LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA

LEGENDA SANG PUTRI MAHKOTA
Episode 23 - Bualan


__ADS_3

Secangkir teh bunga melati lengkap dengan cereknya tersedia di balai pertemuan antara Ryu Ito dan Guru Tao. Sikap Guru Tao yang begitu tenang bagai danau di sampingnya membuat Ryu merasa canggung dan salah tingkah. Ryu meraih cangkir berisikan teh melati hangat kemudian mengesapnya secara perlahan, jika ini bukan ilusi berarti keberadaan Suku asli ibunya masih ada dan hanya terisolasi selama ini. Entah apa yang membuat mereka menyembunyikan diri dari dunia luar, tapi yang Ryu tahu ini pasti demi kebaikan Suku dan juga orang di dalamnya.


"Bagaimana rasanya terlahir kembali?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Ryu hampir menyemburkan semua teh yang ada di rongga mulutnya, dia tersedak kemudian menepuk dadanya berkali-kali. Guru Tao tersenyum halus kemudian kembali menuangkan teh untuk Ryu minum, gadis itu kemudian menenggak teh di gelasnya sampai habis sebelum menjawab pertanyaan Guru Tao.


"Apakah Asahi merawatmu dengan baik?"


"Guru Tao tahu mengenai diriku?" Ryu mengangkat alisnya, masih meneliti raut wajah Guru Tao yang kembali terlihat serius dan dingin.


"Tentu saja, kamu adalah keturunan Pheonix kami. Kelahiranmu sudah sangat dinantikan sejak dulu."


Ryu masih tidak bisa mencerna apa yang dimaksudkan oleh Guru Tao, dikehidupan sebelumnya ia bahkan tidak pernah bertemu Suku asli ibunya, apalagi disambut hangat seperti ini. Apakah kelahiran kembalinya berkaitan dengan Suku Tao atau tidak Ryu masih belum yakin.


"Putri tidak seharusnya menjalani hidup sulit seperti ini, ambil lah kembali apa yang menjadi milikmu, Suku Tao pasti akan mendukung di belakangmu! Ramalan mengenai Suku kami mengatakan bahwa kelak akan ada keturunan Pheonix yang bisa memakmurkan serta memajukan kembali Suku Tao. Kami percaya bahwa itu adalah kamu!"


Ryu menggenggam cangkir kosongnya kemudian menatap lurus ke arah benda itu, dia tidak tahu harus menjawab apa tapi mengenai kelahiran kembalinya dia memang sangat terkejut karena Guru Tao mengetahui hal itu. "Untuk saat ini, aku masih belum bisa mengungkap identitasku. Aku harus memulainya secara perlahan dan tepat, aku tidak ingin gagal lagi."


"Aku mengerti, kami disini bersedia membantumu memulihkan alam spiritualmu dan juga mengajarkan berbagai Jurus yang seharusnya ibumu ajarkan padamu dulu. Sayangnya, ibumu meninggal setelah melahirkanmu. Dia adalah orang yang paling hebat di antara pendekar Suku Tao yang lain, setelah bertemu ayahmu dia melepaskan semua yang berasal dari Suku Tao dan memilih tinggal di Istana.


Jika kamu bingung mengenai kelahiran kembalimu, tidak semua hal yang kamu dapatkan dikehidupan sebelumnya akan kamu dapatkan dikehidupan ini. Begitupun sebaliknya, jadi tidak perlu terlalu memikirkan sesuatu hal yang sudah ditakdirkan."


Ryu mengerti, ia tidak bisa memakai logika untuk sebuah takdir. Yang terpenting adalah dia telah diberi kesempatan untuk merubah jalan cerita hidupnya sekali lagi, dia harus fokus pada tujuan awalnya. Bahkan setelah berbincang dengan Guru Tao, Ryu mulai paham mengenai tujuan besarnya.

__ADS_1


Di sisi lain, kerumunan orang sudah menunggu pengumuman pemenang untuk kompetisi memanah tahun ini, semua peserta sudah kembali hanya Ryu saja yang masih belum terlihat batang hidungnya. Bahkan Hu Yazhu dan peserta pria yang lain ikut hadir di arena memanah. Tidak lama, Sepupu Xi yang kakinya terluka menghampiri Raja Wen dan Selir Fan Hai untuk memberi laporan palsu mengenai Ryu.


"Salam Yang Mulia, Aku ingin melaporkan hal yang mungkin tidak bisa dimaafkan begitu saja."


"Silahkan!" kata Raja Wen.


"Aku mendapat perintah dari Selir Fan Hai untuk menjaga Putri Jia, tapi di perbatasan hutan terlarang aku melihat seorang pria asing, tidak lama dari itu aku melihat seseorang muncul dan itu adalah Nona Ryu Ito.


Setelahnya, aku bertanya kemana ia akan pergi, tapi Nona Ryu marah dan menancapkan anak panahnya ke kakiku kemudian mengancamku untuk tidak mengatakannya pada Raja Wen dan Panglima Hu Yazhu. Sepertinya, pria itu adalah kekasihnya! Mungkin saja selama ini ia hanya memata-matai kerajaan Wen mengingat dia bukan berasal dari wilayah ini Yang Mulia."


"Xi, jangan sampai laporan tidak mendasar ini menghukummu, apa kamu punya bukti? Kamu jelas tahu hukuman bagi seseorang yang memfitnah orang lain di Kerajaan kita adalah dengan dua puluh lima cambukan!" Raja Wen berdiri kemudian menatap Xi yang sedang bersimpuh di depannya.


