
"Maaf atas ketidakwaspadaanku, begitu banyak yang ingin mencelakaimu."
"Hmm, tidak apa. Itu menunjukan banyak wanita yang tertarik pada panglima."
Ryu dan Hu Yazhu sedang dalam perjalanan pulang ke kedai kakek Asahi. Seperti biasa mereka melewati rerumputan hijau dengan diterangi sinar rembulan. Menunggangi kuda yang sama, dikelilingi kunang-kunang membuat suasana menjadi sangat romantis. Ryu begitu gugup menjawab setiap pertanyaan Hu Yazhu.
"Itu tidak benar! Aku tidak pernah tahu bahwa ada yang menyukaiku selama ini. Mereka bilang, aku dingin, kejam."
"Kamu tidak peka! Walaupun kamu begitu dingin, aku yakin itu hanya tampilan luarmu saja!"
Ryu menunduk, dia ingat tentang surat yang harus dia sampaikan pada keluarganya. Surat undangan makan malam dari kerajaan.
"Berhenti!" sekelompok orang menghentikan perjalanan Hu Yazhu dan Ryu di tengah perjalanan.
"Serahkan harta benda kalian! Dilihat dari pakaiannya, kalian tentu bukan orang sembarangan!"
"Jangan menghalangi jalan kami!" ucap Hu Yazhu.
"Brengsek! Hei cepat serang dia!" ucap ketua bandit pada anak buahnya.
Sekelompok bandit kemudian menyerang dengan ganas. Hu Yazhu dengan sigap turun dari kuda dan menghadang para bandit. "Nona Ryu! Pergilah lebih dulu dengan kuda itu aku akan menyusul!"
"Ah pria ini! Dia sedang dalam bahaya malah menyuruhku pergi dengan kudanya, mana bisa dia mengalahkan 8 orang pria mabuk bersenjata seperti itu!" gumam Ryu.
Ryu berdiri di atas kuda Hu Yazhu. "Ada apa dengan kamu Nona Ryu? Cepat tinggalkan tempat ini! Aku masih mengemban tanggung jawab pada kakek Asahi!" Hu Yazhu melayangkann tatapan tajam dan keheranan pada Ryu. Pria itu masih sibuk menghadang serangan dari para bandit.
"Hei Nona! Kamu tidak dengar apa yang dikatakan kekasihmu? Cepat pergi dari sini, sebelum aku menangkapmu dan memakan tubuhmu yang indah itu!"
"Diam kau keparat! Aku akan menendang wajahmu dan satu lagi, dia bukan kekasihku."
Brakk
Ryu melompat dan mengarahkan tendangannya pada pria yang menggodanya tadi. Hu Yazhu yang melihat itu begitu terkejut namun kembali fokus pada para bandit yang masih mengerumuninya. Ryu mengambil pedang bandit yang sudah terkulai lemas tadi, dan mulai ikut menyerang para keparat lain.
__ADS_1
Sreett
Teknik ular meliuk dilakukan oleh Ryu, tubuhnya membungkuk dan langsung menancapkan satu tusukan pedang pada salah seorang bandit. Ryu bergabung dengan Hu Yazhu dan mereka kini saling membelakangi.
"Aku tidak percaya kamu ahli dalam hal itu!" pungkas Hu Yazhu.
"Kamu tidak pernah bertanya, jadi aku tidak memberitahumu."
Brakk
Tendangan Ryu membuat salah seorang bandit itu terhempas mundur ke belakang. Tinggal tersisa dua orang lagi Ryu membiarkan Hu Yazhu yang membereskannya. Kedua napas mereka berderu setelah olah raga malam melawan para bandit tersebut. Hu Yazhu nampak kehausan, tapi itu tidak mengurangi kekuatannya sedikitpun.
"Sudah kubilang pergi, apa kamu tidak percaya aku bisa mengalahkan mereka semua?" tanya Hu Yazhu dengan dengusan kasar, dia terlihat begitu kesal.
"Kenapa kamu kesal? Bukankah seharusnya ungkapan terimakasih yang kudapatkan?"
"Nona Ryu, aku akan mengungkapkan tujuanku membawamu ke Istana, yaitu untuk meramalkan tentang putri mahkota kami, Wen Yijin. Bukan untuk bertarung seperti ini." Hu Yazhu melenggang pergi menarik kendali kudanya dan jalan lebih dulu.
"Apa aku harus tetap diam walau nyawamu sedang terancam?"
"Sombong!" gumam Ryu kesal.
