
Dua puluh satu malam setelah kepergian Bei ke Benua Hongyun. Wen Yijin tidak bisa melepaskan pikirannya dari membayangkan wajah pria itu bahkan mengingat kebersamaan mereka. Namun, mengingat hal lainnya seperti Hu Yazhu yang tengah berjuang di medan pertempuran melawan Suku Hou membuat pikirannya sedikit teralihkan. Satu-satunya calon yang cocok untuk dinikahi adalah Hu Yazhu, pria itu dapat dijadikan batu pijakan untuk mendapat kekuatan penuh dari belakang.
Siapa yang tidak gentar pada seorang Panglima Ruby Hu Yazhu, pria gagah penuh karisma dan juga kejam di medan perang. Akan tetapi entah kenapa akhir-akhir ini Yijin merasakan hawa yang tidak enak pada tubuhnya, sesuatu aura yang begitu kuat di dalam tubuhnya yang ia sendiri tidak bisa kendalikan. Tubuhnya pun gampang merasa lemas bahkan sangat sensitif terhadap aroma menyengat yang kadang ia cium saat melewati dapur istana.
Singkatnya, pada hari ini adalah hari kepulangan Hu Yazhu ke Istana Qianqing. Tanpa pikir panjang, kaisar langsung memberikan sebuah hadiah untuk Hu Yazhu atas kemenangannya. Hadiah yang diberikan adalah dengan memilihnya sebagai suami sah Kaisar Wanita Pertama Kerajaan Wen. Hu Yazhu yang mendapatkan sebuah kehormatan itu tentu merasa senang, mengingat ia sudah lama memendam perasaannya pada Yijin.
Di malam harinya,Yijin secara khusus mengundang Hu Yazhu ke kamarnya untuk memberikan ucapan selamat atas kemenangan yang dia raih untuk kerajaan dan juga dirinya. Hu Yazhu melangkah penuh percaya diri masuk ke dalam kamar Yijin yang sudah di lingkupi wangi dupa harum. Dupa harum merupakan dupa pembangun hasrat yang bisa menimbulkan efek kepanasan dan bergairah.
Dengan pakaian yang begitu tipis menerawang, Yijin menyambut Hu Yazhu dengan berani. Pikirannya menjadi kacau tidak karuan setelah hampir satu bulan memikirkan Bei yang pergi seenaknya meninggalkan semua tanggung jawab yang seharusnya dia emban. Bahkan untuk mengurangi rasa kecewanya, Yijin sering menghabiskan beberapa botol arak setiap tiga hari sekali di dalam kamarnya.
Hu Yazhu menghentikan tangan Yijin yang hendak menenggak arak langsung dari botolnya. "Apakah Yang Mulia sedang bersedih?"
"Hu Yazhu, semakin tinggi kedudukanku malah membuatku semakin kesepian. Kamu, Sijue, Kakek dan Akira seolah menjaga jarak denganku hanya karena status ini.
Belum lagi, perihal tekanan pernikahan itu. Hu Yazhu, apa yang harus aku lakukan?"
"Suatu kehormatan bagi hamba bahwa Yang Mulia meminta pendapat dariku. Bahkan sebenarnya, sekalipun hal yang tidak masuk diakal keluar dari mulut ini semua orang pasti akan tunduk.
Tapi, aku tahu kamu adalah penguasa yang bijak. Kamu bahkan mengorbankan kebahagiaan dirimu sendiri dan merasa sekesepian ini hanya untuk rakyat."
Sekalipun Hu Yazhu memberikan jawaban yang luar biasa, entah kenapa hati Yijin masih merasa tidak puas. Ada sebuah celah yang begitu terlihat disetiap ucapan Hu Yazhu. Pria itu masih terlihat patuh, dan Yijin merindukan segala ucapan dan nasihat Bei. Semakin ia memikirkan hal itu, semakin dirinya mengingat Bei.
__ADS_1
Pikirannya sudah larut dalam sebotol arak yang sudah lebih dulu ia minum sebelum kedatangan Jenderal Agung. Yijin beranjak kemudian berjalan mendekat ke arah Hu Yazhu yang masih berdiri. Ia berputar sampai Hu Yazhu tepat di depan tempat tidurnya, Yijin mendorong Hu Yazhu dengan kasar ia tersenyum manis dan mulai merangkak ke atas pria itu. Perbedaan sikap Yijin sebelum keberangkatan Hu Yazhu ke medan perang membuat pria itu tercengang.
