
Keesokan paginya, Wen Yijin sudah bersiap menghadiri jamuan teh yang di gelar di taman istana. Awalnya jamuan ini hanya diperuntukan bagi Pangeran Long Chen juga adiknya. Tapi, untuk menjauhkan diri dari masalah kesenggangan sosial akhirnya Yijin membuat acara ini untuk semua perwakilan kerajaan yang hadir. Setelahnya, ia baru akan berbincang dengan Pangeran Long dan adiknya secara pribadi.
Wen Yijin memakai balutan hanfu berwarna ungu dengan hiasan kepala yang cantik. Tidak lupa ia memakai jepit rambut miliknya. Hadiah dari berbagai kerajaan yang merupakan batu-batu alam berharga akan dijadikan permata ke dalam semua perhiasan yang dibuat untuk Ratu Yijin. Ia berjalan beriringan dengan Penasihat Bei, mereka satu sama lain terlihat begitu canggung setelah kejadian semalam. Hu Yazhu yang hendak berangkat melatih para prajurit baru dari Suku Tao pun memberi hormat pada Yijin.
"Selamat pagi, Yang Mulia."
"Selamat pagi, Jenderal Agung." Yijin tersenyum, begitu melihat Hu Yazhu ia langsung tersadar akan kalung ruby yang dulu pernah pria itu pinjamkan. "Pelayan, tolong ambilkan kalung peninggalan keluarga Hu dan bawa padaku."
"Baik, Yang mulia."
"Yang Mulia, kalung itu tidak perlu diberikan lagi pada hamba. Anggap saja sebagai hadiah atas penobatan Yang Mulia."
"Jenderal Hu, bagaimanapun itu adalah kalung peninggalan ibumu aku tidak bisa menerimanya begitu saja."
"Tidak perlu khawatir, asal Yang Mulia memilih hamba sebagai suami, kalung itu akan menjadi milikmu seutuhnya."
Mata Yijin berbinar, ia tidak mengira bahwa Hu Yazhu akan melamarmya dengan benda itu. Tapi, lamaran macam apa yang Hu Yazhu lakukan saat ini? Rasanya begitu kaku dan sangat formal. "Bicarakan ini denganku di paviliun lama."
Penasihat Bei tahu bahwa hati Yijin sebenarnya milik Hu Yazhu, namun wanita itu memang enggan mengakui hanya karena statusnya yang sebagai Kaisar Wanita. Yijin sendiri punya rencana dan pikiran sendiri, bahwa ia harus memiliki keturunan yang terlahir dari campuran darah Suku Tao dengan begitu, ia tidak akan memutus keturunan yang telah ibunya lakukan. Juga, Suku Tao terkenal dengan ilmunya yang sangat tinggi. Apabila ia berhasil melahirkan anak dari Penasihat Bei maka kemungkinan besar ia akan melahirkan seorang anak berkekuatan tinggi yang pantas dijadikan penerus takhtanya kelak.
"Baik, Yang Mulia."
Wen Yijin dan Penasihat Bei bergabung di jamuan teh. Terlihat semua orang sudah berkumpul kemudian memberikan salam dan hormat mereka pada Ratu baru Kerajaan Wen. Acara berlangsung dengan lancar, setelah semua orang hampir pergi dan hanya tersisa Pangeran Long juga Putri Long dan Penasihat Bei. Yijin langsung menanyakan perihal yang ingin dibicarakan oleh Pangeran Long Chen.
__ADS_1
"Yang Mulia, senang sekali bertemu denganmu. Penilaian adikku tidak pernah salah, Ryu Ito terdahulu memanglah Yang Mulia."
"Aku juga begitu kagum atas insting yang dimiliki Putri Long, ia bisa langsung tahu hanya dalam satu kali melihat." Yijin tersenyum hangat ke arah Putri Long.
"Yang Mulia, apakah kamu masih ingat mengenai perjodohan kita sewaktu kecil? Aku dengar, Yang Mulia sedang mencari calon suami untuk mendampingimu mengurus kekaisaran. Aku dari Kerajaan Long akan mendaftarkan diri menjadi kandidat suami Yang Mulia."
Yijin mengangguk kemudian menoleh ke arah Penasihat Bei. "Tentu saja, penasihat sudah ada berapa kandidat yang telah melamar?"
"Sekitar lima orang, jika Pangeran Long bersedia maka ia akan menjadi yang ke enam."
Yijin pun mengangguk. "Baiklah," ucapnya.
Sayangnya, pikirannya malah sedang tidak fokus. Ia hanya ingin segera melihat dan bertemu Hu Yazhu untuk mendengar niat pria itu secara langsung padanya. Yijin mengakhiri perjamuan tehnya bersama Pangeran Long juga adiknya. Kini, ia dan penasihat sedang berjalan menuju tempat belajar istana, dimana disana terdapat segudang buku yang wajib dipelajari oleh Yijin selaku Kaisar baru negara mereka.
