LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 29 - Kehidupan sebelumnya


__ADS_3

Bagaikan petir di siang hari, Hu Yazhu termenung setelah mendengar pengakuan tidak berdasar dari Ryu Ito. Sedangkan, gadis itu hanya bisa bicara apa adanya dan reaksi apapun yang kelak ditunjukan Hu Yazhu tidak akan dia permasalahkan. Hu Yazhu menunduk kemudian terarah pada Ryu dengan kerutan di dahi. "Apa kamu ingin mengatakan bahwa kamu adalah anak Permaisuri dari pria lain?"


"Aku-" ucapan Ryu terhenti dia mendengus pelan dan menyerahkan semua pemikirani tu pada Hu Yazhu, dia agak kecewa karena sahabat bodohnya itu tidak dapat mengenalinya sama sekali. "Terserah padamu saja, berjalanlah sendiri berkeliling! Jika lelah maka istirahat! Aku masih ada urusan."


Ryu meninggalkan Hu Yazhu dengan kekesalan mendalam, bagaimana tidak sahabatnya yang ia kenal sejak kecil bahkan tidak mengenalinya sedikitpun. Mengingat hari sudah malam, ia jadi memikirkan Huo Sijue, pria itu akan menyusul Ryu jika sampai pagi tidak ada kabar lain dari dirinya. Ryu pergi ke kamar dan menemui bibinya selaku Kepala Suku Tao sekarang. Dia mengetuk pintu secara perlahan dan masuk kemudian mendapati bibinya tersenyum dengan sangat ramah padanya.


"Panjang umur Putri! Aku baru saja hendak mengajakmu berlatih untuk menyempurnakan ilmu spiritualmu."


Ryu tersenyum halus. "Apa ini semacam ilmu warisan?"


"Benar! Tapi sebelum itu kamu harus mengaktifkannya dengan cara bermeditasi dan berpantang terhadap makanan, harus dilakukan selama empat puluh hari empat puluh malam. Untuk sekarang Bibi akan menunjukan padamu mengapa kamu harus melakukannya!" Bibi Suku Tao terdiam kemudian mendekat dan menyentuh lembut pundak Ryu Ito. "Di dunia ini ada kekuatan yang bisa mencapai keabadian. Menurut Putri, apa kamu tertarik mengenai keabadian yang aku maksud?"


Ryu terdiam dia bahkan tidak semendalam itu mempelajari ilmu spiritualnya. "Aku tidak ingin mencapai keabadian. Aku hanya ingin meneruskan amanah yang diberikan ayahku nantinya."


Bibinya tersenyum lembut. "Kamu memang gadis yang baik, tapi untuk melawan Roh Raja Iblis setidaknya kamu harus meningkatkan ilmu spiritualmu dan itu tidak akan mudah didapat."


"Saat aku terlahir kembali, aku hanya terfokus pada tujuan balas dendamku terhadap Selir Fan Hai dan juga putrinya."


"Kelahiranmu juga menandakan bahwa kelak Roh Iblis yang kami kunci ratusan tahun ini akan dipaksa bebas demi mencapai keserakahan manusia. Bukankah Putri Yijin sudah melihat bahwa tidak sedikit orang-orang yang kini mengandalkan iblis untuk membantu memuaskan nafsu mereka? Kekuasaan, jabatan, pangkat, harta, mereka tidak segan menumbalkan jiwa putra mereka istri mereka dan menukarnya dengan harta yang tidak seberapa.


Aku akan menunjukan kehidupanmu yang sebelumnya setelah kematian yang kamu alami!"


Ryu mengangguk dan mengikuti bibinya ke arah rumpun bambu yang membentuk suatu lingkaran, di dalamnya terdapat air terjun kecil dan kolam ikan. Ryu berdiri melihat kesekeliling, udara di dalam lingkaran tersebut begitu stabil dan tenang. "Ini tempat meditasi ibumu!"


Ryu duduk mengikuti bibinya dan bersila, ia menghela napas panjang dan menenangkan tubuhnya agar seluruh energi Qi nya dapat mengalir dengan sempurna. Dia beberapa kali mengambil napas dan membuangnya perlahan. Sang Bibi mengatur posisi tangan di depan dadanya kemudian membuat arah memutar seperti mengeluarkan energi bercahaya biru yang tidak lain adalah aura penenang jiwa.

__ADS_1


Aura itu akan digunakan untuk melihat kehidupan Ryu sebelumnya. Setelah telapak tangan Sang Bibi menyentuh lembit punggungnya jiwa Ryu berhasil terbangun di sebuah tempat berasap. Dia berjalan terus dengan mengandalkan perasaannya yang kuat. Seketika semburan awan panas dan juga api membakar seluruh lautan manusia di depannya.


"Tolong! Tolong!"


Seruan minta tolong terdengar dari arah kanan Ryu, kemudian ia berlari mencari sumber suara. Dia melihat anak laki-laki kecil yang tersesat di dalam kerumunan orang yang berlarian menghindari api yang panas. "Dimana ibumu?"