"Ayah! Mana mungkin sepupu Xi berani berbohong, ayah lihat sendiri lukanya begitu dalam. Dia ke dalam hutan hanya untuk melindungiku, tapi kenapa Nona Ryu begitu tega padanya?" Wen Jia memainkan perannya, raut wajahnya seolah bersedih namun di hatinya ia begitu senang karena berhasil melenyapkan Ryu Ito. "Kakak Xi, bangunlah! Aku percaya padamu!"


"Percaya pada ucapan tukang fitnah sama saja menyetujui bualan yang dibicarakan dan hukumannya sama! Dua puluh lima cambukan!" Suara itu begitu lantang sembari berjalan mendekat dengan buruan bawaannya ke hadapan Raja Wen Lei dan Selir Fan Hai.


Semua orang membulatkan pandangan, Ryu Ito berhasil datang dengan babi hutan hasil buruannya. Ia berjalan dengan penuh percaya diri dan semangat, tatapannya begitu tajam kemudian menurunkan buruannya lalu bersimpuh dan memberi hormat pada Kaisar. "Maafkan hamba Yang Mulia, izinkan hamba menjelaskan kejadian yang sebenarnya!"


"Kakak apa kakak memfitnah Nona Ryu? Sungguh keterlaluan, aku tidak percaya! Maafkan aku Ayah, karena kasih sayangku pada Kakak Xi membuatku buta menilai mana yang benar dan tidak. Tolong jangan hukum Jia ayah!" Wen Jia ikut bersimpuh di samping Ryu dan Xi, setelah melihat Ryu selamat dia segera membuang Xi dan menjadikannya tumbal atas rencananya yang gagal. Sedangkan Xi hanya bisa membelalak dan menatap tajam Wen Jia.


"Baik, Nona Ryu tolong jelaskan!" ucap Raja Wen.


"Saat aku mencari buruan, aku melihat Nona Xi terluka di perbatasan hutan terlarang. Aku cukup curiga kenapa ia berada disana sendirian, tapi ia mengatakan bahwa Selir Fan Hai yang mengutusnya dan aku melihat kakinya terluka tapi alih-alih memintaku mengobatinya dia malah memintaku mengejar pria yang berlaku jahat padanya.

__ADS_1


Aku tidak ada pilihan lain selain mengejar pria itu, sayangnya batu kristal penunjuk jalan sepertinya rusak sehingga aku tersesat di dalam hutan terlarang. Yang Mulia bisa mengutus orang untuk melihatnya, hal itu seperti disengaja dirusak."


Setelah mendengar penjelasan Ryu yang cukup jelas, akhirnya Raja Wen mengerti tapi bualan yang dilakukan Xi tidak dapat ia terima sehingga dia harus menghukum wanita itu dengan berat. "Bawa Xi dan cambuk dia sebanyak dua puluh lima kali!"


"Putri, Tuan Putri Jia ini rencanamu! Tolong lepaskan aku dari hukuman ini!"


"Kakak Xi pasti sengaja ingin menyeretku kedalam masalah ini ’kan? Jelas-jelas kamu terobsesi dengan Hu Yazhu sampai mengoleksi banyak lukisannya di kamarmu! Kamu pasti tidak senang melihat Nona Ryu akan menjadi istrinya!" Wen Jia berdiri tepat di depan kakak sepupunya.


"Omong kosong macam apa itu Putri Jia!" Sepupu Xi membulatkan matanya penuh amarah tapi para penjaga sudah membawa dan menyeretnya untuk dihukum.


"Salam Ayah, aku pernah ke kamar Kakak Xi dan sungguh malu melihat perbuatannya yang mengoleksi lukisan Panglima Hu Yazhu secara diam-diam. Aku membawa beberapa buktinya." Wen Jia meminta pelayannya untuk masuk dan memberikan beberapa lukisan Hu Yazhu.


Raja Wen yang melihatnya begitu merasa bersalah pada Ryu dan juga Hu Yazhu. Dia merasa perlakuan ini tidak pantas diterima oleh mereka berdua, terlebih oleh Ryu yang membantunya memulihkan diri sedikit demi sedikit. "Aku Kaisar Wen Lei secara khusus meminta maaf atas perbuatan tercela ini kepada Panglima Hu dan Nona Ryu. Mulai hari ini, apapun yang kalian inginkan akan dikabulkan oleh Kerajaan."


Hu Yazhu mengambil langkah mendekat ke arah Ryu dan ikut memberi salam pada Kaisar. "Terimakasih atas kebaikan hati Yang Mulia, aku hanya ingin meminta penjagaan lebih ketat untuk Calon Istriku."


Mendengar permintaan Hu Yahzu, Ryu Ito langsung menoleh dan terarah ke wajahnya yang begitu sempurna. Pria itu bahkan memohonkan keamanan untuk dirinya, hal itu sedikit membuat Ryu bahagia.


"Tentu saja berikan penjagaan di sekitar Paviliun Nona Ryu!" Raja Wen tersenyum halus kemudian teralih ke arah Ryu Ito. "Kemudian, Nona Ryu apa yang kamu inginkan?"


"Aku tidak ingin apapun lagi Yang Mulia."


"Baiklah, dengan ini Panglima Hu tolong kirimkan satu peti emas kepada keluarga Nona Ryu sebagai ucapan permintaan maafku!"

__ADS_1


"Terimakasih Yang Mulia, Engkau telah berbaik hati pada hamba dan keluarga."


__ADS_2