LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 25 - Jamuan Makan Malam


__ADS_3

"Sialan sekali! Kenapa wanita itu selalu saja lolos dari cengkraman kita?" raut wajah Jia begitu masam karena rencananya telah gagal lagi.


"Tenang Putriku sayang, kita sudah tahu bahwa gadis itu rupanya hanyalah seorang cenayang rendahan. Jika ayahmu tahu akan hal ini dia pasti tidak akan senang bukan?" Selir Fan Hai sedang duduk menatap ke area taman bunga sembari menenggak tehnya. Ia menghela napas panjang dan sejujurnya dia juga merasakan apa yang dirasakan Jia. Beberapa kali mencoba menyelakai Ryu namun mereka selalu gagal.


Di satu sisi, Hu Yazhu dan para prajurit menyusuri Hutan Kerajaan untuk pergi ke perbatasan Hutan Terlarang mencari para pria yang dimaksud Ryu sebelumnya. Tapi, sesampainya disana Hu Yazhu tidak menemukan apapun selain dari bekas cucuran darah di tanah dan juga tali yang masih terikat di pohon. "Cari dan ikuti jejak darahnya!" pinta Hu Yazhu pada para prajurit.


Ketika Hu Yazhu dan para prajurit pergi mencari sekelompok penyusup itu di sisi lain Ryu Ito sedang bersiap untuk menghadiri jamuan makan malam Istana. Setelah hampir selesai berdandan Ryu keluar dari paviliun menuju ruang jamuan, ia menyempurnakan tampilannya dengan balutan hanfu berwarna merah muda. Ryu berjalan begitu anggun bagaikan burung merak yang sedang menunjukan keindahan ekornya, ia mengaitkan jari jemarinya satu sama lain di dalam balutan lengan hanfu yang menenggelamkan tangannya.


Di tengah perjalanan, ia menemukan dua orang kakak beradik yang tidak lain adalah Putri Long dan Pangeran Long Chen. Mereka berdua juga hendak meramaikan jamuan makan malam, kemudian dibelakangnya Pangeran Han bersama isrtrinya. Mereka semua menyapa Ryu dengan hangat sembari menyunggingkan senyuman halus di wajah mereka.


"Nona Ryu, mari pergi bersama ke jamuan makan malam!" ajak Putri Long yang kemudian berjalan sejajar dengan Ryu Ito.


"Kakak senang melihat kedekatan kalian, jadi tidak sulit menerima Nona Ryu menjadi ipar mu ’kan?" Long Chen menyeringai kemudian mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat Ryu yang ada di samping kiri Putri Long.


"Kakak! Jangan selalu membual, kamu melakukan itu karena hanya ingin membuat Panglima Hu kesal ’kan?"


"Ah benarkah? Jadi Pangeran Long ternyata tidak benar-benar tertarik padaku? Sebenarnya ada masalah apa diantara kalian?" Ryu menggoda balik Pangeran Long.

__ADS_1


"Bukan seperti itu! Siapa yang tidak tertarik pada wanita pintar seperti Nona Ryu, bahkan Pangeran Jing saja sedang berusaha keras memintamu mengunjungi Istananya bukan?"


Ryu menyeringai kemudian membuang napas pelan, ia tidak mengindahkan pertanyaan Pangeran Long yang menurutnya tidak terlalu penting. Pangeran Jing memang telah meminta Ryu mengunjungi Istananya melalui surat tangan yang dia buat sendiri tapi untuk saat ini Ryu sama sekali tidak tertarik untuk berkunjung. Tapi entah bagaimana jadinya jika kelak ia mewarisi takhta dan menjadi Kaisar Wanita. Mau tidak mau dia harus berhubungan baik dengan banyak Pangeran Kerajaan lain demi memperkuat kekaisaran.


Tapi sebelum itu terjadi tentunya ia harus segera membasmi rumput liar yang tumbuh di dalam Istana, satu demi satu harus segera ia singkirkan. Para pejabat korup, para penjilat dan bahkan musuh dalam selimut harus segera dimusnahkan cepat atau lambat. Semua orang sudah berkumpul di ruang jamuan, mereka saling menyapa satu sama lain terutama ucapan selamat yang bertubi-tubi pada Ryu.


"Selamat Nona Ryu atas kemenanganmu!" Tatapan Pangeran Jing yang tajam membuat Ryu sedikit canggung, tidak ada Hu Yazhu yang menemaninya membuat ia sedikit khawatir akan keselamatan pria itu. Bagaimana jika banyak musuh lainnya yang bersembunyi di dalam hutan?


