LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 38 - Iblis baru


__ADS_3

Di sebuah bukit yang terjal, angin bertiup dengan kencang menerobos perjalanan seorang wanita muda yang napasnya hampir habis setelah melakukan perjalanan cukup jauh. Tatkala melewati sungai yang airnya begitu jernih dan menyegarkan, ia tergoda untuk meminumnya dengan menggunakan tangan kosong. Saat air itu mengalir dengan melegakan di tenggorokannya, ia melihat kabut asap hitam yang muncul dari dalam sungai membentuk sebuah ilusi yang persis seperti seorang iblis.


"Jangan mendekat!" Gadis itu mundur beberapa langkah dengan ketakutan, tangannya bergemetar sembari menahan bobot tubuhnya di tanah.


"Aku akan membantumu membalaskan dendam, aku bisa membantumu mendapat kekuasaan, kekayaan, sehingga kamu tidak akan dihina lagi. Dan juga, membalaskan dendammu pada gadis itu ha-ha-ha."


Wanita tadi terdiam kemudian menatap iblis bayangan dengan penuh harap. "Benarkah? Kamu bisa melakukannya?"


"Tentu saja! Tapi syaratnya berikan aku jiwamu biarkan aku yang bekerja untuk mencapai itu semua!" iblis itu mengulurkan tangannya menunggu wanita yang bernama Xin Er menjabat tangannya dan setuju.


Lambat laun tangan Xin Er menyambut hangat tangan iblis bayangan tersebut. Seketika pikirannya kosong dan seperti terhipnotis, setelah iblis bayangan memasuki dirinya mata Xin Er berubah kemerahan, ia nampak terlihat percaya diri dan ambisius, seringaian jahat yang terukir di wajahnya terlihat menyeramkan. "Dasar bodoh! Tapi aku tidak akan melanggar janjiku, aku sudah menunggu ini selama ratusan tahun. Untuk membangkitkan rajaku, betapa beruntungnya aku mendapatkan gadis berdarah bangsawan seperti ini."


Kemudian ia berjalan menyusuri hutan, ia hendak pergi ke tempat asal Xin Er dan menjalankan hidup Xin Er sesukanya. Di tengah perjalanan ia melihat kereta kuda yang sedang menjatuhkan seorang gadis yang tidak lain adalah Wen Jia. Jia dengan pakaian biasa ditelantarkan di tengah hutan, saat semua orang itu pergi Xin Er menemui Jia sembari menyeringai.


"Tuan Putri?"


Jia mengerutkan alisnya. "Xin Er! Kamu masih disini?" kemudian Jia berdiri dan melemparkan tas bawaannya pada Xin Er. "Bagus kalau begitu! Cepat bantu dan layani aku!"


Alih-alih mengambil tas Jia, Xin Er malah menyerang gadis itu dan mendorongnya sampai ke pepohonan. Kekuatan besar di dalam tubuh Xin Er, gerakan cepat tadi membuat mata Jia membulat. "Hei, lepaskan aku!"

__ADS_1


"Kamu pikir semudah itu? Kamu bukan lagi Tuan Putri tapi masih saja berlagak bak salah satunya. Karena kali ini aku yang menemukanmu, bersumpahlah bahwa kamu akan melayaniku!"


"Kamu gila! Dasar Putri Mahkota palsu berlagak sungguhan! Turunkan aku!" Jia memberontak, saat kedua pupil matanya bertemu dengan milik Xin Er, mata gadis itu memerah terang dan kemudian menyeringai dengan begitu menakutkan. Xin Er menahan tangannya di leher Jia dan menggantungnya lebih tinggi di pepohonan.


Jia terbatuk dan merasakan napasnya tersenggal. "Baiklah. Tolong turunkan aku! Aku minta maaf, aku berjanji akan melayanimu!"


Brak


Xin Er menjatuhkan Jia begitu saja ke tanah, membuat wanita itu terdiam duduk di bawah pepohonan sembari menahan sakit bekas jeratan wanita gila di depannya. Jia merasakan ada yang aneh pada Xin Er, dia merasa gadis itu bukan lagi dirinya yang kemarin. Tapi, untuk saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah mengikutinya dan menyelamatkan diri daripada dimakan serigala buas yang berkeliaran di hutan.


