LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 27 - Pencarian Hu Yazhu


__ADS_3

Keesokan harinya, matahari menyembul sempurna memancarkan sinarnya. Di dalam kedai tentunya Ryu hanyalah seorang cucu biasa, dia tidak terikat dengan gelarnya sebagai calon istri Panglima Perang atau apapun. Bahkan ke tiga pelayan yang ikut bersamanya pun membantu meramaikan kedai kakeknya.


"Tambah lagi araknya kek!"


"Meja sini juga mau!"


"Wah aku memang sangt lihai dalam berbisnis." Ryu menyilangkan kakinya sembari melihat ke tiga pelayan yang membantu Kakek dan Akira membawakan arak. Tapi, sekelebat dipikirannya kini terlintas dengan bayangan Hu Yazhu, menurut pelayan Hu majikannya itu belum pulang sampai hari ini ke Istana, bahkan Raja Wen Lei pun sampai mengutus Jenderal Ping mencari keberadaan Hu Yazhu.


Para penjilat dan musuh Hu Yazhu di Istana dalam, memanfaatkan masalah ini dengan menyebarkan rumor yang sangat tidak masuk akal. Menuduh Hu Yazhu ada kaitannya dengan penyusup dua hari lalu dan melabelinya sebagai pemberontak. Namun walau begitu, Raja Wen tidak serta merta langsung mempercayai omong kosong yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan sang kepercayaannya. Dengan mengutus Jenderal Ping yang bertugas di perbatasan untuk mencari Hu Yazhu, menandakan bahwa kaisar sangatlah percaya pada Panglima.


Tidak sadar sudah termenung begitu lama, Ryu dikagetkan dengan sosok pria yang muncul di depannya begitu saja. Ia adalah Huo Sijue, dengan pakaian berbalut emas khas saudagar Timur Tengah Huo Sijue duduk di depan Ryu Ito. "Satu minggu rasanya bagai satu tahun tidak bertemu denganmu!"


"Cih!" Ryu mendelik kemudian meraih secawan arak dan langsung menenggaknya.


"Istana begitu menyeramkan ya? Sampai kamu terlihat begitu kurusan, apalagi lingkar matamu sangat terlihat seperti lingkar mata anak panda." Huo Sijue mengelus lembut pucuk kepala Ryu Ito. "Dan, kamu terlihat begitu gelisah." lanjutnya.


"Aku mengkhawatirkan Panglima Hu Yazhu." Ryu menunduk sembari membuang napas pelan.


"Oh benar, kudengar dia menghilang di dalam Hutan terlarang."


"Bagaimana kamu tahu?" Ryu menghela napas panjang.


"Tentu saja aku tahu, rumor dari mulut ke mulut ini sudah menyebar ke penjuru Negeri. Bahkan jika kabar ini sampai ke telinga musuh, maka kita tidak bisa mengelak kecaman yang datang dari mereka!" kata Sijue.


"Sijue, aku dengar kamu menolong sekelompok imigran dari Timur Tengah dan membuat mereka menjadi pasukanmu untuk melindungimu saat berdagang di sana nanti, benarkan?"


Sijue mengangguk bangga, ia merasa amat diperhatikan sebab Ryu tahu akan hal itu. "Kamu benar!"

__ADS_1


"Kalau begitu bantu aku mencari Panglima di perbatasan Hutan Terlarang!"


"Bukankah jika mereka masuk ke wilayah Istana akan dianggap sebagai penyusup juga?" Sijue mengerutkan dahinya, dia tidak tahu apa yang sebenarnya Ryu pikirkan.


"Tidak perlu bantuan dia, Nona Ryu ikut bersamaku saja mencari Hu Yazhu!" suara berat dari seorang pria berbaju zirah terdengar dari arah belakang Ryu, wanita itu segera menoleh dan mendapati Jenderal Ping sedang turun dari kudanya dan berjalan mendekat.


"Cih Pria busuk ini untuk apa datang kesini?" gumam Ryu yang hampir tidak terdengar oleh siapapun.


Jenderal Ping memasang wajah menggoda saat berjalan mendekat ke arah Ryu, membuat gadis itu ingin memuntahkan semua isi perutnya. Seingatnya dulu, Jenderal Ping memang berkolasi dengan Selir Fan Hai untuk merebut Kerajaan, selama ada Hu Yazhu dia tidak pernah diberi kesempatan memimpin pasukan dan sangat minim diberi kepercayaan menangani kasus pemberontakan. Dia selalu berada di bawah Hu Yazhu, hal itu menyebabkan kebencian pribadi di hatinya terhadap Hu Yazhu kian memupuk tinggi.


