
Suara dentuman alat musik menggelegar sampai ke gerbang Istana. Ryu sudah duduk di tengah barisan para wanita sedangkan para pria duduk di seberangnya. Ryu menunggu ibu tiri dan adik tirinya memasuki acara. Namun, kedua nenek sihir itu belum terlihat juga batang hidungnya.
Saat dia tidak sengaja menyentuh bagian rok pakaiannya, dia merasa ada sesuatu disana. Ryu segera meraih benda itu dan mengeluarkannya. Dia melihat sebuah kalung yang terbuat dari ruby mengkilap, itu sangat cantik dan terlihat langka. Ryu menatap datar benda itu, kemudian menyeringai. Dia kembali memasukan kalungnya ke dalam saku roknya.
Tidak lama kemudian, dua wanita yang menjadi target Ryu memasuki tempat itu, mereka di sambut hangat dan keduanya melemparkan senyuman terbaik pada semua orang.
"Terimakasih telah hadir di acara jamuan. Malam ini, kami akan mengumumkan tentang kedatangan calon istri panglima perang Hu Yazhu kami tercinta yang bernama Ryu Ito. Dia adalah gadis keturunan Jepang." Selir Fan Hai memerkenalkan Ryu pada semua orang.
Ryu berdiri kemudian memberi hormat dan tersenyum dengan manis. Di samping selir Fan Hai ada Wen Jia yang menyeringai saat melihat Ryu. Sepertinya dia punya rencana khusus untuk Ryu.
"Terimakasih atas sambutanmu, Yang mulia," katanya sembari tersenyum. Dengan balutan pakaian hanfu berbahan sutra yang senada warnanya dengan milik Hu Yazhu.
Di seberang sana Hu Yazhu hanya dapat memerhatikan Ryu. Awal baru akan segera dimulai, dia tidak bisa terlalu lama dengan acara-acara ini. Ryu harus segera merawat raja, entah dengan ritual apapun itu Hu Yazhu ingin kesehatan dan pikiran raja Wen membaik. Dia sendiri sudah mencari Wen Yijin selama delapan tahun terakhir namun belum menemukan hasil, apalagi yang bisa dia lakukan selain ini. Mungkin saja Ryu bisa melihat tentang nasib Wen Yijin, masih hidup atau tidak. Itulah yang ingin diketahui Hu Yazhu.
Ditengah alunan musik yang menggema, semua orang membicarakan Ryu. Semua orang terlihat ragu pada gadis itu. Yang mereka khawatirkan akan Ryu adalah bahwa dia seorang mata-mata Jepang yang sengaja di kirim. Hubungan kedua negeri itu memang masih memanas. Wajar jika ada larangan menikahi gadis dari negeri seberang.
Wajah Ryu nampak tidak menunjukan satu kerutan halus apapun, dia masih memerhatikan acara di depannya dengan serius tanpa menunjukan afeksi. Namun mendadak, acara yang meriah itu berubah menjadi ajang drama realita dari putri kedua raja Wen Lei. Dia menghentikan dengungan musik, kemudian mengumumkan sesuatu hal yang semua orang pasti akan terkejut mendengarnya.
"Maaf karena aku harus mengganggu acara ini, kalung ruby langkaku telah hilang aku harus menggeledah semua orang untuk memeriksanya. Dayang! Tolong periksa semua orang tanpa terkecuali!"
"Wen Jia!" Raja Wen Lei menghentikan Wen Jia sebelum dia terlalu jauh menghancurkan acara yang sudah dipersiapkan namun dia terbatuk dan mengeluarkan darah. Tergurat kecemasan di wajah Ryu, namun dia tidak bisa melakukan apapun.
__ADS_1
Hu Yazhu dan Ryu saling bertukar tatap. Semua dayang mulai menggeledah setiap tamu yang datang tanpa terkecuali. Pelayan yang membantu Ryu mengepang rambutnya ikut andil dalam pencarian. "Jadi kamu ingin menjebakku Jia?" gumam Ryu.
Saat pelayan itu memeriksa tubuh Ryu, anehnya dia seperti sudah tahu dimana letak kalung itu berada. "Aku menemukannya putri!"
Tiga orang prajurit langsung mendekat ke arah Ryu agar wanita itu tidak bisa kabur kemana-mana. "Lihatlah aku menemukannya!"
Wen Jia berjalan dengan anggun menghampiri Ryu, Hu Yazhu yang menyaksikan hal itupun membelalak. Dia tidak percaya apa yang dia lihat. Setelah Jia memeriksa kalung itu, dia terdiam beberapa waktu. Ryu menyeringai, "maaf sepertinya putri telah salah. Itu adalah kalung milikku. Hu Yazhu yang memberikannya, dia bilang ini adalah perhiasan turun temurun keluarganya."