Apa hal yang membuat Yijin berantakan seperti ini? Dan bahkan tidak terkendali? Itulah yang ada dipikiran Jenderal Hu sekarang. Hu Yazhu yang begitu dingin hanya mematung menatap Yijin yang sudah berada di atas tubuhnya. "Yijin, kamu sedang mabuk!"
"Aku, kesepian! Kamu bilang kamu akan memyetujui apapun yang keluar dari mulut ini. Maka dari itu, Aku perintahkan kamu untuk menjadi milikku selamanya, jangan pernah meninggalkan aku satu langkahpun kecuali ke medan perang dan jika pergi ke medan perang, harus berjanji untuk kembali hidup-hidup!"
"Yijin, apa ini begitu menyakitkan? Menjadi seorang penguasa seorang diri, ujung pedang bisa muncul dimana saja. Aku mengerti dirimu, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu walau satu jengkal saja." Hu Yazhu menarik lembut tengkuk leher Yijin dan mengecup bibirnya dengan penuh gairah.
Tanpa ragu Yijin membalas ciuman itu dengan berurai air mata yang bahkan ia tidak bisa sadari. Hu Yazhu menyeka lembut setiap air mata yang hampir terjatuh dari pipi wanitanya. Menikmati kebersamaan yang mereka miliki layaknya musim semi yang begitu hangat dan berbunga sebelum kembali pada batas dimana mereka harusnya berada.
Malam yang indah dipenuhi bintang dan gairah yang bahkan bisa terlihat dari langit ke tujuh Benua Hongyun. Langit merah dimana para dewa tinggal, disana kabar pernikahan makhluk fana yang tidak berarti bahkan sudah terdengar ke telinga seorang Putra Mahkota Kerajaan Naga Biru, Zhao Bei yang dikenal sebagai Penasihat Bei di dunia fana Benua Daehan.
Bak tertusuk duri, walau lukanya terlihat kecil namun sakitnya cukup sulit disembuhkan. Begitulah keadaan Bei saat mendengar kabar pernikahan Yijin dan Hu Yazhu. Sekalipun ia tahu dia tidak berhak merasa seperti itu karena dia dan Yijin tidak memiliki hubungan apapun lagi. Terlebih hubungan jiwa abadi dan manusia fana hanyalah sebuah angan saja.
"Hm.."
"Kenapa tuan hanya menjawabnya dengan hm?"
"Itu bukan urusanku!"
"Bagaimana bisa bukan urusanmu?" suara orang lain yang tiba-tiba saja muncul di halaman Kerajaan Naga Biru.
__ADS_1
Bei menoleh cepat dengan bersiaga seolah kedatangan musuh. "Dewi keturunan?"
"Kamu menyatukan diri dengan Pheonix di dunia fana. Bagaimana kamu bisa setenang itu dan kembali ke Hongyun? Demi mencapai ilmu tingkat tinggimu kamu bahkan membuat masalah lain.
Apa kamu lupa mengenai akibat seorang anak yang terlahir dari campuran dewa dan makhluk fana?"
"Dewi, aku tidak mengerti." Bei berdiri kemudian menemui Dewi keturunan yang dikawal oleh beberapa dayang di sampingnya.
"Penyatuan kalian telah menciptakan suatu benih yang kini sudah hidup di dalam perut Sang Pheonix!"
"Maksudmu Wen Yijin sedang mengandung anakku?" Wajah Bei langsung terlihat pucat, jika benar bagaimana bisa ia meninggalkan wanita itu dengan calon anaknya di dunia fana sendirian.
"Benar, benih itu baru memunculkan tunasnya. Masih bisa dimusnahkan jika kamu menyetujuinya sebagai seorang ayah!"
Bei mengerutkan dahinya dan menatap ke arah Dewi Keturunan dengan tajam. "Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Bagaimana jadinya, apakah kamu sanggup melihat anak itu menjadi bahan ejekan makhluk sampah di Benua Daehan dan melakukan kultivasi lalu memporak-porandakan Benua Hongyun?"
"Dewi terlalu khawatir, anak itu belum lahir bagaimana bisa ia memporak-porandakan Benua kita?"
Dewi keturunan menghela napas panjang. "Baiklah, aku memberi pilihan. Kita bisa menundanya sampai benih baru tumbuh di dalam rahim itu dan membuatnya menjadi satu."
__ADS_1
Bei sama sekali tidak paham apa yang dimaksudkan Dewi Keturunan.
"Tunggu sampai benih dari mahkluk fana tumbuh di rahim Sang Pheonix. Maka dari itu aku akan membuat benihmu dan miliknya tumbuh bersama sebagai sepasang saudara dan akan dilahirkan di hari yang sama."