
Keesokan harinya Ryu berjalan mengitari setiap sudut daerah Suku Tao, daerah ini disebut Lembah Gao de. lembah yang dikelilingi pohon yang menjulang tinggi yang berada di dalam hutan terlarang. Hutan terlarang sendiri memiliki luas yang begitu tidak biasa, hutan ini menyambung satu sama lain dengan beberapa gunung di wilayah luar kerajaan. Saat berkeliling, Ryu menatap lurus sebuah gunung di seberang danau yang terlihat seperti gerbang menuju alam lain.
"Bibi, aku tidak melihat ada satupun perahu disini untuk pergi ke danau dan ke seberang sana."
Bibi Tao tertawa kecil dan menatap Ryu. "Kami tidak perlu itu, kami bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk berjalan di atas air."
"Benar. Aku lupa, kalau begitu apakah bibi bersedia mengajari jurus meringankan tubuh ini?"
"Tentu saja, ini adalah hal yang sangat mudah. Fokuskan energimu pada titik tertentu. Kuncinya ada pada teknik pernapasan yang kamu miliki sehingga membuat titik energi di telapak kaki membantumu dalam menopang berat tubuhmu."
"Aku bisa memulainya sekarang?"
Bibi Tao mengangguk. "Tentu saja!"
"Aku sudah menguasai teknik pernapasan dengan tiga kali tarikan, aku hanya harus memfokuskan energiku ke bagian telapak kaki sehingga mampu membuatku melakukan jurus meringankan tubuh. Benarkan?"
"Benar, lakukanlah! Walaupun kamu gagal, aku akan membantumu."
Dalam sekali percobaan Ryu melakukannya dengan sangat baik tanpa hambatan apapun, Guru Tao yang baru muncul di sebelah Bibi Tao pun memuji kehebatan Sang Burung Pheonix mereka. "Dia bisa lebih dari sekedar berjalan di atas air. Jurus ini hanya akan dikuasai dalam beberapa detik saja untuk seseorang yang memiliki energi qi alami yang begitu kuat."
"Dia harus memulainya dari awal dan perlahan, walaupun ia bisa melampaui semuanya dengan cepat. Kita tetap harus mengajarkannya sedikit demi sedikit, setelah ini aku ingin kamu mengajarinya cara bertahan hidup dengan dasar alkimia."
"Aku akan memberinya pilihan, apakah dia ingin mempelajari obat atau racun terlebih dahulu."
"Aku bertaruh dia akan memilih obat," pungkas Bibi Tao.
__ADS_1
"Tidak ada yang tahu," Guru Tao berjalan mengejar Ryu ke atas danau.
Ia menoleh ke arah Ryu sembari tersenyum halus, siapapun akan terpesona pada wajah tampan Guru Tao, dengan rambut putih alami dan juga rahang yang membentuk sempurna membuat konsentrasi Ryu memudar. Satu pijakan salah dan Ryu terjatuh ke dalam danau. Guru Tao tertawa dan memerhatikan Ryu yang terjatuh dari atas permukaan air danau dan berdiri santai seperti tanpa beban.
"Guru, tolong aku terlebih dahulu! Airnya sangat dingin!"
"Peraturan pertama, jangan terdiktraksi hanya karena wajah tampan seorang pria."
Ryu mengerutkan alisnya. "Aku hanya terkejut kamu datang secara tiba-tiba. Lagipula, kita berbeda usia ratusan tahun aku tidak akan terkecoh dengan paras itu!"
Guru Tao menoleh dengan mata yang membulat penuh. "Wajah ini anugerah, hanya satu yang memilikinya yaitu aku."
"Guru, tolong bantulah aku terlebih dahulu. Aku bisa membeku!"
Guru Tao mendengus pelan kemudian meraih tangan Ryu dan membawanya ke gunung di seberang sungai. Ryu melihat gerbang aneh itu dari dekat, terdengar suara mengerikan dari dalam sana yang bahkan membuat bulu kuduknya berdiri. Suara teriakan minta tolong untuk kebebasan, bahkan ancaman dan amarah.
