LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 36 - Jebakan


__ADS_3

Pertarungan dibagi menjadi tiga babak, apabila salah satu dari mereka sudah memenangkan dua babak maka satu babak akhir tidak perlu dilakukan. Kemenangan pertama didapatkan oleh Hu Yazhu, namun yang kedua dan terakhir dimenangkan oleh Guru Tao. Ia menggunakan taktik penyerangan syaraf setiap ia menyentuh Hu Yazhu ia akan langsung menyerang titik syaraf yang membuat pria itu lemas bahkan tidak bisa bergerak.


Setelah kekalahan Hu Yazhu, akhirnya Kaisar menanyakan keinginan Guru Tao. Ryu dan gurunya pun berbincang langsung bersama Kaisar di dalam tenda pertahanan Kerajaan Wen.


"Ayahanda!"


"Yijin, izinkan ayah memelukmu." Kaisar melangkah maju menghampiri Ryu.


Ryu dengan senang hati menghampiri Sang Ayah dan memeluknya erat. Setelah kemenangan gurunya Ryu yakin ayahnya akan mengabulkan setiap keinginan mereka. Setelah melepaskan kerinduan pada ayahnya Ryu merasakan perasaan lega di dalam hatinya, sekalipun ayahnya sedang berada di pihak lawan bagi suku asli ibunya, Ryu tetaplah seorang putri yang berbakti dan bijaksana. Ia tetaplah seorang anak yang sudah seharusnya tunduk pada ayahnya terlebih pria itu bukanlah pria sembarangan melainkan Kaisar Negeri Wen.


Sajian telah disiapkan di atas meja pertemuan mereka. Guru Tao menyempatkan meminum segelas teh yang telah disediakan, begitupun Ryu dan Kaisar yang masih bercakap hangat. Guru Tao tersenyum, sangat menyenangkan melihat hubungan ayah-anak ini membaik. Siapapun akan begitu melihatnya, kecuali Selir Fan Hai yang kini secara tidak sopan ikut masuk ke tenda dan ikut mendampingi Kaisar.


"Yang Mulia!" wanita itu menyilangkan tangannya di siku suaminya kemudian menunjukan keharmonisan yang palsu di depan Ryu. Ia tersenyum manis dan menoleh ke arah Ryu dan menyapa gadis itu.


"Putri, kenapa harus memperumit keadaan?"


Ryu menatap tajam Selir Fan Hai yang masih tidak tahu malu, ia bahkan tidak habis pikir kenapa ayahnya masih saja mempertahankan ular berbisa untuk menemaninya. "Aku tidak memperumit, hanya saja kalian terlalu menggebu untuk menyerang Suku Tao. Sebagai ahli waris dari Ketua Suku Tao terdahulu aku merasa bertanggung jawab untuk melindungi mereka."


"Yijin, ibumu bahkan sudah melepaskan statusnya sejak menikahi ayah. Lalu kenapa kini mereka memaksamu untuk bertanggung jawab atas keselamatan suku mereka?" Kaisar mengerutkan alis berbicara terarah pada Ryu tanpa menghiraukan Guru Tao.


"Tunggu Yang Mulia, suku kami tidak pernah memaksa Putri Yijin untuk bertanggung jawab atas keselamatan kami."

__ADS_1


Ryu Ito menyela ucapan Guru tao. "Benar Ayahanda, sewaktu ada yang menjebakku saat acara panahan waktu itu aku ditolong langsung oleh penduduk Suku Tao."


"Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya saat itu?" Kaisar memberikan raut wajah cemas pada putrinya. Sedangkan Selir Fan Hai langsung menyentuh tangan Kaisar dan mengalihkan pembicaraan mereka.


"Bagaimana jika Putri langsung menyebutkan permintaanmu saja?"


Ryu mendelik kemudian menoleh ke arah gurunya. "Apa yang guru inginkan adalah yang aku inginkan."


"Tidak! Apa yang Tuan Putri inginkah adalah keinginan hamba." Guru Tao menunduk sembari memegang dadanya memberi hormat.


