
Selama dalam perjalanan mencari keberadaan Hu Yazhu, Ryu merasa bahwa Jenderal Ping tidak benar-benar akan mencari pria itu. Kini, mereka sedang berada di kamp militer perbatasan yang di pimpin oleh Jenderal Ping dibawah naungan Hu Yazhu. Ryu berendam untuk membersihkan diri, ia merasa pusing karena perjalanan yang melewati jalanan bebatuan membuatnya ingin muntah.
Ryu memejamkan matanya sejenak.
"Kamu mencarinya sampai kesini?"
Mata Ryu membelalak, kemudian melihat Guru Tao secara tiba-tiba ada di dalam tenda pemandian miliknya. Guru Tao berdiri di depan Ryu sembari menyilangkan tangan di dadanya, ia tersenyum halus kemudian mendekat ke arah wanita itu. "Calon suamimu ada di Suku Tao, dia terluka cukup parah setelah tertusuk jarum racun milik sekte aliran sesat."
Mulut Ryu sedikit terbuka, ia begitu terkejut sampai hampir tidak sadar beranjak dari rendamannya memperlihatkan tubuh atasnya yang hanya tertutup kain putih tipis dan basah. "Benarkah guru? Kalau begitu aku akan ke sana!"
Guru Tao terlihat begitu canggung setelah tidak sengaja melihat lekuk tubuh Ryu Ito. Ia memalingkan wajahnya kemudian meminta Ryu untuk berendam kembali. "Lebih baik selesaikan mandimu, jangan lupa untuk memakai pakaian yang tebal! Cuaca hari ini begitu dingin tidak bagus jika hanya memakai satu lapis!"
Ryu yang sadar langsung melihat tubuhnya dan menutupinya dengan cepat. Ia merendamkan diri lagi sampai seluruh tubuhnya tenggelam, dia tidak punya muka lagi untuk menghadap Guru Tao sekarang. Ia begitu ceroboh bertindak di depan dewa penyembuh seperti Guru Tao. Setelah selesai berendam, akhirnya Ryu memakai pakaian lengkapnya dan keluar dari tenda. Ia seperti ditawan dan tidak diizinkan kemana-mana oleh Jenderal Ping padahal niatnya ke sana adalah untuk mencari Hu Yazhu.
Setelah pergi diam-diam bersama Guru Tao, Ryu Ito kembali masuk ke dalam wilayah Suku dan disambut dengan hangat. Ia pergi ke ruang pengobatan yang ada di wilayah Tao dan melihat Hu Yazhu yang masih terkulai lemas. Ryu berjalan dengan cepat dan menunduk melihat Hu Yazhu dari dekat. "Panglima maafkan aku!" gumamnya.
Setelah cukup puas melihat Hu Yazhu, Ryu berjalan ke luar dan duduk di pinggiran danau menghadap ke sebuah gunung di seberang sana yang terlihat begitu dipenuhi aura gelap. Guru Tao menghampiri Ryu dan duduk di sampingnya.
"Guru, tampilanmu terlihat tidak jauh berbeda dari orang seusiaku!"
"Tapi, umurku seratus kali jauh lebih tua darimu!" Guru Tao mengelus lembut pucuk kepala Ryu. "Kenapa mencari pria itu sampai kesini dengan penuh resiko?"
__ADS_1
"Saat mendengar dia belum kembali aku begitu tidak tenang, bagaimanapun ini semua karenaku. Aku tahu hal yang akan terjadi tapi masih memintanya untuk mencari dan membongkar sekte itu!" Ryu menunduk sembari memainkan jari jemarinya. "Aku merasa bersalah!"
"Seharusnya aku mengatakan ini sejak awal, kejahatan apapun selama terjadi di sekitar wilayah Suku Tao aku pasti akan mencegahnya. Malam kemarin sekte aliran sesat itu berniat menumbalkan seorang anak laki-laki tapi untungnya Panglima Kerajaan sampai tepat waktu.
Setelah mendapat serangan yang cukup brutal dari orang-orang sekte, Panglima Kerajaan memutuskan mundur, aku dan anggota suku yang lain hanya bisa menyerang ketika semuanya begitu terdesak. Mengingat bahwa Suku kami sudah lama diberitakan punah, jadi tindakan gegabah tidak boleh dilakukan selama kamu belum menunjukan diri dengan identitas aslimu."
