LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 49 - Perbatasan


__ADS_3

Malam yang begitu dingin, angin pun bersemilir lembut mengayunkan tirai jendela yang sengaja di buat terbuka oleh Yijin. Sebelum acara selesai, Hu Yazhu dengan cepat pergi ke perbatasan untuk melihat situasinya. Malam ini, Yijin yang seharusnya menikmati masa malam indah bersama Hu Yazhu pun mamilih untuk berdiam diri di dalam kamar, ia memutuskan lebih baik bermeditasi untuk menyempurnakan Qi yang ia miliki daripada tidak melakukan apapun.


Demi mencapai ilmu tinggi, dia harus sering berlatih sebelum benar-benar berguru pada Xiao nanti. Urusan kerajaan juga harus sementara waktu ia serahkan pada Perdana Menteri Su. Satu hari, dua hari, seminggu, dua minggu bahkan sebulan sudah dilewati Yijin tanpa Hu Yazhu. Hanya surat yang menjadi alat komunikasi mereka selama ini.


Keadaan di perbatasan sudah semakin genting, pasukan militer sudah mulai kekurangan bahan pangan. Belum lagi Kerajaan Long yang terus menerus menyerang, Hu Yazhu tidak mengatakan bahwa Kerajaan itu dibantu jelemaan iblis yang kini menjadi Permaisuri Pangeran Long. Sampai akhirnya, setelah menyempurnakan Qi miliknya, Yijin memutusman untuk menyusul Hu Yazhu keperbatasan sekalian membawa bahan makanan untuk di camp militer.


"Yang Mulia apa anda yakin akan melanjutkan perjalanan ini?" tanya Pelayan dari Yijin.


"Tentu saja, hanya mendengar kisah dibalik surat itu tidak memuaskan. Aku sendiri yang harus menyaksikan mengapa Kerajaan Long menjadi pemberontak seperti ini."


Dua hari perjalanan berlangsung dengan aman, anehnya setiap pagi selalu ada sekuntum bunga yang diletakan di depan pintu kereta kuda milik Yijin. Tiada yang tahu darimana bunga itu berasal, namun Yijin tetap menyukainya. Kepribadian Yijin dan Ryu sebelum naik takhta sudah berubah seratus delapan puluh derajat.


Ryu yang dulu selalu terlihat ceria, bersemangat dan juga sedikit kekanakanan telah berubah menjadi Yijin yang tegas, penuh ambisi juga sedikit bicara. Ia tidak lagi tertawa sesering dulu, yang ada dipikiran Yijin sekarang hanyalah kerajaan dan rakyatnya bahkan tidak jarang ia melupakan apa yang menjadi keinginannya.


Dia sudah beberapa kali merubah dan mengatur hal sesuai apa yang ia mau, namun semakin dia seperti itu semakin banyak pejabat dan menteri yang menantangnya. Tidak jarang mereka masih tetap mengirimkan para pengabdi untuk melayani Yijin sekalipun ia telah membubarkan Istana Harem.


Setelah sampai di Camp Militer, Yijin turun dan disambut hangat oleh Hu Yazhu juga para prajuritnya. Senyuman manis terukir di wajah Hu Yazhu yang kini tidak sabar untuk memeluk istrinya. "Kaisar pasti sangat lelah, hamba akan mengantar Kaisar ke tenda untuk istirahat."


"Terimakasih Jenderal agung."


Keduanya segera pergi ke dalam tenda, disana Hu Yazhu tidak lagi dapat menahan rasa senang campur cemas yang ia rasakan. Bagaimana tidak, kali ini masalahnya tidak semudah itu. Jelmaan iblis yang di gadang oleh beberapa orang belum terlihat sampai kini, hanya saja banyak gangguan aneh yang sudah beberapa kali menyerang prajurit. Seperti penyakit kulit yang tiba-tiba menyerang mereka dan juga beberapa prajurit yang ketakutan sampai terlihat tidak waras. Kini, hanya tersisa sembilan ratus dari seribu prajurit jaga yang dibawa ke perbatasan.


