LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 15 - Lencana Emas


__ADS_3

Semua orang memberi hormat pada Raja Wen yang nampak semakin hari semakin kurus kering. Semua orang sudah tahu walaupun Raja masih ada tapi sebagian kekuatan sudah diambil alih kekuasaan oleh Selir Fan Hai tanpa seizin Raja. Dia hanya mempertahankan Raja Wen disisinya sampai pria itu menyerahkan seluruh kekuasaan ke tangannya.


Wen Jia secara terang-terangan ingin membuat masalah dengan Ryu dihadapan keluarga Hu. Dia tahu, bahwa keluarga kedua Hu sangatlah ingin memiliki hubungan khusus dengan keluarga kerajaan agar status sosial mereka semakin meningkat. Terlebih, bisnis judi yang dilakukan keluarga kedua Hu didukung oleh Selir Fan Hai dengan berbagi keuntungan.


"Putri Jia sangat cantik malam ini," sanjung bibi keluarga Hu.


"Terimakasih, tapi aku memang selalu cantik setiap hari."


Ryu Ito hampir tidak bisa menahan gelak tawanya, bagaimana tidak adik tirinya itu selalu mengkonsumsi pil khusus untuk terlihat cantik selama sehari dan dia bahkan memakannya setiap bangun tidur setiap hari.


"Nona Ryu, secara khusus aku ingin kamu menunjukan bakat yang menjadi keunggulanmu memiliki Hu Yazhu. Jika tidak keberatan, karena semua orang disini pasti merasa ragu karena kamu keturunan asing yang menetap. Anggap saja sebagai bukti bahwa kamu memang mengabdi pada negara ini dan tidak ada niatan untuk memberontak." Wen Jia menyeringai licik.


"Tentu saja, sebutkan apapun yang ingin kamu aku tunjukan."


"Wah, Nona Ryu begitu percaya diri aku akan memulai dari memainkan alat musik khas negara kita jika kamu sanggup dan mahir melakukannya itu bisa dianggap tanda cinta pada kerajaan, bukankah begitu ayah?" Wen Jia melirik ke arah Raja Wen dengan senyuman tipis.


"Baiklah, aku setuju."


"Karena semua orang sudah setuju, aku harap Nona Ryu bisa melakukannya semaksimal mungkin agar keraguan semua orang padamu menghilang."

__ADS_1


"Baik," Ryu Ito melangkahkan kaki maju ditengah kerumunan semua orang. Dia duduk bersimpuh dihadapan alat musik petik yang tergeletak diatas panggung kecil.


Petikan demi petikan mulai dimainkan dengan halus tapi ditengah pertunjukan Ryu Ito sengaja menghentikan aksinya untuk meminta Wen Jia melengkapi pertunjukan dengan menari di hadapan semua orang yang menghadiri jamuan. "Aku memohon maaf secara khusus pada semuanya, kudengar bahwa Putri Jia sangat mahir dalam menari jadi alangkah baiknya jika alunan musikku yang tidak seberapa ini diiringi dengan tarian indahnya Putri Jia. Aku meminta ini secara khusus pada Raja Wen dan Putri."


Banyak orang menyetujui permintaan Ryu Ito untuk diiringi tarian oleh Putri Jia dan wanita itupun dengan sengaja akan memamerkan keahliannya dalam menari. Itu tidak masalah baginya, bahkan dia sudah sering memamerkan tarian telanjang didepan putra jenderal Xi. Putri Jia melangkah maju di tengah panggung, dia sengaja menghalangi pandangan orang terhadap Ryu karena tidak ingin fokus semua orang teralihkan pada wanita itu.


Ryu mulai memetik alat musiknya secara halus dan lembut diawal, tarian indah kemayu lugu penuh arti pun ditunjukan oleh Putri Jia, lama kelamaan iringan musik yang dilakukan Ryu semakin intens seiring dengan perubahan emosinya, dia begitu membayangkan kekacauan yang terjadi di akhir hidupnya, rakyat yang menderita, jeritan kesusahan dan tangisan rakyat yang membuat musik yang dipetik oleh Ryu semakin mempercepat ritmenya.


"Sialan, dia dengan sengaja ingin membuatku kawalahan!" batin Putri Jia.


"Jia, aku akan mempermalukanmu!" batin Ryu.


"Dia bahkan tidak bisa menyeimbangkan tarian dengan musik indah yang Nona Ryu mainkan," bisik beberapa orang satu sama lain.