Guru Tao mengerti tanda yang Ryu berikan, ia menghentakan kakinya satu kali membuat gerbang bersisik yang awalnya memekar menjadi tertutup dengan rapat kembali. "Iblis, roh jahat terkurung disana. Ayahmu berusaha membangkitkan Raja Iblis untuk memperkuat takhtanya. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam sana, makhluk berbahaya yang memakan apapun yang ia lihat di hadapannya, sekalipun seorang kaisar!"
Ryu tertegun kemudian melihat ke arah gerbang tersebut, ia tidak boleh membiarkan ayahnya membangkitkan Raja Iblis yang mampu meluluh lantahkan seluruh benua.
...****************...
Lima belas hari telah berlalu, Ryu sudah melakukan meditasi yang ke lima belas. Alam spiritualnya sudah mencapai tingkat kedua atas dari empat tingkatan. Gadis itu kini tengah mempelajari ilmu alkimia bersama gurunya, Ryu memutuskan untuk mempelajari racun terlebih dahulu. Guru Tao sangat memuji pilihan Ryu, sebagai seorang alkimia mereka juga harus mampu menjaga diri mereka dari serangan orang lain. Dengan menguasai ilmu racun, mereka akan terbebas dari ancaman racun mematikan yang bisa kapan saja menyerang.
Ryu sedang berada di dalam ruang praktik pembuatan racun, kali ini ia akan membuat racun serangga yang dibuat dari ekstrak beberapa hewan beracun seperti kalajengking, kelabang dan binatang kecil yang beracun lainnya. Ia begitu hati-hati, sampai saat tangannya tidak sengaja menyentuh sedikit ekstrak racun serangga tersebut. Badannya menjadi begitu lemas, seketika Guru Tao yang baru saja kembali melihat Ryu sudah dalam keadaan membiru wajahnya.
__ADS_1
"Putri Yijin!"
Tidak pikir panjang, Guru Tao langsung membawa Ryu menuju pemandian khusus untuk mengeluarkan racun. Guru Tao merendam seluruh tubuh Ryu dibantu oleh bibinya, ia meneteskan beberapa obat penawar yang bisa kembali memulihkan kesehatan gadis itu.
Setelah cukup lama berendam, Guru Tao masih setia di sampingnya dengan menghangatkan air di dalam bak mandi yang Ryu gunakan. Air tersebut lambat laun berubah warna menjadi kebiruan menandakan racun di tubuh Ryu telah keluar sempurna. Ryu membuka matanya dan mendapati dirinya bertelanjang tubuh di dalam bak mandi. Ia menoleh ke arah Guru Tao yang beraut datar dan masih fokus memanaskan bak mandi.
"Guru, malam kemarin aku tidak sengaja membaca catatanmu bahwa untuk menjadi tahan terhadap suatu racun kita harus terkena racun itu sendiri."
"Kamu sengaja melakukannya karena tahu aku bisa menolongmu?" Guru Tao mengerutkan alisnya.
"Benar, bukankah sekarang aku jadi lebih tahan terhadap racun serangga mematikan yang kubuat?"
"Benar, kamu begitu berani untuk mencapai sesuatu kamu rela mengorbankan dirimu sendiri. Itu tidak akan berarti jika aku tidak ada di sampingmu, kamu ceroboh dan bisa mati kapan saja. Jangan melakukan hal berbahaya lagi tanpa sepengetahuanku. Apa kamu mengerti muridku?"
"Aku mengerti!" Ryu mengangguk beberapa kali. Tidak lama datang seorang pria dengan berlari begitu tergesa-gesa dan memanggil nama Guru Tao dari luar pemandian.
"Guru, perlindungan Lembah Gao De sedang diserang! Tolong guru lihat terlebih dahulu!"
Ryu menatap Guru Tao yang langsung bangkit dan keluar dari pemandian. Ia juga ikut beranjak dan mengenakan kain untuk menutupi tubuhnya, Ryu meraih pakaiannya dan segera memasangnya dengan benar kemudian keluar mengikuti Guru Tao yang tergesa-gesa.
"Ayahmu mulai menyerang perbatasan, jika terus menerus seperti ini pasti dapat di pecahkan." pungkas Sang Bibi.
"Aku akan menyerahkan diri, aku akan membuat perjanjian dengannya dan memohon untuk tidak menghancurkan Suku Tao," jawab Ryu dengan tegas.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
Ryu mengangguk penuh keyakinan.