
Hari berlalu begitu cepat, kedai pun mulai terlihat sepi. Akira dan kakek Asahi menyempatkan diri untuk istirahat sejenak. Ryu dengan begitu gugup membawa sepucuk surat undangan yang harus diberikan pada kakeknya. Dia melepas alas kakinya kemudian berjalan tanpa suara mendekati kakek Asahi. Tanpa banyak bicara Ryu menyerahkan surat tersebut.
"Apa ini?" tanya Sang Kakek.
"Aku tidak ingin kakek datang, tapi itu adalah surat dari kerajaan. Undangan makan malam untuk keluargaku." Ryu menunduk.
Kakek Asahi membuka surat tersebut dan mengangguk beberapa kali. Akira ikut membacanya. Namun, raut wajah Ryu terlihat begitu suram sehingga kakek Asahi merasa khawatir. "Kenapa kamu tidak ingin kakek datang?"
"Aku tidak ingin kakek terlibat dalam masalahku, aku takut saat mereka tahu soal dirimu dan kedai ini. Kalian akan hidup jauh dari kenyamanan, aku minta maaf kek." Ryu terlihat begitu sedih, mengingat dikehidupan sebelumnya kakek Asahi juga terbunuh setelah mencoba melindungi dirinya. Dia tidak ingin melihat kakek Asahi terbunuh untuk yang kedua kalinya.
"Jika itu yang kamu mau, kakek tidak akan datang. Katakan saja, bahwa kakek sakit." Kakek Asahi menengadah ke arah Ryu dan tersenyum tipis. Sebagai dukun hebat, kakek Asahi tentu tahu apa yang dirasakan dan dialami Ryu. Tapi, dia tidak bisa melakukan apapun karena itu diluar kehendaknya.
Akira masih belum banyak bicara tapi sepertinya dia punya rencana khusus untuk menyambut undangan jamuan makan malam Istana. "Kak, aku punya ide."
Ryu menoleh ke arah Akira dengan cepat, kemudian gadis itu mendekat ke arah Ryu dan membisikan sesuatu. "Bagaimana jika aku dan Huo Sijue saja yang datang?"
"Kenapa dengan dia?" Ryu mengerutkan alisnya dan menjauh dari Akira.
Akira hanya tersenyum. "Anggap saja Huo Sijue adalah paman kita."
"Itu ide buruk! Kakak tidak ingin, kamu, Kakek maupun Sijue datang ke Istana!" Ryu beranjak dari sana dan masuk kembali ke dalam kamar. Kali ini, dia tidak akan membiarkan orang yang dia kasihi mati ditangan orang-orang licik itu.
Sesaat dia mengingat ucapan Hu Yazhu. Pria itu tidak akan pikir panjang lagi, dia akan memberitahu keluarga besarnya soal kehamilan yang tidak nyata itu. Ryu hampir setengah gila memikirkan rencana lain agar tujuan utamanya menghancurkan Selir Fan Hai berhasil dengan sempurna. Tapi, dia rasa tujuannya terlihat semakin jauh dari yang dibayangkan. Ryu tidak akan mengikuti saran Hu Yazhu dan berbohong soal kehamilan.
__ADS_1
Sepintas, Ryu sadar mengenai pemberontakan Suku Aera di sebelah Barat wilayah kekuasaan Wen yang kemungkinan besar akan terjadi dalam waktu dekat. Jika Ryu bisa mempercepat pemberontakan itu kemungkinan besar ada dua hal yang bisa menguntungkannya yiatu mengalihkan semua orang Istana bahkan Hu Yazhu sehingga mereka tidak akan fokus pada kehadiran Ryu dan keluarganya. Kedua, dia bisa segera mendapatkan dua dayang yang kelak akan menjadi pelayan setianya.
"Tapi, bagaimana caranya aku mempercepat pemberontakan itu?" gumam Ryu.
Setelah berpikir panjang, hanya ada satu cara yang bisa membuat pemberontakan itu terjadi. Dengan meminta bantuan Huo Sijue untuk menyamar dan memprovokasi Suku Aera. Tapi itu tidak mudah, salah-salah malah nyawa Huo Sijue yang bisa melayang.
"Kenapa kamu ingin aku menjadi dalang pemberontakan? Kamu gila!" protes Huo Sijue yang terlihat sedang mengasah pedangnya di sungai.
"Sijue bukan menjadi dalang! Tapi, hanya berikan sedikit percikan kecil kepada Suku Aera bahwa mereka bisa hidup lebih baik dengan melepaskan diri dari kerajaan Wen."
"Tidak! Apa kamu gila? Bagaimana jika calon suamimu tahu bahwa aku yang memancing amarah mereka? Dia pasti akan langsung memenggal kepalaku!" Huo Sijue menggeleng dan menolak permintaan gila Ryu.
