
Angin bersemilir lembut melintas diantara dua orang yang sedang berjalan di taman. Menurut Ryu, angin di Istana memang jauh berbeda dari tempat lain. Mungkin saja, karena tempat ini adalah tempat yang istimewa. Ryu berjalan beriringan dengan Hu Yazhu yang sedang memegang tali kendali kudanya. Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Seolah, kesunyian malam dan suara dedaunan yang saling bersentuhan terdengar lebih menyenangkan ketimbang obrolan kaku pasangan ini.
"Panglima!" Ryu sangat ragu untuk memulai percakapan dengan pria di sampingnya, dia sampai berkali-kali menoleh ke arah lain hanya untuk melepaskan kegugupannya.
"Hm," Hu Yazhu menoleh ke arah Ryu sembari menaikan kedua alisnya. Ryu tidak bisa menghindari dirinya untuk tertawa, melihat mimik wajah Hu Yazhu yang lucu seperti itu membuat dia ingin sekali menggodanya.
"Ada apa? Kamu menertawakanku?"
"Terimakasih panglima! Atas bantuanmu.." Ryu kembali menatap jalanan beralaskan batu bata di depannya. "Dan maaf, aku tidak bermaksud mentertawakanmu! Tapi, wajahmu memang terlihat lucu."
"Tapi, ada satu hal yang membuatku terheran. Kenapa kalung milik keluargamu bisa sama persis dengan milik Putri Jia. Perbedaannya hanya terlihat dibagian ukurannya saja. Jika kamu tidak ikut bicara, pasti aku sudah mati karena dianggap mencuri kalung itu!"
"Jangan berbicara sembarangan. Istana bukanlah temapt yang aman, bahkan jika dinding Istana bisa berbicara mereka akan menjadi ahli mata-mata. Jadi, berhati-hatilah!" pungkas Hu Yazhu.
"Lalu, pakai saja kalung itu selagi di Istana, aku akan meminjamkannya sampai tugasmu selesai. Dengan itu, kamu juga akan aman." lanjut Hu Yazhu yang masih memegang tali kendali kuda yang berwarna cokelat tua nan gagah.
"Kamu benar. Istana adalah tempat yang paling tidak aman. Tapi, sekali lagi terimakasih atas bantuanmu!"
Bangsal tempat Ryu tinggal sudah terlihat di depan mata. Hu Yazhu akan memeriksa keadaan di dalam sebelum membiarkan Ryu masuk. Bagaimanapun, dia harus selalu menjaga keamanan Ryu di Istana. Dia mengemban tanggung jawab pada kakek Asahi. Jadi, apabila dia lengah dan Ryu terluka dia pasti akan merasa sangat bersalah dan bersalah. "Tunggulah disini nona Ryu, aku harus memeriksa keadaan di dalam!"
__ADS_1
"Tidak perlu Hu Yazhu!" Ryu memotong.
"Maksudku, kamu tidak perlu merepotkan dirimu sendiri untuk itu. Aku yakin, tidak akan ada apapun di dalam sana." Ryu bodoh teringat, bahwa dirinya menyimpan jepit rambut pheonix sembarang. Sehingga, dia tidak ingin hal itu diketahui oleh Hu Yazhu. Lagipula, Ryu seorang samurai. Dia dilatih secara khusus oleh kakek Asahi untuk memainkan pedangnya.
Segala gerakan meliuk bisa dia kuasai, bahkan liukan ular membentang di tanah rasanya dapat dia kuasai juga.
"Baiklah, sampai jumpa!"
Ryu mengangguk, wanita itu tidak perlu menunggu Hu Yazhu menghilang dari pandangannya karena kini ia sudah membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalam. Ryu menghela napas panjang, dia menyeringai bahagia karena telah berhasil membuat adik tirinya Jia dipermalukan karena ulahnya sendiri. "Senjata makan tuan!" gumam Ryu.
Dia membuka balutan hanfu yang masih menyelimuti dirinya, menyisakan kain putih tanpa lengan. Ryu segera berjalan menuju pemandian khusus miliknya dan berendam di bawah air dengan lautan mawar yang sudah disediakan pelayan.
Musim sudah hampir berganti, tidak lama lagi akan muncul serpihan salju yang akan membasahi bumi. Anggap saja ini adalah tahun ke lima sejak tragedi masa lalunya. Ryu bersyukur sangat bersyukur, diberi satu kesempatan untuk mengulang kembali hidupnya. Dengan ingatan ini, dia akan mempersiapkan dengan matang segala hal yang dia gagal lakukan waktu itu.
