
Jam pasir terlihat berada di samping tempat tidur Raja Wen Lei, hal itu membuat Ryu penuh dengan kecurigaan. Ia mendekat dan memberi salam. "Tabib Kuil Barat?" Kaisar terlihat begitu bingung, ia sudah lama mendengar istilah tabih hebat bernama Tabib Kuil Barat. Namun, ia tidak menyangka jika tabib terkenal itu adalah seorang perempuan.
"Bagaimana keadaan Kaisar?"
"Sudah membaik, pil apa yang kamu berikan?"
"Itu adalah pil penguat imunitas tubuh yang dibuat langsung oleh Guru Hamba. Yang Mulia sudah mengkonsumsi bunga iris, sehingga membuat Yang Mulia langsung jatuh sakit."
"Bunga semacam apa itu? Aku tidak memakan dan meminum apapun."
"Kemungkinan besar karena seseorang memberikannya dengan diam-diam. Ini termasuk ke dalam jenis racun, walau tidak mematikan tapi jika dikonsumsi terus menerus selama bertahun-tahun akan menyebabkan henti jantung."
Raja Wen begitu tertegun mendengar penjelasan Nona di depannya. Belum saatnya Ryu membuka penyamarannya karena penjaga masih setia di luar, sampai Guru Tao berhasil melumpuhkan orang-orang di depan ia baru akan berbicara jujur pada Sang Ayah. Setelah mendengar suara amburkan dari tubuh kedua penjaga, Ryu segera berjalan ke arah meja yang di atasnya sudah ia siapkan segelas arak untuk memulihkan wajahnya.
Setelah menenggak arak, Ryu kembali menoleh ke arah Raja Wen Lei yang kini membulatkan pandangannya tidak percaya. Dia begitu hati-hati, namun terlihat suatu harapan di sorot matanya.
"Ayah, aku adalah Wen Yijin!" Ryu mendekat dan menyerahkan jepit rambut dengan permata ruby diatasnya.
"Aku menemukan kembali Suku Tao yang sudah lama dianggap hilang. Aku berjanji pada mereka akan membawa mereka kembali dan tinggal tanpa harus bersembunyi."
Raja Wen Lei membuang wajahnya. Ryu mengerutkan alis tidak percaya apa yang dia lihat. Raja Wen terlihat sudah tahu bahwa dirinya adalah Wen Yijin. "Putriku, kenapa harus melakukan ini? Bertahun-tahun ayah mencoba menutupi keberadaan Suku Tao yang mengancam kedudukanku lalu kamu ingin membawa mereka kembali?"
"Ayah? Apa kamu sadar apa yang kamu bicarakan?
Selama ini, apa kamu tahu bahwa aku adalah Wen Yijin?"
__ADS_1
Kaisar mengangguk. "Tentu saja, ikatan batin antara seorang ayah dan putrinya akan begitu kuat. Bahkan melihatmu peduli padaku, aku yakin kamu adalah putriku."
Ryu mundur beberapa langkah, dia tidak percaya apa yang ia dengar barusan. Matanya membulat dan mengguratkan kesedihan. Bagaimana mungkin ayahnya tega berbuat keji pada Suku Asli mendiang ibunya? Ryu mengeratkan pedangnya, entah apa yang akan dia lakukan dengan pedang itu dia pun tidak tahu.
"Yijin, aku berusaha tetap hidup walaupun aku tahu ibu tirimu meracuniku setiap hari. Bahkan semalam, bunga iris itu aku tahu semua.
Aku diam karena hanya ibu tirimu dan sektenya yang memiliki kekuatan untuk membuat Suku Tao bersembunyi, selama ini mereka lah yang menjadi ancaman Kerajaan kita."
"Ayah! Mereka bukan ancaman, dengan bersekutu dengan mereka dan menyambut kembali mereka Kerajaan kita akan semakin berjaya!" Ryu tidak mengerti, apa yang membuat ayahnya berubah menjadi Raja Tiran sedangkan di kehidupan sebelumnya hal ini tidak terjadi.
Kemunculan Suku Tao di kehidupannya kali ini membuat masalah yang ia kira sederhana ternyata menyimpan keburukan di dalam. Entah siapa yang akan ia pilih, ayahnya atau Suku Tao. Ryu merasa bimbang akan hal itu, sehingga ia memilih untuk mundur dan menjauh dari Sang Ayah. "Apa usahaku sia-sia? Aku mencoba menghentikan pemberontakan ibu tiriku, tapi apakah ayah sudah tahu itu?"