"Aku ingin kebebasan hidup untuk Suku Tao, aku harap ayah tidak lagi takut soal kekuasaanmu. Jika itu yang sangat kamu khawatirkan, aku bisa memimpin Suku Tao dan memastikan mereka tidak akan menjadi pemberontak ataupun pengkhianat. Aku hanya ingin mengembalikan kejayaan suku asli ibu. Apakah ayah tidak ingin? Ibu pasti akan sangat bahagia dengan keputusanku."


"Baiklah, ayah percaya padamu. Bagaimana jika kamu pulang ke istana? Menikmati setiap hakmu kembali, menjadi Putri Mahkotaku dan membantuku mengerjakan tugas kekaisaran. Aku melihat keberanian dan tekadmu, merasa sangat bangga dengan dirimu yang sekarang.


Entah apa yang telah kamu alami selama ini, ayah bahkan tidak tahu dan sangat merasa bersalah. Jika setelah kamu kembali aku hanya membuatmu kecewa, akan menyesal rasanya diri ini. Wen Yijin putri kesayanganku pulanglah kembali ke kerajaan!"


Ryu tersenyum dan mengangguk, ia berdiri kemudian bersimpuh di hadapan Kaisar. "Aku menerima perintah Ayahanda. Aku akan kembali dengan identitas asliku Wen Yijin dan mengumumkan kehadiranku kembali serta keterlibatanku dalam tugas kekaisaran."


"Bangunlah, ayah memberikan pelakat ini untukmu." Kaisar pun menyerahkan pelakat emas milik Putri Mahkota dan Ryu menerimanya dengan baik.


Setelah kesepakatan keduanya, Ryu dan Guru Tao keluar untuk memberikan kabar baik pada Suku Tao. Baru beberapa langkah keluar dari tenda, suara teriakan Selir Fan Hai terdengar cukup keras. "Tolong, Yang Mulia Raja telah diracuni! Jangan biarkan mereka lolos!"

__ADS_1


Seketika seluruh tombak pasukan milik Kerajaan Wen mengarah pada Ryu dan juga Guru Tao. Ryu menoleh ke belakang dan melihat ayahnya terkulai lemas di pelukan selirnya. "Guru!"


"Masuklah, berikan pil penawar racun!" seru Guru Tao yang siap menghadang para prajurit.


Hu Yazhu sudah menghadap Guru Tao, dia pun mengacungkan pedangnya tepat di leher pria berambut putih itu. "Sudah kuduga, kamu memanfaatkan Yijin untuk kepentingan sukumu!"


"Panglima! Jangan menutup mata dari kebenaran. Putri Yijin sangat mempercayaiku, dia juga orang pintar yang tidak bisa sembarangan di bodohi. Apa kamu kira dia sangat bodoh sampai bisa dimanfaatkan olehku?"


"Tutup mulutmu bedebah! Jika karenamu Yijin dalam bahaya aku akan membunuhmu!"


Ryu menghampiri Kaisar yang sudah terkulai lemas. "Ayah, bangun kumohon!" gadis itu menatap anak panah yang menancap di punggung Kaisar. Ia seketika menoleh ke arah Selir Fan Hai yang berdiri sembari menyilangkan tangannya.


"Kamu berbohong! Kamu membunuh Kaisar!" nada bicara Ryu yang penuh amarah serta mata yang tajam menatap penuh kebencian pada wanita di hadapannya.


"Tidak akan ada yang percaya padamu! Semuanya sudah menjadi milikku ha-ha-ha!"


Ryu memberikan pil penawar racun pada ayahnya, kemudian berdiri dan menarik pedang dari sarungnya dan menyerang langsung Selir Fan Hai. "Wanita licik!"


Ryu mengerahkan pedangnya pada wanita itu, tapi sedetik kemudian dari arah belakang Pejabat persenjataan merobek tenda dan masuk bersama pasukannya menghadapi Ryu. Ayahnya masih bernapas namun keadaannya begitu lemah, jika ia memilih untuk melawan mereka berarti tidak ada waktu untuk menyelamatkan Kaisar.


Ryu memberikan bubuk asap keseluruh ruangan kemudian membawa Kaisar keluar dari tenda. Semua pasukan pejabat persenjataan menghadapi kabut ilusi yang memunculkan segala hal yang mereka cintai. Hanya Selir Fan Hai yang tidak terpengaruh oleh kabut itu. "Sial, Dia melarikan diri! Bodoh cepat kejar dia!"

__ADS_1


__ADS_2