Mereka melanjutkan sisa perjalanan dengan saling mendiamkan. Suasana yang awalnya begitu romantis berubah menjadi hawa panas penuh amarah. Dia tidak tahu, kenapa Hu Yazhu begitu marah padanya. Sesampainya di depan kedai kakek Asahi, Hu Yazhu langsung berpamitan pulang dengan menunggangi kudanya. Sedangkan Ryu masuk ke dalam kedai bersama kakek dan Akira.
"Ryu Ito! Cenayang penipu sudah kembali!" ujar seorang pria dari arah pintu kedai. Saat Ryu menoleh rupanya itu sahabatnya, Huo Sijue.
"Pelanggan tidak tahu malu yang tidak membayar jasa peramal sudah datang?" Ryu berjalan menghampiri Huo Sijue kemudian memeluk pria itu.
Seketika raut wajah Huo Sijue memerah. "Kamu merindukanku?"
"Sangat, aku sangat merindukan kebodohanmu Sijue!"
"Kamu ada waktu? Mari minum teh di luar sambil memandangi rembulan!"
__ADS_1
"Baiklah, aku mengganti pakaian ini dulu. Aku tidak begitu nyaman menggunakan hanfu ini."
Huo Sijue mengerutkan alisnya. "Aku baru sadar, kamu seperti perempuan jika seperti ini."
Ryu sudah memandangi Huo Sijue dengan tatapan mematikan sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya. "Maksudku, kamu cantik."
"Baiklah tunggu aku di luar! Aku akan sekalian membawakan tehnya." Ryu berjalan memasuki kamarnya dan membuka hanfu berwarna merah muda dengan aksen satin ungu ditangannya. Dia mendengus kasar, lalu mengingat kejadian dulu.
Sebelum ia terjatuh ke jurang, Ryu yang masih menjadi Putri Mahkota Wen Yijin kecil, dulu sempat berselisih dengan Hu Yazhu. Saat itu, Hu Yazhu memaksanya kabur dan pergi saat para pemberontak datang dan menyerang Istana namun, dia tidak mengindahkan ucapan Hu Yazhu dan berakhir terjatuh ke jurang dan menghilang sampai sekarang.
"Apa karena itu?" gumam Ryu, dia terdiam kemudian membuka sisa pakaiannya dan mengganti dengan yang lain. Dia keluar dari kamar kemudian membawa cawan dan cerek berisikan arak untuk dirinya dan Huo Sijue.
Suara decit pintu kedai membuyarkan lamunan Huo Sijue, pria itu menoleh dan menatap Ryu dengan penuh senyuman. Ryu berjalan mendekat dan menaruh minumannya di samping Sijue dan duduk di sebelahnya. Kini, mereka berdua duduk di depan pohon yang diatasnya langsung disinari cahaya bulan sabit yang begitu indah.
Untuk beberapa saat, kesunyian dan kedamaian malam melingkupi mereka berdua. Tidak ada yang memulai pembicaraan, bahkan hembusan napas keduanya terdengar satu sama lain bercampur dengan semilir angin yang melewati pipi mereka.
"Bagaimana di Istana? Apa kamu diperlakukan dengan baik?"
"Tentu saja!"
"Aku sempat mengkhawatirkanmu, aku takut kamu ditindas oleh para dayang dan mereka berbuat macam-macam padamu. Tapi kakek bilang, kamu datang bukan sebagai pelayan."
Ryu menoleh ke arah Sijue. "Kakek benar, aku datang sebagai calon istri panglima perang, Hu Yazhu."
"Tidak masuk akal, apa dia menyetujuinya begitu saja? Bagaimana bisa?" Sijue berdecak dan menggeleng.
"Kamu tidak lihat? Aku begitu cantik, tentu saja dia setuju! Pria mana yang tidak mau menjadi calon suamiku!" Ryu mendelik ke arah Sijue.
"Kamu benar."
"Tidak, aku hanya bercanda!" Ryu menyeringai. "Kami memiliki perjanjian, dia ingin aku menemukan keberadaan putri mahkota, hidup atau mati," lanjut Ryu.
"Putri Mahkota Wen Yijin? Bukankah ini sudah tahun ke delapan sejak berita kehilangannya? Lagipula, bukankah kerangka mayatnya sudah diketemukan di bawah jurang?" Huo Sijue nampak bingung, dia menunggu jawaban dari Ryu dengan sabar.
__ADS_1
Ryu menuangkan secangkir minumannya dan menenggak itu layaknya arak. "Ck, nikmat sekali, Aku belum tahu."
Huo Sijue ikut menuangkan miliknya dan menenggak minuman itu. "Ash sialan, kamu bilang ini teh. Jelas ini arak!" geram Huo Sijue sedangkan Ryu hanya tertawa kecil melihatnya.