"Itu benar, aku secara khusus memberikannya kepada calon istriku Ryu." Hu Yazhu mendadak ikut berbicara dan mendekat ke arah Ryu. Seolah dia memang akan menjamin keselamatan dan keamanan Ryu selama di Istana. Tapi, ucapan Hu Yazhu memang bukan omong kosong belaka, kalung yang Ryu pegang memang kalung turun temurun keluarganya.
Wen Jia dan pelayan tadi membulatkan pandangannya. "Tidak mungkin," gumam pelayan itu.
"Bisakah aku mendapatkannya kembali?" Ryu menatap pelayan itu dengan dingin.
Wen Jia langsung gelagapan Ryu tahu Jia akan kalah telak lagi kali ini. Dia dengan puas tertawa dalam hati, dia tidak sabar melihat pertunjukan selanjutnya. Karena Ryu sangat yakin, adiknya itu tidak akan membiarkan pelayan tadi membuka rencana mereka sendiri di depan semua orang.
"Nona Ryu benar, aku seharusnya memeriksa dia terlebih dahulu karena dialah yang seharian ini bersamaku!" kata Wen Jia yang terlihat panik.
"Tuan Putri, aku tidak mencurinya!"
"Prajurit tolong periksa para dayang juga! Terlebih gadis ini!"
__ADS_1
Saat prajurit memeriksanya, benar saja kalung ruby yang lain dan terlihat lebih kecil ada di saku pelayan itu. Betapa kagetnya Jia karena rencananya telah gagal, dia harus segera membungkam mulut pelayan itu sebelum dia membongkar semuanya.
"Kamu mencurinya? Dasar tidak tahu malu! Aku sudah memercayaimu tapi kamu malah mengkhianatiku. Hanya satu hukuman yang pantas untuk pengkhianat sepertimu, yaitu hukuman cambuk sampai mati! Prajurit segera cambuk dia dan jangan beri ampun!" Wen Jia memberi perintah sesukanya. Dia bahkan sangat tidak tersentuh dengan hal menyedihkan apalagi hanya nyawa seorang pelayan.
"Tuan Putri, bukankah kamu yang memintaku melakukannya? Kenapa kamu melakukan ini padaku Tuan Putri?" Pelayan itu dicambuk kemudian merangkak mendekat ke arah kaki Jia.
"Sembarangan! Kamu sudah kelewatan! Prajurit! Cepat hukum dia sampai mati!" Wen Jia sudah gemetar, dia takut Hu Yazhu mengetahui rencana buruknya pada sang calon istri. Saat pelayan itu dihukum cambuk tanpa ampun, dia menadah ke arah Ryu, wanita itu hanya menatap pelayan tadi dengan datar dan dingin. Dia sudah memperingati gadis itu bukan? Jadi, itu bayaran yang pantas untuknya.
"Wen Jia, ada apa denganmu?" Selir Fan Hai langsung menemui Jia. Kemudian menatap Ryu dengan cemas, "maafkan Putri Jia Nona Ryu, kurasa dia sangat terkejut karena kalung kesayangannya hilang. Tapi syukurlah itu sudah ditemukan, putri kesayanganku ini juga pasti sangat terkejut karena pelayan yang sangat dia percayai malah mengkhianatinya." Selir Fan Hai memeluk bahu Jia.
Mendadak Jia menangis terisak memeluk sang ibu. "Ibu benar, walau aku terlihat kuat tapi aku sangat merasa tersakiti. Teganya pelayan itu mengkhianatiku."
Hu Yazhu mencoba menenangkan Jia. "Tuan Putri, sudahlah yang terpenting sekarang kalungnya sudah di temukan. Dan sesuai perintahmu, pelayan ini akan dihukum."
Ryu menatap Hu Yazhu, "dia masih sama bodohnya seperti dulu," batin Ryu.
Acara pun terpaksa di hentikan karena kesehatan raja juga semakin memburuk. Terlebih saat ada kejadian rusuh di depan matanya dan dia tidak bisa melakukan apapun. Beberapa kali dia mengalami batuk bercampur darah selama acara sehingga dia dibawa ke ruangannya untuk istirahat. Selebihnya semua orang kembali dan membicarakan kejadian tadi.
"Untuk apa Putri Jia memiliki kalung seperti keluarga Hu?"
"Kamu tidak tahu ya, Putri Jia sangat terobsesi dengan Hu Yazhu."
__ADS_1
"Hush! Jangan berbicara sembarangan. Nasibmu bisa saja seperti Nor sipelayan itu!"
Wen Jia menjadi bahan gunjingan para dayang, dan itu semakin membuatnya menggila.