LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Epsiode 26 - Kembali ke kedai


__ADS_3

Perjalanan Hu Yazhu dalam mengejar penyusup secara diam-diam bisa dibilang begitu menegangkan, setelah diselidiki rupanya di ujung Barat Hutan Kerajaan para penyusup itu sudah membuat markas pribadi. Entah dari bantuan siapa Hu Yazhu belum menemukan petunjuk, gerbang ke luar Hutan yang selama ini dijaga oleh Jenderal Ping masih berdiri kokoh. Jika bukan karena orang dalam yang menyusupkan mereka, mustahil bisa masuk begitu saja.


Saat paling mencekam ketika orang-orang disana melakukan ritual persembahan dengan mengorbankan anak kecil yang hampir di sembelih di depan sekumpulan orang. Dengan cepat Hu Yazhu dan para prajurit mengepung mereka, walau jumlah prajurit Hu Yazhu kurang banyak dan terlampau sedikit namun ia tetap optimis untuk membantai semua para pengikut sekte aliran sesat tersebut.


Saat diambang kekhawatiran Hu Yazhu langsung memprioritaskan diri untuk menyelamatkan anak kecil yang sedang menjadi tawanan, gerakan Hu Yazhu yang lincah dan jurus pedang yang dia mainkan untuk menebas kepala orang-orang itu begitu menawan.


Setelah jamuan makan malam selesai, Ryu langsung mengemas barang-barangnya bersama para pelayan yang ia miliki untuk dibawa pulang. "Nona Ryu, aku sudah menyiapkan semua pakaian!"


"Pelayan Hu, tidak perlu membawa semua barang dari Paviliun ke rumah. Lagipula kedai kakekku begitu sempit, sudah pasti tidak akan muat barang sebanyak ini.


Belum lagi, buah tangan yang dipaksa untuk dibawa ini. Kereta kuda Pangeran Long mungkin akan langsung bobrok!"


"Nona Ryu tenang saja, kereta kuda Kerajaan Long tidak akan sebobrok milik Panglima Hu." Long Chen muncul secara tiba-tiba berdiri di samping Ryu, seperti pemeran utama dalam komik ia bahkan tidak terdengar desas-desusnya saat mendekat ke arah Ryu Ito.


"Pangeran Long, jangan menjelekan seseorang saat ia tidak ada disini. Bagaimanapun aku adalah calon istrinya, aku bisa memukulmu untuk mewakilkannya!" Ryu mengangkat alisnya memberi peringatan ringan pada Long Chen, walau dia tidak bersungguh-sungguh tapi dia juga tidak main-main. Melihat Hu Yazhu masih belum pulang sampai sekarang membuatnya khawatir akan keselamatan pria itu. Ryu pikir seharusnya ia tidak meminta Panglima Hu untuk memeriksa para bedebah yang ia ikat di hutan itu.


Setelah semuanya selesai dan Ryu akhirnya siap berangkat bersama Pangeran Long, ia duduk bersebelahan dengan pemuda itu. Rasa canggung yang mencekam bagai mencekik leher Ryu membuatnya tidak nyaman apalagi Long Chen yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya dari dirinya membuat ia semakin salah tingkah.


"Alihkan pandanganmu dariku!" Ryu mendelik ke arah Long Chen dengan sinis, kedua tangannya terlipat di depan dada sembari bersandar ke bahu kereta kuda.

__ADS_1


Long Chen hanya bisa menyeringai namun tidak mengalihkan pandangannya, ia dengan sengaja mendekat ke arah Ryu kemudian memalingkan wajah Ryu agar menatapnya. "Kamu semakin terlihat cantik saat marah, walau kamu sudah diketahui sebagai calon istri Panglima Hu, aku tetap tidak akan menyerah!"


"Apa kamu punya trauma atau semacamnya? Apa kamu seorang maniak?" Ryu menggeleng pelan kemudian menjauhkan pandangannya dari Long Chen.


"Aku kehilangan calon istriku saat berusia delapan tahun. Jika kini ia ada aku tidak mungkin akan menjadi pria setengah gila seperti ini."


Ryu tertegun. "Calon Istri?" kemungkinan besar pikiran mereka berdua sama, yang dimaksud calon istri oleh Long Chen adalah Ryu atau Yijin sendiri.


