
Paviliun milik Raja Wen yang kini menjadi tempat naungannya di Istana membuat Ryu Ito sedikit merasa aman terlebih dia sudah berada dirumah, walau rasanya tidak seperti rumah sungguhan setidaknya Ryu Ito berada tidak jauh dari sang ayah untuk memantau keadaannya.
Selama delapan tahun kebelakang, paviliun itu kosong dan tidak ada yang diizinkan menempati. Karena awalnya tempat itu akan dijadikan kediaman Putri Wen Yijin setelah menikah, jika Putri Wen Yijin tidak jatuh ke jurang dan menghilang mungkin saja tahun-tahun ini dia akan dinikahkan dengan pangeran Long Chen yang berasal dari Kerajaan Daechan saat acara tahunan terbesar dilaksanakan. Namun, karena hal itu tidak mungkin terjadi akhirnya Raja Wen Lei menyerahkan kediaman itu untuk diisi Ryu Ito sebagai calon istri orang kepercayaannya.
Seperti biasanya, tempat yang terbaik bagi Ryu Ito adalah duduk di dekat jendela yang terbuka sembari menatap bulan yang bersinar terang. Dia tidak sabar untuk menggagalkan seluruh rencana yang akan ibu tirinya lakukan kedepannya. Mengingat sebentar lagi para budak dari hasil pemberontakan suku tiba, Ryu langsung bergegas keluar dari kediamannya dan menemui Hu Yazhu yang sedang menginterogasi satu persatu orang tersebut.
Setelah tiba di halaman kerajaan, Ryu Ito menatap Hu Yazhu yang berdiri di tengah sekumpulan orang yang bersimpuh memohon ampun. Ada beberapa orang yang menjadi korban dari tindakan pemberontakan kemarin malam dan sisanya akan di jadikan budak selamanya di Kerajaan Wen. Ryu Ito mendekat ke arah Hu Yazhu dan memeriksa setiap orang yang memiliki wajah pelayannya dikehidupan sebelumnya. Saat melihat kedua gadis kembar itu Ryu Ito langsung menunjuk dan menoleh ke arah Hu Yazhu.
"Aku menginginkan yang itu!"
Hu Yazhu hanya tersenyum tipis mendengar permintaan Ryu Ito, kemudian dia meminta pengawal untuk membawa kedua orang itu ke hadapan Ryu. "Pengawal, tolong bawa kedua gadis itu kemari!"
Sisanya akan secara acak dipilih untuk melayani beberapa orang penting di dalam istana. Sebagian pria yang memiliki ilmu bela diri akan diambil dan dilatih menjadi prajurit, lalu sebagian lagi menjadi kasim. Ryu tersenyum lebar saat dihadapkan dengan dua orang wanita yang menjadi pelayan setianya dikehidupan sebelumnya. Wanita itu menepuk kedua pundak gadis itu dan membawa mereka langsung ke paviliun bersama pelayan keluarga Hu.
Salah seorang dari pemberontak Suku Aera datang ke hadapan Hu Yazhu membawa sebuah kalung ruby yang berkilauan. Jelas itu adalah kalung keluarga milik Hu, Hu Yazhu menatap kalung milik keluarganya untuk waktu yang lumayan lama dia meminta kejelasan pads pria yang membawanya namun dia sendiri tidak tahu kalung milik siapa itu. Hu Yazhu yakin bahwa Ryu Ito pasti mempunyai rencana yang tidak dia ketahui dibelakangnya.
__ADS_1
Begitu banyak yang hancur akibat pemberontakan Suku Aera, jika hal ini ada kaitannya dengan Ryu Ito tentu saja Hu Yazhu tidak akan tinggal diam. Setelah membawa kedua pelayan barunya ke paviliun, Ryu mulai mempersiapkan diri untuk menghadiri acara jamuan makan malam dengan keluarga besar Hu. Saat bercermin, dia tersadar bahwa kalung yang dipinjamkan Hu Yazhu tidak lagi berada disana. Wanita itu membuka kotak penyimpanan perhiasannya juga memeriksa dibawah bantal dan kasur. Tapi seingatnya dia memang tidak melepaskan kalung itu sedetik pun.
Pria berbalut pakaian resmi berwarna biru melenggang masuk ke kamarnya, aura yang begitu dingin seraya mengikuti langkah kaki pria itu saat mendekat ke arah Ryu Ito. Tatapan memaku Ryu membuat dia seolah tidak bisa bergerak kemana-mana apalagi kabur. Ryu menelan salivanya sendiri, dia menghela napas kemudian duduk menatap cermin di depannya.
