
Dengan balutan jubah emas khas Putra Mahkota, seorang pria berdiri menatap danau yang luas di depannya. Tatkala raut wajah itu berubah menjadi kesedihan saat melihat celah besar dari langit merah yang mulai tidak bisa ia kendalikan kedatangannya. Pertanda buruk akan terjadi, satu-satunya cara untuk menghentikan hal ini adalah dengan mencari burung pheonix.
"Salam Putra Mahkota. Burung Pheonix sudah tiada!" ucap salah seorang adik seperguruannya.
Sang Putra Mahkota mengerutkan alisnya, ia langsung menemui gurunya di dalam ruang ramalan. "Apa maksudnya guru?"
"Burung Pheonixmu kalah dalam pertarungan. Kamu tidak bisa mengharapkannya lagi!" seperti terkena petir di siang hari, raut wajah Putra Mahkota semakin terlihat menyedihkan.
"Aku akan menemui dewa kematian untuk membangkitkannya kembali!"
"Bei Ming, kamu mungkin akan diminta untuk berlutut tiga ratus hari apakah kamu sanggup? Jangan gegabah, lebih baik cari cara lain untuk menghentikan semua ini!"
"Apa ada cara lain, guru?"
"Kamu bisa menemuinya di tahun sebelum kematiannya. Bantu ia berkultivasi untuk mencapai benua tingkat tinggi ini! Bantu ia dalam mengalahkan semua musuhnya dan membawa perubahan!"
"Aku akan melakukannya. Bertahun-tahun aku menunggunya datang kepadaku, namun semua itu berakhir tragis. Aku akan menemuinya dan membawanya sendiri ke Benua Hongyun!"
"Bagimu, ini adalah perjalanan melintasi waktu ke masa lalu dan kamu belum tahu pasti ke tahun berapa kamu akan melintas. Namun baginya, hal ini akan menjadi kebangkitannya, kemungkinan besar dia akan mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya."
Bei Ming mengangguk. "Tentu saja, aku harus menemui dewa waktu untuk membawaku ke masa sebelum itu!"
**
Penasihat Bei terdiam sembari menatap batu giok hijau miliknya. Sudah tahun ke seratus saat ia pergi meninggalkan Benua Hongyun. Benua tingkat atas para kultivator, tempat dewa-dewi hidup dan surganya dunia. "Kamu melintasi waktu demi menyelamatkannya dan membantunya, bukankah terlalu jahat jika dia malah berakhir bersama orang lain?"
__ADS_1
"Diam! Kamu benar-benar berisik!" Penasihat Bei menekan dahinya merasa pusing mendengar ocehan cacing kecil dalam giok miliknya. Tidak lama, suara langkah kaki masuk ke dalam ruang belajar. Hari ini, ia akan mengajarkan Yijin caranya meracik obat, Pil vitalitas untuk mengembalikan energi dan mempercepat pertumbuhan, biasanya di berikan pada anak-anak para kultivator atau pada korban yang terluka parah.
"Guru, apa kamu berbicara dengan seseorang?"
Penasihat Bei menoleh ke arah sumber suara, ia melihat Yijin dengan balutan baju berkuda dengan rambut yang terikat rapih ke belakang. "Tuan, kendalikan raut wajahmu yang seperti pantat monyet itu!" ucap cacing kecil dalam batu giok.
"Huft!" Penasihat Bei mendengus pelan, kemudian mencoba mengendalikan dirinya.
"Guru baik-baik saja?" Yijin mendekat dan mencoba melihat wajah Sang Guru.
"Murid berhenti disana! Baik kita akan mulai belajarnya sebentar lagi. Sebelum itu, aku harus mengujimu dengan cara kamu harus menyebutkan apasaja bahan yang harus kita miliki untuk membuat Pil vitalitas!"
Yijin menyilangkan lengannya di dada. "Itu sangat mudah, kulit kayu manis, sedikit temulawak tumbuk, api abadi dan juga air surgawi!"
Penasihat Bei mengangguk. "Jangan lupa dengan tungku api yang kamu gunakan harus terbuat dari bahan yang terbaik!"
"Bagus!"
Dalam stau kali percobaan pembuatan pil vitalitas Yijin berhasil melakukannya dan akan mencoba pil itu pada anak rusa hasil dari buruannya tadi pagi. Penasihat Bei selalu berada di samping Yijin, melihat pil itu bekerja dengan baik pria itu sangat bangga padanya.
"Oh ya, untuk para janda kaisar sebelumnya perintah apa yang akan Yang Mulia berikan?"
