
Di seluruh penjuru negeri ketika Ryu dan Hu Yazhu berada di Suku Tao, keduanya malah di dakwa dengan sejumlah fitnahan tidak masuk akal. Bahkan Raja Wen tidak bisa menolong mereka saat Selir Fan Hai membayar beberapa rakyat untuk menerobos masuk Istana dan meminta melayangkan hukuman bagi Hu Yazhu dan Ryu Ito. Suasana yang begitu genting namun Ryu dan Hu Yazhu masih belum kembali ke Istana, bahkan Selir Fan Hai sudah mengutus beberapa prajurit untuk menyerbu rumah Keluarga Ito.
Selir Fan Hai mengungkapkan identitas asli Ryu yang berasal dari keluarga cenayang pada Raja Wen, karena Raja Wen tidak percaya pada ucapan istrinya itu akhirnya Selir Fan Hai bertindak sendiri kemudian menggeledah rumah Ryu dan memaksa keluarga Ryu Ito untuk menghadap pada Kaisar.
Keadaan begitu kacau ketika para prajurit mengepung Kedai Kakek Asahi. Untunglah disana masih ada Huo Sijue dan kelompoknya untuk menghentikan penggeledahan yang tidak berdasar pada Keluarga Ito. "Atas dasar apa kalian mengepung kedai ini?"
Wen Jia keluar dari kereta kudanya kemudian menghadap Huo Sijue sembari mengibaskan kipas tangan yang ia bawa. "Atas dasar pemberontakan! Kamu juga akan di penjara dengan tuduhan menghalangi penyelidikan! Prajurit, geledah semuanya dan jika mereka menghalangi panggil Jenderal Ping bersama pasukannya untuk melenyapkan kedai ini!"
"Tuan Putri, kamu tidak bisa menuduh tanpa bukti!"
"Kata siapa? Bagaimana kementrian hukum melanjutkan proses ini jika kami tidak memiliki bukti kuat? Jika tidak, dimana sekarang Nona Ryu? Setidaknya dia harus menjelaskan bahwa ia tidak bersalah!"
Huo Sijue menggertakan gigi dia mengepal tangannya kuat. "Dia sedang mencari Panglima Kerajaan!"
"Alasan! Kabur setelah melakukan pemberontakan, Kerajaan pasti akan menghukum mereka dengan berat! Hukuman mati sebanyak tiga kali bahkan tidak akan cukup untuk menghukum pengkhianat Kerajaan!"
"Beri aku waktu, aku akan mencarinya dan membawa Ryu ke Kerajaan!" Huo Sijue mengeratkan pedang di tangannya kemudian menoleh ke belakang memberi isyarat pada anak buahnya.
"Baiklah, aku akan menunggumu di Istana!"
Wen Jia dan para prajurit kembali ke Istana Utama melaporkan tugasnya pada ibunya juga Raja Wen. Di dalam kamar yang dingin itu Raja Wen terdiam duduk menatap ke luar jendela. Saat Wen Jia masuk, ia hanya memberikan tatapan dingin acuh tak acuh. "Ayah, aku akan mengurusnya sampai ke akar."
__ADS_1
"Buktinya belum cukup kuat, tapi kamu dan ibumu sudah mengumumkannya ke seluruh kekaisaran! Apa tujuan kalian?" Raja Wen mendelik ke arah Jia yang tersenyum halus padanya.
"Ayah, nobatkan aku segera menjadi Putri Mahkota aku pasti tidak akan mengecewakanmu dan akan langsung memberantas pengkhianat Kerajaan kita!"
Raja Wen menggeleng, tubuhnya begitu lemah setelah meminum satu seduhan teh yang dibuat Selir Fan Hai sebelumnya. Karena rasa sayangnya pada Selir membuatnya menutup mata dari kebenaran yang seharusnya dia lihat sejak lama.
Raja Wen mendengus pelan. "Tidak, aku percaya Panglima Hu tidak akan menjadi Pengkhianat."
Di sisi lain, Ryu yang baru saja mendapatkan kecupan lembut dari Hu Yazhu kemudian melepaskan jeratan pria itu. Membuat suasana keduanya menjadi canggung, Hu Yazhu langsung memalingkan pandangannya ia tidak berani melihat langsung ke arah wajah Ryu yang sudah memerah.
"Bagaimana kamu menganggapku sekarang? Sebagai Ryu calon istri bayaranmu atau Wen Yijin Putri Mahkota yang hilang?" Wen Yijin mundur beberapa langkah dan terarah pada Hu Yazhu.
Ryu mengangguk, ia paham apa yang akan dikakukan Hu Yazhu mengenai hal itu. Kemudian tidak lama mereka mendapat kabar bahwa keduanya telah menjadi buronan kerajaan dan setelah mendengar kabar tersebut mereka langsung bersiap kembali ke Istana untuk menemui Raja Wen Lei dan menceritakan detail jelasnya. Hu Yazhu menunggangi kuda bersama dengan Ryu di depannya, diikuti sisa prajuritnya yang lain.