Hu Yazhu kini sudah berada tepat di belakang Ryu, pria itu membungkuk dan menghirup aroma embun surgawi yang sangat terkenal di Benua mereka. Hu Yazhu menghirup tengkuk leher Ryu yang membuat wanita itu semakin mematung dan tidak bisa bergerak, tapi itu semua bukan karena sihir melainkan hanya karena pikiran Ryu saja, pria itu mengecupkan bibirnya ke belakang leher Ryu. "Ahh!" membuat Ryu sedikit bergidik.
Hu Yazhu mengalungkan benda berbatu merah yang sudah jelas terlihat adalah perhiasan peninggalan keluarga Hu. Ryu tertegun, dia semakin tidak bisa berkata apalagi aura Hu Yazhu yang begitu mengintimidasi dirinya. "Kamu menjatuhkannya di halaman, aku sengaja membawakannya untukmu."
Ryu Ito menghela napas lega, dia khawatir jika benda itu jatuh di daerah Suku Aera. Jika memang begitu, dia takut bahwa Hu Yazhu akan mencurigai dirinya berkaitan dengan pemberontakan kemarin malam.
Satu persatu kenangan dikehidupan sebelumnya terlintas dipikiran Ryu Ito, karena dia sudah merubah awal cerita dari kehidupan sebelumnya dia hanya meyakini sebagian lain memang akan terjadi sebentar lagi. Suatu hari saat pemberontakan Suku Aera telah terjadi dan sebagian menjadi budak, tempat tinggal Suku Aera terdahulu malah dijadikan sarang bandit secara diam-diam oleh Selir Fan Hai demi memuluskan jalannya menjadi Ratu masa depan kerajaan Wen.
"Kamu sudah bersiap? Mari pergi bersama!" Hu Yazhu mengulurkan tangannya pada Ryu Ito yang masih melamun memikirkan kejadian di kehidupan sebelumnya. Sedangkan pikiran Hu Yazhu dipenuhi rasa curiga terhadap cenayang yang dia bawa ke Istana, motif apa yang sebenarnya disembunyikan Ryu Ito dibalik kecantikan tak manusiawi miliknya.
"Jika kamu mencurigaiku hanya karena kalung ini, kamu salah besar!" Ryu berjalan melewati Hu Yazhu dan segera menuju aula jamuan kerajaan.
__ADS_1
Ryu merasa bersyukur karena dia bisa selamat dua kali dari kematian yang mengenaskan. Takdirnya dikehidupan ini harus dia rubah sebaik mungkin. Acara jamuan sudah dimulai, Ryu menyapa keluarga kedua Hu yang sudah menunggunya datang, ada paman, bibi dan sepupu Hu Yazhu. Ryu ingat bahwa kedua orangtua Hu Yazhu sudah lama meninggal sejak ia kecil, seharusnya dia tidak terlalu memikirkan soal opini mereka mengenai pernikahan yang akan dilakukan tanpa seizin keluarga kedua Hu ini. Tapi, Hu Yazhu sangat menghormati pamannya, sebagai tetua keluarga Hu tentu saja rasa hormat yang dimiliki Hu Yazhu mengharuskan ia memberitahu kabar pernikahan yang mendadak ini.
"Kakak Hu, kenapa kakak tidak memberitahu ibu dan ayah soal pernikahanmu ini?"
"Paman, Bibi terimakasih sudah datang ke jamuan makan malam. Sebelumnya aku ingin meminta maaf karena tidak bisa mengabarkan ini secara langsung karena tugas negara yang harus aku jalankan belakangan ini." Hu Yazhu memberi hormat pada pamannya.
"Tidak apa, paman mengerti. Tapi sebelum itu, paman ingin tahu mengenai calon istrimu ini. Kenapa keluarganya tidak ada yang datang mewakili?"
"Begini Tetua Hu, keluargaku berhalangan hadir karena mengalami musibah kecil." Ryu berdiri dan memberi hormat pada Tetua keluarga Hu dan istrinya.
"Musibah apa?" Selir Fan Hai secara tiba-tiba datang bersama Putri Jia ke ruangan jamuan makan malam.
"Salam Yang Mulia," paman dan bibi Hu Yazhu berdiri memberi hormat pada Selir dan putrinya.
"Raja sudah tiba!" Seruan pelayan Istana kepada semua orang yang hadir dalam jamuan makan membuat semua orang langsung berdiri dan memberi hormat.
__ADS_1
"Kenapa ayah terlihat lebih lemah dari sebelumnya?" batin Ryu.