LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 52 - Hutan terlarang


__ADS_3

Riuh angin yang menerpa hutan terlarang itu sedikit penghalangi perjalanan Yijin, saat langkahnya kembali melaju ke pertengahan hutan suara ranting terinjak terdengar samar-samar mendekat.


Srak srak


Yijin menoleh ke arah belakang, namun tiada hal apapaun di sana. Dia kembali melanjutkan perjalanannya dengan sang naga kecil yang melilit di ikatan kuda rambutnya. Yijin merasa seperti orang bodoh, yang berjalan tanpa tujuan dia juga tidak tahu petunjuk apa yang harus ia dapatkan agar segera menemukan lokasi tulip emas. Dia memutuskan untuk duduk di akar pepohonan besar dan mengeluarkan satu botol minuman dari pinggangnya. Menenggaknya sampai setengah habis.


"Hei naga kecil! Kamu tidak mungkin diminta menemaniku jika tidak tahu sesuatu ’kan? Katakan apa yang kamu ketahui tentang tulip emas?" tanya Yijin pada naga yang melilit itu.


"Nona, tuan hanya memintaku menjagamu, aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Lagipula, jika aku memberitahumu berarti kamu terbilang curang." jawaban naga kecil itu sangat membuat Yijin kesal sehingga wanita itu menarik paksa naga dari ikatan rambutnya.


"Aduh, kamu benar-benar memerlakukanku dengan buruk! Kenapa kamu tidak menggunakan kekuatan pheonixmu untuk mencari tahu?"


"Baiklah, tolong jaga aku. Memanggil pheonix membutuhkan waktu yang agak lama, sehingga aku harus bermeditasi sebentar." Yijin menyilang kedua kakinya, kemudian menyatukan telapak tangannya dan memejamkan mata. Ia memanggil pheonix yang berada di tubuhnya dan tidak lama sebuah tato pheonix muncul di bagian atas dada Yijin dan memancarkan cahaya kemerahan.


"Tolong carikan lokasi tulip emas dengan akurat!" pinta Yijin pada sang pheonix yang kini sudah keluar dari tubuhnya. Pheonix itu terbang di depannya sembari mengepakan sayap miliknya yang lebar kemudian pergi ke arah yang dituju oleh Yijin.


Yijin segera mengikuti jalan yang di arahkan burung pheonix. Namun, di tengah perjalanan auman menggelegar menghentikan langkah mereka. Seekor harimau raksasa terlihat kelaparan menghampiri Yijin dan juga naga serta sang pheonix. Yijin terkesiap, ini kali pertamanya melihat seekor monster di tengah perbatasan wilayahnya dahulu ia hanya mendengar cerita mitos yang sering ibunya sampaikan namun kali ini ia benar-benar melihatnya secara langsung.


Harimau itu mendengus kemudian berjalan mendekat ke arah Yijin, wanita itu segera mengeluarkan pedangnya yang kini terlihat berkilauan. Bersiap untuk maju dan melawan monster harimau di depannya, seketika naga kecil itu berubah menjadi ukuran besar sepenuhnya. Yijin menaiki naga milik Bei dengan berani kemudian mengarahkan pedangnya untuk menunjukan arah menyerang ke arah harimau tersebut.

__ADS_1


"Nona, ini berbahaya. Kamu yakin?" tanya sang naga.


"Antarkan aku ke atas punggung harimau, aku yakin dia tahu lokasi tepat tulip emas itu!" seru Yijin.


"Kamu gila! Tiada satu orangpun yang pernah menundukan monster di wilayah ini. Bahkan, tidak ada yang pernah bisa kembali dari sini!"


Yijin mengerutkan alisnya. "Kenapa tidak ada yang menyampaikan ini padaku sebelumnya?"


"Tiada yang berani melawan ucapan kaisar!" jawab naga tersebut.


"Cih! Cepat bawa aku ke sana!" titah Yijin.


Namun sayang, Yijin berhasil terpelanting jauh dan punggungnya membentur pohon dengan keras. Harimau itu menggeram dan mendekati Yijin dengan penuh amarah, naga milik Bei segera melilit harimau itu dan menahannya kuat namun keadaan semakin kacau ketika ia tergigit dan ekornya hampir terkoyak habis.


Yijin menengadahkan tatapannya ke langit. Pheonix miliknya terbang dengan laju cepat dan memasuki tubuhnya, setelah phoenix masuk mata Yijin berubah kemerahan bak api berkobar. Ia mengalirkan energinya pada pedang yang sedang ia genggam. Satu kali tombakan ia lemparkan pedang tersebut ke arah kepala harimau.


