Lembar Kisah Untuk Arsyilla

Lembar Kisah Untuk Arsyilla
Chapter sepuluh


__ADS_3

Pemakaman telah usai, banyak kejanggalan kejanggalan yang dirasakan warga namun yang pasti masih ada salah satu warga yang saat itu berada dirumah dan mengetahui semua kejadian sebelum kepergian Bu Heni.


Namun karena ketakutannya kepada pak Mukhlis dan Ikhsan ia lebih memilih Untuk tutup mulut sampai diwaktu yang tepat nantinya.


Disisi lain sebenarnya dia juga berpikir sampai kapan akan menyembunyikan ini, tapi suasana duka masih belum hilang dari desa ini jadi biarlah waktu yang akan menjawab nantinya.






Dua minggu sudah usai kpergian Bu Heni, semua warga mulai kembali ke aktivitas masing-masing mulai dari kemarin kemarin.


Sementara pak Mukhlis dia benar-benar tidak tenang, ia merasa Bu Heni ada selalu dimanapun ia berada dan meminta pak Mukhlis mengatakan kepada Ikhsan sebenarnya siapa dia.


Pak Mukhlis tasnya ingin menyampaikan kepada Ikhsan namun hubungannya dengan Ikhsan pun sedang tidak baik-baik saja oleh sebab itu ia masih diam.


Saat ini ia tengah kelimpungan mencari uang kesana kemari, meminta bantuan para warga untuk memenuhi kebutuhan sehari hari nya bahkan ia tak segan meminta makan kepada para tetangga ataupun rumah Bu Rina.


Disaat Bu Rina mulai merintis kembali pekerjaan barunya pak Mukhlis merasa iri dan dia merasa sawah dan kebun yang saat ini ada di Bu Rina masih miliknya.


Ia tak mengingat bagaimana ia meminta tebusan ke rumah Bu Rina tempo hari untuk melunasi hutang-hutangnya.


Tapi nasi sudah menjadi bubur saat ini tak bisa sawah dan kebun menjadi miliknya secara cuma-cuma, panas hati pak Mukhlis merasakan apa yang telah dicapai Bu Rina dan putri semata wayangnya, Arsyi.


"Istirahat dulu buk, capet juga ternyata nanam cabai ini harus bungkuk terus" keluh Arsyi sambil meminum air putih di dalam botol.


"Katanya mau sukses, ya harus lewati dulu prosesnya kalau kamu sukses tiba-tiba dan tidak melewati prosesnya itu yang ada banyak warga yang bertanya-tanya, kan nanti gosipnya ibunya setiap malam jaga lilin anaknya tiba-tiba sukses kan nggak lucu Ar" nasehat dan di akhiri candaan oleh Bu Rina

__ADS_1


"ih amit-amit dong Bu, nggak boleh kaya gitu Arsyi rela capek sekarang dan nanti tinggal senyumnya dibelakang dariapada Arsyi senyumnya hari ini besok Arsyi menangis meratapi nasib hihi"


"diawal kata-kata mu udah bikin ibuk terharu eh ternyata ibuk sampai tidak bisa berkata-kata Ar" ucap Bu Heni yang kadang heran dengan sifat anaknya.


Sebenarnya ia sangat terhibur sebab ketika ia teringa mendiang suaminya cukuplah memandangi wajah dan mengingat sifat-sifat Arsyi yang begitu plek ketiplek dengan mendiang suaminya, pak Herman.


Arsyi dan Bu Heni terus bercanda tawa dibawah rindangnya pohon yang menjadi penyejuk sing ini, namun karena waktu Dzuhur sudah masuk mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


Dilain tempat sekumpulan ibu-ibu tengah menggosip sepulang dari sawah seperti biasa.