Dengan wajah pucat pasi menahan gas didalam rongga lambungnya Wen Jia keluar dari ruangan tanpa pamit. Lagipula semua orang tidak lagi memerhatikannya, yang jadi pusat perhatian kini hanyalah Ryu Ito yang langsung mendapat pujian hangat dari Raja Wen. "Aku sudah lama tidak mendengar musik semacam ini, bagaimana bisa dengan hanya sebuah alunan musik dapat membawaku pada imajinasi mengerikan yang bahkan tidak bisa kubayangkan."


"Nona Ryu, aku benar-benar diberkati dengan keterampilanmu. Selanjutnya, jika kamu memang punya waktu aku ingin kamu secara khusus tampil disetiap acara resmi kerajaan dan aku akan menghadiahkanmu lencana emas yang bisa kamu pergunakan untuk kebebasan meminta dana atas setiap kebutuhanmu pada departemen keuangan kerajaan. Jika kamu berkenan," pungkas Raja Wen.


Ryu Ito memberi hormat pada Raja Wen. "Dengan senang hati Yang Mulia," katanya.

__ADS_1


Hu Yazhu tersenyum tipis melihat bakat yang ditunjukan oleh Ryu Ito dihadapan keluarga kedua Hu. Entah kenapa dia merasa lega dan bangga saat wanita itu menunjukan hal menakjubkan, membuat Hu Yazhu tidak perlu repot melakukan hal lain untuk melancarkan tujuannya.


Lencana emas atau bisa juga berbentuk kartu emas memang hanya dimiliki oleh anggota inti keluarga kerajaan. Melihat hal itu tentunya Selir Fan Hai semakin marah, dia tidak menyangka Raja Wen Lei akan melakukan hal semacam itu untuk pertunjukan kecil yang dilakukan Ryu Ito. Acara jamuan dilanjutkan tanpa ada halangan lagi, karena Wen Jia sudah pergi darisana setelah berhasil dipermalukan di depan umum. Ryu dan Hu Yazhu kembali ke Paviliun bersama, mereka tidak berbicara satu patah katapun sampai tepat di depan pintu kamar Ryu Ito.


"Kurasa, aku mulai tertarik padamu," pungkas Hu Yazhu.


Tanpa sadar, pipi Ryu Ito memerah merona dan terasa panas. Ryu membuka pintu kamar tanpa membicarakan hal apapun, dia hanya menghindari tatapan Hu Yazhu yang begitu bergairah. "Sebaiknya Panglima segera pergi dari sini, aku tidak ingin kamu menjadi bahan pembicaraan orang lain."


Hu Yazhu maju beberapa langkah dan membuat Ryu mundur masuk ke dalam kamarnya. Pria itu sebenarnya sedang mencuri kesempatan untut melihat sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk untuk membuktikan Ryu Ito memang terlibat dalam pemberontakan Suku Aera. Dia mendorong Ryu ke atas ranjangnya dan menahan kedua tangan Ryu diatas kepala wanita itu. "Panglima perang, bukankah kita tidak memiliki hubungan lain selain perjanjian itu?"


Hu Yazhu menatap benda runcing berkilauan dibawah bantal yang tergeser sedikit tapi dia tidak tahu jelas benda apa itu, dia yakin bahwa itu seperti benda pusaka peninggalan keluarga. Dia hendak meraih benda itu namun dengan kekuatan Ryu dia membalikan keadaan dan membuat Hu Yazhu berbaring di tempat tidur dengan dia berada diatasnya. "Aku bisa lebih mendominasi jika Panglima Hu mau."


Ryu jelas sudah tahu bahwa dimata Hu Yazhu dia tidak memiliki ketertarikan itu padanya, jika Hu Yazhu memang punya maksud lain pria itu pasti akan menolak jika Ryu melakukan sebuah trik licik padanya. Ryu mendekatkan diri pada Hu Yazhu dan siap melayangkan ciuman pada pria itu, namun Hu Yazhu terlihat berpura-pura kesakitan dibagian punggungnya sehingga membuat Ryu terpaksa turun dari tubuh Hu Yazhu. "Ah sakit sekali, kasur ini benar-benar tidak nyaman! Aku akan meminta pelayan menggantinya."


Ryu tersenyum tipis. "Tidak perlu!"


"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang dulu. Beristirahatlah dengan nyaman Nona Ryu!" Hu Yazhu segera melenggang pergi dari tempat itu dan menjauh, tapi dia sendiri tidak bisa menyembunyikan bahwa saat itu jantungnya berdegup kencang dan suhu tubuhnya juga meningkat.


"Sudah kuduga kamu pasti mencurigaiku soal pemberontakan Suku Aera," gumam Ryu.

__ADS_1


__ADS_2