"Kecuali kamu memberikan alasan yang kuat kenapa aku harus melakukan itu?" lanjutnya.
"Baiklah, Huo Sijue! Aku sahabatmu ini sedang dalam bahaya. Keluargaku di undang ke jamuan makan malam Istana. Tapi aku yakin, itu bukan jamuan biasa karena mereka sudah tahu bahwa keluarga Hu sama sekali tidak tahu rencana pernikahan antara aku dan Hu Yazhu. Jika dua keluarga di pertemukan, aku yakin akan ada pertikaian besar antara keluarga Hu dan Kakek." Ryu menatap sendu Huo Sijue yang berdiri di depannya.
"Sijue, andai aku bisa tapi ayahku sedang dalam bahaya. Begitupun kerajaan dan rakyatku. Aku tidak bisa mementingkan diri sendiri dan memilih untuk hidup damai seperti yang kamu katakan. Bahkan jika aku bisa aku tidak mungkin tega melihat ayah dan kerajaanku jatuh kepada para keparat itu!" Ryu membatin.
Tatapan matanya yang sendu juga berkaca-kaca membuat Huo Sijue menyerah dan memutuskan untuk membantunya. "Baiklah, aku akan bantu. Tapi tolong ikut aku mempersiapkan barang yang akan kubawa ke Suku Aera!"
Huo Sijue berjalan mendahului Ryu, wanita itu langsung tersenyum lebar dan mengekor pada Sijue. "Terimakasih! Kamu memang yang terbaik!"
"Tentu saja!" pungkas Huo Sijue.
__ADS_1
Setelah mempersiapkan dua karung barang dagangan yang akan diberikan secara cuma-cuma. Huo Sijue segera menyamar dengan memakai kumis palsu juga pakaian bangsawan. Ryu yang ikut menyamar sebagai gelandangan akan memerhatikan Sijue dari kejauhan dan berjaga jika ada yang ingin menyelakai pria itu.
"Ini silahkan gratis, ambilah sesuai kebutuhan kalian! Huh bagaimana bisa kerajaan membiarkan rakyatnya kelaparan seperti ini." Huo Sijue mulai melakukan aksinya.
"Kamu siapa? Apa kamu membagikan ini secara cuma-cuma?"
"Tentu saja, ambilah untuk bekal kalian selama satu minggu, aku merasa kasihan maka dari itu memberi kalian bahan makanan gratis!"
"Kamu pasti datang dari Istana untuk menghina kami ’kan? Aku kepala Suku Aera! Kami punya banyak bahan makanan dan melimpah! Tanah Suku Aera yang subur ini bahkam bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kerajaan Wen! Daripada kami diatur oleh sekumpulan tikus rakus seperti kalian lebih baik kami memisahkan diri!" Kepala Suku Aera terlihat begitu kesal.
Namun, itu semua diluar rencana Huo Sijue dia memang hendak memberikan bahan makanan untuk merayu penduduk suku Aera. Tapi, Kepala Suku Aera malah merasa terhina dan membuatnya sangat marah, tindakan Huo Sijue yang seperti ini membuat mereka lebih terprovokasi dibanding rencana sebelumnya.
"Kamu benar, Aku memang datang dari Istana!" Huo Sijue dengan kecepatan penuh lari menjauh dan meninggalkan barang yang ia bawa di belakang. Saat menoleh, dia melihat Suku Aera yang kini ikut mengejarnya dengan membawa senjata tajam.
"Berhenti kamu keparat!"
Ryu membulatkan pandangan, dia menunggu di dalam gubuk kecil dan melihat dari celah itu. Ryu harus membantu Sijue terlepas dari kejaran Suku Aera jika tidak pria itu bisa mati terpenggal.
"Ryu, sialan! Kamu tega mengorbankan nyawaku." geram Huo Sijue.
"Sijue!" Ryu menarik Huo Sijue ke dalam gubuk kosong. Dia segera membuka pakaian Huo Sijue dengan cepat dan kumis yang terpasang.
"Hei kamu gila! Aku sedang di kejar orang-orang itu!" kata Huo Sijue dengan panik.
__ADS_1
"Sssh, jika tidak ingin mati lebih baik kamu diam saja!" Ryu membuka pakaian Huo Sijue sampai dia bertelanjang dada. Begitupun dengan Ryu sendiri, dia membuka pakaiannya dan menyisakan pakaian dalam yang menutupi bagian dada dan perutnya.
"Kamu mau apa?" Tanya Sijue dengan bingung tapi matanya tidak bisa berbohong, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tubuh Ryu yang kini terlihat dengan jelas.