"Yijin, ayah minta maaf. Selama aku tidak membuatnya menjadi Permaisuri dan juga tidak mengangkat Putri Mahkota lain selain dirimu ia tidak akan berani memberontak."
"Cukup Kaisar! Hamba sangat kecewa padamu, dengan ini aku memutuskan untuk memilih hidup di luar istana dan menjalankan kehidupan ini sendiri." Ryu melenggang pergi meninggalkan Raja Wen Lei dengan kesedihan mendalam. Pria itu duduk di ranjangnya kemudian menghela napas panjang.
Guru Tao mengangguk. "Benar memang tidak sesederhana itu. Kamu lihat sendiri, apa yang membuat kami bersembunyi selama ini. Ayahmu menganggap kekuatan besar kami untuk menekannya, membuatnya kehilangan takhta dan menjadikan Suku Tao berkuasa."
"Aku yakin kalian tidak seperti itu."
"Benar, kami hanya ditugaskan untuk menyeimbangkan segala kekuatan baik dan buruk yang ada di dunia ini. Walaupun Suku kami begitu kuat, kami tidak pernah ingin jabatan maupun kekuasaan dimanapun."
"Guru, apa yang harus aku lakukan pada ayahku? Terlebih Hu Yazhu sekarang ia mungkin sedang dalam bahaya."
Guru Tao menggeleng. "Hu Yazhu sudah kembali, ia diperintahkan oleh Kaisar secara langsung. Namanya akan di bersihkan dari tuduhan pemberontakan begitupun pelayan dan keluargamu.
__ADS_1
Setelah ini kemungkinan besar, Raja tidak akan lagi bersikap lemah di hadapan semua orang termasuk ibu tiri dan adikmu. Ia akan segera membuat semua orang mencari keberadaanmu, disaat seperti itu apa yang akan kamu pilih?"
"Pencarian ini, apakah akan ada kaitannya dengan kalian?"
Guru Tao mengangguk. "Jika tujuannya untuk memusnahkan Suku Tao, ia pasti akan melakukannya."
"Guru, aku akan melindungi kalian. Mohon ajarkan aku beberapa ilmu yang bisa aku pergunakan untuk melawan mereka."
Guru Tao tersenyum. "Kamu melamarku untuk menjadi gurumu?"
Ryu mengangguk.
"Aku akan mengabulkannya, mari persiapkan dirimu untuk melawan kerajaanmu sendiri!" lanjut Guru Tao.
"Baik Guru." Ryu memberi hormat kemudian Guru Tao membawa Ryu tanpa beban menggunakan jurus meringankan tubuhnya. Ia melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya sembari menggendong Ryu erat.
Di atas pucuk pohon, keduanya melihat hutan terlarang mulai bergerak membentuk labirin yang terlihat lebih sulit dari sebelumnya. Ia juga melihat perlindungan yang mulai terbentuk sedikit demi sedikit di luar labirin untuk melindungi Suku Asli Tao. Guru Tao dan Ryu mendarat dengan selamat, bibinya menghampiri Ryu dengan penuh kecemasan lalu memeluk gadis itu dengan erat. "Terimakasih sudah kembali dengan selamat."
"Kamu siap melakukan meditasimu? Memperdalam ilmu spiritualmu dan menyempurnakan energi Qi besar yang kamu miliki?"
"Aku siap!"
"Cepat atau lambat, ayahmu pasti akan menyerang tempat ini dengan kekuatan pasukannya. Mungkin saja ia juga akan meminta bantuan sekte aliran sesat ibu tirimu."
"Aku sungguh tidak percaya ayahku melakukannya."
__ADS_1
Wanita tua itu menghela napas panjang. "Takhta membuat ayahmu menjadi Raja Tiran yang tidak berbelas kasih, apalagi hasutan ibu tirimu yang berjanji untuk membawa ayahmu pada kekuasaan yang abadi.
Semua ini sudah mereka rencanakan, untuk mengetahui keberadaan Raja Iblis yang kami sembunyikan di sini ia harus menggunakanmu sebagai pancingan mereka. Jika ayahmu benar-benar membangunkan Raja Iblis, tidak ada lagi yang menghalangi mereka berbuat kerusakaan di muka bumi ini."