Karena Kaisar menyerahkan pencarian Hu Yazhu pada Jenderal Ping tentunya hal itu membuat Ryu sangat tidak yakin, yang ia takutkan adalah kondisi Hu Yazhu bisa jadi terluka atau tidak memungkinkan untuk kembali. Dia takut hal itu membuat peluang bagi Jenderal untuk menyakiti Panglima Perang, maka untuk saat ini menerima tawaran Jenderal adalah ide yang paling bagus, Ryu beranjak dari tempat duduknya dan menemui Jenderal Ping. Memberi salam juga tersenyum manis ke arahnya.


"Aku sudah mendengar jika Yang Mulia sudah mengutusmu mencari Panglima Hu, aku begitu tidak tenang ketika mendengar bahwa Panglima Hu mencari penyusup ke dalam hutan. Terlebih sekarang ia juga belum pulang, mohon Jenderal memberikan kebaikan hati untuk membiarkan aku ikut mencarinya."


Huo Sijue langsung menggenggam erat lengan Ryu dan menggeleng pelan. "Biar aku saja yang ikut Jenderal!"


Keduanya sama-sama menggenggam tangan Ryu dan berebut ke kanan-kiri membuat gadis itu terombang-ambing. Batas kesabaran Ryu sudah mulai habis, ia mengibaskan lengan keduanya dan memicing tajam. "Kalian, jika tidak ingin membantuku mencari Panglima Hu maka aku akan mencarinya sendiri!"


"Ryu!" Huo Sijue menahan Ryu yang hendak masuk ke dalam kedai. "Jaga dirimu baik-baik, kamu boleh ikut bersama Jenderal. Aku bersiap di kedai bersama beberapa anak buahku. Jika sampai matahari terbit nanti kamu belum kembali, aku akan menerobos masuk hutan terlarang untuk mencarimu!"


Jenderal Ping mendekat ke arah Sijue dan Ryu. "Saudagar tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga Nona Ryu sekalipun kami tidak pulang pagi nanti kemungkinan besar itu adalah keputusan Nona."


"Baiklah, tunggu aku bersiap dulu!"


Ryu masuk ke dalam kedai dan mengemas beberapa pakaiannya, agar aman ia menaruh jepit pheonixnya pada kotak di dalam kamar. Ketiga pelayannya begitu khawatir sehingga mereka berinisiatif ingin ikut mencari Hu Yazhu, namun Ryu melarang mereka dan meminta mereka untuk tetap di kedai membantu Kakek Asahi dan Akira. Setelah izin pada kakeknya dan juga berpamitan pada Sijue dan Akira, Ryu ikut bersama Jenderal Ping untuk memasuki hutan terlarang mencari keberadaan Hu Yazhu.


Ia menaiki kereta kuda bersama Jenderal Ping. "Kenapa kamu tidak menunggangi kudamu sendiri? Bukankah setiap jenderal harus memimpin jalan di depan?"

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengorbankan nyawaku hanya untuk calon suamimu, jika aku mati maka hidupku akan sia-sia saja. Lagipula, aku ingin mengenal Nona Ryu lebih jauh, untung sekali ’kan pawangmu sedang menghilang jadi kita bisa." Jenderal Ping mendekat pada Ryu dan memojokkannya.


Ryu mengibaskan tangannya dan secara sengaja menghantam wajah Jenderal Ping yang hanya beberapa jarak darinya. "Aduh kepalaku pusing..." dalihnya.


"Kamu!" Geram Jenderal Ping.


"Jenderal, aku adalah istri Panglima. Bagaimanapun calon suamiku adalah yang terbaik diantara yang lain. Aku tidak berniat mengkhianatinya dengan kecoak sepertimu!"


Jenderal Ping memicing tajam ke arah Ryu. "Kamu menghinaku? Dasar gadis angkuh! kamu hanya anak orang miskin yang beruntung ditemui Hu Yazhu. Ilmu sihir apa yang sebenarnya kamu gunakan untuk memikat Panglima Perang?" Jenderal Ping membersihkan dan merapikan pakaiannya. Bekas kibasan tangan Ryu terlihat memerah di pipi pria itu.


"Yang pasti, ilmu sihir itu tidak akan aku gunakan untuk memikat pria sepertimu!"


Jenderal Ping terpancing sehingga langsung menyudutkan Ryu dan menekan tangan wanita itu di atas kepalanya. Paras Jenderal Ping memang begitu tampan dengan mata merah dan rambut kebiruan miliknya, namun dia terlahir sebagai anak yatim tanpa etika dan rasa belas kasih. Dia mungkin tidak akan segan membunuh Ryu jika sudah menyinggung batas kesabarannya. Jenderal Ping mengendus pelan tengkuk leher Ryu yang membuat wanita itu begitu gelisah untuk menahan perasaan aneh ditubuhnya.


"Brengsek!"


Bamm


Tendangan maut ala Ryu Ito berhasil dilayangkan ke aset berharga Jenderal.


Nama Aset : Burung kecil


Daya kekuatan : -30 %


Status : K.O


.

__ADS_1


__ADS_2