
Pagi itu semuanya sudah berkumpul di arena kompetisi masing-masing. Acara pembukaan yang dipimpin langsung oleh Kaisar Wen Lei dan Selir Fan Hai di sebelahnya berlangsung lancar. Setelah meridiannya pulih Ryu merasa tubuhnya lebih baik dari sebelumnya, dia tidak menyangka bahwa meridiannya akan disembuhkan oleh Hu Yazhu, padahal dikehidupan sebelumnya bukan Hu Yazhu yang menyembuhkannya melainkan tabib Kerajaan terbaik se-Benua Daehan.
Ryu Ito membawa anak panah dan busurnya kemudian berdiri di bagian penonton untuk melihat pertarungan langsung antara perwakilan Kerajaan. Pertama tentunya pertarungan akan dimulai oleh Hu Yazhu dengan lawannya Pangeran Han selaku Kerajaan yang paling dekat dengan Kerajaan Wen. Setelahnya akan dilanjutkan oleh kerajaan Long dan juga Kerajaan Jing sampai yang terakhir babak pertarungan untuk menentukan pemenang. Ryu hanya ingin melihat penampilan Hu Yazhu, setelahnya ia akan segera pergi ke arena memanah untuk melakukan pemanasan sebelum pertandingan dimulai, dia juga harus memeriksa kuda milik Putri Long kembali agar tidak ada hal yang membahayakan nantinya mengingat Wen Jia tidak akan membiarkan siapapun mengunggulinya.
Saat pertandingan hampir dimulai, Hu Yhazu melihat Ryu yang sedang berdiri di bawah arena diantara kerumunan orang dengan memakai topi yang hampir menutupi wajahnya, namun karena dia sudah dengan jelas mengenal Ryu Ito tidak sulit baginya mengetahui siapa yang berdiri di sana. Sudut bibirnya terangkat memberikan senyuman halus yang tidak bisa dilihat oleh siapapun selain hanya bisa dirasakan oleh dirinya sendiri. Hu Yazhu sudah berdiri di tengah arena bersama lawannya Pangeran Han keduanya memegang pedang pusaka masing-masing, pedang yang membawa mereka pada kemenangan selama ini. Jika Raja Wen mempunyai anak laki-laki sudah pasti yang berdiri disana bukanlah Hu Yazhu melainkan Pangeran Kerajaan Wen, tapi sayang, Raja Wen hanya memiliki seorang Putri Kerajaan dan selebihnya ia tidak memiliki seorang anak pun lagi dari selir yang lain.
Ryu menunggu Hu Yazhu menyerang setelah beberapa kali mencoba fokus pada serangan lawan, Ryu tahu Hu Yazhu bukanlah pria yang akan bertindak gegabah gerakan setiap gerakan yang dia keluarkan dan jurus pedang yang dia layangkan pada lawannya mengandung arti. Ketajaman Hu Yazhu di atas arena seolah terlihat seperti sosok yang berbeda, dia terlihat begitu teliti dan aura dingin itu bahkan jika tatapannya mengeluarkan racun mungkin dapat membunuh musuh seketika.
Pertandingan pertama dimenangkan Hu Yazhu, setelahnya Ryu dengan tenang dan bahagia meninggalkan arena pertarungan dan beralih ke arena memanah dia akan memberikan ucapan selamatnya pada Hu Yazhu nanti. Semua peserta sudah bersiap, tidak terkecuali Wen Jia yang dengan tampilan sempurna, kemudian mata Ryu terfokus pada kuda yang ditunggangi Wen Jia, kuda itu adalah miliknya, yang sedari kecil dia rawat dan sayangi. Bagaimana bisa Wen Jia mengambil semua hal yang seharusnya menjadi haknya? Setelah kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan, bahkan setelah kematiannya yang tragis dan terlahir kembali Ryu tidak akan rela dan tidak akan membiarkan miliknya diambil alih oleh Jia. Cepat atau lambat, semua hal ini akan menjadi miliknya lagi dan membuat saudara tirinya hancur adalah hal yang paling ia nantikan.
__ADS_1
"Nona Ryu, apa kamu sudah siap?" Putri Long begitu berseri, dia membawa kudanya dan mengelus lembut dengan penuh kasih.
Ryu mengangguk kemudian memberikan senyuman tipis. "Tentu, aku sudah siap Tuan Putri."