Ryu hanyalah jiwa yang melihat kembali kehidupan sebelumnya maka dari itu dia tidak bisa menolong siapapun yang terlihat di sana. Yang bisa dilakukan hanyalah mencegah hal itu terjadi dikehidupannya kali ini. Ryu melihat api yang membentuk Raja Iblis, api itu berdiri dan tidak segan menginjak pemukiman sampai habis terbakar. Tidak ada lagi yang menghentikan mereka untuk berbuat kehancuran, bahkan manusia yang ikut andil membangkitkan Raja Iblis tidak luput dari kematian yang dibawa oleh Raja Iblis.



"Tidak... TIDAK!" Ryu mengerjap dan napasnya berderu cepat, ia membuka matanya dan keringatnya bercucuran.


"Seperti itulah jika tidak ada yang menghalangi Raja Iblis lagi. Kamu minum dulu!" Bibinya menyerahkan segelas air putih untuk menenangkan Ryu Ito.


"Sangat mengerikan, maka dari itu kami menyerahkan semua ini padamu. Kamu adalah harapan terakhir umat manusia, jika kamu bisa mencegah sebelum Raja Iblis itu bangkit maka kamu akan menghindari kekacauan yang terjadi dikehidupan sebelumnya!


Menurut Guru Tao, hari ini adalah waktunya kamu menunjukan siapa kamu sebenarnya!"


Ryu mengangguk. "Aku siap!"


"Sebelum itu, ambil kepercayaan Panglimamu terlebih dahulu. Akan sulit membuat ayahmu percaya jika pria itu tidak percaya."


Ryu mengangguk kemudian berpamitan dan memberi hormat. Dia mencari Hu Yazhu yang kini tengah beristirahat di ruang perawatan Guru Tao. Ryu berjalan masuk menerobos tanpa permisi melihat Hu Yazhu sedang dibalurkan dedaunan penyembuh untuk luka racunnya. "Permisi Guru, beri aku waktu sebentar berbincang dengan Panglima Hu dan biarkan aku yang mengobatinya!"


"Tentu, silahkan!"

__ADS_1


Ryu berjalan mendekat setelah Guru Tao pergi dari sana. Ia membalut luka Hu Yazhu dengan perlahan. "Kamu pernah bertanya mengenai titik meridianku yang rusak. Aku akan memberitahumu sekarang!"


"Delapan tahun yang lalu, aku mengalami kecelakaan dan terjatuh ke dalam jurang di Gunung Nir. Kakek Asahi datang menolongku, memberiku identitas baru sebagai Ryu Ito, cucunya."


Hu Yazhu menatap Ryu dengan dalam dan menyimak segala ucapan yang keluar dari mulut wanita di hadapannya.


"Lukisan yang kamu lihat di altar memang milik ibuku, aku adalah Putrinya." Ryu menghela napas panjang.


"Namaku adalah Yijin. Hu Yazhu! Kamu sahabat kecilku apa kamu benar lupa dengan wajah ini? Sungguh keterlaluan, aku begitu kecewa ketika mendengarmu tidak percaya padaku."


Mata Hu Yazhu membulat, kecurigaannya selama ini memang benar. Perasaannya yang selalu mengatakan bahwa wajah itu begitu familiar baginya ternyata adalah sungguhan. Dia merasa begitu bersalah setelah berbagai ucapannya yang mungkin menyakiti hati Yijin kesayangannya. "Yijin?"


"Sahabatku yang bodoh tetap bodoh. Sehebat apapun kamu di medan perang kamu masih belum bisa memahami wanita. Jika Pangeran Long yang bersamaku setiap hari, dia pasti sudah mengetahui identitasku. Tapi untunglah kamu yang bodoh yang memintaku datang ke Istana untuk membantu ayah!" Ryu tersenyum halus dan masih berdiri di depan Hu Yazhu.


"Maafkan aku!" Hu Yazhu menunduk, setelah menyadari kemiripan itu dan bahkan tanda di belakang telinga yang ia ingat membuat satu persatu teka-tekinya tersusun sempurna. Wanita yang selama ini dia cari kini benar-benar berdiri di depannya dan belum mati. "Aku begitu bodoh, karena tidak mengenalimu. Semua ucapan menyakitkanku, tindakanku yang ceroboh aku sungguh merasa bersalah padamu." Hu Yazhu menengadah dan menatap Ryu yang ada di depannya.


Ryu yang sudah selesai membalut luka Hu Yazhu kemudian mendengus pelan. "Jepit rambut yang kamu lihat waktu itu, bukankah kamu tahu itu adalah kesayanganku sejak kecil?"


"Kamu benar!" jawab Panglima Hu.


"Itu adalah bukti bahwa aku orang yang kamu cari selama ini Hu Yazhu!"


Hu Yazhu begitu bahagia sampai ia tidak tahu harus bagaimana. Pria itu menarik lembut tengkuk leher Ryu dan mencium bibir gadis itu. Air matanya yang mengalir ikut membahasahi pipi Ryu Ito. Ryu begitu terkejut sampai tidak bisa menutup matanya saat bibir Hu Yazhu menyentuh miliknya.


Tapi, rasa rindu yang Hu Yazhu luapkan dapat ia terima. Hu Yazhu melingkarkan tangannya pada pinggang Ryu dan mendekapnya erat..

__ADS_1


__ADS_2