LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 20 - Iblis Hati


__ADS_3

Matahari dengan lembut menyapu pipi Ryu Ito, dia menahan matanya dengan tangan dari kilauan matahari pagi yang begitu cerah. Ia tertidur dengan keadaan sedang diterapi semalaman, kini tubuhnya terasa lebih ringan dan segar. Ryu Ito turun dari ranjang yang bertirai keunguan, dia segera menemui pelayannya yang sudah lebih dulu bangun dan menyiapkan air hangat untuknya mandi.


Ryu berjalan keluar dari kamar dan menuju pemandian. Wanita itu menoleh ke kanan dan kiri melihat pemandangan indah di sekitar Paviliun tempatnya tinggal. Ryu berpikir setelah semalaman menjaganya, kini Hu Yazhu pasti sedang beristirahat. Ryu ingin menemuinya dan mengajaknya sarapan bersama setelah mandi nanti, sesampainya di depan pemandian bukannya langsung masuk ke dalam, Ryu malah melamun mengingat pertanyaan Hu Yazhu semalam, entah apa yang membuat pria itu ragu akan status dirinya yang dikenal sebagai cucu seorang dukun.


Akupuntur semalam berjalan dengan lancar, Ryu masih harus melakukan beberapa kali akupuntur lagi untuk pulih sepenuhnya. Dia juga harus melawan iblis hati yang menghalanginya untuk sembuh.


"Nona, airnya sudah kami siapkan dan sudah diberi akar merah tumbuk sebagai obat untuk mengurangi rasa cemas, gelisah dan segala penyakit di dalam tubuh Nona."


"Terimakasih," Ryu berjalan ke pemandian dan berendam. Tidak lupa para pelayan juga menaruh bunga persik hasil petikan Pangeran Long di dalam pot bunga dan diletakan di samping bak mandi. Selain menghirup obat yang begitu menyengat jadi Ryu juga bisa menghirup wanginya bunga persik yang bermekaran setiap awal tahun.


Wen Yijin, Pangeran Long dan Hu Yazhu sudah bersahabat sejak kecil. Mereka sering menghabiskan waktu bersama maka dari itu Raja Wen Lei berniat menikahkannya dengan Long Chen, karena pria itu adalah kandidat terkuat untuk menjadi pendamping Yijin memimpin Kerajaan Wen kedepannya. Pangeran Long Chen adalah anak kedua dari Kaisar Long, sehingga memungkinkan dia untuk menikah dengan Kaisar Wanita dan ikut membantu urusan negara.


Namun Wen Yijin tidak memiliki ketertarikan terhadap keduanya, baginya mereka hanyalah sahabat kecil bahkan saat mendapatkan perintah untuk menikahi Long Chen sewaktu kecil dulu Dia menangis tiga hari tiga malam karena tidak ingin persabahatan mereka berakhir hanya karena pernikahan.


Bersamaan dengan selesainya Ryu membersihkan diri, Hu Yazhu yang sudah berjanji akan membantu Ryu untuk melakukan pengobatan lagi, datang dan mengetuk pintu Paviliun. Pria itu masuk ke dalam setelah pelayan keluarga Hu mengizinkannya masuk.


Hu Yazhu tersenyum halus saat melihat Ryu Ito sudah berada di posisi meditasi dengan dua tangan menyatu di depan dada dan duduk bersila diatas ranjang. Wanita itu sepertinya sudah masuk ke dalam iblis hati sebelum Hu Yazhu masuk menemuinya. Pria itu hanya bisa menunggu Ryu Ito selesai mengatasi hal yang menghambat penyembuhannya.


Di alam bawah sadarnya, Ryu terbangun dalam sebuah ruangan penuh kabut. Dia berjalan terus dan menemukan Selir Fan Hai dan Wen Jia di depannya. Namun, itu semua hanyalah ilusi yang muncul karena iblis hati, kebenciannya terhadap mereka yang menghambat jalan Ryu untuk meningkat.


"Putri Mahkota bodoh! Ha-ha-ha..."

__ADS_1


"Mati saja kamu Yijin!"


Ryu Ito mengambil pedang yang berada disamping baju zirahnya kemudian menebas kedua wanita itu dengan penuh kekuatan. Seketika ilusi itu menghilang dan berganti menjadi sosok yang sangat ia sayangi, yaitu Raja Wen.


Di ruangan itu, Raja Wen menghampiri Ryu ito kemudian mengelus lembut pipi putrinya sehingga Ryu tanpa sadar memejamkan mata dan hampir hilang kendali. Apabila dia berhasil dikalahkan oleh iblis hati maka dia tidak akan pernah sembuh dan mencapai ilmu yang tinggi. Dengan berat hati, Ryu menusuk bayangan ayahnya dan menangis melihat ilusi itu kabur dari pandangan.


Ia berjalan kembali ke depan, disana ia menemukan Kakek Asahi, Akira dan Huo Sijue namun lambat laun bayangan itu menghilang dengan sendirinya. Ryu membuka matanya lebar, tidak terasa air matanya mengalir begitu deras. Hu Yazhu yang ada di sampingnya dengan sigap memberinya segelas air berisikan ramuan obat untuk menghilangkan gelisah, cemas yang ada di hati Ryu Ito.


Bukannya meraih minuman yang sudah terjulur ke arahnya Ryu Ito malah memeluk Hu Yazhu dan menangis dalam dekapan pria itu. Mata Hu Yazhu membulat namun dia begitu pasrah saat tangisan Ryu pecah di pelukannya. Entah apa yang Ryu alami, tapi itu membuat Hu Yazhu ikut merasakan kepedihan yang ia rasakan. Jika saja Ryu mau bercerita, mungkin Hu Yazhu bisa sedikit mengerti namun setelahnya Ryu melepaskan diri dari Hu Yazhu dan menyeka air matanya. Dia meraih minuman yang sudah disiapkan Hu Yazhu sebelumnya da meminumnya sampai habis.