"Sejak bertemu denganmu, aku merasa sangat tidak asing. Tapi mungkin hanya perasaanku saja, maafkan aku walaupun instingku biasanya begitu kuat tapi terkadang masih sering salah juga." Senyuman halus itu terukir lagi di wajah putih mulus milik Putri Kerajaan Long, Ryu hanya bisa membalas senyuman tanpa sepenggal kata apapun. Dia ingin sekali mengatakan bahwa insting Putri Long tidak salah, mereka memang sering bertemu diwaktu lalu, dimana saat itu Putri Long masih sangatlah kecil dan ia begitu suka mengikuti Yijin kemanapun ia pergi.
"Panah beracun ini akan menembus kulitmu Ryu." Dari kejauhan Wen Jia terus memerhatikan Ryu sembari terus menyiratkan sesuatu dibibirnya. Rencana jahat kali ini sudah ia susun kembali dengan matang dan antek-antek ibunya ikut serta dalam rencananya. Di dalam hutan ada sebuah daerah terlarang yang dibatasi dengan batu kristal penunjuk arah, jika Wen Jia berhasil membawa Ryu masuk ke perangkapnya ia pasti dapat mengalahkan Ryu.
Ryu menunggangi kudanya masuk ke dalam hutan, kali ini mangsa yang harus mereka dapatkan adalah binatang yang diukur dari bobot tubuhnya, pemenang akan dinilai dari seberapa besar tangkapan yang mereka bawa. Siapapun boleh langsung kembali setelah mendapatkan tangkapan mereka, tetapi jika ingin menambah poin mereka dapat mencari binatang lain dan tidak terbatas. Semua orang berpencar mencari buruan masing-masing, sedangkan Wen Jia melakukan cara curang dengan sudah menyiapkan buruan yang lebih dulu ditangkap oleh anak buah ibunya dan Pejabat Persenjataan.
__ADS_1
"Kalian sudah mengatur jalannya ’kan? Sebentar lagi kakak sepupu akan mengalihkan Ryu Ito untuk masuk ke perangkap, bersiaplah kalian disana! Untuk rusa ini, aku sangat senang!" Wen Jia menyunggingkan senyuman di wajahnya, ia merasa amat senang karena tidak harus mengotori tangan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Setelah Ryu masuk perangkap dan berhasil dikalahkan dia akan mengatakan bahwa Ryu Ito kabur saat ada kesempatan dan pergi bersama pria lain keluar istana lewat perbatasan hutan terlarang. Tidak sulit baginya memutar balikan fakta seperti kebiasaan yang dilakukan ibunya. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya.
Di tengah perjalanan Ryu mendengar suara minta tolong dari seseorang dan saat mendekat ia melihat anak dari pejabat Istana yang tidak lain adalah kakak sepupu Wen Jia sedang duduk menangis dan kakinya mengeluarkan darah. "Ada apa Nona Xi?" Ryu mendekat dan turun dari kudanya memeriksa luka panahan yang ada di pergelangan kaki Nona Xi.
Dilihat dari lukanya, itu tidak terlihat seperti luka panahan jarak jauh melainkan seperti ditusukan dengan sengaja. Ryu menyeringai halus, dia penasaran dengan rencana busuk apalagi yang sedang dipersiapkan Wen Jia di depan sana. Jadi, Ryu akan mengikuti permainan mereka.
"Nona Xi siapa yang melakukannya?"
"Aku- uh, Aku tidak tahu pria itu pergi ke arah Barat sana! Nona Ryu tolong tangkap pria itu aku tidak ingin dia menyakiti Putri Jia, Yang Mulia Fan Hai sudah memberi pesan agar aku menjaganya namun aku malah terkena serangan." alasan bodoh memang akan mempan bagi Wen Yijin, tapi tidak bagi Ryu Ito. Dengan gelagat dan cara bicara yang bergetar mengisyaratkan semua ucapan sepupu Xi adalah kebohongan semata. Apalagi tujuannya masuk ke dalam hutan sudah pasti hanya untuk menjebak Ryu, mengingat yang lolos ke pertandingan hanyalah Ryu dan Jia untuk apa dia ikut masuk dengan dalih menjaga Putri Jia? Namun Ryu akan menunjukan hal yang lebih menarik daripada sandiwara dengan nilai minus sepuluh yang Xi lakukan.
__ADS_1
"Nona Xi tinggu disini, aku akan mencarinya ke dalam hutan!"
Ryu menunggangi kudanya, ia memastikan akan membongkar kecurangan Jia dan cara liciknya di hadapan kaisar juga para peserta dari kerajaan lain.