"Dia adalah kandidat terbaik dari yang terbaik, dia bahkan menangis tiga hari tiga malam ketika rencana perjodohan kami diumumkan."


Ryu mendelik namun langsung menghindari pandangan Long Chen. "Sebegitu senangnya ia sampai menangis tiga hari tiga malam? Cih, apa yang dia banggakan?"


"Jika ia tidak mau, apa kamu masih ingin memaksanya menjadi istrimu?"


"Aku ingin memilikinya, toh pada akhirnya dia akan menikah juga jadi daripada membiarkannya bersama orang lain lebih baik aku tetap kukuh mempertahankan rencana perjodohan kami!"


Ryu tahu yang Long Chen maksud, kesedihan yang begitu mendalam ia rasakan dari setiap raut wajah Long Chen yang tergurat halus. Melihat kelemahan pria yang selalu bersikap tangguh ini membuat hatinya sedikit sakit, pasti banyak hal yang Long Chen lalui saat dirinya menghilang. Mengingat, setiap kali ada masalah pria di hadapannya ini selalu berlari dan menceritakan segala hal padanya. Ia bukanlah pria yang gampang terbuka pada orang lain namun pada Yijin ia menjadi sosok yang berbeda.


"Terkadang aku seperti merasa dirimu begitu familiar dengannya!" Long Chen meraih lembut wajah Ryu Ito dan mendekatkan wajahnya pada Ryu, ia mengusap halus bibir lembut Ryu. Pipinya sudah begitu merona, tak terkecuali pada Ryu ia merasakan hal yang sama dengan Long Chen.

__ADS_1


Namun ia sadar, saat bayangan Hu Yazhu datang ke pikirannya ia segera mendorong Long Chen hingga menjauh darinya. "Pangeran, sebentar lagi sampai. Jangan membuang-buang waktu disini lebih baik kamu pulang segera setelah aku menurunkan barang bawaanku!"


Long Chen tersenyum halus, ia merapikan pakaiannya kemudian kembali duduk dengan tegap. Ia berdeham pelan lalu mengangguk dan tanpa mengatakan hal apapun lagi. Sesampainya di depan kedai Kakek Asahi, Long Chen membantu Ryu turun dari kereta kuda. Ketiga pelayan Ryu juga ikut turun dan mengeluarkan semua barang bawaan dari kereta kuda lainnya.


Ryu disambut hangat oleh Kakek Asahi, Huo Sijue dan Akira. Saat melihat Ryu, Huo Sijue begitu bergembira bahkan matanya berbinar mengeluarkan bintang-bintang. Ryu dengan riang memeluk Kakeknya dan Akira menanyakan kabar mereka setelah terakhir kali ia meninggalkan mereka dalam keadaan yang tidak baik. Namun mengingat hal itu adalah bagian dari rencana kakeknya, Ryu tidak akan berhenti mencecar sejumlah pertanyaan pada pria tua itu malam ini.


"Kamu tidak memelukku?"


"Sijue!" Ryu berjalan mendekat dan mendekap pria itu dengan erat, untung saja pria itu masih hidup. Ryu kira setelah ia dicurigai oleh Hu Yazhu terkait dengan pemberontakan Suku Aera, Huo Sijue akan menjadi korban kekejaman Hu Yazhu tapi syukurlah itu tidak terjadi.


"Nona Ryu," kata Pangeran Long Chen yang bersiap untuk pergi dari sana.


"Hati-hati di jalan Pangeran!"


Kakek Asahi mendekat dan menjabat tangan Pangeran Long. "Senang bertemu dengan Pangeran lagi," ucapnya.


Pangeran Long terlihat berusaha mengingat wajah Kakek Asahi, setelah ia ingat jelas dia baru sadar jika Kakek Asahi adalah orang yang dulu pernah mengobati penyakit cacarnya dengan sebuah ramuan obat sederhana. Long Chen segera menjabat tangan Kakek Asahi dan memberinya hormat.


"Tabib tinggal disini, apakah Nona Ryu adalah cucumu?"

__ADS_1


Kakek Asahi mengangguk pelan. "Benar, dia adalah cucu pertamaku." Namun seingat Long Chen, satu-satunya cucu yang dia bawa ketika mengobatinya sakit adalah gadis kecil berusia tiga tahunan dan jelas itu bukanlah Ryu Ito.


__ADS_2