Ryu termenung, jadi ini semua lagi-lagi karenanya. Ia menghela napas panjang kemudian terarah ke mata biru milik Guru Tao. "Maafkan aku," katanya tertunduk.
"Tidak perlu meminta maaf, jujurlah padanya katakan siapa dirimu yang sebenarnya! Bukankah lebih baik memiliki seseorang yang dapat diandalkan di sampingmu?"
Ryu terdiam, dia menghela napas pelan kemudian menatap Gunung di seberangnya. "Aku bisa melihat aura gelap disana!"
Guru Tao memejamkan matanya sembari mengangguk beberapa kali. "Memang tidak dapat diragukan keturunan burung Pheonix kami bisa melihat aura jahat di dalam sana!
Mengetahui hal itu membuat Ryu merasa masalahnya semakin rumit, kemungkinan besar kelahiran kembalinya memang terikat dengan hal ini. Guru Tao memberikan sebuah permata ruby berwarna merah berkilauan, permata itu di sebut sebagai mahkota Pheonix. "Mahkota Pheonix ini adalah milik ibumu, lihatlah pada jepit rambut pheonix yang kamu miliki! Batu ini seharusnya menjadi pasangannya, kamu bisa memasangnya kembali setelah pulang nanti!"
Ryu meraih batu itu secara perlahan, ia ingat bahwa di bagian jepit rambutnya disediakan tempat menaruh permata namun ia sama sekali tidak tahu bahwa semua ini berkaitan dengan Suku asli ibunya. "Terimakasih guru aku menerimanya, namun soal Hu Yazhu aku belum yakin bisa mengatakannya."
"Apa yang kamu tunggu? Masalah dikehidupan ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Tapi, kamu harus mencari tahu sendiri setiap bagiannya agar kamu sadar bahwa kelahiranmu sudah ditakdirkan oleh para dewa! Lagipula sudah terlambat, sahabatmu Hu Yazhu sudah mendengar semuanya."
Ryu menoleh ke arah belakang ia melihat Hu Yazhu yang menahan dada karena efek racun dan berjalan mendekat ke arahnya. Ryu beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Hu Yazhu memapahnya agar berjalan seimbang. "Kamu masih belum pulih, kenapa begitu memaksakan diri?"
__ADS_1
"Nona Ryu kenapa bisa sampai disini?"
"Aku mencarimu! Maaf karena telah membuatmu dalam bahaya!"
Hu Yazhu menggeleng pelan. "Bukan salahmu!"
"Panglima Hu, ini adalah Guruku dan dia yang menyelamatkanmu dari serangan anggota sekte itu kemudian membawamu kesini."
Guru Tao berjalan mendekat ke arah Hu Yazhu. "Alangkah baiknya, Panglima Hu berkeliling dan menghirup udara segar agar efek racunnya dapat segera menghilang."
"Terimakasih atas bantuan Guru!" Hu Yazhu menunduk memberi hormat.
Guru Tao tersenyum halus kemudian meninggalkan keduanya untuk berbicara. Menurut pendapat guru Tao, alangkah baiknya jika Ryu segera memberitahu Hu Yazhu mengenai identitas aslinya dan bersekutu dengannya membantu ia merebut kembali kekuasaan dan membantu urusan kekaisaran.
"Panglima Hu, mari aku antar berkeliling!" Hu Yazhu yang masih tidak menyangka Ryu kenal dengan penduduk Suku disana hanya bisa mengikutinya dengan patuh. Mereka berjalan ke sebuah bangunan penghormatan para leluhur Suku. Disana, terdapat beberapa lukisan dari pemimpin sebelumnya, bahkan terdapat lukisan Permaisuri yang tidak lain adalah Ibu kandung Ryu Ito.
Sejenak Hu Yazhu masih belum menyadari, namun saat ia mendekat dan membakar dupa di depan lukisan tersebut ia tahu jelas bahwa itu adalah lukisan Permaisuri Kerajaan Wen.
"Ini... Permaisuri, kenapa mereka memajang lukisan ini di altar?"
Ryu Ito berjalan dan berdiri sejajar dengan Hu Yazhu, ia menoleh ke arah sahabatnya. Sesuai apa yang disampaikan Guru bijak Tao memang sudah seharusnya ia mengungkapkan jati diri yang sesungguhnya. "Dia adalah ibuku!"
__ADS_1
Mata Hu Yazhu membulat memandangi raut wajah Ryu yang begitu serius.