Sebelum pergi ke Istana Ryu memutuskan untuk pergi ke kedai karena dia khawatir terjadi sesuatu pada keluarganya. Sesampainya disana Ryu tertegun melihat Kedai Kakek Asahi sudah porak poranda akibat serangan dari prajurit Kerajaan. Dia juga melihat Huo Sijue dan pasukannya terkapar di dalam kedai, Sijue yang bersandar sembari menahan perutnya yang sakit kemudian langsung berdiri saat melihat Ryu memasuki Kedai.
Kakek Asahi tetap tenang sedangkan Akira menangisi kejadian yang baru saja mereka alami. Benar apa yang dikatakan Guru Tao, kali ini waktunya sudah tiba dan Ryu harus segera membongkar identitas aslinya di hadapan Sang Ayah dan juga rakyat Kerajaan Wen. Bayangan ini seolah seperti kejadian di kehidupan sebelumnya, Ryu yang dianggap pemberontak, Raja Wen yang teracuni, keluarga angkatnya yang menderita semuanya sama persis seperti dikehidupannya yang dulu.
Ryu mengepalkan tangannya dan membawa sebilah pedang yang begitu tajam di pinggangnya. "Panglima Hu, persiapkan pasukan untuk melawan pemberontak!"
"Baik Yang Mulia," jawab Hu Yazhu. Akira dan Huo Sijue yang melihat Hu Yazhu patuh pada ucapan Ryu membelalak, mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara keduanya. Tapi, Kakek Asahi tentu sudah tahu jelas, dia berjalan mendekat ke arah Ryu kemudian memeluknya dengan perlahan. "Satu-satunya barang bukti bahwa kamu adalah Putri Mahkota sudah dicuri. Kakek yakin, mereka akan bertindak lebih cepat dari dugaan kita."
__ADS_1
"Tidak apa Kek, aku percaya ikatan batin lebih kuat dibanding benda kecil itu," kata Ryu.
Huo Sijue berjalan mendekat dan mengerutkan alisnya. "Ryu, jelaskan padaku! Aku hendak mencarimu, tapi Pasukan Jenderal Ping langsung menyerang Kedai kakekmu! Maaf, aku mengecewakanmu!" Sijue menahan tangan Ryu digenggamannya, wajahnya yang penuh bekas luka itu membuat Ryu tersentuh dan merasa sedih.
Sebelum tangan Ryu sampai untuk mengelus pipi Sijue, pedang milik Hu Yazhu lebih dulu melayang di atas bahu pemuda itu bahkan dengan tatapan begitu membenci Panglima Hu Yazhu meminta Sijue melepaskan Putri Mahkotanya. "Jangan bertindak tidak bermoral pada Putri Mahkota Kerajaan Wen! Lepaskan tanganmu!"
"Panglima Hu, biarkan! Dia adalah sahabatku, dia adalah pengecualian untuk semua aturan Istana!" Ryu mengelus lembut pipi Huo Sijue dan menyeka darah segar yang keluar dari sobekan mulut pria itu. "Tolong bawa Kakek dan Akira ke tempat yang aman. Setelah semuanya selesai aku akan menemuimu dan menjelaskan semuanya!"
Huo Sijue enggan melepaskan genggaman tangannya pada Ryu, ia seperti merasa akan adanya hal buruk yang terjadi di Istana kali ini. "Berhati-hatilah!"
Ryu mengangguk dan langsung pergi bersama Hu Yazhu menuju Istana. Di dalam Istana, keadaan sudah sangat kacau. Selir Fan Hai dan Pejabat persenjataan sudah mempersiapkan para prajurit pemberontak di ruang bawah tanah untuk menyerang dan merebut kekuasaan dari tangan Raja Wen Lei. Jepit rambut Pheonix milik Ryu ternyata diambil oleh Wen Jia, ia membawa benda itu pada ibunya dan begitu melihat benda runcing berwarna emas tersebut, Selir Fan Hai terbelalak dan segera membuat rencana lain sebelum Ryu memasuki Istana.
"Sialan, dia Wen Yijin! Pantas saja sikapnya sungguh angkuh!"
"Sayangku, jika dia benar si Putri Mahkota yang hilang itu maka kita tidak bisa mengasihaninya lagi. Dia harus mati di depan mata kita sendiri." Pejabat persenjataan menyentuh lembut tangan Selir Fan Hai.
"Kita harus segera membunuh Kaisar!"
"Ibu, jangan membunuh ayah bagaimanapun Jia menyayanginya!" Wen Jia menggeleng dan tidak setuju dengan keputusan ibunya.
Selir Fan Hai yang begitu emosi langsung menampar pipi Jia dengan keras. "Dasar anak bodoh! Dia bukan ayahmu, ayahmu adalah dia!" wanita itu menunjuk Pejabat persenjataan sebagai ayah kandung Jia dan itu memang faktanya.
__ADS_1