
Di sebuah gubuk tua kosong dan kecil itu, Ryu dan Sijue menahan panas dan hawa menyesakkan yang mereka rasakan. Keringat yang bercucuran bahkan mengalir kesekujur tubuh mereka. Sekumpulan orang masih mencari Huo Sijue diluaran, sedangkan Sijue dan Ryu masih bersandiwara seolah mereka sedang bercinta dengan panas.
"Kemana orang itu pergi? Apakah di dalam gubuk ini. Hei keluar!" geram orang di luar gubuk.
"Ahh.. Percepat... Aku tidak tahan lagi!" Mendengar desisan Ryu yang begitu menggoda membuat mata Huo Sijue hampir keluar dari tempatnya.
Ryu menarik leher Huo Sijue agar mendekat padanya dan berbisik. "Cepat! Ini hanya sandiwara! Jika kamu tidak ingin mati ikuti saja rencanaku!"
"Tentu sayang! Aku akan melakukannya sesuai keinginanmu!" Teriak Huo Sijue dengan sengaja agar terdengar oleh orang diluar gubuk.
"Aish sialan, hanya dua orang yang sedang bercinta di siang hari. Ayo kita pergi, lalu segera rencanakan penyerangan ke Istana!" kata salah seorang penduduk Suku Aera.
Setelah semua penduduk itu pergi dan menjauh, Ryu bernapas lega. Kemudian, mata wanita itu beralih ke arah pria di atasnya. "Menjauhlah dariku!" Ryu mendorong Huo Sijue dari tubuhnya.
"Cepat pakai! Kita harus segera pergi dari sini!" Ryu melempar pakaian Huo Sijue yang lain ke arah pemuda itu kemudian meraih pakaiannya sendiri dan membelakangi Huo Sijue untuk mengenakannya, pipinya seperti terbakar dan memerah disaat yang bersamaan.
"Aku tidak keberatan kalau kita bersandiwara lagi." Huo Sijue menyeringai dengan nakal.
Ryu mendelik memberikan tatapan mematikan pada Sijue. "Cepat jangan banyak bicara! Kakek pasti mencariku!"
Keduanya berlalu dari sana dan menunggangi kuda mereka masing-masing. Sembari sesekali menoleh ke arah Ryu, Sijue terus melayangkan senyuman bahagianya di raut wajah itu. "Sebentar lagi mereka pasti akan menyerang Istana!"
__ADS_1
"Ya kamu benar! Aku harus segera sampai ke kedai sebelum Hu Yazhu menjemput. Kita berpisah disini, terimakasih atas bantuanmu Huo Sijue! Kita akan bertemu lagi setelah aku pulang dari Istana!" Ryu melambaikan tangannya kemudian mempercepat kendali kuda agar segera sampai ke kedai. "Ha!"
"Sampai jumpa, Ryu!"
Ryu memacu kudanya sampai ke kedai, setelah sampai disana, dia sudah melihat Hu Yazhu dengan pakaian yang menunjukan kepemimpinannya sedang duduk dan mengobrol bersama kakek Asahi. Ryu mendengus kasar kemudian melenggang masuk tanpa menyapa pria itu. Kakek Asahi menyadari kekesalan Ryu, namun dia tidak beranotasi apapun.
Kakinya melangkah masuk ke dalam kedai, sampai disana Akira langsung menghampiri Ryu dengan membawa sebuah Hanfu baru berwarna biru muda. Ryu mendengus pelan kemudian meraih barang itu tanpa bereaksi apapun. Setelah berganti pakaian, Ryu bergerak keluar menemui Hu Yazhu dan kakek Asahi.
Dari kejauhan salah seroang prajurit berlari dengan napas ngos-ngosan menemui Hu Yazhu. "Panglima! Gawat, Suku Aera pemberontak itu menyerang Istana!"
Hu Yazhu langsung berdiri dengan wajah yang nampak ngeri. Dia begitu terkejut saat mendengar berita itu, tanpa basa-basi pria itu segera meninggalkan kedai dengan kudanya. Dia bahkan tidak menoleh sedikitpun pada Ryu. "Walaupun begitu dingin, aku akui kesetiaannya pada Kerajaan." gumaman Ryu membuat kakek Asahi menoleh dengan heran.
"Sudah! Kemungkinan besar dia tidak akan kembali kesini untuk menjemputmu. Cepat ganti pakaian lagi, kamu pasti tidak nyaman ’kan?" kakek Asahi mendahului Ryu masuk ke dalam. Wanita itu masih tertegun dan menatap Hu Yazhu yang mulai menjauh dari pandangannya.