"Sebenarnya saya prihatin sama Bu Heni hidupnya begitu miris ya bu ibu, tapi ya sifatnya beliau itu memang rada nyeselin" ucap Bu sati


"iya Bu apalagi diperlakukan seperti itu sama pak Mukhlis bener-bener biadab suaminya" sahut Bu Wati


"Gimana selanjutnya ya buk kan ya tahu sendiri si anaknya bukan anak kandung dan masih banyak drama di keluarga itu"


"nggak kebayang perasaan si Ikhsan lah buk, ya walaupun kelakuannya Masyaallah tapi kan dia juga kaya kita yang punya hati tentunya" ujar Bu Sati yang memang memiliki empati yang tinggi


"kita doakan yang terbaik saja buk semoga kalaupun si anak mengetahui kebenarannya dia diberi kelapangan hati dan keikhlasan untuk menerimanya" lerai Bu Wati


"aamiin aamiin"


Mereka pulang kerumah masing-masing dan nanti berangkat lagi pukul 1 siang.


Sembari istirahat Arsyi bermain-main dengan ponselnya sementara bu Rina memilih tidur dan meminta dibangunkan pukul 1 lebih nanti.


"Kalau dilihat-lihat harga jual lebih murah ya sama harga beli, di kota pastinya harga beli cabai dari para petani sangat berbeda dengan apa yang mereka jual mau heran tapi ini dunia perdagangan" gumam Arsyi


"Semoga saja nanti jika sudah masuk waktu panen cabai cabai ku bis adibeli para distributor dengan harga yang tinggi, ya meskipun tidak setinggi saat kita membeli tapi ya semoga bisa kembali ke modal semula saja ya Allah"


Asik bermain ponsel dengan sesekali melirik jam Arsyi dikejutkan dengan ketukan dari luar. Tapi ia sudah mengenali si pemilik suara itu siapa lagi klaau bukan Kinanti dan Lilis serta Novi.

__ADS_1


"Assalamualaikum Ar" salam mereka saat arsyi sudah membukakan pintu.


"waalaikumussalam masuk dulu yuk" ajak Arsyi


"nggak usah Ar, kita cuma anterin Lilis katanya mau pamit sama kamu" ucap Novi


"loh emang mau kemana, eh duduk dulu sini kalau nggak mau duduk didalam" sahut Arsyi menuju kursi panjang di teras rumahnya


"gini Ar jadi aku mau ke kota, aku bingung mau sampai kapan aku di desa ini dengan segala fasilitas nya yang ketinggalan jauh dari kota, jujur aku iri dengan mereka yang berada di kota apalagi kepada warga sini yang sukses dengan merantau di kota" lirih Lilis


Sebenarnya Arsyi cukup terkejut dengan penuturan sahabatnya, tapi ia berusaha tenang.


"emang kamu mau berangkat kapan lis?"


"nanti malam Ar sama kakakku"


Panjang sekali ucapan pamitan mereka hingga ketiga sahabatnya memutuskan pmit pulang dan Arsyi bergegas masuk untuk membangunkan ibunya.


Sudah masuk pukul 1 untung saja Arsyi tak kelupaan akan pesan ibunya karena keasyikan mengobrol tadi, jika tidak maka Bu Rina akan mengomel sepanjang sore.


__________


Disisi lain disaat tengah bermabuk-mabukan Ikhsan mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan meracau tak jelas, ia mengungkapkan apa yang ia pendam selama ini.


Sampai penjaga disana dibuat kewalahan dengan aksi ikhsan, mungkin hal ini tidak akan terjadi karena biasanya Ikhsan hanya meminum tidak sampai satu botol dan sore ini dia meminum hampir satu botol utuh.


"Gua capek, sekarang ibuk gua udah nggak ada jadi apa guannya hidup gua, ini semua pasti ulah mba Rina dan anaknya yang menjijikan itu dia buat hidup gua menderita seperti ini kaalu saat itu bapak nggan butuh uang mungkin sawah dan kebun itu masih ditangan gua dan bisa gua nikmatin untuk foya-foya, tunggu aja pembalasan gua"


"gua akan hancurin apa yang kalian miliki termasuk nyawa kalian yang akan berakhir ditangan gua dan jangan lupakan bapak yang selalu ngatur-ngatur gua"


"Rina Arsyi Lo tunggu waktu yang tepat gua bunuh Lo pada"

__ADS_1


__ADS_2