Dan lagi, aku tahu maksudmu memintaku untuk mendaftar sebagai calon suami. Aku sudah memikirkannya semalaman, bukan karena aku tidak ingin hanya saja hal itu tidak bisa aku lakukan. Lagipula, tujuanmu untuk mendapatkan keturunan pertama dari pria yang berasal dari Suku Tao akan sia-sia saat menikahiku.
Aku sudah lama meminum teh pemandul, sehingga akan membutuhkan waktu yang cukup lama bagiku memastikan bahwa aku masih bisa mempunyai keturunan."
Tatapan Yijin membulat, ia tidak menyangka bahwa Bei Ming mengetahui rencananya. Ia juga tidak tahu bahwa pemuda itu ternyata sudah meminum teh pemandul yang tentunya akan sulit untuk mendapatkan keturunan. Yijin tidak akan memaksanya lagi, mungkin keinginannya untuk mempunyai keturunan yang berasal dari suku asli ibunya harus ia kubur dalam.
"Penasihat Bei, kalau begitu aku tidak akan memintamu untuk mendaftarkan diri menjadi calon suamiku lagi. Aku merasa bersalah karena telah melakukan perbuatan tercela padamu semalam."
"Yang Mulia tidak perlu meminta maaf. Selagi Yang Mulia yang meminta, aku tentu tidak bisa menolak. Melayani Yang Mulia berarti mendapatkan anugerah."
__ADS_1
Yijin tersenyum kemudian memberi hormat pada Penasihat Bei yang tidak lain adalah gurunya. "Mohon bantuan guru untuk memilih calon suami terbaik untukku. Demi kelangsungan dan kejayaan kerajaan juga rakyat kita."
"Tentu saja, beberapa kandidat nantinya akan berada di dalam Istana Harem setelah kamu menerima informasi mengenai mereka. Kamu bisa melakukan pendekatan pada mereka terlebih dahulu."
Setelah berbincang dengan Penasihat Bei, Yijin belajar sampai matahari hampir tenggelam. Setelahnya, ia menghadiri pertemuan untuk membicarakan masalah politik dengan para menteri. Setiap menteri pun sudah menyiapkan satu calon untuk diajukan menjadi calon suami ratu mereka. Ditengah keributan yang menggema, Yijin duduk dengan begitu berwibawa di atas singgasana. Di sampingnya ada Penasihat Bei yang berdiri setia untuk melindungi.
"Yang Mulia, karena kerajaan tidak bisa terus begini dan para musuh sudah mendengar kabar bahwa kekuataan negara kita sudah sangat menurun setelah meninggalnya Kaisar Wen Lei. Aku khawatir mereka tidak akan segan lagi menyerang negara kita.
Maka dari itu, aku mengusulkan agar Yang Mulia segera mengangkat suami dan para selir untuk memperkuat kekaisaran!" ucap Menteri Pertahanan Negara.
"Menteri Pertahanan! Yang Mulia sedang mengusahakannya semaksimal mungkin, bahkan ia tidak mengambil waktu istirahat setelah meninggalnya Raja Wen Lei. Mohon kalian bersabar dan memberi waktu Yang Mulia untuk memilih suaminya dengan baik.
Jika kalian takut diserang secara tiba-tiba, kenapa kalian tidak memperkuat sistem pertahanan terlebih dahulu alih-alih meminta Yang Mulia menikah dengan mencari dan bergantung pada bantuan kerajaan lain?" Penasihat Bei menjawab dengan menohok permintaan Menteri Pertahanan soal pernikahan Yijin.
Dalam hatinya Yijin begitu bahagia karena mendapatkan pria yang begitu bisa diandalkan seperti gurunya. "Penasihat Bei benar, Jenderal Agung Hu sedang menyelidiki kasus korupsi yang masih merajalela diantara para pejabat kerajaan. Masih ada waktu untuk menentukan kandidat yang cocok untukku, aku tidak ingin mengambil kandidat selir dari kalangan yang tidak baik."
"Jadi Yang Mulia meragukan kesetiaan kami selama ini dan menganggap anak yang kami bawa untuk dijadikan calon suamimu tidak baik?"
Berdiri bak provokator menteri pertahanan membuat semua orang merasa kesal terhadap Ratu mereka. Seolah semuanya setuju akan pernyataan yang ditanyakan oleh pria paruh baya itu. Wen Yijin berdiri dengan raut wajah datar, hanya karena ia seorang wanita bukan berarti ia bisa diremehkan.
Penobatan seorang wanita menjadi Kaisar memanglah yang pertama di Benua Daehan sehingga menimbulkan kekhawatiran yang cukup besar bagi para menteri dan rakyat. Apalagi, jika hal ini digunakan musuh untuk memprovokasi rakyat tentunya posisi Yijin tidaklah aman.
Tapi, dengan adanya bantuan Suku Tao, Jenderal Agung Hu Yazhu serta saudagar kaya Huo Sijue yang kini menjabat sebagai pejabat persenjataan membuat Yijin merasa tenang. "Aku sudahi pertemuan kita kali ini, seperti yang kalian minta aku pasti akan segera memilih suami dengan baik."
__ADS_1