"Yijin istriku, kenapa kamu harus pergi kesini? Di istana saja tidak aman apalagi disini, bagaimana aku bisa memastikan keselamatanmu?"


"Hu Yazhu, jika kamu tidak tenang. Bukankah lebih baik jika membiarkan aku tetap disini bersamamu?" usul Yijin.


"Bagaimana dengan istana? Apa kamu benar-benar mempercayakannya pada Perdana Menteri Su?" Hu Yazhu menggenggam tangan Yijin dan memerhatikan raut wajah wanita itu yang nampak pucat.

__ADS_1


"Benar, tapi tenang saja. Masih ada kakek yang mengawasi semuanya. Dialah orang kepercayaanku yang sesungguhnya, Perdana Menteri hanya untuk formalitas saja."


Hu Yazhu menggeleng. "Kamu terlalu gegabah. Tapi karena kamu sudah disini, aku harap kamu tidak pergi jauh dari camp militer. Beberapa orang mengalami penyakit kulit yang aneh muncul secara tiba-tiba, juga beberapa yang lain terlihat ketakutan seperti orang tidak waras."


Yijin membelalak, ia tidak menyangka situasinya akan segawat ini. "Bolehkah aku melihatnya langsung? Katakan pada mereka bahwa aku adalah tabib yang dikirim langsung oleh kaisar!"


"Yijin, Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya!" Hu Yazhu jelas tidak setuju, penyakit langka yang muncul secara tiba-tiba ini adalah penyakit kiriman. Bagaimana jika nantinya Yijin tertular dan menjadi sakit, sungguh ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi.


"Jenderal Agung, bukankah nyawa prajuritmu juga penting? Lebih baik kamu mengedepankan tugasmu daripada perasaanmu untuk saat ini. Apa kamu tidak mempercayaiku?" Yijin menepuk pundak Hu Yazhu lembut dan menenangkannya. Setelah Hu Yazhu setuju ia memanggil masing-masing satu orang dari beberapa orang yang terkena penyakit kulit dan ketakutan untuk menemui Yijin yang bersandiwara sebagai tabib.


Di dalam tenda, Yijin segera memeriksa penyakit kulit apa yang sebenarnya menyerang para prajuritnya. Setelah menelaah, penyakit itu terlihat seperti cacar air yang lebih parah dari biasanya. Kulitnya semakin melepuh dan lukanya melebar sampai penderitanya tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit sekaligus gatal. Kini sebagian orang yang mengalami penyakit ini bahkan diamankan di tenda khusus agar tidak menyebar kemana-mana.


"Apa kalian sudah memeriksa tangki-tangki air pasokan untuk prajurit? Aku melihat, penyakit ini tidak menular. Hanya saja, lukanya memang cukup parah dan bisa membuat mereka gila karena mengalami hal menyakitkan seperti ini.


Aku akan membuatkan ramuan khusus yang bisa digunakan dalam bak pemandian sekaligus. Tapi, ini tidak akan berlangsung cepat harus beberapa kali digunakan baru bisa sembuh total. Untuk saat ini, tolong perintahkan beberapa prajurit yang tersisa untuk membangun kolam pemandian air hangat yang nantinya akan dicampur dengan ramuan obat yang kubuat."


"Baik Jenderal!"


Setelah segera pergi dari tempat itu, kini Yijin memeriksa keadaan pria yang mengalami histeris berkepanjangan. Suara memekakan menggelegar di dalam tenda karena pria itu menjerit dan berlarian seperti orang tidak waras. Yijin meminta prajurit lain untuk menahan pria itu, ia mengeluarkan sebuah kalung giok dan memusatkan pandangan pria itu pada benda yang ia pegang.


"Pertahankan posisinya, biarkan ia melihat giok ini untuk beberapa saat!"