Pada akhirnya, Jia mengikuti Xin Er sampai ke kampung halaman gadis itu. Manjadi pelayannya dan Xin Er berlaku semena-mena pada Jia. Xin Er akan kembali ke Kerajaan Wen untuk membalaskan dendamnya dan merebut kekuasaan Kaisar Yijin demi membangkitkan Raja Iblis yang dia agungkan.


Ryu memohon sembari menggenggam jepit rambut dengan kedua tangannya. Dari kejauhan Huo Sijue memperhatikan Yijin kemudian berjalan tepat ke bawah jendela kamar kaisar. "Yang Mulia terlihat begitu murung, padahal di Paviliun Shou'an semuanya sedang bersenang-senang."


Yijin terarah pada Huo Sijue di bawahnya. "Pejabat juga mengapa lebih memilih keluar daripada bersenang-senang di rumah bordil itu?"


"Hatiku tidak tenang melihat sahabat baikku begitu murung hari ini, aku mencoba mendekatinya tapi saat tersadar aku tidak bisa lagi, rasanya hatiku cukup sakit menerimanya."


Yijin hampir saja meneteskan air matanya, ia turun dari jendela ke depan Huo Sijue. Mendarat dengan seimbang di hadapannya membuat Sijue begitu khawatir. "Yang Mulia!"

__ADS_1


"Tidak apa, aku sudah terbiasa memanjat pohon bersama sahabatku dulu." Yijin tersenyum halus pada Sijue dan menggenggam tangan pria itu. "Sijue, berjanjilah saat hanya ada kita berdua. Kita tetaplah sama, kamu masih bisa memanggilku dengan sebutan Ryu, tidak ada perasaan canggung dan takut untuk berbicara satu sama lain bahkan menggenggam tangan seperti dulu."


"Hamba tidak berani, Yang Mulia!"


"Sijue, ini perintah!" Yijin menatap Sijue dengan tajam membuat pria itu tidak bisa lagi menolak keinginannya. Sebenarnya, hal itupun sangat melegakan untuk didengar bagi Sijue. Tapi perasaan bertanggung jawabnya mengatakan bahwa itu salah.


"Baik, Yang Mulia."


Yijin memberikan senyuman hangat pada Sijue, kemudian meminta ia mengantarnya berjalan mengelilingi Istana Utama Qianqing. Walau terlihat seperti orang bodoh, karena yang tahu seluruh istana ini adalah dia bukan Huo Sijue. Tapi Yijin tetap ingin ditemani oleh pemuda di sampingnya itu. Ia tidak ingin, Sijue merasakan kecanggungan saat menemuinya. Ia sudah berjanji untuk memberikan pengecualian setiap peraturan istana bagi Sijue, ia tidak ingin hubungan mereka merenggang karena statusnya yang kini sebagai Kaisar.


Di tengah perjalanan keduanya berpapasan dengan Guru Tao, Hu Yazhu dan juga Pangeran Long yang baru saja keluar dari Paviliun Shou'an. Mereka terdiam saat melihat Yijin berjalan bergandengan bersama Huo Sijue di taman istana. "Salam Yang Mulia, apa yang kamu lakukan di malam hari tanpa jubah penghangat seperti ini?" Pangeran Long menatap lurus Wen Yijin.


Kemudian Yijin melepaskan genggamannya dari Sijue. "Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar."


"Yang Mulia, jika ingin berjalan-jalan kamu bisa memanggil hamba. Keselamatanmu adalah yang utama. Aku sebagai Jenderal Agung pasti akan melindungimu!" pungkas Hu Yazhu.


"Benar, Yang Mulia. Tidak baik keluar di malam hari tanpa jubah penghangat. Sebagai penasihatmu mari ikut aku ke dalam istana dan berisitirahat. Dan lagi, ada hal yang harus bicarakan kepadamu."


Yijin mendengus pelan melihat ketiga orang di hadapannya bersikap berlebihan seperti ia akan mati saja. Bahkan dulu ia tidak pernah memakai baju hangat saat berkeliaran di tengah malam tapi kini, ia begitu berharga. "Baiklah!" Yijin menoleh ke arah Huo Sijue dan tersenyum manis. "Terimakasih sudah menemaniku, kamu juga kembalilah dan beristirahat!"

__ADS_1


"Baik Yang Mulia, hamba akan melaksanakan perintah."


__ADS_2