Misi selanjutnya, adalah tentang menendang juru masak culas yang meracuni raja Wen Lei.
Setelah berendam, Ryu beranjak dari pemandian dan segera masuk ke dalam kamar. Dia tidak lupa untuk menyisir rambut panjangnya yang dibiarkan terurai ke belakang. Kemudian memakai pakaian tidur nyaman dan istirahat dengan nyaman di sebuah alas empuk yang terhampar di lantai.
Suara ketukan beberapa kali terdengar, kali ini siapa lagi yang sekiranya mendatangi Ryu di malam hari seperti ini. Wanita ini dengan mendengus kasar menyibakan selimut berwarna oranyenya ke samping. "Tidur aman dan nyaman di Istana adalah kemustahilan!" gumam wanita itu sembari berjalan mendekati pintu.
__ADS_1
Setelah terlihat penampakan di depannya, Ryu Ito melempar tatapan dingin. Dia sudah mengira, pasti gadis di depannya adalah suruhan Selir Fan Hai ataupun Jia. Namun, pemikirannya ternyata salah, gadis dengan satu kepangan kebelakang juga baju berwarna cokelat tua ini rupanya suruhan Hu Yazhu.
"Aku pelayan khusus yang di kirim oleh panglima perang Hu Yazhu. Untuk menemani nona Ryu bermalam selama beberapa hari."
Ryu menghembuskan napas pelan, dia merasa lega. "Baiklah, kamu boleh masuk!"
"Terimakasih!"
Keduanya masuk ke dalam rumah, Ryu memerintahkan agar gadis itu berisitirahat dengan nyaman. Karena dia juga akan melakukan hal yang sama. Ryu mengistirahatkan tubuhnya, sembari menatap jepit pheonix di tangan kemudian menaruhnya di bawah bantal. Dia berharap, semua rencanaya akan berjalan dengan mulus kali ini. Tapi, siapa yang tahu, karena tetap yang Mahakuasa lah yang memegang kendali takdir.
Namun, di Istana para selir tentunya Fan Hai lah yang paling punya kuasa, walaupun dia belum mendapat gelar permaisuri tetap saja tidak ada yang lain lagi selain dia yang berani memerintahkan prajurit dari ujung Timur ke ujung Barat. Kendali bagaikan ada di bawah telapak kakinya. Sang suami hanya ia anggap seperti wayang yang memerankan peran sesekali saja.
Namun, sejak kejadian tadi malam. Ibu anak yang kompak bagai pedang dan perisai itupun menjadi bahan gunjingan seluruh makhluk bernyawa yang ada di Istana. Melihat Wen Jia memiliki kalung persis milik keluarga Hu membuat dia dianggap terobsesi dengan Hu Yazhu. Gadis itu sekarang sedang merengut-rengut dan mencakar lantai kamar ibunya. "Aku tidak percaya rencanaku gagal bu!"
"Si dayang bodoh itu sangat menyusahkan! Syukurlah sekarang dia sudah mati, jika tidak rencanaku pasti akan terbongkar!" lanjut Jia.
Selir Fan Hai menghembuskan napas perlahan, dia memejamkan mata karena sedang bermeditasi untuk tetap memertahankan wajah cantiknya agar terhindar dari kerutan halus. "Cukup Jia! Kamu terlalu gegabah. Ibu memang akan membantumu mendapatkan Hu Yazhu, tapi kita belum tahu siapa yang sedang kita hadapi sekarang. Alangkah baiknya kamu mengutus seseorang untuk mencari tahu latar belakang gadis itu juga kelemahannya terlebih dahulu! Setelah kita tahu, baru kita akan bertindak! Wajah ibu hampir rusak menahan malu atas hal yang telah kamu perbuat!"
Jia memajukan bibirnya dan mengerutkan alis. "Ibu, kenapa ibu tega meyalahkanku. Jelas sekali bahwa perencanaanku sudah matang. Hanya saja dayang bodoh itu mengacaukan semuanya."
__ADS_1
"Ibu tidak ingin menghabiskan energi membahas kebodohanmu. Lebih baik, kamu ikuti saran ibu, selidiki dimana Ryu Ito tinggal, orang tuanya dan segala hal yang berkaitan dengan gadis itu. Tatapannya yang arogan membuat ibu curiga!" pungkas selir Fan Hai.