"Aku harus mengirim mereka pulang ke rumah dengan gelar 'Janda Kaisar Terhormat' , mereka harus mendapatkan kemuliaan di kalangan masyarakat walaupun menjadi seorang janda dan siapapun yang berniat untuk menikah kembali akan dipersilahkan. Walaupun tidak tinggal di Istana Harem, mereka akan mendapatkan tunjangan untuk kebutuhan hidupnya sebagian. Bahkan Istana akan memberikan sedikit biaya untuk meramaikan pernikahan yang mereka gelar."
Penasihat Bei menggeleng sembari mendengus pelan. "Ide yang bagus. Tapi bukankah sangat boros jika mengeluarkan uang untuk pernikahan para janda?"
__ADS_1
"Guru, ini adalah cara terhemat. Dengan memulangkan semua selir yang berjumlah hampir tiga puluh orang, kita bisa menghemat anggaran bulanan sebanyak satu juta lima ratus tael, mereka hanya mendapat lima puluh ribu tael setiap bulannya setelah keluar dari Istana. Dibanding kebebasan, lima puluh ribu yang terpotong dari mereka tentunya tidak ada apa-apanya. Mereka pasti akan setuju dengan caraku!"
Penasihat Bei berdecak kagum, hanya dalam beberapa minggu gadis di depannya sudah membuat perubahaan yang jauh. Semuanya bertujuan demi pemandangan masyarakat terhadap wanita, Yijin hanya ingin mereka dipandang setara dan tidak dianggap lemah. Apalagi para janda kaisar yang biasanya dilakukan secara tidak hormat setelah dipulangkan.
"Aku sangat setuju, satu persatu hal yang Kaisar sampaikan aku akan membuatnya secara resmi. Sebentar lagi akan ada pertemuan politik, Yang Mulia harus segera bersiap!"
"Baik guru, terimakasih untuk pelajaran hari ini."
Setelah melenggang pergi, Yijin kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian resmi. Sedangkan Penasihat Bei mulai membuat aturan yang Yijin ucapkan secara tertulis dan akan diumumkan sebagai Deklarasi Kaisar. Setelah semuanya berkumpul di balai pertemuan, tidak ada satupun yang tidak memberi salam pada Kaisar mereka. Tatapan Yijin yang berbeda saat di atas singgasana dan di luaran, membuat Penasihat Bei mengagguminya diam-diam.
Sungguh luar biasa seorang Wen Yijin, ia tidak merasa gentar terhadap aura mematikan dari berbagai klan di hadapannya. "Penasihat Bei akan mengumumkan Deklarasi Kaisar dan aturan baru kerajaan!"
Penasihat Bei langsung maju beberapa langkah dan membuka deklarasi yang telah dibuat. Peraturan yang Yijin berikan sudah secara resmi tertulis.
"Deklarasi Kaisar dan aturan baru kekaisaran. Setiap penguasa wanita bisa memimpin kerajaan maupun kadipaten tanpa bantuan seorang pria. Tidak diwajibkan mengikuti aturan harem yang diperuntukan bagi penguasa pria.
Para janda raja yang wafat di medan perang dapat dipulangkan secara hormat dengan gelar 'Janda Raja Terhormat' dan wajib diberi tunjangan sebanyak sebagian dari tunjangan bulanan di Istana Harem.
Bebas kembali menikah dengan dukungan kerajaan, tidak ada penghinaan baginya."
Semua pria di dalam balai pertemuan merasa keberatan dengan deklarasi yang sudah disampaikan namun, karena ucapan kaisar adalah perintah mereka tidak berani lagi untuk menolak. Mereka hanya sedang memikirkan bagaimana caranya menurunkan Kaisar dari takhta agar tidak menimbulkan aturan baru yang menyesatkan bagi mereka.
Setelah deklarasi disampaikan, semua wanita berbahagia mereka merasa haknya terpenuhi saat Kaisar Wen Yijin mulai naik takhta, kesetaraan yang ingin dibawa Yijin dalam kekaisaran membuat harapan besar bagi kaum wanita di seluruh kerajaan yang di kuasai.
Setelah pertemuan politik selesai dilakukan, Wen Yijin berjalan disekitar taman kerajaan melihat bunga-bunga yang baru saja bermekaran di musim semi. Dia merindukan keberadaan Hu Yazhu yang jauh di perbatasan, namun dia juga tidak bisa meninggalkan tugasnya di istana. Hubungan mereka berdua seolah terhalang suatu batas yang sulit dilewati. Walaupun bisa dilakukan tapi akan sangat sulit menjalaninya dengan benar, Hu Yazhu yang harus melindungi kerajaan dan pastinya akan sering pergi melakukan tugas ke luar dengan Yijin yang harus mengatur kerajaan sebaik mungkin di dalam istana.
__ADS_1
Wen Yijin terlihat seperti bulan dan Hu Yazhu berdiri layaknya matahari, seberapa keras pun matahari mengejar bulan, ia tetap tidak akan pernah sampai padanya.