Nona Ryu atas terpilihnya menjadi perwakilan Kerajaan."
"Apa kamu mengucapkan hal yang sama pada Putri Jia?" Ryu dengan sengaja menggoda Hu Yazhu untuk melihat reaksi pria itu.
Samar-samar rona merah di pipi Hu Yahzu mulai muncul. "Um, belum."
Ryu mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis ke arah Hu Yazhu. "Kamu memang yang terbaik, terimakasih. Aku harus kembali ke kamar untuk menyegarkan diri."
__ADS_1
Ryu terhenti saat mendengar ucapan Hu Yazhu. "Mengenai titik meridianmu, jika boleh aku ingin melakukan akupuntur untuk melancarkan energi Qi di dalam tubuhmu."
"Panglima, aku sudah mengatakan bahwa kamu tidak perlu melakukannya. Aku baik-baik saja-" perkataan Ryu terpotong.
"Apa ada hal yang kamu tidak ingin aku ketahui? Aku hanya penasaran kenapa kamu bisa mengalami luka separah itu dan hampir merusak semua titik energimu?" Hu Yazhu terhenti sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya lagi sembari terfokus pada mata Ryu Ito. "Dan soal jepit rambutmu, aku melihatnya sekilas."
Mata Ryu membulat, jangan sampai sahabatnya itu mulai menyadari bahwa dirinya adalah Wen Yijin, bagaimanapun belum boleh ada seorang pun yang tahu bahwa dia adalah Putri Mahkota yang sudah dikabarkan meninggal. Teringat betapa mengerikannya kehidupan sebelumnya saat dia datang sebagai Putri Mahkota seolah semua ujung pedang mengarah padanya dan pada saat itu bukan hanya dirinya yang menjadi korban melainkan semua orang terkasihnya ikut terkena imbas. Ryu tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, lagi.
"Panglima, kurasa kamu sudah terlalu ikut campur. Kamu bahkan menyerang keluargaku demi menyembunyikan identitasku sebagai seorang cenayang, lalu kamu sekarang bersikap berlebihan dengan menanyakan soal kecelakaan yang menimpaku.
Aku tidak tahu kenapa kamu begitu tertarik pada seorang cenayang yang kamu bilang rendahan ini. Atau kamu sudah jatuh cinta padaku?"
Hu Yazhu terdiam, dia terlihat menghela napas panjang. "Aku hanya ingin membantumu pulih agar kamu tidak mengecewakan Kerajaan saat kompetisi memanah berlangsung. Lawanmu bukanlah orang sembarangan, sebagai wanita yang dikenal sebagai calon istriku kamu tidak boleh mempermalukanku.
Aku dikenal sebagai Panglima terhebat dibanding Panglima seluruh kerajaan yang mengikuti acara ini. Jadi jika kamu kalah dan tidak maksimal karena energimu yang tidak stabil maka itu akan mencoreng nama Kerajaan kita sebagai Tuan Rumah."
Ryu merasa tidak enak karena sudah salah mengartikan kepedulian Hu Yazhu padanya, dia terlalu khawatir Hu Yazhu akan mengetahui rahasia besarnya namun itu semua malah menjadikan dirinya terlihat konyol di hadapan Hu Yahzu.
"Tapi yasudah jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa lagi."
"Panglima Hu Yazhu tunggu!" Ryu Ito menahan Hu Yazhu dengan menggenggam tangannya. "Aku tidak ingin mengecewakan Kerajaan dan tidak ingin mempermalukanmu, jadi tolong bantu aku menyembuhkan titik meridianku yang tidak stabil."
Hu Yazhu menatap genggaman tangan Ryu beberapa saat, dari kejauhan Wen Jia begitu kesal setelah memerhatikan dua sejoli itu seperti sedang dimabuk cinta. Dia tidak akan tinggal diam, dia berencana untuk segera merusak hubungan keduanya.
Hu Yazhu mengangguk begitu mendengar Ryu meminta bantuannya, dia akan dengan senang hati membantu memulihkan meridian Ryu. Keduanya masuk ke dalam Paviliun, di sana tiga orang pelayan Ryu langsung membantunya berganti pakaian dan hanya menyisakan kain lilit yang lembut di tubuh Ryu. Perlahan, saat ia sudah siap melakukan terapi akupuntur Ryu langsung berbaring tengkurap.
__ADS_1
Hu Yazhu mengoleskan minyak obat dari biji bunga matahari ke punggung Ryu ito secara menyeluruh. Dia mulai menusukan jarum ke titik-titik yang menjadi sumber masalah. Namun kali ini, dia baru melihat dengan jelas tanda lahir yang ada di bagian belakang telinga Ryu, hal itu mengingatkan dia pada Putri Mahkota Wen Yijin yang memiliki tanda lahir sama di bagian belakang telinganya.
"Nona Ryu, apa kamu benar cucu Kakek Asahi?"