Harimau tersebut langsung tergeletak di atas tanah, sedangkan Yijin masih dikuasai kekuatan pheonix sepenuhnya. Dia mendekatkan diri dan mencabut pedang yang tertancap di kepala harimau, memberikannya sebuah energi kemudian membuat harimau itu kembali terbangun. Yijin telah mengaktifkan roh obat yang ada di dalam tubuhnya, membuat monster itu tunduk dan kini bersimpuh di hadapan wanita itu. "Tunjukan padaku di mana tulip emas berada!"


Seketika harimau itu menurunkan kakinya, membiarkan Yijin menaiki punggungnya dengan aman. Mereka akhirnya bisa dengan cepat melaju dengan bantuan harimau, waktu sudah hampir larut. Di kamp militer, Bei terlihat begitu khawatir namun dia masih belum menerima sinyal bahaya dari naga miliknya. Sedangkan, Hu Yazhu sedang sibuk berdiskusi dengan Long Chen dan memintanya untuk mundur.

__ADS_1


"Aku harus pergi," ujar Bei. Dia segera meninggalkan kamp militer dan memasuki hutan terlarang. Walau dia tahu, kemungkinan kembalinya sangat kecil karena mantra pelindung hutan terlarang mencegah siapapun dan apapun yang berkekuatan dewa juga iblis untuk ke luar dari tempat itu.


Yijin akhirnya mencapai puncak bukit, di sana terdapat sebuah pohon di pinggir jurang dan terlihat bunga berwarna emas berkilauan. Namun di atas pohon itu juga terdapat ular besar yang melilit dengan erat. Seolah menghalangi siapapun untuk mengambil bahan alkemia terbaik itu. "Aku akan mengambilnya seorang diri!" Yijin turun dan mendekat dengan perlahan ke arah ular yang sedang tertidur tersebut.


Dia harus bisa menggunakan akalnya demi mendapat tulip emas itu, bagaimanapun ular itu tidak boleh terbangun dari tidurnya. Yijin merobek kain di pakaiannya kemudian melilitkannya di tangan untuk pegangan dan membiarkan sisanya bergelantungan. Wanita itu dengan cepat mengarahkan potongan kain tersebut untuk mengambil tulip emas di ujung jurang. Dengan perlahan Yijin bisa mendapatkannya dengan mudah, memang aneh namun hal itu menjadi kabar baik untuknya Yijin menarik ceapt tulip emas dan sepersekian detik bunga itu berada di tangannya.


Sebelum ular itu terbangun, Yijin mengendap-ngendap pergi. Di tengah perjalanan, Xin 'Er yang tidak lain adalah putri mahkota palsu terdahulu ternyata dialah yang menjadi permaisuri Long Chen dan yang menantang Yijin mencari bunga tulip emas. Yijin mengernyitkan alisnya dan tidak menyangka bahwa istri sahabatnya adalah seorang penipu yang dulu bekerja sama dengan ibu tirinya.


"Terimakasih karena kaisar telah membawakanku tulip emas itu. Apa kaisar tahu mengapa tidak pernah ada orang yang selamat setelah masuk ke hutan ini?" tanya Xin ’Er. "Itu semua karena tulip emas itu, tulip itu hanya dapat berfungsi beberapa waktu ke depan sampai matahari benar-benar tenggelam. Jika melewati batas, maka tulip emas akan dengan sendirinya layu dan menjadi sampah. Buruknya, ular yang melilit di atas sana akan terus mencium aroma dari orang yang mengambil tulip emas miliknya sehingga kemanapun kamu pergi selama masih di dalam hutan pasti tidak akan lolos dari kejaran ular itu ha-ha-ha." lanjut Xin ’Er.


"Kamu terlalu banyak bicara!" Yijin melompat dari harimau miliknya dan langsung mengibaskan pedang ke arah Xin ’Er. Wanita itu dengan cepat menggunakan ilmu sihirnya untuk membuat kabut asap hitam dan mengeluarkan ular ilusi untuk mengecoh Yijin.


Yijin menebaskan pedangnya ke tanah untuk membunuh ular ilusi. Di balik asap seorang pria muncul dan menyebarkan pil penghilang kabut dan menjatuhkannya ke tanah membuat ilusi itu kian lama kian menghilang dari pandangan Yijin.


"Wah, pasangan yang serasi. Ini tidak adil, kaisar tetap membawa pengawal ke dalam hutan tidak seperti perjanjian awal kita!" Xin ’Er menoleh ke arah Bei.


Yijin ikut melihat ke arah pria itu, dia mengerutkan alisnya dan merasa kesal. Kenapa pria itu selalu muncul di depannya, mencampuri urusannya seolah ia tidak bisa melawannya sendirian. "Ku kira kamu hanya mengirim nagamu dan tidak kamu yang mengikutiku!"


"Maafkan hamba, Kiasar. Hamba terpaksa karena merasa khawatir!" jawab Bei.

__ADS_1


Yijin memalingkan wajahnya dari Bei dan kembali fokus pada Xin ’Er. "Aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri! Kamu harus merasa terhormat!" cakap Yijin.


__ADS_2