Ryu menghela napas panjang kemudian masuk ke dalam kedai yang harus segera mereka tutup. Malam sudah memunculkan indahnya, Ryu membuka jendela kamar dan menatap pohon rindang yang di terangi cahaya bulan. Dia berdiri kemudian melangkah dan duduk di ujung ranjang yang menyatu dengan ambang jendela. Dengan kaki yang menumpu pada kusen jendela Ryu mengaitkan tangan pada lututnya. "Perasaanku terus berubah-ubah, adakalanya aku takut menghadapi ini semua. Ada kalanya juga, aku benar-benar ingin segera mencapai tujuanku."
Keesokan paginya, burung berkicau membangunkan Ryu dari tidur indahnya. Bahkan jendela semalam masih terbuka lebar karena dia terselap. Ketukan di pintu kamar beberapa kali diabaikan oleh Ryu, sampai satu tendangan keras merusak pintu kamarnya.
Brakk
Ryu mengerjap kemudian langsung meraih pedang yang ada di pinggir tempat tidur. Dia berdiri kemudian melepas pedang dari sarungnya, kini benda tajam yang mengkilap itu mengarah lurus pada seorang pria berjanggut tipis dengan kain melilit di kepalanya. Bajunya yang bernoda dan kumuh menandakan pria itu seorang bandit suruhan.
__ADS_1
"Nona, kamu yang mengalahkan anak buahku semalam benar ’kan?" pria itu mengelurakan sebilah pedang dan menyeringai. Langkahnya yang cepat mengharuskan Ryu mundur dari serangan pria itu.
Sreet
Brakk
Sayatan pedang mengenai kain penutup jendela kamar Ryu, kemudian menebas kasur padat yang baru Ryu tiduri membuat sembulan kapas yang ada di dalamnya keluar berserakan. "Sialan!" umpat bandit itu.
Ryu berlari ke arah pintu kamar, dia menunggu pria itu menghampirinya. Saat hampir tertangkap, Ryu menahan kedua tangannya pada ambang pintu dan menendang perut pria itu keras. Setelah pria itu terhuyung-huyung Ryu menebaskan pedangnya di sekitar leher bandit tadi dan darah pun bersemburan di lantai kamar. Bahkan mengotori pedang miliknya yang rancung.
Ryu keluar dengan menyeret mayat pria itu, dia melihat keadaan kedai. Kakek Asahi keluar dengan pakaian yang berantakan, walaupun kakeknya cukup ahli dalam bermain pedang tapi fisiknya tidak lagi sekuat dulu. Kakek Asahi menangis dan memeluk Ryu. "Mereka membawa adikmu!"
"Siapa?" Ryu mengerutkan alisnya dan mengeratkan pegangan pada pedang dengan geram.
"Para bandit itu," pungkas kakek Asahi. Tidak lama pintu kedai terbuka, dilihatnya Hu Yazhu dengan tatapan begitu bingung menghampiri Ryu dan kakek Asahi.
"Ada apa?" tanya Hu Yazhu dengan panik.
"Kakek tetap tenang, jangan tutup kedai untuk sementara waktu agar banyak orang yang berkunjung sehingga mengurangi para penjahat datang. Aku akan membawa Akira kembali pada kakek, aku berjanji!" Ryu mengabaikan Hu Yazhu dan menjatuhkan mayat bandit yang ia seret ditangannya ke lantai dengan kasar. Dia berjalan mendahului Hu Yazhu namun tangan kekar pria itu menahannya.
"Kamu membuang waktuku, cepat lepaskan atau aku akan menebas kepalamu Hu Yazhu! Adikku dalam bahaya!" geram Ryu dan memicingkan matanya pada Hu Yazhu.
__ADS_1
"Aku akan membantumu, cepat naik kuda bersamaku. Kita masih bisa mengejar mereka." usul Hu Yazhu. Ryu masih menatapnya tanpa roman apapun, dia mendengus kasar kemudian keluar dari kedai dan naik ke kuda Hu Yazhu lebih dulu.
Hu Yazhu memberi salam pada kakek Asahi kemudian naik ke atas kudanya dan menunggangi kuda itu bersama Ryu untuk mengejar para penculik Akira. "Aku seharusnya tidak melibatkan orang-orang ini dalam misi balas dendamku," batin Ryu.