"Maaf, aku hilang kendali."


"Terimakasih Panglima Hu, aku bersyukur memilikimu. Apakah Panglima tahu Kaisar memakan sup buatanku semalam?"


Hu Yazhu mengangguk pelan. "Aku tahu, Kasim Han bilang Kaisar sangat menyukainya dia juga ingin menemuimu siang ini di halaman istana untuk meminum teh bersama. Aku juga diundang, kita akan kesana bersama setelah aku melakukan pengobatan padamu."


Ryu Ito tersenyum tipis, kemudian terarah pada Hu Yazhu. Sorot mata tulus pria itu begitu terlihat sehingga membuatnya tidak bisa menahan diri untuk memeluk sahabat kecilnya itu. "Terimakasih Panglima!"


Rona merah dan mata yang membulat terlihat pada wajah Hu Yazhu. Melihat Ryu Ito bersikap manis seperti itu kadang membuatnya lupa apa tujuan awal dia membawa Ryu ke dalam Istana. Setelah melakukan pengobatan untuk yang ke dua kali, Ryu dan Hu Yazhu akhirnya menemui Raja Wen Lei di halaman Istana. Pria berjubah emas itu terlihat begitu lebih sehat dari sebelumnya. Kemudian setelah melihat kedua orang kepercayaannya datang, Raja Wen tersenyum riang sepertinya hal itu dikarenakan efek obat ramuan yang Ryu buat dalam Sup biji wijen yang dia berikan sebelumnya.


"Dengan kemampuan dari kehidupan sebelumnya, akankah lebih baik jika aku berdiri sebagai Putri Mahkota sekarang?" batin Ryu.

__ADS_1


Ryu sepintas berpikir mungkin akan lebih bagus jika dia muncul sebelum benar-benar ada penobatan Putri Mahkota, selama ini dia merasa tenang karena Sang Ayah masih belum menentukan penerus setelah kepergiannya. Raja Wen masih percaya kalau Yijin  masih hidup sehingga menundanya selama ini. Namun apabila kepercayaan itu mulai terkikis dengan melihat tidak adanya harapan, kemungkinan besar mau tidak mau Raja Wen Lei harus segera menobatkan Putri tertua dari Selir Fan Hai itu menjadi Putri Mahkota. Jika itu terjadi, percuma saja Ryu berjuang hingga sekarang.


Tapi baginya dia yakin hal itu tidak akan pernah terjadi jika kesehatan Raja Wen membaik. Pria yang berusia sekitar enam puluh tiga tahunan itu seharusnya masih menjadi kaisar terkuat dan juga hebat, tapi karena racun yang dia konsumsi selama bertahun-tahun membuat vitalitas dan alam spiritualnya menjadi kacau.


"Salam Yang Mulia," ucap keduanya bersamaan.


"Terimakasih, Oh iya Nona Ryu makananmu sangat enak dan membuat selera makanku yang dulu hilang kini muncul kembali. Aku tidak mengerti bumbu apa yang kamu masukan ke setiap racikan yang ada di dalam masakan itu, tapi aku sangat bersyukur bisa menyantapnya. Hu Yazhu sangat beruntung memilikimu."


"Yang Mulia tidak perlu berlebihan, hamba menyajikannya dengan penuh perhatian sehingga sangat teliti dengan setiap bumbu yang disajikan di dalam semangkuk sup biji wijen sebelumnya." Ryu Ito merasa senang jika setiap hal kecilnya dihargai, apalagi melihat ayahnya jauh lebih sehat dari sebelumnya Dia bersumpah tidak akan memberikan celah sedikitpun pada orang jahat untuk melukai ayahnya lagi.


Setelah berbincang mengenai kesiapan Ryu Ito mewakilkan Kerajaan Wen di kompetisi memanah, Kaisar akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar karena udara yang dingin dan ia belum bisa terlalu lama berada disana. Ryu dengan impulsif menolong Raja Wen untuk berdiri begitupun dengan Raja Wen yang langsung tersenyum halus, dia sangat senang karena ada seseorang yang begitu memerhatikan hal kecil dari dirinya.


"Kasim Han, tolong antarkan Yang Mulia ke kamar dan jangan sampai meminum dan memakan apapun sebelum berdiskusi denganku. Sekarang, akulah yang bertanggung jawab atas makanan yang dikonsumsi Kaisar." Ryu pikir hanya dengan cara itu dia bisa melindungi ayahnya.


Setelah Raja Wen diantar pergi oleh Kasim Han, Ryu dan Hu Yazhu kembali ke pelatihan untuk mempersiapkan diri sebelum Acara Tahunan Benua yang dilaksanakan besok.


Keesokan harinya....


Acara Tahunan Benua...


Meskipun Raja Wen masih dalam kondisi sakit, namun persiapan acara begitu sempurna. Semua tamu dan para peserta dari Kerajaan lain mendapatkan pelayanan terbaik sehingga nama Kaisar semakin tersorot ke penjuru Benua. Ini semua juga berkat Hu Yazhu yang begitu ekstra dalam hal yang mendetail, sedangkan Wen Jia benar-benar lepas tangan dan menyerahkan semua pada petinggi acara. Seharusnya, Putri Jia lah yang mengambil alih tugas negara ini namun karena dia tidak cukup memiliki keterampilan dan tidak mau dibebankan dengan segala urusan negara akhirnya dia hanya numpang nama demi ketenarannya saja.

__ADS_1


__ADS_2