Mata pria itu ikut bergerak ke kanan dan kiri sesuai alur giok tersebut, tidak lama Yijin mengucapkan beberapa kalimat yang ia yakini dapat menyembuhkan kegelisahan yang ada di dalam pria itu. "Sadarlah! Kalian hidup untuk keluarga kalian, berperang melawan musuh adalah hal mulia, menjadi prajurit Jenderal Agung adalah kehormatan dan menjadi perisai bagi kerajaan adalah suatu keberkahan!"


Pria itu dengan lirih mengikuti ucapan Yijin. "Berperang melawan musuh adalah hal mulia, menjadi prajurit Jenderal Agung adalah kehormatan dan menjadi perisai bagi kerajaan adalah suatu keberkahan."


Seketika pria itupun terjatuh dan pingsan, setelah kurang lebih satu dupa pria tadi terbangun dan kesadarannya pun telah kembali. Ia terlihat kebingungan saat berada di dalam tenda yang kini dikelilingi oleh Jenderal Agung dan yang lainnya. Yijin tersenyum pada pria itu begitupun Hu Yazhu yang menyeringai halus pada istrinya. "Terimakasih Jenderal Agung, Tabib...."

__ADS_1


"Ryu!" sahut Yijin tegas.


"Tabib Ryu, terimakasih."


"Apa gejala yang kamu rasakan sebelumnya?" tanya Yijin.


"Malam itu, kami sedang berpatroli kemudian salah seorang dari kami ingin buang air kecil lalu pergi ke hutan. Disana muncul seekor ular besar yang hendak memakan kami sehingga membuat kami ketakutan dan setelahnya kami tidak ingat apapun lagi!"


Hu Yazhu mengernyitkan dahi. "Kamu yakin? Aku tidak mendengar keributan apapun atau ular besar yang kamu ceritakan barusan."


Yijin menyentuh lembut lengan Hu Yazhu, dia sudah paham apa yang dialami orang-orang itu. Setelahnya, Yijin meminta pria itu keluar dan meninggalkan ia dan Hu Yazhu berdua di dalam tenda. "Jenderal, mereka terkena ilmu sihir. Ilmu hitam ini benar-benar kuat seolah menandakan adanya jelemaan iblis di sekitar sini."


"Kaisar memang pintar, maaf karena hamba belum menceritakan hal ini sepenuhnya. Rumor mengatakan bahwa Kerajaan Long menggunakan jelmaan iblis untuk menyerang kita." Hu Yazhu menarik pinggang Yijin dan merangkul wanita itu dalam dekapannya.


"Benarkah? Kalau begitu tolong buatkan jadwal pertemuan dengan Pangeran Long. Aku masih seorang Kaisar, mereka tetap harus patuh pada dekrit kekaisaran! Sekaligus, aku ingin memberi pelajaran pada sahabat kecil kita satu itu!"


Hu Yazhu mengangguk pelan. "Baik, semuanya akan dilakukan sesuai perintah Yang Mulia Kaisar."


"Terimakasih, kamu memang yang setia." Yijin mengelus lembut rambut milik Hu Yazhu membuat pria itu tersipu malu.


"Jika kamu berada di dekatku seperti ini, aku tidak bisa memastikan bahwa aku bisa menahan rasa rinduku padamu." Hu Yazhu menggendong Yijin dan membawanya ke atas meja kerja miliknya sedangkan Yijin merangkulkan tangannya ke leher Hu Yazhu.


"Yang Mulia Kaisar, ada yang ingin bertemu denganmu." ucap Xie pelayan Yijin.


Yijin menatap Hu Yazhu dan memerhatikan pria itu untuk sesaat, kemudian turun dari meja dan segera menemui orang yang dimaksud oleh Xie.


Setelah setengah tahun, ia akhirnya bertemu dengan pandangan itu lagi. Pria berkulit putih senada dengan rambutnya. Yijin terkesiap dan seketika tubuhnya mematung, "Penasihat Bei?" lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2