
Beberapa malam telah berlalu, Hu Yazhu sudah meninggalkan istana. Yijin pun hanya melakukan tugasnya sebagai Kaisar dan menangani beberapa masalah politik dalam kerajaan. Di luar istana, kehidupan rakyat pun sudah mulai membaik. Tiada lagi para bandit yang berkeliaran di pasar seperti dulu, setiap pria diberikan lapangan pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarganya.
Tatkala Yijin sedang berada di dalam kamarnya, sosok pria yang begitu tampan dan gagah terlihat dari balik jendela kamar. Penasihat Bei baru saja pulang dari wilayah Suku Tao dan membawa beberapa makanan khas dari sana, ia yang melihat Yijin dari jendela kamar yang terbuka mengguratkan senyuman manis pada gadis itu. Dengan menunggangi kudanya, ia segera mengantarkan kuda kembali ke kandang. Kemudian hendak memberikan bingkisan yang ia bawa itu kepada Kaisar Yijin.
Tidak perlu menunggu lama, Yijin segera keluar untuk menemui Penasihat Bei dengan sendirinya. Ia berpapasan dengan pria itu kemudian menghentikan langkahnya.
"Yang Mulia, untuk apa berjalan begitu terburu-buru? Hamba yang akan menemuimu."
"Penasihat Bei, bagaimana keadaan Suku Tao?"
"Ada masalah, gunung berapi yang menyegel Raja Iblis terlihat mulai aktif dan beberapa kali mengeluarkan getaran cukup kuat di wilayah Suku. Penduduk suku juga merasakan lemas."
Yijin mengerutkan alisnya, setelah ia sadar Penasihat Bei juga nampak terlihat pucat. "Apakah terjadi sesuatu disana?"
"Ada energi iblis yang mengelilingi gunung itu, seakan menyerap energi putih di sekitarnya. Beberapa penduduk suku juga mengalami hal yang sama sepertiku, tapi syukurlah mereka tidak ada yang separah aku.
Saat aku mendekat dan mencoba mencari tahu, aku beberapa kali memuntahkan darah dan merasa energiku semakin melamah."
Mata Yijin membulat, dalam beberapa malam masalah sebesar ini bisa langsung terjadi. Seakan seseorang memang sedang menargetkan Suku Tao. "Kalau begitu, kita harus segera mengevakuasi penduduk suku!"
"Yang Mulia, kamu tahu betul bahwa para pejabat masih tidak mempercayai kesetiaan suku. Apabila kamu mengambil resiko lagi untuk menolong Suku Tao, kedudukanmu akan terancam."
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya dengan gegabah. Mengingat kamu adalah seorang pria yang berilmu tinggi, tidak bisakah kamu membuat duplikat diriku?"
Penasihat Bei mengerjap. "Kamu ingin aku membuat duplikat dirimu?"
"Bukankah itu tidak mustahil? Aku tahu kamu berjiwa abadi, memiliki ilmu diatas manusia biasa, kamu bukan orang sembarangan yang tiba-tiba datang ke Benua Daehan hanya untuk membantuku dan menjadi penasihatku saja."
Penasihat Bei tertawa kecil. "Apa begitu jelas? Aku memang bukan berasal dari Benua ini. Aku berasal dari Benua para dewa. Benua yang biasa di sebut sebagai langit merah."
__ADS_1
"Sudah kuduga, kalau begitu pasti sangat mudah membuat duplikat diriku?"
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Aku hanya ingin membantu mengevakuasi penduduk suku. Menolong mereka dengan tanganku sendiri dan melihat keadaan yang sebenarnya. Namun, karena kerajaan juga membutuhkanku aku tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja. Maka dari itu, aku memintamu membuat duplikat diriku, sebagai penasihat terbaikku apa kamu menyetujui ide gilaku ini?" Yijin mengarah langsung pada mata Penasihat Bei yang berbinar.
"Ide yang cemerlang, pantas menjadi Kaisar. Terbaik, bijaksana, cerdas."
Yijin menyeringai bangga mendapat pujian dari gurunya. Setelah itu, Penasihat Bei mengambil tiga helai rambut Yijin untuk dijadikan alat menduplikasi dirinya. Karena mereka tidak mungkin membuat duplikasi Yijin dari benda tidak hidup, akhirnya mereka menjadikan salah seorang pelayan kepercayaan Yijin sebagai penggantinya.
"Xie, pejamkan matamu. Ini rahasia kita bertiga, siapapun tidak boleh mengetahuinya!"
Penasihat Bei kemudian menggunakan ketiga rambut Yijin dan membacakan mantra yang langsung seketika berubah menjadi sebuah kabut asap yang mengelilingi tubuh sang pelayan. Lambat laun kabut itu menghilang, kini seorang wanita yang sama persis telah tercipta, duplikasi Yijin berhasil dibuat oleh Penasihat Bei. "Luar biasa!" Yijin berdecak kagum menoleh pada penasihatnya.
Namun, sorot kebingungan terlihat dari wajah sang pelayan dan Yijin berusaha menjelaskan. "Xie, aku dan penasihat harus pergi melihat keadaan Suku Tao. Kini kamu adalah diriku, bersikaplah seperti aku, untuk urusan politik kamu tidak perlu memikirkannya. Selama aku pergi, aku akan membuatmu terhindar dari pertemuan politik."
"Yang Mulia, hamba tidak mengerti!"
"Jadi, kamu lebih memilih untuk dipotong bayaran ketimbang menjadi aku? Apakah aku seburuk itu sampai kamu tidak ingin memiliki identitas ini?"