Ryu menghela napas panjang kemudian tersenyum halus kepada Pangeran Jing dan menjabat tangannya. Tidak lama Raja Wen Lei dan Selir Fan Hai memasuki ruang jamuan, begitupun dengan Wen Jia yang ada di belakangnya. Ryu Ito dan semua orang yang ada disana segera memberi hormat pada Raja Wen, namun Ryu tidak begitu tertarik melihat ke arah Selir Fan Hai yang membuat kebenciannya semakin memuncak. Wanita itu berlagak seperti seorang permaisuri yang selalu berada di samping ayahnya.


"Nona Ryu, terimakasih sekali atas perhatianmu pada Yang Mulia. Kaisar terlihat begitu sehat akhir-akhir ini, aku berpikir siapakah orang yang membuatnya seperti ini dan saat mengetahui itu karenamu aku sangat bersyukur." Selir Fan Hai meraih tangan Ryu kemudian mengelusnya dengan lembut.


Raja Wen memerhatikan Selir Fan Hai dan tersenyum halus ke arahnya, di dalam hati Ryu ia amat mengutuk ular di depannya itu. Ryu merasa tidak terkesan dengan sandiwara yang dilakukan Selir Fan Hai, diapun mengingat bagaimana ia dulu tertipu oleh manisnya ucapan ibu tirinya dikehidupan sebelumnya.


Wajah Ryu melunak, ia menggunakan siasat yang lebih dangkal demi lebih mengambil hati Raja Wen Lei. "Yang Mulia Fan Hai tidak perlu merasa seperti itu, hamba sangat menyayangi Kaisar karena selama ini sudah bersusah payah dalam membangun negari kita. Jadi, usaha kecil hamba ini tidak ada apa-apanya dibanding kesehatan Kaisar yang harus semakin membaik."


Raja Wen Lei terarah kepada Ryu, ia tersenyum tipis padanya kemudian meraih secawan minuman dan menyerahkannya pada gadis itu. "Nikmatilah minumanmu, melihatmu di Istana rasanya hatiku kembali merekah seperti dahulu saat Putriku Yijin masih ada di Istana."

__ADS_1


"Ayah!" Wen Jia muncul secara tiba-tiba dibalik tubuh Selir Fan Hai. Dengan menyilangkan tangannya ia menatap tajam Ryu Ito. Ryu yang tidak ingin membuat keributan lain memilih untuk menjauh dari drama keluarga mereka.


"Terimakasih Yang Mulia, kalau begitu aku harus bergabung dengan yang lain." Ryu memberi hormat dan berbalik dari Raja Wen beserta keluarga kecilnya. Ia menghampiri kumpulan Pangeran dan Putri dari Kerajaan lain. Ia duduk di tengah jajaran sembari sesekali melihat ke arah pintu menunggu kehadiran Hu Yazhu.


Malam ini adalah jadwalnya pulang ke rumah Kakek Asahi, namun iika Hu Yazhu belum pulang setelah jamuan makan malam selesai terpaksa ia hanya akan pergi bersama para pelayannya. Ia tidak bisa meninggalkan para pelayannya di Istana mengingat dikehidupan sebelumnya, orang-orang Wen Jia selalu mengganggu orang di sekitarnya tak terkecuali terhadap si pelayan kembar.


Melihat Ryu yang merenung tanpa kata, Pangeran Long pun berkomentar sembari menoleh ke arahnya. "Ada apa? Ada yang bisa aku bantu?"


"Malam ini aku harus pulang ke rumah keluargaku, setiap minggu aku akan pulang kesana. Namun, kulihat Panglima Hu belum juga pulang." Ryu sebenarnya merasa khawatir dengan Hu Yazhu tapi dia tidak bisa berbuat apapun untuk saat ini.


"Aku bisa mengantarmu dengan kereta kudaku!" Pangeran Long menyerahkan secawan minuman miliknya menunggu Ryu untuk bersulang dan meminumnya bersama.


"Tapi-" ucapan Ryu terhenti seraya ia memikirkan jawaban yang tepat.


"Aku menawarkan diri, jadi tidak perlu sungkan. Raja Wen sepertinya menyayangimu, dia juga tidak akan membiarkanmu pulang tanpa pengawasan Jenderal atau Panglima bukan?" disituasi seperti ini Ryu memang harus lebih berhati-hati, semakin banyak ia menggagalkan rencana para penjilat semakin banyak musuh yang akan mengarahkan pedang ke arahnya.


Saat statusnya sebagai Putri Mahkota saja dengan gampang orang lain menyakiti dan memfitnahnya, apalagi kali ini yang hanya berstatus sebagai calon istri Panglima Perang. "Baiklah, terimakasih aku menerima tawaranmu Pangeran."

__ADS_1


__ADS_2