Penasihat Bei tersenyum mendengar pertanyaan mengintimadasi dari Yijin. Ia tahu, itu hanyalah taktik Yijin agar sang pelayan mau menerima tugas rahasia darinya. "Tidak mungkin Yang Mulia, memiliki paras ini adalah kehormatan bagi hamba. Maka dari itu, hamba merasa tidak pantas."
"Pantas atau tidak, biar aku yang menilai. Jika kamu menerima pekerjaan ini aku akan memberikanmu bayaran dua kali lipat dari biasanya."
Mata pelayan tersebut langsung berbinar tatkala mendengar bayarannya akan dinaikan dua kali lipat jika ia mau melakukan tugas berat tersebut. Akhirnya, ia pun menyetujui tugas rahasia yang diberikan oleh Yijin. Setelah mencapai kesepakatan bersama, akhirnya Yijin dan Penasihat Bei keluar dengan cara ajaib yang dilakukan penasihat. Membuat suatu formasi yang membuka pintu kemana saja.
Tidak heran karena jiwa penasihat adalah jiwa abadi, maka dari itu memiliki kekuatan dewa yang sangat besar. Namun dalam perjalanannya kali ini, Penasihat Bei nampak semakin pucat dan membuat Yijin yang kini menyamar sebagai murid biasa dirinya merasa khawatir. "Guru!"
Yijin memapah jalan Penasihat Bei saat pria itu terlihat lemah. "Aku akan menjagamu!"
__ADS_1
"Kamu tidak perlu! Akulah yang akan menjagamu, aura iblis ini terlalu besar. Kita akan segera tahu saat berada dalam pusat kekacauan." jawab Penasihat Bei.
"Tapi bagaimana kita bisa tahu dimana pusat iblis itu?"
"Tentu saja ada pada gerbang iblis yang terkunci."
Melihat Penasihat Bei yang semakin lemah dan mengeluarkan darah. Yijin memintanya untuk tetap berada di belakang, ia akan naik ke puncak untuk melihat sendiri gerbang iblis yang disebutkan oleh gurunya. "Tunggulah disini, aku akan memeriksanya sendiri!"
"Ryu!" Penasihat Bei hampir menahan Yijin karena ia khawatir gadis itu akan terluka. Namun, sebagai pria yang tahu bahwa takdir Yijin adalah menghadapi langsung iblis itu, ia yakin bahwa Yijin tidak akan kalah buktinya ia tetap berdiri tanpa merasa gangguan apapun dari energi iblis yang keluar dari gerbang.
"Guru tenang saja, aku harus menyelamatkan orang-orangku termasuk dirimu!"
Ilmu Yijin semakin bertambah kuat, anehnya semakin ia mendekat ke titik pusat kekacauan ia malah merasa lebih bersemangat untuk segera sampai disana. Dengan ilmu meringankan tubuh yang telah ia pelajari, Yijin melompat dari dahan pohon satu ke dahan yang lain. Hanya butuh beberapa kali pijakan sampai ia berhenti di depan gerbang yang terlihat seperti sisik ular.
Di dalamnya terlihat cahaya seperti api membara, kemudian Yijin langsung menemukan celah, hal yang membuat semua ini terjadi adalah retakan halus akibat pedang yang menancap. Yijin melangkahkan kakinya mendekat pada pedang itu, pedang berlambangkan suatu kerajaan. Saat ia hendak menarik pedang itu keluar, suara auman dari dalam gerbang berhasil mengejutkannya sedikit. Seperti suara kemarahan yang membara di hadapannya.
Yijin dengan sangat mudah menarik pedang itu keluar membuat retakan itu kembali merapat dengan sendirinya. Kobaran api yang sebelumnya terlihat dibalik gerbang kini mulai padam dan kembali menghitam seperti sebelumnya. Aura yang dipancarkan oleh iblis sepertinya sudah lenyap.
Ia segera turun dari puncak membawa pedang tersebut menemui gurunya di bawah. Setelah mendarat tepat di depan gurunya Yijin langsung tersenyum puas. "Guru lihat ’kan? Tidak perlu khawatir."
Penasihat Bei mengangguk kemudian berdiri menyambut Yijin. Ia terlihat kembali normal, keduanya kemudian berjalan memasuki area penduduk suku. Dengan penyamaran Yijin, tentunya ia tidak bisa membuka identitasnya dengan mudah disana. Ia tetap mengenakan penutup wajah dan berjalan di belakang Penasihat Bei.
"Guru Tao!" Tidak lama terdengar suara panggilan seorang wanita yang kini berlarian kecil ke arah mereka berdua.
"Para penduduk sudah mulai membaik, kami percaya kamu bisa mengatasinya. Terimakasih guru!" pelukan hangat langsung diberikan gadis itu pada Penasihat Bei, membuat Yijin mengerutkan dahinya tidak senang.
Penasihat Bei kemudian melepaskan pelukan gadis itu secara perlahan. "Tidak baik begitu di depan adik seperguruanmu! Ryu, silahkan beri salam pada Muxue kakak seperguruanmu!"
Ryu mengangguk kemudian memberi hormat. "Salam untuk kaka seperguran Xue!"
__ADS_1
"Guru, apakah kamu mau kue persik? Aku baru membuatnya! Mari mampir dulu ke rumah!" Muxue dengan sengaja mengabaikan salam dari Yijin dan malah semakin lengket menggoda Penasihat Bei.